
Perhatian kini beralih kepada wanita yang sedang berjalan menuju ke tempat duduk para tamu kehormatan. Beberapa orang teeetua terlihat menghalanginya tetapi dia memohon dengan sopan.
Kaisar Jing berdiri dari tempat duduknya dan meminta wanita itu untuk maju ke hadapannya. Dalam hati dia bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada wanita itu.
"Shu Shuangyi memberi hormat pada, Yang Mulia Kaisar," ucapnya sambil membungkukkan badanya karena kedua tangannya sedang menggendong anaknya yang tidak bergerak sama sekali.
"Bangunlah, Nyonya! Apa yang terjadi padamu?" tanya Kaisar Jing.
Semua orang terdiam mendengarkan percakapan mereka. Tidak ada yang berani bersuara hingga membuat suasana menjadi hening saat keduanya terdiam.
Shu Shuangyi duduk di lantai sambil memangku anaknya. Dia tidak sanggup menggendongnya terlalu lama mengingat tubuhnya sudah besar. Saat ini putranya itu sudah berusia sekitar delapan tahun.
"Sebagai seorang kaisar tentu Anda sangat bijak untuk memutuskan sebuah masalah, Yang Mulia. Saya ingin mengadukan keadaan hidup anak ini. Sejak bayi dia terlahir buta dan mengalami pertumbuhan yang lambat. Sebelumnya saya tidak mengeluhkan keadaan ini karena masih ada suami saya yang membantu mengurus segalanya tetapi setelah suami saya meninggal dalam bentrokan bersama suku gletser, saya merasa tidak sanggup lagi mengurusnya sambil bekerja mencari penghidupan." Shu Shuangyi berbicara dengan hati yang berat.
Anak yang berada di dalam pangkuannya itu pun ikut menangis tanpa suara. Bulir-bulir bening menetes dari sudut matanya yang terpejam. Meskipun dia tidak bisa bicara, sepertinya dia mengerti apa yang dikatakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Kaisar Jing terdiam.
Masalah seperti ini sangat jarang terjadi. Apa yang dibutuhkan wanita ini bukan sekedar materi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja. Mengurus anak lumpuh dan melakukan aktifitas sehari-hari tentu membuatnya merasa lelah dan tertekan.
Menilik dari usianya, Shu Shuangyi juga sudah cukup berumur. Kemunginannya sangat kecil untuk menarik hati seorang pria yang mau menikahinya.
"Kakak Tian Feng, bisakah kamu membantuku?" tanya Kaisar Jing pada Gu Tian Feng.
"Dia buta sepertiku sejak lahir, tidak ada cara untuk menyembuhkan kebutaan permanen. Sebaiknya kamu meminta bantuan Yin'er untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Mungkin dia bisa melakukan sesuatu." Tian Feng menoleh ke arah Fang Yin.
Penduduk suku es tidak tahu jika Fang Yin juga seorang ahli pengobatan. Mereka hanya tahu jika putri dari Kaisar Gu itu memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bertarung.
Merasa dibutuhkan, Fang Yin berjalan maju dan berdiri di hadapan Shu Shuangyi dan putranya.
"Aku tidak berani menjamin akan kesembuhannya tetapi aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik." Fang Yin berbicara dengan nada serius.
"Terimakasih, Nona Yin." Shu Shuangyi terlihat ragu-ragu.
"Baringkan tubuhnya dengan baik!" perintah Fang Yin.
__ADS_1
Wanita itu pun melakukannya. Sebenarnya dia merasa takut dan tidak tega jika Fang Yin melakukan hal yang tidak manusiawi padanya. Meskipun putranya itu tidak berguna, dia tetap darah dagingnya yang tidak mungkin diabaikannya.
Wajah Fang Yin memang tidak menunjukkan keramahan tetapi sebenarnya hatinya sangat lembut dan peduli.
"Kaisar Jing, mundurlah!" Fang Yin menatap tajam ke arah Kaisar Jing.
Kaisar Jing mengangguk lalu bergerak mundur beberapa langkah.
Shu Shuangyi masih duduk di samping putranya. Kini gilirannya yang mendapat tatapan tajam Fang Yin.
"Kamu juga. Menjauhlah dari anakmu!" seru Fang Yin pada Shu Shuangyi.
Wanita itu pun beranjak dari duduknya lalu berjalan mundur ke belakang. Hatinya merasa cemas dan berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada putranya.
Wajah semua orang terlihat tegang. Selama ini belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan kelumpuhan dan keterbelakangan pada anak usia dini. Para tabib dalam masa ini masih menggunakan teknik pengobatan kuno dan pengetahuannya tentang obat-obatan masih sangat terbatas.
Fang Yin duduk bersila di samping putra Shu Shuangyi. Tangannya mulai bekerja dengan mengeluarkan Qi pengobatan dan menandai bagian-bagian tubuh bocah itu yang membutuhkan tindakan lebih lanjut.
Semua orang berpikir jika Fang Yin sedang melakukan pengobatan dengan sihir. Terlihat beberapa energi dengan warna yang berbeda menyelimuti tubuh putra Shu Shuangyi. Energi pengobatan berwarna biru dan titik-titik penanda berwarna kuning cerah.
Tanda-tanda dari cahaya energi itu tidak menghilang meskipun Fang Yin menghentikan aliran energi pengobatan dari tangannya. Tanpa menyentuh bocah itu, Fang Yin membuat tubuh putra Shu Shuangyi melayang di udara.
Telapak tangannya terbuka dan munculah banyak sekali jarum yang melayang di hadapannya. Fang Yin kemudian membakar jarum-jarum itu untuk menyeterilkannya. Tidak butuh waktu lama, jarum-jarum itu siap di gunakan.
"Tunggu! Apa yang akan kamu lakukan pada anakku?" Shu Shuangyi berteriak pada Fang Yin dan membuatnya menghentikan aliran Qi pengobatan pada jarum-jarum itu.
Jian Heng maju ke hadapan Shu Shuangyi untuk menenangkannya. Sebenarnya bukan hanya Shu Shuangyi saja yang merasa tercengang melihat Fang Yin mengeluarkan jarum-jarum untuk menusuk tubuh putra Shu Shuangyi.
"Jangan khawatir untuk ini! Aku sering melihat Yin'er melakukan pengobatan dengan menggunakan teknik ini," jelas Jian Heng.
Para tetua suku es dan keluarga Fang Yin ikut berdiri dan mencoba menjelaskan kepada penduduk suku es agar bersikap tenang. Mereka menjamin jika Fang Yin telah memiliki pengalaman dalam teknik pengobatan ini meskipun tergolong baru.
"Lanjutkan, Yin'er!" seru Patriak Shi.
Fang Yin mengangguk dan kembali berkonsentrasi untuk melakukan teknik pengobatan akupuntur. Jarum-jarum yang telah dialiri Qi pengobatan melesat menembus titik-titik penanda di tubuh anak itu.
__ADS_1
Apa yang dilakuklannya tidak lepas dari pengamatan seluruh orang yang ada di tempat itu. Mereka melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh Fang Yin.
Pengobatan yang dilakukan oleh Fang Yin mulai menunjukkan perubahan. Putra Shu Shuangyi terlihat menggerakkan ujung jarinya. Perlahan tapi pasti pengobatan itu mulai menunjukkan hasil.
"Aku merasakan ada penghalang di tubuh bocah ini. Sepertinya seseorang menaruh jimat di dalam tubuhnya yang membuatnya sulit berkembang. Mungkin tujuannya baik tetapi caranya tidak tepat," jelas Fang Yin.
Shu Shuangyi maju ke hadapan Fang Yin. Namun, kali ini dia memperlihatkan ekspresi wajah yang berbeda. Mungkin dia sudah mulai percaya pada pengobatan ini.
"Dulu ayahku meletakkan artefak lentera langit di dalam tubuh Chen Chen setelah aku melahirkannya. Dia mengatakan itu adalah warisan yang akan diberikannya pada putraku," jelas Shu Suangyi.
"Sudah kuduga," ucap Fang Yin.
Dia kemudian melakukan gerakan dengan pola tertentu untuk mengeluarkan artefak kuno itu dari dalam tubuh Chen Chen. Artefak itu tersimpan di kepala bocah itu dan masuk ke dalam otaknya. Butuh ketelitian dan kerja keras untuk mengeluarkannya.
Fang Yin tidak bisa sembarangan melakukan pengeluaran artefak lentera langit di kepala Chen Chen. Dia terlihat sangat berhati-hati dan penuh perhitungan. Apa yang dilakukannya saat ini memiliki cara kerja yang mirip dengan operasi yang terjadi di dunia modern.
Tubuh Fang Yin terlihat berkeringat. Dalam pengobatan ini dia tidak membutuhkan energi yang besar tetapi membutuhkan konsentrasi yang baik. Sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal pada Chen Chen.
Perasaannya merasa sedikit lega saat melihat sebuah benda mirip seperti sebuah batu seukuran kelereng berwarna jingga menyembul keluar dari kening Chen Chen. Batu itu memancarkan sinar yang sangat terang dan menyilaukan pandangan mata semua orang yang berada di tempat itu.
Aura energinya terasa begitu kuat. Tidak heran jika artefak ini memiliki pengaruh yang tidak biasa pada tubuh Chen Chen dan menjadikannya seperti seorang mayat hidup.
Jiwanya mampu hidup dengan normal di dalam alam bawah sadarnya dan melakukan semua yang tercantum dalam artefak lentera langit. Namun, Fisiknya tidak mampu mengimbanginya karena keberadaan artefak di kepalanya menghambat kerja otak untuk mengatur tubuhnya.
Fang Yin membiarkan artefak lentera langit berputar-putar di atas tubuh Chen Chen agar energi di dalamnya terserap ke dalam tubuhnya. Artefak lentera langit dan tubuh Chen Chen memiliki keterikatan sehingga bisa membantu pemulihannya dengan cepat.
Shu Shuangyi tidak berani berharap lebih. Melihat Chen Chen bisa melakukan hal normal saja akan membuatnya sangat gembira.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya teman-temanku, ya. Semoga berkenan mampir. Terimakasih.
__ADS_1