
Keluarga besar Kaisar Xi melihat Jian Heng dan Fang Yin yang tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak. Mereka berdiam sejenak di sana dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah merasa tidak melihat hal yang aneh, Kaisar Xi mengajak keluarganya untuk kembali ke istana. Mereka terdiam. Kenyataan yang terjadi hari ini terasa seperti mimpi.
Jian Heng datang secara tiba-tiba dan pergi dengan cepat. Kedua kakaknya merasa semakin tertinggal jauh darinya. Namun, mereka tetap mendukung adiknya itu untuk membantu Fang Yin mengambil kembali Benua Timur.
"Xiang'er, Changyi, kalian harus lebih giat lagi berlatih. Negeri ini kelak kalian berdua yang harus menjaganya. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tetaplah berusaha menjadi yang terbaik." Kaisar Xi berbicara kepada kedua putranya.
"Baik, Ayah!" jawab Changyi dan Hao Xiang hampir bersamaan.
Mereka tidak lagi berkumpul di istana Kaisar Xi melainkan kembali melanjutkan aktifitas masing-masing. Banyak hal yang terlewatkan dengan kehadiran Jian Heng dan Fang Yin. Namun, mereka merasa bahagia dengan pertemuan yang hanya sebentar itu.
Hao Xiang dan Changyi tidak ingin kalah jauh dari Jian Heng. Mereka tidak mungkin melampaui adiknya itu tetapi keduanya berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Setelah hari ini, mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk lebih giat lagi berlatih. Kaisar Xi meminjamkan mereka kitab-kitab bela diri kuno yang bisa mereka pelajari sendiri.
Di Gunung Perak,
Fang Yin dan Jian Heng tiba di tempat awal keberangkatan mereka di mana mereka meninggalkan jejak energi sebelum berpindah ke Kekaisaran Benua Tengah.
Tidak ada siapapun di sana ketika mereka tiba. Kedua kakeknya pulang setelah mengantarkan mereka. Tidak ada gunanya menunggu di sana karena tidak tahu pasti kapan Fang Yin dan Jian Heng akan kembali.
"Kak Heng," panggil Fang Yin.
"Hmm. Ada apa, Yin'er?" tanya Jian Heng.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan jika saat ini aku merasa lega. Sebelumnya aku begitu takut jika keluargamu tidak bisa menerimaku. Saat ini semua orang masih menganggapku sebagai anak haram ibuku." Fang Yin mengungkapkan perasaannya.
Jian Heng menghentikan langkahnya lalu menatap Fang Yin penuh arti. Tangannya meraih kedua tangan Fang Yin dan menggenggamnya dengan erat. Mereka saling bertatapan dan mengungkapkan bahasa hati melalui mata mereka.
"Peperangan akan segera di mulai. Seberat apapun medan pertempuran yang akan kita hadapi, kita harus berusaha untuk hidup. Jangan melupakan janji kita untuk hidup bersama setelah perang berakhir. Aku akan tinggal di mana kamu tinggal dan tidak ingin berpisah lagi seperti saat ini." Jian Heng begitu takut kehilangan Fang Yin.
"Aku juga menginginkan hal yang sama, Kak Heng. Meskipun tidak ada larangan bagi seorang wanita untuk memimpin, tetapi aku berharap kamu bersedia menjadi pemimpin Kekaisaran Benua Timur di masa mendatang. Tetapi aku memiliki sebuah syarat yang harus kamu penuhi. Aku ingin menjadi satu-satunya permaisurimu selamanya." Fang Yin berkata penuh harap.
Kehidupan seorang kaisar identik dengan banyak selir. Ada persaingan tidak terlihat di antara mereka meskipun secara sekilas terlihat rukun. Fang Yin tidak ingin dipusingkan dengan itu semua di mana mereka akan mengundang masalah yang tidak seharusnya dipikirkan.
"Aku bukan pria yang bisa membagi perasaanku kepada beberapa orang wanita. Sejak pertama kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu meskipun saat itu kamu begitu konyol dan kekanak-kanakan," ucap Jian Heng sambil tersenyum mengenang pertemuan mereka.
Fang Yin mendelik tidak terima mendengar pernyataan Jian Heng.
"Waktu itu aku memang masih anak-anak juga. Mana mungkin kamu jatuh hati, selalu saja kamu mengajakku berdebat sampai-sampai aku merasa jengkel dan marah padamu." Fang Yin meluapkan kekesalannya.
"Hahaha! Aku sengaja melakukannya agar kamu memperhatikanku. Kamu juga tahu sampai saat ini pun aku tidak pandai merayu wanita." Jian Heng tersenyum konyol.
__ADS_1
"Jangan sampai," bisik Fang Yin sambil tersipu.
Jian Heng masih melihat dengan jelas tanda yang dia buat di kening Fang Yin. Untuk beberapa saat mereka larut dalam kenangan. Perasaan yang semakin kuat di antara keduanya menjadi bersemangat untuk menghadapi rintangan di depan mereka.
Setelah puas bernostalgia dengan mengingat sepenggal kisah di masa lalu, Jian Heng membawa Fang Yin berjalan menuruni bukit. Mereka melangkah dengan santai menuju ke kediaman keluarga Fang Yin.
'Di dunia modern, sebagai Agata aku gagal mendapatkan cinta Dokter Zidane. Mungkin Jian Heng adalah jawaban dari kegalauanku. Setelah ini aku akan menjadi seorang istri. Pengalaman pertama yang belum pernah aku rasakan di dua kehidupanku.' Fang Yin bermonolog dalam hati.
Tidak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan pulang. Keduanya larut dalam angan mereka masing-masing. Bayangan kenangan dan rencana di masa mendatang datang silih berganti dan menghiasi benak mereka.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, segala yang terjadi seperti baru kemari tetapi telah bertahun-tahun berlalu. Penderitaan, keputusasaan, amarah dan dendam membangkitkan ambisi bagi Fang Yin dan membuatnya menjadi seperti saat ini.
Matahari hampir tenggelam ketika keduanya sampai di perbatasan desa. Lentera di rumah-rumah warga sudah dinyalakan membuat jalanan yang remang terlihat terang.
Warga yang berpapasan dengan mereka menyapa dengan hormat. Suku es menganggap Fang Yin adalah seorang pahlawan. Bahkan mungkin pengaruhnya melebihi Patriak Shi sebagai pemimpin suku es saat ini.
"Kalian sudah kembali?" tanya Shu Han Wu. "Cepat sekali," lanjutnya.
"Sudah, Kek. Di mana yang lainnya?" tanya Fang Yin.
Shi Han Wu duduk sendirian di teras. Fang Yin menoleh ke sana kemari mencari anggota keluarganya yang lain. Namun, tidak ada hawa manusia di sana.
"Mereka pergi ke pemukiman baru untuk menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Patriak Shi. Mereka akan membahas siapa-siapa saja yang akan diberangkatkan untuk ikut serta dalam penyerangan," jelas Shi Han Wu.
'Sepertinya aku harus hadir di sana dan mempertimbangkan orang yang akan aku bawa. Suku es sudah banyak kehilangan anggotanya. Di sini tetap harus ada yang menjaga.' Fang Yin bermonolog dalam hati.
"Aku ingin pergi menyusul mereka, Kek. Apakah kakek ingin ikut?" tanya Fang Yin.
"Hmm. Selalu ada hal menarik jika ada kamu. Mana mungkin aku melewatkannya. Ayo kita pergi!" Shi Han Wu bangkit dari duduknya.
Dia berdiri di samping Jian Heng dan memukul bahunya pelan. Keduanya kemudian saling berpandangan dan mengangguk lalu berjalan mengikuti Fang Yin yang telah lebih dulu berjalan di depan.
Jalanan terlihat sepi karena malam mulai turun. Hanya anak-anak dan para wanita saja yang tinggal di pondok mereka. Sesekali terdengar suara celotehan anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya.
Fang Yin mengeluarkan insting dewi naga untuk mengetahui di mana suku es mengadakan perkumpulan. Langkah kakinya berjalan mengikuti instingnya menuju ke sebuah pondok yang berada di pinggir pemukiman baru.
Shi Han Wu dan Jian Heng mengikutinya di belakang. Mereka berjalan sedikit lebih lambat karena Fang Yin tidak terburu-buru.
Penduduk suku es ternyata sedang berkumpul di sebuah halaman yang luas. Mereka berkerumun mengelilingi beberapa orang yang berada di tengah.
Melihat kedatangan Fang Yin, Jian Heng dan Shi Han Wu, para penduduk yang berkerumun berlomba-lomba memberi jalan untuk mereka. Kedatangan ketiganya menjadi pusat perhatian dan membuat para pemimpin yang sedang berdiskusi mendadak diam.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat hingga Fang Yin mulai berbicara.
__ADS_1
"Fang Yin memberi hormat pada Patriak Shi dan para tetua suku es." Fang Yin memberi hormat diikuti oleh Jian Heng dan Shi Han Wu.
"Tidak perlu terlalu sopan, Nona Yin, Tuan Heng, Tuan Wu. Mari bergabung bersama kami." Patriak Shi mempersilakan ketiganya bergabung ke tengah barisan.
Fang Yin berjalan mendekat dan mendengarkan pendapat para tetua tentang pemilihan pasukan yang akan dibawa dalam penyerangan. Mereka telah memilih pasukan itu sebelum dia datang.
Patriak Shi meminta pasukan terpilih untuk berkumpul membentuk barisan tersendiri. Ada sekitar dua ratus lima puluh orang yang dinilai pantas menjadi bagian penyerangan.
"Bolehkah aku memeriksa mereka? Aku tidak ingin membahayakan orang yang tidak memiliki pengalaman bertarung. Di medan perang tidak hanya butuh kekuatan tetapi juga keberanian. Rasa takut adalah awal sebuah kekalahan." Fang Yin menatap semua orang dengan tatapan tegasnya.
"Silakan, Nona Yin. Kami mempertimbangkan kemampuan mereka untuk menjadi pasukan yang akan kami kirim ke sana," jelas Patriak Shi.
"Hmm." Fang Yin mengangguk lalu menoleh ke arah Jian Heng.
Dalam hal strategi keprajuritan Jian Heng ahlinya tetapi untuk menyeleksi Fang Yin memiliki trik khusus.
Jian Heng berjalan mendekati Fang Yin dan bertanya, "Apa rencanamu, Yin'er?" tanya Jian Heng penasaran.
"Aku memberi kesempatan kepada siapapun yang ingin bergabung tanpa pemilihan tetapi dengan seleksi penyaringan. Ada tiga tahap seleksi yang akan dilanjutkan dengan pelatihan. Untuk melaksanakan semuanya, aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku membutuhkan bantuanmu, Kak Heng," ucap Fang Yin.
"Dengan senang hati," jawab Jian Heng.
Setelah berbicara pada Jian Heng, Fang Yin kembali berbicara pada Patriak Shi dan para tetua. Dalam seleksi yang akan dilakukannya, Fang Yin ingin memberi kesempatan kepada orang yang tidak terpilih untuk mengambil bagian terlebih dahulu.
Mereka menyetujuinya dan mempersilakan kepada Fang Yin untuk melakukan seleksi.
Untuk melakukan seleksi dia membutuhkan ruang yang cukup luas. Penduduk suku es diminta untuk mundur dan memberi ruang untuknya. Patriak Shi dan para tetua pun ikut bergerak mundur dan berdiri bersama penduduk.
Di tengah kerumunan itu tinggal Fang Yin dan Jian Heng saja. Mereka mulai bersiap mengingat malam semakin larut.
"Bagaimana kita akan memulainya Yin'er?" tanya Jian Heng.
"Begitu banyak orang yang akan kita seleksi. Kita masing-masing membuat dua lingkaran api sehingga dalam sekali waktu kita bisa menyeleksinya empat orang. Orang yang telah melewati seleksi akan terbagi menjadi dua kelompok," jelas Fang Yin.
"Baiklah, mari kita mulai," jawab Jian Heng.
****
Bersambung ....
Kak saya numpang promo novel karya temanku, ya ... semoga berkenan mampir. Terimakasih.
__ADS_1