
Fang Yin menahan tawa melihat Jian Heng yang terkejut karena kehadirannya.
"Maaf membuat Tetua Yu menunggu." Fang Yin menerima kotak makanan yang diberikan oleh Jian Heng.
"Mari kita makan." Jian Heng melangkah mendahului Fang Yin masuk ke dalam villa.
Mereka menikmati makanannya tanpa banyak bicara. Sesekali Fang Yin melihat ke arah Jian Heng begitu juga sebaliknya.
'Tetua Yu, hari ini kita akan berpisah. Selamat tinggal Zidane ku semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi.' Fang Yin terus menatap Jian Heng.
Menyadari Fang Yin melihatnya begitu lama, Jian Heng pun membalas tatapan itu dengan segenap perasaan yang memenuhi hatinya.
Keduanya seakan berada di tengah-tengah taman bunga yang dipenuhi oleh kupu-kupu. Hawa sejuk seakan menyelimuti kedua insan itu ketika angin asmara menerpa hati yang sedang tersentuh oleh cinta.
Tanpa kata, keduanya sama-sama tahu jika hati mereka telah terjebak dalam gelombang yang terus menyeret mereka ke dalam lautan perasaan yang mendalam.
"Setelah ini kita akan terpisah," ucap Jian Heng setelah dirinya bisa mengendalikan getaran yang masih mengalir hangat di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Ah, I ... iya. Kita pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti." Fang Yin berusaha untuk menghibur dirinya sendiri yang ternyata juga merasa berat untuk berpisah dengan Jian Heng kali ini.
Sebuah senyuman terbit di wajah Jian Heng merasa Fang Yin seolah memberi harapan bagi mereka untuk bertemu lagi.
"Semoga kamu bisa segera menemukan Kitab Sembilan Naga dengan lengkap dan menyelesaikan misimu." Jian Heng tidak tahu jika setelah selesai mendapatkan sembilan kitab itu perjuangan Fang Yin masih panjang untuk membalaskan dendamnya.
"Aku akan memakai identitas baru setelah keluar dari sini, sebagai Pendekar Cadar Perak."
"Julukan yang bagus. Kamu harus berhati-hati dan jangan mudah untuk percaya dengan orang yang baru kamu kenal." Jian Heng mengingatkan Fang Yin untuk tetap waspada.
Fang Yin mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Jian Heng memang benar, dia pernah menjadi seorang budak karena terlalu baik dan percaya pada orang yang baru di kenalnya.
Jian Heng juga mengeluarkan sebuah liontin giok dan meletakkannya di atas meja.
"Aku sudah menerima pil yang sangat mahal darimu dan kamu melarangku untuk menolaknya. Sekarang giliranmu untuk menerima pemberianku dan aku memaksamu untuk menerimanya," ucap Jian Heng mendorong benda-benda itu hingga menyentuh tangan Fang Yin.
"Ta-tapi!" Fang Yin terlihat ragu-ragu untuk ,menerima pemberian Jian Heng.
__ADS_1
Fang Yin masih tidak bergeming membuat wajah Jian Heng terlihat kecewa.
"Apakah kamu benar-benar tidak ingin menerima pemberianku?" Suara Jian Heng terdengar sangat kecewa.
"Kamu sudah bekerja keras dengan menjalankan misi yang berat untuk mengumpulkan koin itu. Aku merasa tidak pantas untuk menerimanya." Fang Yin tidak berani menatap wajah Jian Heng.
"Kalau begitu aku juga akan mengembalikan pemberianmu." Jian Heng bersiap untuk mengeluarkan kantung pil dengan membuka telapak tangannya.
"Ah, tidak ... tidak! Baiklah aku akan mengambilnya." Fang Yin segera mengambil koin emas dan liontin giok pemberian Jian Heng.
Jian Heng tersenyum melihat Fang Yin akhirnya mau menerima pemberiannya.
Di luar villa Jian Heng telah menunggu beberapa orang murid dan pekerja sekte itu. Entah dari mana mereka tahu jika Fang Yin akan pergi meninggalkan sekte itu hari ini.
Xiao Chen berada di barisan paling depan karena dia ingin jadi orang pertama yang mengucapkan salam perpisahan pada Fang Yin.
****
__ADS_1
Bersambung ....