Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 173


__ADS_3

Fang Yin dan rombongan pedagang itu sampai di ibukota saat matahari sudah benar-benar tenggelam.


Lentera menerangi sepanjang jalan yang mereka lalui. Fang Yin melihat anak-anak berlarian di jalanan menuju ke rumah masing-masing setelah mendengar teriakan orang tua mereka.


Ini pertama kalinya bagi Fang Yin menginjakkan kakinya di tempat itu, sehingga dia tidak tahu di mana letak penginapan untuknya beristirahat malam itu.


Para pedagang itu pergi ke sebuah rumah yang ternyata merupakan kerabat mereka. Fang Yin tidak ingin ikut bersama mereka dan memilih untuk pergi ke penginapan.


Salah satu kerabat pedagang itu dengan suka rela mengantarkan Fang Yin pergi ke penginapan terdekat.


Keramahan penduduk kota ini membuatnya merasa kagum. Dalam hal yang berhubungan dengan moral dan keamanan, Kekaisaran Benua Timur kalah jauh dengan Kekaisaran Benua Tengah.


Kaisar Xi memang terkenal tegas dan mengayomi sehingga rakyatnya menjadi aman dan makmur. Semakin hari semakin banyak penduduk dari negeri sekitar yang bermigrasi ke Benua Tengah.


Perekonomian di sana juga terbilang stabil sehingga membuat kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya berkembang dengan baik.


Fang Yin akhirnya sampai di sebuah penginapan yang terdiri dari tiga lantai. Kerabat dari pedagang itu meninggalkannya setelah memastikan Fang Yin mendapatkan kamar yang dia inginkan.


Sebelum pergi, Fang Yin memberinya imbalan beberapa keping koin perak, tetapi dia menolaknya.


Lagi-lagi Fang Yin merasa kagum dengan moral dan jiwa sosial penduduk kota ini.


Setelah membayar biaya penginapan untuk malam ini, seorang pelayan mengantarkannya ke kamarnya.


Dari jendela kamarnya, Fang Yin bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Di kejauhan terlihat sebuah keramaian seperti sebuah pasar malam.


Lampu-lampu menyala dengan terang dan para pedagang berjajar menjajakan dagangan mereka.


Kruukkk!


Perut Fang Yin berbunyi nyaring menandakan jika saat ini dia sedang lapar.


"Astaga! Aku lupa jika aku belum makan seharian."


Fang Yin mandi dengan air yang sudah disiapkan oleh pelayan untuknya. Dari pantulan cermin yang ada di ruangan itu, Fang Yin bisa melihat simbol dewi naga yang ada di punggungnya bersinar.


Baru kali ini dia bisa melihatnya secara langsung dan merasa jika simbol itu terlihat begitu menakutkan.

__ADS_1


'Pantas saja waktu itu orang-orang ketakutan melihatnya. Mata naga dalam simbol ini terlihat sangat kejam dan menakutkan,' ucap Fang Yin sambil bergidik.


Segera dia memalingkan wajahnya ke arah lain dan menyelesaikan mandinya.


Terlanjur menampakkan identitas sebagai seorang wanita, Fang Yin akhirnya berpenampilan sebagai seorang wanita bercadar.


Tidak ingin terlihat menakutkan bagi orang-orang di sekelilingnya, malam ini Fang Yin memakai pakaian yang sedikit terang. Dia menggunakan hanfu berwarna putih dengan penutup wajah yang senada.


Langkah kaki Fang Yin yang terasa ringan membuatnya sampai di tempat tujuannya dengan cepat. Sesampainya di sana dia langsung membeli beberapa makanan yang dia sukai.


Setelah mendapatkan makanan yang dia inginkan, Fang Yin duduk menepi di tempat yang sedikit gelap dan sepi agar bisa makan dengan leluasa tanpa membuka cadarnya.


Seorang anak kecil berpakaian bangsawan lari ke arahnya dan bersembunyi di balik punggungnya dan memberinya isyarat untuk diam saja.


'Apa yang terjadi pada anak ini?' Fang Yin bertanya-tanya di dalam hati.


Tanpa meminta ijin darinya, bocah laki-laki itu memakan makanan milik Fang Yin. Fang Yin membiarkannya saja karena dia memang sudah kenyang.


Tidak berapa lama kemudian seorang pemuda datang ke sana bersama beberapa orang pengawal.


Dia melihat ke sana kemari dan berjalan berpencar seperti sedang mencari sesuatu.


Fang Yin tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak tahu siapa anak itu dan siapa orang yang mencarinya ini.


"Sa ... saya ...." Fang Yin baru saja akan menjawabnya tetapi entah bagaimana ceritanya pemuda yang memimpin para pengawal itu sudah berada di belakangnya dan menjewer telinga anak itu.


"Auuhh, aduhh ... aduh! Sakit kakak!" teriak anak itu sambil memegangi telinganya. Makanan yang dia pegang jatuh dan berhamburan di tanah.


"Dasar anak nakal! Sudah dibilang kalau pergi keluar harus membawa pengawal masih saja melanggar." Pemuda itu kemudian melepaskan tangannya dari telinga bocah itu.


Fang Yin merasa lega ternyata anak itu tidak sedang diganggu oleh orang jahat melainkan anak yang sedang iseng mengerjai keluarganya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu masalah kalian. Ijinkan saya pergi!" Fang Yin menyatukan kedua tangannya dan memberi hormat pada mereka sebelum pergi dari tempat itu.


"Terimakasih atas makanannya, Kakak. Maaf aku menjatuhkannya," ucap bocah itu.


Pemuda itu melotot melihat ke arah anak itu dan kembali marah saat melihat kenakalan adiknya.

__ADS_1


"Nona, tolong maafkan adikku. Aku akan mengganti makanan-makanan ini," ucap pemuda itu dengan penuh penyesalan.


"Tidak perlu, Tuan. Saya sudah kenyang. Permisi!" Sekali lagi Fang Yin memberi hormat dan berbalik pergi.


Pemuda itu tidak ingin menyerah dan merasa perlu untuk meminta maaf padanya.


"Kalau begitu, berilah aku kesempatan untuk mentraktirmu minum teh sebagai permintaan maaf." Pemuda itu terus mengikuti ke mana Fang Yin berjalan.


Bocah kecil itu sudah berlari entah ke mana bersama para pengawalnya.


"Tapi ...." Fang Yin menghentikan langkahnya dan menunduk tanpa berani menatap wajah pemuda di hadapannya itu.


"Mari, Nona!" Pemuda itu tetap bersikukuh dengan keinginannya.


Fang Yin mengikutinya di belakang menuju ke sebuah kedai teh yang sangat ramai.


Pemuda itu menarik sebuah bangku untuk Fang Yin dan mempersilakannya duduk terlebih dahulu lalu pergi memesan minuman untuk mereka.


Kedai yang sangat terang membuat Fang Yin bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Matanya terbelalak saat mendapati wajah pemuda itu sangat mirip dengan orang yang sangat dia kenal.


"Ji-Jian Yu!" Tanpa sadar Fang Yin menyebutkan nama Jian Heng.


Dadanya bergemuruh menahan perasaannya. Darahnya berdesir hangat mengalir di seluruh nadinya. Kerinduan menyeruak memporak-porandakan hatinya yang semula tenang.


"Maaf, sepertinya Anda salah orang, Nona. Aku Xi Hao Xiang. Apakah aku mirip dengan seseorang yang Anda kenal?" Pemuda yang mengaku bernama Xi Hao Xiang itu tersenyum simpul pada Fang Yin.


Senyuman itu adalah senyuman yang sama dengan senyum milik Jian Heng. Fang Yin tidak tahu jika sebenarnya nama asli Jian Yu atau tetua Yu adalah Xi Jian Heng, Pangeran ketiga Kekaisaran Benua Tengah.


"Ah, iya. Maaf Tuan, saya terlalu lancang telah menyamakan Anda dengan teman saya." Fang Yin menunduk tidak berani menatap Hao Xiang.


"Tidak perlu merasa sungkan, Nona. Di dunia ini memang banyak sekali orang yang memiliki kemiripan. Bolehkah aku tahu siapa namamu, Nona." Hao Xiang merasa tertarik pada Fang Yin meskipun tidak bisa melihat wajahnya.


'Aku tidak tahu seperti apa wajahmu, Nona. Tapi aku sangat yakin jika kamu sangat cantik.' Hao Xiang terus memandangi wajah Fang Yin tanpa berkedip.


"Namaku, Xiao Yin," jawab Fang Yin singkat.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2