
Fang Yin memutar arah menuju ke tempat di mana aura binatang roh itu terdeteksi. Tak ayal apa yang dilakukannya itu membuat Shi Han Wu menggeleng cemas.
"Dasar Anak Nakal. Apa kamu tidak bisa diam dan pura-pura tidak melihatnya saja?"
"Hahaha! Aku tidak bisa dia, Kek. Tidak ada bedanya diam saja, binatang itu pasti akan datang menghampiri kita juga. Bagaimana kalau dia datang saat kita beristirahat?" Fang Yin masih bersikukuh dengan keinginannya.
Shi Han Wu tidak lagi menjawab. Mereka sudah semakin dekat dengan binatang roh itu.
Di hadapan mereka berdiri sesosok binatang roh yang mirip seperti babi raksasa tetapi memiliki tanduk di kepalanya. Babi ini memiliki wajah yang berbeda dengan babi-babi kebanyakan. Penampilannya membuatnya terlihat sangat seram.
Binatang roh itu terkejut dengan kedatangan Fang Yin dan Shi Han Wu. Dia tampak bersikap waspada dan melakukan ancang-ancang untuk menyerang keduanya.
Sudah lama binatang roh jenis ini tidak muncul. Meskipun wujudnya terlihat bodoh, tetapi kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Kristal roh yang dimilikinya mampu membangkitkan kekuatan di bagian leher pemiliknya. Efek yang didapatkan bukan hanya itu saja melainkan kekuatan tulang dan ketahanan fisik yang luar biasa.
Fang Yin dan Shi Han Wu bekerja sama untuk membunuh binatang roh ini sehingga pertarungan tidak berlangsung lama. Dalam waktu yang singkat binatang roh babi ini telah ditakhlukkan.
"Kakek ambil saja kristal roh ini," ucap Fang Yin sambil menyerahkan kristal roh yang baru saja mereka dapatkan.
"Mengapa kamu tidak ingin menyerapnya?" tanya Shi Han Wu.
"Kakek lebih membutuhkannya. Aku sudah menyerap energi dari Ning Ruoruo semalam dan ini sudah lebih dari cukup."
__ADS_1
Shi Han Wu pun akhirnya menerima kristal roh itu dari tangan Fang Yin. Tanpa menundanya lagi, dia menelan kristal itu dan menyerap seluruh energinya. Efek dari energi di dalamnya langsung terasa di tubuhnya.
'Luar biasa! Tulang-tulangku seperti menjadi muda. Punggungku yang semula sedikit bungkuk kini kembali tegak.' Shi Han Wu tersenyum menikmati efek dari energi itu.
Mereka memutuskan untuk memasuki hutan lebih dalam lagi. Setelah kematian binatang roh babi, tidak ada lagi kendala yang berarti. Aura roh Yang Hui yang keluar saat pertarungan Fang Yin dan binatang roh babi membuat binatang-binatang roh yang ada di tempat itu menyingkir. Mereka tidak ingin berurusan dengan Dewi Naga.
Semakin dalam mereka memasuki hutan, keadaan semakin gelap karena pepohonan yang berusia ratusan tahun menutupi langit di sekitarnya. Meskipun hari itu masih terbilang sore, tetapi suasana terlihat seperti permulaan malam.
Langkah mereka terhenti di hadapan sebuah tebing tinggi yang menjulang di hadapannya dengan air yang mengalir di celah bebatuan. Meskipun tidak besar tetapi alirannya tertampung membentuk sebuah kolam yang besar.
Fang Yin mulai menyerap kitab itu di sana sembari mempraktekkan apa yang tertulis di sana. Kitab Sembilan Naga bintang delapan berisi tentang penyempurnaan teknik lintas Dimensi dan teknik permulaan formasi sembilan matahari.
Setelah menguasai sembilan kitab secara utuh maka Fang Yin akan menjadi Dewi Naga yang memiliki dia wujud sempurna. Tidak ada teknik atau jurus khusus untuk merubah wujud, tetapi dia harus menyerap teknik penyempurnaannya terlebih dahulu.
Sembari menunggu dan melindungi Fang Yin, Shi Han Wu berada di dekatnya dan melakukan aktifitas untuk mengisi waktunya. Selain berkultivasi, dia juga menangkap hewan-hewan yang memungkinkan untuk di makan.
Suasana tenang di hutan itu dimanfaatkan oleh keduanya untuk berlatih. Mereka harus mengasah kemampuannya untuk menghadapi suku gletser yang mengacau di Gunung Perak.
Sudah lama Shi Han Wu tidak melatih semua jurusnya di luar pertarungan. Meskipun semuanya sudah mahir dia lakukan, tetapi butuh kecermatan dan peningkatan kecepatan dalam gerakannya. Beberapa kali dia berkolaborasi dengan Fang Yin untuk melatih jurus-jurus mereka.
Dalam latihan tersebut Fang Yin lebih unggul. Selain usianya yang masih muda dan bertenaga, tingkat kultivasi yang dimilikinya berada di atas Shi Han Wu. Namun, itu semua sesungguhnya tidak menjadi tolok ukur sebagai pemenang. Tingkat kultivasi yang lebih rendah masih memiliki peluang untuk mengalahkan pemilik kultivasi yang lebih tinggi jika dia memiliki kemampuan pendukung yang mengunggulinya. Dunia kultivasi ini sangat kejam sehingga memungkinkan seseorang untuk melakukan pertarungan tanpa batas dan tidak terikat oleh aturan hukum. Sisi kemanusiaan terkadang masih dimiliki oleh seorang kultivator, meskipun sudah sangat jarang. Kemenangan adalah harga mati yang harus dibayar dengan nyawa.
__ADS_1
Fang Yin dan Shi Han Wu tinggal dan berlatih di sana hingga beberapa hari. Butuh waktu yang lebih lama bagi manusia biasa untuk menyelesaikan sebuah kitab. Berbeda dengan Fang Yin yang memiliki kecerdasan Agata Moen dengan pengetahuannya yang lebih luas dari semua manusia pada jaman ini. Hanya saja terkadang sikapnya terlihat konyol sehingga membuatnya terlihat bodoh.
Kitab Sembilan Naga bintang delapan berhasil diselesaikan dalam waktu sepekan. Fang Yin telah bekerja keras untuk ini. Berkat bantuan Shi Han Wu dia mendapatkan banyak masukkan yang membuat penyerapan ilmu dari kitab itu berlangsung lebih cepat.
"Kakek, kita harus pergi ke Gunung Perak hari ini juga."
Fang Yin membereskan semua kekacauan yang terjadi akibat pelatihannya hari ini. Jejak energi mereka harus dihapus untuk menghindari musuh yang akan melacak keberadaan mereka kedepannya.
"Benar. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sana. Kuharap tidak ada hal buruk yang menimpa keluarga kita. Pangeran Ketiga juga sudah berada di sana. Sepertinya dia juga bukan orang yang mudah dikalahkan," puji Shi Han Wu.
Jian Heng yang dipuji tetapi Fang Yin yang tersipu. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi.
"Tentu saja, Kek. Pangeran Ketiga telah menjadi tetua di Sekte Sembilan Bintang sejak usianya masih sangat muda. Banyak hal yang kudapatkan darinya, termasuk Kitab Sembilan Naga," cerita Fang Yin dengan bangga.
"Kakek selalu mendukungmu. Di masa mendatang kalian akan menjadi pasangan yang luar biasa. Tidak ada yang aku khawatirkan lagi bagaimana nasib keluargamu. Semoga saja Jun Hui yang keras kepala itu mau tinggal bersamamu di istana jika kamu berhasil mendudukinya." Shi Han Wu ingat betul bagaimana sifat saudara kembarnya itu. Dia tidak menyukai kemewahan dan sulit untuk dipengaruhi. Sama halnya dengan dirinya yang tidak menyukai aturan istana yang mengikat.
"Semoga saja. Pangeran Ketiga juga sama seperti kalian. Lebih menyukai hidup bebas dan tidak ingin terlalu diatur."
****
Bersambung ....
__ADS_1