
Suara keributan terdengar di halaman dalam Perguruan Elang Emas. Murid-murid yang sedang beristirahat berhamburan keluar. Mereka bersorak senang seperti sedang menyambut kedatangan seseorang.
Para tetua yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi diluar pun segera pergi untuk menyusul murid-muridnya. Begitu juga dengan Selir Ning, dia berjalan di belakang para tetua untuk melihat apa yang terjadi.
Seorang pemuda dengan perawakan tegap berdiri di tengah murid-murid Perguruan Elang Emas yang mengerumuni mereka. Di bahunya sebuah pedang disandang dengan rapi. Dia adalah Wu Zhitao, murid senior yang menjadi ahli pedang tingkat atas.
Di dalam dunia kultivasi keberadaannya cukup disegani. Wu Zhitao beberapa kali memenangkan turnamen pedang yang diadakan antar akademi. Setelah lulus dari perguruan ini dia tetap pulang ke Gunung Shujin karena kedua orang tuanya tinggal di sini.
Para murid tidak henti-hentinya bertanya tentang pengalamannya selama berkelana di dunia luar. Mereka baru terdiam ketika para tetua memintanya untuk pergi meninggalkan tempat. Para tetua kemudian membawa Wu Zhitao pergi ke ruang pertemuan.
Selir Ning terus mengikuti para tetua dan Wu Zhitao. Di perguruan ini dia mendapatkan perlakuan istimewa dan dianggap sebagai orang yang dihormati di sana. Tidak ada yang berani melarangnya untuk bergabung bersama para tetua dalam kegiatannya.
Wu Zhitao melirik ke arah Selir Ning. Dia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara secara pribadi dengannya. Namun, sebelum itu dia harus memuaskan para tetua yang ingin mendengar cerita tentang perjalanannya.
Sosok kebanggaan Perguruan Elang Emas itu begitu mengagumkan. Pembawaannya yang tegas tidak menyulitkannya untuk bercerita dengan lugas. Semua orang terbawa dalam kisah yang dia ungkapkan.
Setelah berbincang dalam waktu yang cukup lama, Wu Zhitao akhirnya meminta diri untuk pulang ke rumahnya. Saat berada di depan Selir Ning dia berhenti dan memutar tubuhnya menghadap ke arahnya.
"Selir Ning, bolehkah aku mengganggu waktu Anda sebentar?" ucap Wu Zhitao dengan sopan.
Selir Ning bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Wu Zhitao.
"Sekarang pun aku tidak merasa keberatan."
Tangan Wu Zhitao mengayun ke depan dengan telapak tangan terbuka ke atas sebagai isyarat pada Selir Ning untuk berjalan di depannya. Mereka berdua keluar dari ruang pertemuan dan menyisakan rasa penasaran bagi para tetua. Tidak biasanya Wu Zhitao beramah tamah pada Selir Ning dan tentunya ini menimbulkan spekulasi bagi mereka.
Keadaan hening hingga mereka berada di tempat yang sedikit sepi. Keduanya berhenti di sebuah pondok kecil yang berada di tepi tempat pelatihan. Pondok-pondok itu disediakan sebagai tempat peristirahatan bagi para murid yang lelah berlatih.
"Maaf, jika aku mengganggu waktu Anda, Selir Ning. Mungkin hal ini tidak terlalu penting, tetapi aku merasa jika Anda harus mengetahuinya," jelas Wu Zhitao dengan nada serius.
"Katakanlah! Apapun itu jangan pernah ragu untuk mengatakannya."
Wu Zhitao mengambil sebuah tempat di mana dia bisa duduk dengan nyaman. Tubuhnya merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Namun, dia tidak bisa menahan diri untuk mengabarkan berita yang didengarnya kepada Selir Ning.
Saat berada di luar Gunung Shujin, Wu Zhitao bertemu dengan beberapa pasukan khusus Kaisar Ning. Mereka mengatakan jika sedang dalam misi untuk mencari Putri Gu Fang Yin yang ternyata belum mati. Semua yang mereka lakukan bukan berdasarkan omong kosong saja, seorang peramal sakti mengatakan jika Klan Gu sebentar lagi akan bangkit.
Antara percaya dan tidak percaya Selir Ning mendengarkan kabar yang dibawa oleh Wu Zhitao. Setelah sepuluh tahun berlalu, mengapa peramal itu baru bicara. Sebenarnya Pertapa Hu telah mengabarkan berita ini, tetapi Selir Ning tidak mengetahuinya karena Kaisar Ning menyimpan berita ini seorang diri dengan setengah tidak percaya.
Selir Ning masih terdiam. Meskipun berita ini benar, dia belum memiliki rencana untuk mengambil langkah. Sesal yang dia rasakan beberapa hari ini berubah menjadi ketakutan.
Mengingat apa yang telah dilakukan oleh Kaisar Ning dan dirinya, tentu Fang Yin akan menaruh kebencian pada mereka. Setelah ini hidupnya tidak akan mudah, terlebih lagi jika Fang Yin mengetahui keberadaannya.
Bola mata Selir Ning bergerak-gerak saat dia membayangkan hal yang buruk yang akan menimpanya di masa mendatang. Meskipun dia bukan orang yang lemah, tetapi dia tidak tahu sekuat apa anak tirinya tersebut. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi seseorang untuk menjadi kuat.
"Aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Aku mohon diri untuk pulang." Wu Zhitao memberi hormat pada Selir Ning.
Selir Ning mengangguk sambil tersenyum.
'Yin'er! Apakah kamu akan membenci ibumu ini, Nak?' Selir Ning begitu percaya diri jika dirinya adalah ibu tiri Fang Yin setelah apa yang dilakukannya.
Kembali ke bukit Giok Hitam,
Hari di mana formasi pelindung akan dibuka sebentar lagi akan dilaksanakan. Ini adalah hari terakhir mereka menikmati sebagai kaum yang terisolir. Setelah ini mereka akan membaur dengan orang-orang yang tinggal di luar wilayah bukit Giok Hitam.
Fang Yin sedang duduk bersama Jian Heng dan Acong di atas bukit berbatu. Teriknya sinar matahari di siang itu tidak membuat mereka ingin beranjak dari sana. Tempat yang tinggi membuat udara bergerak dengan cepat sehingga mereka merasakan kesejukan. Ketiganya bernaung di bawah sebuah pohon yang memiliki daun yang tinggal beberapa dahan saja.
Daun-daun gugur yang terbang tertiup angin menyapa ketiganya yang sedang duduk termenung. Entah apa yang mereka pikirkan, suasana di tempat itu begitu hening.
Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga Acong merasa bosan dan beranjak dari duduknya. Fang Yin dan Jian Heng menatapnya heran.
"Acong? Mau kemana?" tanya Jian Heng, menyusul Acong berdiri.
Tangan Jian Heng mengulur ke depan Fang Yin untuk membantunya berdiri. Meskipun dia tidak butuh bantuan, tetapi tetap menerima uluran tangan itu untuk menyenangkan hatinya.
"Aku ingin pulang. Perutku sangat lapar!"
Acong telah bertumbuh secara cepat. Kini dia sudah seperti seorang anak yang berusia sepuluh tahun. Dengan tubuhnya yang sekarang, dia juga memerlukan makanan yang lebih banyak dari porsinya sebelumnya.
"Aku pikir ada apa. Baiklah, kita pulang." Fang Yin membawa Acong dan Jian Heng dengan artefak daun miliknya.
Kedatangan ketiganya cukup menghebohkan. Ini pertama kalinya bagi Fang Yin menggunakan artefak daun di hadapan banyak orang yang membuat mereka terkagum. Artefak ini merupakan barang yang sangat langka dan mungkin hanya satu-satunya di dunia.
Setelah Jian Heng dan Acong turun, Fang Yin kembali menyimpan artefak itu dalam ukuran yang sangat kecil.
"Waow! Itu tadi apa, Nona Yin?" tanya Wong Li yang kebetulan berada di tempat itu.
Fang Yin tersenyum, dia merasa terhibur dengan wajah Wong Li yang terlihat konyol.
__ADS_1
"Itu adalah artefak daun," jawab Jian Heng mendahului Fang Yin yang baru saja membuka mulutnya hendak bicara.
Setiap kali ada pria yang menarik perhatian Fang Yin, dia menjadi aneh. Tubuhnya bergeser ke depan lalu menghalangi keduanya agar tidak terlalu dekat.
'Dasar posesif,' sungut Fang Yin dalam hati.
Sebagai seorang pria, Wong Li tahu dengan apa yang terjadi pada Jian Heng. Perubahan sikapnya itu karena dia menyayangi Fang Yin dengan tulus. Perasaan itulah yang membuatnya takut kehilangan.
Wajah Fang Yin menatap jengah ke arah Jian Heng. Namun, dia tidak sepenuhnya merasa kesal. Dirinya hanya tidak habis pikir dengan tingkah kekanak-kanakan kekasihnya itu yang baru muncul akhir-akhir ini.
"Tidak usah kesal, Nona Yin. Tuan Heng sangat takut kehilanganmu," canda Wong Li.
Setelah mengatakan itu dia pergi dengan cepat. Lirikan dari Jian Heng begitu menakutkan. Keduanya terlihat canggung saat orang-orang menatap keduanya.
"Dasar bocah tengil. Awas saja, aku pasti akan membalasmu," gumam Jian Heng dengan suara pelan.
"Sudah, lupakan saja. Dia bukan orang yang penting." Fang Yin berjalan mendahului Jian Heng.
Acong yang tidak memahami pembicaraan orang dewasa hanya terbengong mendengar obrolan mereka. Dia segera menyusul muda mudi yang bertindak sebagai orang tua angkatnya itu.
Di kediaman Qin Yushang sangat sepi. Para penghuninya melakukan aktifitasnya sendiri-sendiri. Siang ini, Fang Yin ingin menikmati sisa waktunya di bukit Giok Hitam dengan bersantai.
Di tengah ruangan yang biasa digunakan untuk tempat pertemuan ada sebuah meja. Fang Yin berjalan menuju ke sana diikuti oleh Jian Heng dan Acong. Di atas meja itu tersedia air minum di dalam bejana perak dan beberapa cangkir yang terbuat dari bahan yang sama.
Fang Yin menuang minuman itu untuk mereka bertiga.
"Kakak Cantik. Apakah besok kita akan berpisah?" Pertanyaan polos Acong membuat hati Fang Yin tersentuh.
"Tentu saja. Kita tidak akan berpisah terlalu lama. Setelah ini, kita pasti akan bertemu lagi. Kakak tinggal di Gunung Perak. Tempat itu tidak terlalu jauh dari sini."
"Hei, laki-laki tidak boleh cengeng. Tadinya aku ingin menjadikanmu putra angkatku tapi setelah melihatmu lemah aku harus memikirkannya lagi." Jian Heng memancing reaksi Acong.
Bocah kecil itu segera mengangkat kepalanya. Dengan cepat dia mengelap butiran-butiran air yang menggantung di bulu matanya dengan lengan bajunya.
"Aku sudah tidak menangis lagi, Ayah Angkat." Acong memaksakan senyumnya hingga dia terlihat sangat konyol.
Fang Yin menahan tawanya. Dia tidak berani menawarkan dirinya menjadi ibu angkat tanpa persetujuan dari Jian Heng. Keadaan akan menjadi kacau jika dia salah paham.
Mereka bercerita dan bersendau gurau untuk menghibur Acong. Kebersamaan mereka beberapa waktu membuatnya merasa kehilangan saat perpisahan itu datang. Setelah hari ini, keadaan akan berubah seluruhnya.
Di tengah kebersamaan mereka, Guan Xing datang bersama Qin Yushang. Mereka segera memberi hormat setelah sampai dihadapan mereka bertiga. Tidak lama kemudian Qin Yu Zhi juga datang bersama ibunya.
Terlihat sayuran dan buah-buahan segar dalam sebuah keranjang yang dibawa oleh Qin Yu Zhi dan Nyonya Qin. Ibu dan anak itu baru pulang dari ladang di pinggir desa.
Fang Yin menelan ludahnya untuk menahan keinginannya saat melihat buah segar itu. Dia tidak berani untuk meminta pada Nyonya Qin.
Acong tanggap akan sikap Fang Yin. Sejak tadi dia terus memperhatikannya.
'Kakak Cantik terlihat seperti saat aku sedang menginginkan sesuatu. Aku tidak ingin membiarkannya menahan diri. Em, aha, aku ada ide.' Acong beranjak dari duduknya.
"Nyonya Qin. Bolehkah aku meminta buah itu?" Acong menunjuk buah yang ada di dalam keranjang yang dibawa oleh Nyonya Qin.
Nyonya Qin menghentikan langkahnya lalu tersenyum pada Acong.
__ADS_1
"Ambilah!"
Acong mengambil dua buah. Satu untuk Fang Yin dan satu untuk Jian Heng, pikirnya. Dia sendiri tidak menginginkan buah itu dan hanya ingin mengambil untuk mereka berdua.
"Terimakasih atas kemurahan hatimu, Nyonya Qin." Acong tersenyum tulus lalu berlari-lari kecil meninggalkannya.
Nyonya Qin segera melanjutkan langkahnya menyusul Qin Yu Zhi yang sudah tidak terlihat.
Qin Yushang salut akan keberanian Acong, dia sangat yakin jika kelak anak itu akan menjadi prajurit terkuat di bukit Giok Hitam. Darah manusia dan iblis di dalam tubuhnya membuatnya memiliki dua keunggulan. Tidak menutup kemungkinan dia juga bisa menjadi seorang kultivator yang hebat.
"Kakak Cantik ini untukmu. Dan ini untuk Ayah Angkat." Acong memberikan dua buah ditangannya.
Jian Heng dan Fang Yin saling berpandangan. Keduanya tidak menyangka jika Acong mengambil buah itu untuk mereka. Mereka pikir Acong mengambil buah itu untuk dirinya sendiri.
"Tapi Acong ...." Fang Yin terlihat ragu-ragu untuk menerima buah itu dari tangan Acong.
"Ini hadiah dariku, Kakak Cantik. Aku tidak memiliki sesuatu yang berharga." Mimik wajah Acong terlihat sedih.
Fang Yin tidak ingin berkata-kata lagi. Dia meraih tubuh Acong lalu memeluknya dengan erat. Mereka saling berpelukan hingga beberapa saat.
Apa yang dilakukan oleh Fang Yin dan Acong menimbulkan rasa kecemburuan Jian Heng. Meskipun Acong masih anak-anak tetapi dia tidak suka Fang Yin memeluknya.
"Ehemm! Kapan ayah mendapatkan giliran." Tidak mungkin dia menunjukkan kecemburuannya secara langsung di hadapan semua orang.
Acong segera beralih memeluknya setelah mendengarnya bicara. Kali ini mereka berpelukan lebih lama. Jian Heng juga beberapa kali menepuk bahu cong perlahan.
"Semoga kamu selalu menjadi orang yang peduli, Acong. Meskipun dunia ini kejam, jangan pernah takut untuk berbuat baik. Tidak semua orang yang kamu temui itu jahat dan licik. Ada kalanya seseorang membutuhkan pertolonganmu."
Acong mengangguk saat mendengar nasehat Jian Heng. Keduanya kembali berpelukan.
Qin Yushang dan Guan Xing ikut terharu saat melihat momen ini. Seseorang yang baru saja bertemu beberapa waktu terlihat begitu dekat. Kedekatan emosional yang terjalin menumbuhkan perasaan yang kuat di antara mereka. Tanpa ikatan darah sebuah hubungan kekeluargaan bisa terjalin dengan indah.
Mereka melewati hari itu dengan saling bercerita. Hal-hal sederhana yang membuat jarak diantara mereka terkikis. Saat-saat seperti ini akan mereka rindukan di kemudian hari.
Di pertemuan yang akan datang, pasukan terkuat dari bukit Giok Hitam akan membantu Fang Yin dalam penyerangan ke Kekaisaran Benua Timur. Acong dan kelima iblis berjanji akan membujuk raja iblis untuk membantu juga. Semua orang yang berhubungan baik dengan Fang Yin dan Jian Heng akan dilibatkan dalam agenda ini
Waktu begitu cepat berlalu. Setelah makan malam, Jian Heng dan Fang Yin duduk termenung di atas atap Villa Qin Yushang. Mereka tidak ingin pergi terlalu jauh.
"Setelah besok, tempat ini tidak akan sedamai ini. Namun, penduduk desa ini juga berhak untuk hidup bebas dan melihat luasnya dunia." Fang Yin berbicara sambil menatap langit cerah berbintang malam itu.
"Kamu benar. Ada sisi baik dan sisi buruk yang akan terjadi setelah gerbang kebebasan terbuka. Keterpurukan yang telah mereka alami selama ribuan tahun telah berlalu. Kini saatnya mereka untuk melakukan perubahan secara menyeluruh pada semua sektor."
Fang Yin menatap Jian Heng dan mengangguk. Wajahnya terlihat murung. Seolah ingin menyembunyikan kesedihannya, dia kembali memalingkan wajahnya ke langit.
"Aku merasa iri pada langit. Sejak tadi kamu terus menatapnya. Bahkan kamu lebih suka menunjukkan kesedihanmu padanya daripada padaku," sungut Jian Heng.
Lagi-lagi sikap konyol Jian Heng membuat Fang Yin ingin tertawa. Kekasihnya itu begitu pandai membuat suasana hatinya kembali bersinar.
"Kita turun sekarang. Besok kita harus melakukan hal yang cukup menguras tenaga," ucap Fang Yin kemudian.
Keduanya turun dari atap itu dan kembali ke kamar mereka. Acong telah terlelap di kamar Jian Heng sesaat sebelum mereka pergi keluar.
Hati Qin Yu Zhu begitu perih ketika melihat kedekatan keduanya. Namun, sekarang dia lebih bisa menerima kenyataan. Setelah keduanya pergi ke kamar mereka masing-masing, dia keluar dari persembunyiannya lalu pergi ke kamarnya.
\*\*\*\*
__ADS_1
Bersambung ....