
Seseorang datang mendekati Jian Heng dan melesat dengan cepat menghampirinya hingga membuatnya tersentak.
"Maaf mengejutkanmu, Tetua Yu!"
Rupanya Ketua Lama yang datang menghampiri Jian Heng.
"Salam hormat, Ketua Lama!" Jian Heng memberi hormat pada Ketua Lama.
"Bangunlah!"
"Kenapa Ketua Lama tidak memanggilku saja jika ada yang ingin dibicarakan bersamaku?" Jian Heng merasa ada sesuatu yang penting hingga Ketua Lama datang ke villanya di waktu larut malam.
Ketua Lama menghela napasnya sebelum mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.
"Feng ingin pergi meninggalkan Sekte ini dalam waktu yang tidak bisa ditentukan."
Ucapan Ketua Lama terdengar sangat berat seperti mengandung beban yang tidak bisa dia tanggung seorang diri.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ketua Sekte? Maaf Ketua Lama jika aku lancang bertanya." Jian Heng tidak berani menatap wajah Ketua Lama.
__ADS_1
"Feng ingin pergi untuk mengejar ranah kultivasi yang lebih tinggi. Dia ingin mencari giok mata dewa untuk menyempurnakan Qi dan menerobos ke dalam ranah dewa."
Mata Jian Heng membelalak tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Ketua Lama. Selama ini dia memiliki giok mata dewa tetapi tidak tahu jika itu adalah sebuah sumberdaya yang bisa digunakan untuk meningkatkan ranah kultivasi seseorang.
'Sepertinya setelah ini aku harus pergi ke perpustakaan kuno di sekte ini. Aku yakin di sana pasti ada kitab yang menuliskan tentang giok mata dewa.' Jian Heng bermonolog dalam hati.
"Aku terlalu tua untuk memimpin sekte ini, maka aku berharap kamu yang memegang tampuk kepemimpinan sekte ini selama Feng tidak ada di sini. Hanya kamu yang aku percaya. Pikirkanlah jawabanmu malam ini!"
Untuk yang kedua kalinya Jian Heng terkejut dengan ucapan Ketua Lama saat keterkejutannya yang sebelumnya belum menghilang darinya.
"Tap ... tapi Ketua!" Jian Heng gelagapan menanggapi ucapan Ketua Lama.
Setelah mengatakan itu, ketua Lama pergi meninggalkan Jian Heng yang masih ternganga tidak percaya dengan hal mengejutkan ini.
'Apa aku pantas menjadi pemimpin sekte ini? Aku adalah tetua termuda di tempat ini. Aku merasa heran kenapa Ketua Lama tidak meminta tetua lain yang lebih senior untuk mengemban tugas ini.'
Jian Heng memegang dagunya dengan tangan kanannya sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ingin ambil pusing dengan apa yang akan terjadi besok, Jian Heng tertarik pada hal lain yang membuatnya sangat penasaran.
__ADS_1
Dia segera melompat turun lalu masuk ke dalam villanya. Dengan langkah tergesa Jian Heng masuk ke dalam ruang rahasianya.
Sesampainya di dalam ruangan itu, Jian Heng mengeluarkan giok mata dewa dari dalam cincin penyimpanannya.
Sebuah giok berwarna biru dan bersinar terang mengambang di atas telapak tangan kanan Jian Heng.
Giok itu sangat langka, dia mendapatkannya dari Kaisar Xi, ayahnya, ketika dia berhasil melawan pemberontakan di perbatasan timur.
Saat menerima hadiah ini, Jian Heng masih berusia lima belas tahun. Dia tidak tahu kegunaan giok ini dan hanya menyimpannya saja.
Setelah mengetahui kehidupan di luar istana yang bebas dan tidak terikat aturan yang menurutnya sangat membosankan, Jian Heng jarang sekali bertemu dengan keluarganya dan melupakan giok ini.
'Ayah pasti tahu tentang keistimewaan dari giok ini, tetapi aku tidak mungkin untuk kembali ke istana dalam waktu dekat. Ketua Sekte akan pergi dan mau tidak mau aku harus menerima perintah Ketua Lama untuk menggantikannya.'
Jian Heng terus mengamati giok di tangannya dan merasa dilema.
****
Bersambung ....
__ADS_1