
Racun energi yang terperangkap di tubuh Fang Yin keluar sedikit demi sedikit menguap bersama Qi pengobatan yang disalurkan ke dalam tubuhnya.
Tubuh Fang Yin mulai berangsur-angsur menjadi normal. Nyala merah kehitaman di tubuhnya memudar seiring dengan racun energi yang menghilang.
Rasa sakit, panas, dan tidak nyaman yang dia rasakan pun tidak terasa lagi.
Untuk tahap akhir, Tian Feng menghentakkan telapak tangannya di punggung Fang Yin untuk menutup jalur energi yang telah dia buka untuk pengobatan ini.
Sebuah cahaya terpancar keluar dari tubuh Fang Yin yang terlihat samar karena tertutup oleh bajunya yang berwarna gelap.
Setiap kali ada energi asing yang menyentuh tubuhnya, maka simbol dewi naga di punggungnya akan menyala terang.
"Terimakasih, Paman. Aku merasa lebih baik sekarang." Fang Yin melakukan gerakan perenggangan tubuh ringan setelah pengobatan ini selesai.
"Ini bukanlah hal yang besar. Aku berharap kamu akan membawa nama baik untuk Klan Gu di masa mendatang."
"Juga untuk Klan Shi. Jangan pernah lupakan itu juga," ucap Han Wu yang juga merasa jika Fang Yin adalah milik Klan Shi.
"Aku adalah milik Klan Gu dan Klan Shi. Aku sangat bangga memiliki darah dua klan yang sangat hebat ini." Fang Yin berusaha untuk tetap berada di tengah-tengah.
Malam semakin larut, Han Wu tidak memiliki jamuan yang istimewa untuk murid dan cucunya itu. Dia hanya memiliki beberapa buah-buahan segar yang dia simpan di pondoknya.
__ADS_1
Mereka bertiga menikmatinya bersama-sama untuk mengganjal perut sebelum mereka tertidur di malam itu.
Fang Yin tinggal di sebuah kamar yang berada di paling ujung. Kamar itu berada paling dekat dengan air terjun dan memiliki pintu yang mengarah ke sana.
"Yin'er!" panggil Han Wu dari luar kamar Fang Yin.
"Iya, Kek." Fang Yin membukakan pintu dan mempersilakan Han Wu masuk.
"Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu. Udara di sini sangat dingin." Han Wu menyodorkan sebuah selimut yang terlipat untuk Fang Yin.
"Terimakasih, Kek. Em, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Fang Yin dengan sedikit ragu. Dia takut jika kakeknya itu akan marah padanya.
"Berjanjilah kakek tidak akan marah! Jurus pengendali kakek sangat menakutkan." Masih terang dalam ingatan Fang Yin betapa mengerikannya kakeknya itu jika sedang marah.
"Hahaha! Maafkan kakek, Anak nakal! Mana mungkin kakek akan begitu jika tahu kamu adalah cucuku."
Han Wu merasa bersalah telah menyakiti cucunya itu.
"Baik aku tidak perlu khawatir lagi. Apakah aku boleh meminjam Kitab Sembilan Naga milik kakek? Aku janji aku tidak akan menggunakan jurus itu sembarangan."
"Sekarang sudah malam. Kita akan membahasnya besok lagi."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Han Wu pergi meninggalkan Fang Yin yang masih tertegun menanti jawaban yang masih abu-abu.
'Jawaban yang menggantung. Sungguh kakek yang sangat menyebalkan!' Fang Yin menutup kembali pintu kamarnya dan beristirahat.
Malam itu Fang Yin tidur dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya.
Di Sekte Sembilan Bintang.
Jian Heng duduk termenung di atas atap villa seperti biasanya.
Dia menatap ke langit dan melihat bintang kesayangannya bersinar. Sejak kecil Jian Heng selalu mencari bintang itu ketika langit malam cerah.
Jian Heng kecil selalu bertanya kepada ibunya tentang bintang itu tetapi ibunya hanya mengatakan jika bintang yang dia sukai itu seperti orang yang dia sayang.
"Bintang itu seperti dirimu, Xiao Yin. Hanya bisa aku lihat dari kejauhan tanpa bisa kuraih. Apa yang kamu lakukan sekarang Gadis Nakal?"
Jian Heng tersenyum sendiri ketika mengingat momen kebersamaannya dengan Fang Yin.
****
Bersambung ...
__ADS_1