
Pasukan dari suku es bergerak meninggalkan gunung perak. Meskipun sangat ingin berangkat tetapi Fang Yin melarang ibu dan neneknya ikut dalam pertempuran. Hanya kedua kakeknya saja yang diijinkan untuk ikut serta dalam misi ini.
Patriak Shi, Guan Xing dan Kaisar Jing memimpin di depan sedangkan Fang Yin dan Jian Heng berada di tengah. Meskipun keduanya tidak membutuhkan perlindungan tetapi keberadaan mereka harus di sembunyikan hingga tiba di area pertempuran.
Derap langkah kaki kuda menderu di keheningan pagi. Langkah yang begitu cepat meninggalkan kepulan debu yang membumbung ke langit.
Suara gemuruh itu menarik perhatian penduduk desa dan semua makhluk yang mendengarkan. Hewan-hewan dan binatang liar berlarian meninggalkan tempatnya untuk mencari perlindungan.
Pasukan dari benua yang berbeda telah berangkat lebih dulu dan menunggu pasukan dari suku es di perbatasan ibu kota.
Kaisar Ning mulai siaga meskipun tanda-tanda kemunculan Fang Yin belum terlihat. Berdasarkan ramalan pertapa sakti, formasi sembilan bintang yang ada di ruangan khusus akan memberikan tanda.
Bisa dibayangkan ibukota akan menjadi hancur jika perang itu dilakukan di sana. Bagi Kaisar Ning mungkin itu tidak masalah karena dirinya tidak peduli dengan kehancuran orang lain tetapi tidak bagi Fang Yin, dia tidak akan membiarkan kehancuran itu terjadi.
Seorang prajurit mengirim pesan kepada pasukan Kaisar Ning dan memintanya untuk memberikan surat itu kepada Kaisar Ning. Surat berupa gulungan itu segera diantar ke istana oleh pasukan yang menerimanya.
Kaisar Ning yang tengah berada di ruang aula istana bersama para pembesar istana dan seluruh pendukungnya menatap kedatangan prajurit itu. Mereka menatap apa yang dibawa di tangannya.
"Ampun, Yang Mulia. Seorang prajurit asing meminta saya untuk menyampaikan gulungan ini untuk Anda." Prajurit itu berlutut di kaki Kaisar Ning dengan tangan yang mengulurkan gulungan surat di atas kepalanya.
"Hmm."
Kaisar Ning berjalan mendekatinya lalu mengambil gulungan itu dari tangannya.
Semua orang memasang wajah tegang ketika melihat perubahan ekspresi di wajah Kaisar Ning. Gulungan surat berkobar dan dalam sekejap menjadi abu.
"Bersiaplah! Kalian berangkatlah dulu ke bukit pengasingan. Aku akan datang ketika wanita iblis itu sudah tiba di sana!" Kaisar Ning berbicara dengan suara yang pelan tetapi penuh penekanan.
"Baik, Yang Mulia."
Satu persatu para pembesar istana dan pemimpin pasukan dari negara bagian dan pasukan kultivator meninggalkan ruangan itu. Kini di sana hanya tersisa Kaisar Ning dan kedua putranya.
"Kami juga akan pergi, Ayah," pamit Ning Yao Xi mewakili.
Wajahnya terlihat tidak yakin jika peperangan ini benar-benar akan terjadi. Setelah memberi penghormatan kepada ayahnya mereka berbalik dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Kita pasti akan menang. Berjuanglah!"
Kaisar Ning menyemangati kedua putranya.
Di dalam ruangan itu hanya tinggal dirinya seorang diri. Merasa tidak ada yang perlu dilakukannya di sana, Kaisar Ning pergi meninggalkan ruangan menuju ke sebuah ruangan yang tersembunyi.
Ruangan itu dipenuhi debu mengingat sangat jarang dikunjungi oleh siapapun. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah relief yang menjadi pusat formasi sembilan matahari yang tersegel.
'Belum ada tanda-tanda kemunculan Dewi Naga dari formasi ini. Aku akan menunggu di sini. Musuh utamaku adalah Dewi Naga, jadi aku tidak perlu membuang tenaga untuk melawan selainnya.'
Kaisar Ning mengambil posisi duduk dengan sikap sempurna untuk berkultivasi. Ruangan yang sepi itu cukup banyak menyimpan esensi energi dari benda-benda yang tersimpan di dalamnya.
Pundi-pundi energi di tubuh Kaisar Ning terus bertambah seiring energi yang terus terserap olehnya. Aura berwarna merah darah menyelimuti tubuhnya menandakan kekuatannya yang besar.
__ADS_1
Di tengah konsentrasinya, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Cahaya memancar dari tengah segel formasi sembilan matahari dan membumbung ke langit menembus atap ruangan itu.
Kaisar Ning segera bangkit dari duduknya bersiap untuk pergi ke bukit pengasingan. Namun, sebelum itu dirinya merubah wujudnya menjadi berbeda.
Dengan kekuatannya saat ini dirinya merasa sangat yakin jika bisa mengalahkan Dewi Naga dengan mudah. Di dalam legenda, Roh Naga Api di dalam tubuhnya adalah sebuah ancaman yang mengerikan.
Para pelayan dan pengawal istana berlari ketakutan ketika Kaisar Ning yang telah berubah menjadi naga api melesat keluar dari ruangan itu. Cahaya dari segel formasi sembilan matahari terus memancar ke angkasa menembus langit tanpa batas.
Suasana di bukit pengasingan masih hening.
Kedua kubu pasukan belum melakukan serangan. Mereka masih menunggu komando dari para pemimpin mereka masing-masing.
Jumlah mereka seimbang.
Meskipun saat ini Fang Yin hanyalah orang biasa tetapi dirinya mampu mendapatkan begitu banyak dukungan dari seluruh benua di daratan. Tidak sedikit pula makhluk alam bawah yang berdiri di garis depan.
Wajah-wajah menyeramkan itu membuat pasukan Kaisar Ning sedikit menciut. Mereka merasa sedikit lega dengan kedatangan naga api penjelmaan Kaisar Ning.
"Dewi Naga! Keluarlah!" seru Kaisar Ning dalam wujud naganya.
Sorot matanya yang kejam dan penuh amarah membuat pasukan alam bawah di hadapannya menegang. Kaisar Ning tidak percaya makhluk-makhluk mengerikan itu juga mengenal Fang Yin dan memihaknya.
Dengan sebuah segel pemanggil roh, Kaisar Ning membuka portal dunia bawah dan menghadirkan para pendukungnya. Jumlahnya memang tidak sebanyak pendukung Fang Yin tetapi tidak ada yang perlu disesalkan, amarah pun tidak ada guna.
Merasa Fang Yin tidak segera memberikan tanggapan, Kaisar Ning memancingnya untuk keluar dengan menyerap kekuatan jiwa para pasukannya. Dalam sekejap mereka terjatuh dengan keadaan yang mengerikan. Tubuh mereka seperti terhisap oleh kekuatan Kaisar Ning.
Fang Yin muncul sebagai manusia biasa. Dia tidak terburu-buru mengambil wujudnya sebagai Dewi Naga. Dengan sikap yang anggun dan berwibawa dia bergerak menghampiri Kaisar Ning.
Keduanya berdiri saling berhadapan di ketinggian.
Fang Yin tidak lagi mengenakan penutup wajahnya sehingga Kaisar Ning langsung mengenalinya. Pasukan yang berdiri di belakangnya pun terkesiap saat melihat wajah anggun dan kejam di depannya.
Jirah perang berwarna hitam dengan pedang di tangan membuat Fang Yin terlihat seperti seorang pendekar. Meskipun tidak mengeluarkan auranya tetapi dingin wajahnya terlihat begitu menakutkan.
Ning Yao Xi dan Ning Mu Shen tertegun melihatnya. Perasaan antara merindukan dan merasa bukan siapa-siapa membuat keduanya berada dalam dilema.
"Apa kabar, Paman Ning? Lama tidak bertemu. Kamu semakin terlihat seperti iblis."
Fang Yin menyapa Kaisar Ning sebelum mereka saling menyerang.
"Tidak perlu berbasa-basi, segera tunjukkan kemampuanmu! Aku akan merasa dipermalukan jika terburu-buru membunuhmu dalam keadaan tidak berdaya seperti ini." Kaisar Ning menunjukkan kesombongannya.
Fang Yin tersenyum jahat. Sebelum dia benar-benar melawan Kaisar Ning dengan seluruh kekuatannya, dia memilih untuk bertarung sebagai kultivator biasa.
Kekuatan Qi Awan Salju juga tidak bisa dianggap remeh. Selama dirinya bisa mengatasi keadaan dengan itu maka dia tidak perlu menggunakan wujud Dewi Naga.
__ADS_1
Kekuatan besar Dewi Naga memiliki daya rusak yang tinggi. Sebisa mungkin Fang Yin tidak ingin menghindari banyaknya korban.
Di bawah mereka pertarungan sudah dimulai. Kedua kubu pasukan telah bertarung dengan sengit.
Fang Yin melompat ke tempat yang lebih tinggi karena selanjutnya pertarungan mereka akan menggunakan banyak kekuatan yang mungkin saja bisa melukai orang-orang yang berdekatan dengan keduanya.
Suasana cerah hari itu berubah menjadi lautan api di medan tempur. Selir Tang menggunakan kekuatannya untuk menurunkan hujan di beberapa titik.
Keadaan menjadi tidak karuan dan semakin kacau akibat benturan kekuatan yang tidak seimbang.
Dari kedua belah pihak korban terus berjatuhan. Namun, pasukan Fang Yin lebih unggul dibandingkan pasukan dari Kaisar Ning.
Kaisar Ning menyerang Fang Yin dengan kekuatan penuh. Melihat Fang Yin yang tidak segera mengeluarkan wujudnya dia merasa sangat senang. Dia berpikir bisa mengalahkannya dengan mudah.
Lemparan demi lemparan Qi terus menyongsong ke arah Fang Yin tetapi energi itu bisa dihindarinya dengan mudah.
Teknik teleportasi membuat tubuh Fang Yin menghilang dan terlihat di tempat yang berbeda sesuai dengan keinginannya. Namun, insting naga yang dimiliki oleh Kaisar Ning mampu mengendus dan menemukannya dengan mudah.
'Sepertinya aku tidak bisa bermain-main lagi dengan pria licik ini. Aku harus menggunakan wujud Dewi Naga.'
Fang Yin mengeluarkan aura energinya yang membuat tubuhnya bercahaya. Gelombang energi menyebar secara horizontal dan menekan tubuh Kaisar Ning hingga terpental ke belakang.
'Yang Hui! Hancurkan naga itu!' pekik Fang Yin.
'Baik, Putri!' Yang Hui segera melesat keluar dari dalam tubuh Fang Yin menuju ke hadapan Kaisar Ning.
Pertarungan selanjutnya adalah milik Yang Hui dan Kaisar Ning sementara Fang Yin mengamati dan mempelajari kelemahan Kaisar Ning.
Kedua naga itu bertarung dengan sengit. Ledakan dan lontaran api menghiasi pertarungan mereka. Yang Hui menemukan lawan yang sebanding dengannya dan bisa dikatakan jika pertarungan mereka berlangsung seri.
Kekuatan Yang Hui berhasil menekan Kaisar Ning mundur ke belakang dan berkali-kali terkena serangannya. Namun, bukan Kaisar Ning jika tidak memiliki cara licik untuk merubah keadaan.
Dalam taktik memancing lawan dia yang nomor satu. Saat Yang Hui menyerangnya dia memposisikan dirinya di tengah-tengah antara Yang Hui dan Fang Yin. Dengan begitu serangan yang dilancarkan oleh Yang Hui bisa saja menyasar pada Fang Yin.
Melihat Yang Hui yang tampak berhati-hati, Kaisar Ning segera menyerangnya dengan kekuatan penuh. Sekali dua kali Yang Hui bisa menghindar tanpa memberikan balasan. Namun, pada serangan berikutnya Yang Hui pun terkena dan terluka.
Fang Yin terlihat geram. Dia melompat keatas punggung Yang Hui dan membantunya. Kini keduanya bergabung untuk menyerang Kaisar Ning.
Di medan tempur,
Jian Heng melawan kakak beradik Ning Yao Xi dan Ning Mu Shen. Sebenarnya mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Namun, rumor kedekatannya dengan Fang Yin membuat kakak beradik itu begitu bernapsu untuk membunuhnya.
Mereka berpikir dengan kematiannya maka harapan untuk mendapatkan Fang Yin akan lebih besar.
****
Bersambung ....
__ADS_1