Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 320. Pengejaran


__ADS_3

Guan Xing hanya berpura-pura tertidur. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan para utusan itu. Sikap mereka terlihat mencurigakan, mereka pasti memiliki niat yang tidak baik pada anggota suku gletser.


Saat mendekati tengah malam, seluruh orang yang berada di ruangan itu sudah tertidur dengan pulas. Hanya Guan Xing yang berpura-pura tidur dan tidak bergerak sama sekali.


Para utusan itu beraksi, mereka mendekati salah satu anggota suku gletser dan membekap mulutnya. Mereka menyeret pria itu dengan kasar dan beberapa orang lain mengangkat kaki dan memegangi tubuhnya agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan semua orang yang tidur di sana.


'Apa yang mereka inginkan?' Guan Xing menyelinap mengikuti mereka dan mengawasinya dari tempat yang tersembunyi.


"Ketua! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satu anggota utusan dengan tangan yang membekap mulut anggota suku gletser.


"Kita harus membawanya pergi ke Gunung Perak sekarang juga sebelum pemimpin suku gletser dan anggota yang lainnya menyadari ketidakberadaannya. Dengan bantuan orang ini maka kita akan bisa melewati mantra pelindung berkabut," jelas pemimpin utusan Kaisar Ning.


Setelah mengatakan itu, mereka menaikkan pria itu ke atas kuda dengan seorang anggota utusan.


Guan Xing berpikir sejenak. Rasanya sulit untuk menghadapi sepuluh orang sendiri. Pertarungan mereka tentu juga akan menimbulkan keributan di tengah malam.


Berita ini harus segera disampaikan kepada Jian Heng dan Fang Yin dan mengatur rencana selanjutnya. Guan Xing tidak kembali ke aula, dia menunggu utusan Kaisar Ning pergi dari desa itu dan pergi mencari keberadaan Jian Heng dan Fang Yin.


Utusan Kaisar Ning dan seorang anggota suku gletser telah meninggalkan desa. Kira-kira mereka akan sampai di Gunung Perak sesaat sebelum matahari terbenam.


'Aku tidak menemukan jejak energi dari Nona Yin dan Tuan Heng. Kemana aku harus mencari mereka berdua?' Guan Xing melompat ke ketinggian agar bisa menjangkau pemandangan yang luas.


Dengan kemampuan yang dimilikinya dia akan mampu merasakan hawa manusia dan menandainya dengan kekuatannya. Aura energi di tubuh Guan Xing membuatnya terlihat bercahaya di dalam kegelapan. Tidak butuh waktu lama dia pun segera merasakan keberadaan Fang Yin dan Jian Heng.


'Sebenarnya aku merasa sangat malu mengganggu kebersamaan mereka tapi apa boleh buat, otakku tidak bisa berpikir lagi. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anggota suku gletser dan suku es sebelum aku datang.' Guan Xing terus berbicara dalam hati memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi.


Guan Xing turun di bukit tempat di mana Jian Heng dan Fang Yin beristirahat. Keduanya tertidur pulas dengan posisi saling memunggungi dan dalam jarak yang cukup jauh ketika dia datang.


"Apa yang harus aku lakukan?" Guan Xing berjalan mondar-mandir di dekat Jian Heng dan Fang Yin dengan wajahnya yang terlihat cemas.


Beberapa kali dia melirik ke arah keduanya berharap mereka segera menyadari kehadirannya. Dia juga sengaja memperjelas hawa kehadirannya agar Fang Yin dan Jian Heng segera terbangun.


Benar saja, Jian Heng terlihat waspada dan langsung melemparkan energi pengikatnya meskipun dia belum terbangun. Gerakannya yang cepat dan tersamarkan oleh posisinya yang sedang tertidur membuat Guan Xing tidak kuasa untuk menghindar.

__ADS_1


"Argghh! Ini aku, Pangeran Ketiga!" pekik Guan Xing.


Tubuhnya tidak dapat bergerak. Kedua tangannya berada di samping tubuhnya dengan kaki yang rapat. Salah sedikit dia bisa tumbang jika kehilangan keseimbangannya.


Jian Heng segera bangkit dan memastikan bahwa orang itu adalah Guan Xing asli atau bukan. Dia berjalan sempoyongan menghampirinya karena baru sebentar dia tertidur.


Suara Guan Xing mengusik ketenangan Fang Yin juga. Dengan malas dia pun terbangun dan berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Dia kemudian memutar tubuhnya yang sedang dalam posisi duduk.


"Kakek Lesung pipi? Apa yang terjadi?"


Fang Yin mengucek-ngucek matanya lalu berjalan menghampiri Jian Heng yang masih mencurigai Guan Xing sebagai orang lain yang sedang menyamar.


"Apa dia benar-benar, Kakek Guan?" tanya Jian Heng.


Tangannya masih memegang kendali atas energi pengikat yang membatasi gerak Guan Xing. Sebelum dia benar-benar merasa yakin, dia belum akan melepaskannya.


"Hmm." Fang Yin mengangguk. "Lepaskan dia!" tegasnya.


"Terimakasih, Pangeran Ketiga. Maaf jika kedatanganku mengganggu istirahat kalian berdua. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini karena ada masalah yang tidak bisa aku selesaikan sendiri."


Fang Yin dan Jian Heng saling berpandangan. Mereka belum bisa menarik kesimpulan dari cerita Guan Xing.


"Sepertinya kamu sangat khawatir. Hal penting apa yang membuatmu begitu panik?" tanya Jian Heng.


Fang Yin juga memperlihatkan wajah ingin tahunya. Bahkan terlihat tidak sabar.


"Utusan Kaisar Ning membawa salah seorang anggota suku gletser. Mereka membawanya untuk membuka gerbang mantra kabut pelindung. Mungkin sebelumnya mereka gagal memasuki wilayah Gunung Perak sehingga memanfaatkan pertemuan ini untuk menculik salah satu keturunan suku es yang sudah pasti memiliki kemampuan untuk menembus mantra itu," jelas Guan Xing.


"Mereka sangat nekat. Apakah kamu sengaja membiarkannya dibawa pergi? Harusnya kamu menghajarnya, Kakek Lesung pipi!"


Fang Yin memukulkan kepalan tangan kanannya pada telapak tangan kirinya. Wajahnya terlihat sangat emosi.


"Hei, kamu jangan asal berbicara seperti itu, Yin'er. Kamu pikir membuat keributan di tengah malam tidak akan menimbulkan huru-hara, apa? Kakek Guan tentu memikirkan keamanan anggota suku gletser yang lain juga. Saat ini kita sedang berada di wilayah kekuasaan Kaisar Ning, mengganggu utusannya tentu akan membuat kita berurusan dengannya."

__ADS_1


"Ternyata urusan politik itu serumit ini. Aku hanya ingin memberi pelajaran untuk mereka, itu saja." Fang Yin tidak bisa bersabar.


Di dalam pikirannya hanyalah membunuh, membunuh, dan membunuh lalu selesai semua masalah. Fang Yin tidak memikirkan efek jangka panjang yang akan terjadi setelahnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan Heng?" tanya Guan Xing.


Jian Heng tidak langsung menjawab. Dia memikirkan langkah yang bisa dia ambil untuk mengatasi masalah ini. Kedatangan utusan Kaisar Ning di wilayah Gunung Perak sudah melanggar privasi suku es. Pada masa Kaisar Gu berkuasa, wilayah ini dinyatakan sebagai wilayah yang merdeka dan tidak terikat pada kekaisaran manapun.


"Aku sependapat dengan Yin'er untuk menghabisi mereka tapi tidak di tengah masyarakat dan juga tidak berada di Gunung Perak. Semua jejak kematian mereka harus benar-benar dihilangkan tanpa diketahui oleh siapapun," jelas Jian Heng.


Fang Yin melangkah maju sambil melipat kedua tangannya di dada. Tersungging sebuah senyuman jahat yang tersembunyi di balik kain yang menutupi wajahnya.


"Itu mudah. Selama tidak ada yang melihatnya, aku akan membakarnya hingga habis dengan api hitamku."


Guan Xing tersenyum senang. Dia pun sependapat dengan kedua rekannya itu. Sebagai orang yang lebih mengenal wilayah di sekitar tempat itu, dia menjelaskan tempat yang cocok untuk mengeksekusi para utusan itu.


Jian Heng dan Fang Yin memperhatikan peta yang digambarkan oleh Guan Xing dengan energi cahayanya. Meskipun gambaran itu sangat sederhana tetapi keduanya cukup memahaminya.


Setelah selesai mengatur rencana, ketiganya bergerak meninggalkan bukit itu dengan jurus terbang. Fang Yin dan Jian Heng berpisah dengan Guan Xing di perbatasan desa.


Guan Xing kembali ke tengah anggota suku gletser yang sedang terlelap dengan perasaan lega. Satu masalah telah teratasi. Setelah malam ini dia bisa fokus untuk memimpin perjalanan suku gletser.


"Semoga Nona Yin dan Pangeran Ketiga bisa mengatasi semuanya dengan baik." Guan Xing bersiap untuk menghabiskan sisa malam untuk beristirahat.


Di tempat lain,


Fang Yin dan Jian Heng melakukan pengejaran utusan Kaisar Ning. Mereka berusaha untuk bergerak lebih cepat dari para utusan dan menunggu rombongan mereka di sebuah titik wilayah yang ditunjukkan oleh Guan Xing. Di tempat itulah keduanya akan menghabisi sepuluh utusan yang suka bekerja berkelompok itu.


Menurut insting Jian Heng, beberapa di antara utusan itu memiliki binatang roh kuat di dalam tubuhnya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2