
Ketua Lama berdiri melayang di samping Fang Yin. Terlihat napasnya masih terengah-engah setelah pontang panting mengatasi kekacauan yang ditimbulkan oleh Yuan Wong.
"Aku menghargai bantuanmu anak muda, tapi lebih baik kamu menyingkir dulu dari pertarungan ini. Meskipun dia berada di bawah ranah kultivasiku, tetapi wujud binatang roh adalah wujud yang sangat sulit untuk di atasi. Aku takut ini akan membahayakan nyawamu lagi," ucap Ketua Lama mencoba memberi pengertian pada anak sahabatnya itu dengan bahasa yang lembut.
Fang Yin menatap Ketua Lama dengan kilatan yang dingin. Saat ini tubuh Fang Yin sudah dikuasai oleh dua roh naga yang menyatu dalam kekuatannya. Dia memang masih bisa mengendalikan dirinya tetapi tidak untuk emosinya.
Roh naga di dalam tubuhnya sangat haus darah. Ketika dia mencium adanya binatang roh lain disekitarnya, maka naluri bertarungnya akan bangkit dan memaksa pemiliknya untuk bertarung bersamanya.
Melihat sorot mata Fang Yin yang menyiratkan aura mengerikan membuat Ketua Lama memilih untuk membiarkannya saja. Sifat binatang yang ada di dalam dirinya bisa saja berbalik menyerangnya jika dia merasa di halang-halangi.
"Terserah padamu! Tapi jangan biarkan binatang itu melukaimu!" Akhirnya Ketua Lama tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Fang Yin ikut bertarung bersamanya.
"Mari kita musnahkan pengacau ini!" ucap Fang Yin bersemangat dengan senyum yang tersungging di balik cadarnya.
Sebenarnya Ketua Lama bisa mengatasi pengacau ini dan memenangkan pertarungan ini dengan mudah karena dia memegang Pedang Sembilan Bintang di tangannya, tetapi dia tidak bisa mengendalikan roh binatang yang ada di dalam tubuh anak sahabatnya itu yang bisa saja menimbulkan masalah baru untuknya.
Dari kejauhan Jian Heng merasa heran melihat keakraban yang terjalin antara Fang Yin dan Ketua Lama padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
Mereka sangat kompak dalam bertarung menghadapi Yuan Wong. Fang Yin mengeluarkan Jurus Badai Es sedangkan Ketua Lama menyerang Yuan Wong dengan Jurus Pedang Dewa Matahari.
__ADS_1
Wujud binatang roh Yuan Wong membuatnya bisa dengan mudah menghindari serangan Ketua Lama. Seperti biasa, Fang Yin tidak langsung menyerang dengan sembarangan. Dia selalu mencari kelemahan lawannya terlebih dahulu sebelum melakukan serangan yang mematikan untuknya.
Dari pertarungan yang terjadi antara Ketua Lama dan Yuan Wong, Fang Yin melihat Yuan Wong selalu menghindari tanah. Setiap kali terdesak, dia selalu menghindarkan tubuhnya dari menyentuh lantai. Saat hampir terjatuh ke tanah pun dia berusaha menopang tubuhnya dengan pedang energi yang dia tancapkan di tanah.
Fang Yin tersenyum senang, mahkota es di kepalanya bersinar sangat terang seperti air danau yang berkilauan memantulkan cahaya bulan.
Kedua tangannya dia rentangkan dengan telapak tangannya membuka ke atas. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini di belakang Fang Yin mulai muncul bayangan naga berkepala dua yang terlihat sangat menyeramkan. Tubuh naga itu mengeluarkan cahaya merah yang sangat mengerikan.
Angin berhembus lembut namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Bunga-bunga es muncul di dedaunan membuat sekitar tempat itu diselimuti salju. Api yang berada di tangan Yuan Wong semakin mengecil di tekan oleh Jurus Badai Es yang dikeluarkan oleh Fang Yin.
Perlahan Fang Yin mengangkat tangan kanannya ke atas maka muncul kristal es yang berkilauan di bawah kendalinya. Menyusul tangan kirinya pun melakukan hal yang sama.
"Aku? Hmm ... aku adalah murid Da Xia si Pendekar Es. Kamu sudah tahu tentangnya, bukan?" jawab Fang Yin dengan lantang.
Bukan hanya Yuan Wong, Ketua Lama pun terkejut mendengar Fang Yin menyebutkan nama pendekar itu. Butuh setidaknya satu tahun untuk menguasai jurus ini di tingkat terendah. Tetapi Fang Yin sudah menguasai jurus ini di tingkat menengah.
Melihat usianya yang masih belasan tahun rasanya ini begitu mengejutkan bagi mereka setelah sebelumnya mereka juga melihat Jurus Perisai Es telah dia kuasai dengan sempurna.
Bagi kultivator kawakan seperti Ketua Lama dan Yuan Wong yang mengetahui kesulitan jurus ini, ini adalah hal yang menakutkan.
__ADS_1
Tatapan kejam Fang Yin membuat bulu roma meremang.
Sebelum Fang Yin menyerangnya, Yuan Wong melemparkan serangan ke arahnya terlebih dahulu.
Serangan itu disambut oleh Fang Yin dengan kristal es miliknya.
Duarr!
Butiran-butiran salju kembali berhamburan seperti hujan lokal di tempat itu.
Aksi saling serang ini terus berlangsung hingga Yuan Wong bergerak maju untuk melakukan pukulan jarak dekat pada Fang Yin.
Fang Yin pura-pura tidak mengelak, begitu Yuan Wong mendekat Fang Yin bergerak dengan cepat dengan meliukkan tubuhnya untuk meraih kakinya.
"Aaarrggghh!" pekik Yuan Wong saat kaki-kakinya yang tersentuh oleh tangan Fang Yin membeku dan menjadi pemberat yang membawa tubuhnya meluncur ke bawah.
****
Bersambung ....
__ADS_1