
Ketua Lama semakin terharu ketika melihat putri dari sahabatnya itu bersujud hormat di hadapannya.
"Keberuntungan akan selalu menyertaimu. Bangunlah!" seru Ketua Lama merasakan jika dirinya saat ini telah merasakan keakraban seperti yang dia rasakan ketika bersama dengan pangeran Gu.
Fang Yin kembali menegakkan tubuhnya dan duduk seperti sebelumnya.
"Fang Yin mohon ampun atas kebohongan yang Fang Yin lakukan." Pengakuan Fang Yin ditanggapi santai oleh Ketua Lama.
Dia sudah tidak mempedulikan itu dan menganggap Fang Yin sebagai putri angkatnya juga.
"Lupakanlah semua itu, Yin'er! Anggap saja aku sebagai ayahmu. Aku ingin tahu apa rencanamu setelah ini. Bukannya aku tidak suka kamu terus berada di sini tetapi aku tidak yakin jika kamu akan mengalami banyak peningkatan jika terus berada d tempat ini."
Apa yang dikatakan oleh Ketua Lama sama seperti apa yang ada di dalam pikiran Fang Yin beberapa hari ini.
Mereka memang seperti memiliki ikatan batin yang sangat kuat.
"Aku baru memikirkan itu beberapa hari ini, Ketua. Keberadaan ku di sini memiliki sebuah tujuan yaitu mempelajari sebuah kitab dari seseorang. Kitab yang sangat penting untukku sesuai dengan pesan ayahku melalui pikiran ini menjelang kematiannya."
Ketua Lama mencoba memahami maksud dari perkataan Fang Yin.
"Apakah yang kamu maksud adalah Kitab Sembilan Naga?' Ketua Lama menebak.
Tidak terkejut lagi. Fang Yin segera menjawab pertanyaan Ketua Lama dengan yakin.
"Aku sedang mempelajari kitab itu dan merasa ini terlalu lama. Selama enam bulan berada di tempat ini aku baru menyelesaikan setengahnya. Aku semakin merasa jauh dari tujuanku dan juga merasa bosan," ungkap Fang Yin jujur.
"Ada sebuah pil yang bisa mempercepat itu semua, tetapi sedikit sulit untuk menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuatnya."
Mata Fang Yin berbinar senang mendengar ucapan Ketua Lama. Secercah harapan muncul dan membuatnya kembali bersemangat.
__ADS_1
"Fang Yin akan sangat berterimakasih jika Ketua berkenan untuk membagi resep itu padaku." Fang Yin kembali menyatukan kepalan tangannya di depan dadanya.
Ketua Lama membuka tangan kanannya lalu muncul sebuah gulungan di sana.
"Dengan senang hati aku akan memberikannya padamu dengan satu syarat," ucap Ketua Lama menatap Fang Yin dengan tatapan serius.
"Syarat?" Senyum Fang Yin memudar ketika Ketua Lama mengajukan sebuah syarat sebelum memberikan gulungan itu padanya.
Senyum simpul menghiasi wajah Ketua Lama ketika melihat putri sahabatnya itu terlihat kecewa.
"Aku yakin kamu tidak akan keberatan dengan syarat yang aku berikan. Aku hanya ingin kamu memanggilku 'Ayah'!"
Wajah Fang Yin yang semula tertunduk malas kini kembali terangkat dan menatap ke arah Ketua Lama dengan tatapan tak percaya.
"Ayah!" ucap Fang Yin lirih.
"Ulangi sekali lagi, Yin'er!"
"Tetaplah kamu panggil aku seperti itu sampai kapanpun dan jangan menyimpan kesedihanmu sendiri atau apapun, kamu bisa membaginya denganku."
Tidak kuasa menjawab lagi. Sekuat apapun Fang Yin dia tetaplah seorang wanita yang memiliki sisi lembut di dalam dirinya meskipun sedikit karena terhimpit keadaan yang merubahnya menjadi kejam.
Fang Yin menitikkan air mata setelah sekian lama tidak pernah merasakan bulir bening itu mengalir di pipinya.
"Putriku tidak boleh cengeng. Sekarang terima ini!" Ketua Lama memberikan gulungan itu pada Fang Yin.
"Fang Yin mengucapkan terimakasih, Ayah!" Fang Yin menerima gulungan itu sambil menunduk hormat.
"Boleh aku tahu kepada siapa kamu belajar Kitab Sembilan Naga itu?" tanya Ketua Lama.
__ADS_1
"Aku tidak berani untuk mengatakannya, Ayah!" Fang Yin tidak ingin sembarangan mengungkapkan siapa pemilik kitab itu meskipun sudah tentu Ketua Lama tahu jika dia adalah orang dalam sekte ini.
"Kitab Sembilan Naga hanya di miliki oleh orang yang sangat kuat atau memiliki kekuasaan. Jika kamu mempelajarinya di sini tentu dia juga ada di sini. Aku akan merahasiakannya, Yin'er. Aku hanya ingin tahu saja."
Fang Yin merasa bingung untuk mengatakannya atau tidak.
Jika yang dikatakan oleh Ketua Lama benar, itu artinya Jian Heng juga memiliki latar belakang yang tidak main-main.
"Pantas saja dia begitu hebat," gumam Fang Yin lirih tetapi masih terdengar oleh Ketua Lama.
Ketua Lama menatapnya sambil tersenyum, "Aku tidak akan menegurnya atau menanyakan hal ini padanya. Jangan membuat ayahmu ini mati karena penasaran."
"Aku ... aku ... sudah berjanji padanya untuk merahasiakan ini, Ayah. Kamu tidak ingin anakmu ini menjadi seseorang yang ingkar, bukan?"
Ketua Lama mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Fang Yin.
'Jika kamu tidak ingin mengatakannya, maka aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri, Yin'er.'
Ketua Lama tidak mengetahui siapa pemilik kitab itu karena dia mengira jika Fang Yin tinggal di asrama seperti murid-murid yang lain.
Seandainya dia tahu jika selama ini Fang Yin tinggal di villa Jian Heng, tentu dia akan langsung tahu tanpa harus bertanya pada Fang Yin.
"Hari sudah malam. Bergabunglah dengan yang lain untuk beristirahat!" seru Ketua Lama.
"Mohon Ayah tetap menjaga rahasia tentang jati diriku!" ucap Fang Yin sebelum pergi dai villa milik Ketua Lama.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Rahasia mu adalah nyawaku, Yin'er."
Fang Ying merasa lega dan melenggang dengan tenang meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
****
Bersambung ....