Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 267. Kota Kecil


__ADS_3

Fang Yin kembali ke jalanan yang biasa dilalui oleh para pedagang. Dia terlihat berjalan dengan sangat santai tetapi sesungguhnya sangat cepat. Satu langkahnya menghasilkan lompatan jarak sejauh beberapa hasta. Namun, orang yang berpapasan dengannya tidak akan menyadarinya, dan hanya mendapatinya telah menjauh.


Di dalam perjalanannya dia sering bertemu dengan para pedagang. Sesekali dia ikut membantu mereka jika mengalami kesulitan. Sebuah hal kecil yang dia lakukan membuat mereka sangat senang.


Meskipun seorang putri, Fang Yin tidak keberatan untuk membantu mendorong gerobak yang terperosok, memperbaiki roda yang lepas, dan juga melakukan hal kecil lainnya. Rakyatnya jauh dari kata makmur. Mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terlebih lagi pajak yang dibebankan pada mereka juga sangat tinggi.


Dari perjalanannya ini Fang Yin bisa memetik banyak pelajaran. Jika suatu saat dia kembali berkuasa, dia telah tahu apa saja yang harus diperbaiki.


Beberapa wilayah Kekaisaran Benua Timur memiliki lahan yang subur. Hanya sebagian wilayah kecil saja yang merupakan lahan yang tandus. Di masa mendatang, Fang Yin ingin mengoptimalkan penduduk pedesaan untuk bertani.


Pikiran modern Agata Moen menumbuhkan banyak sekali inspirasi untuk memajukan wilayah ini. Dia sangat yakin jika Benua Timur memiliki potensi untuk lebih maju jika diberikan kesempatan.


Banyak sekali sumberdaya alam yang belum terekspose di negaranya. Dengan sedikit bantuan dari pemerintah, mereka akan mampu mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Bagi para jenius juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi yang minim pengetahuan.


Banyak sekali rancangan yang muncul dalam pikiran Fang Yin. Dia berharap bisa segera mewujudkan mimpi-mimpinya. Kekaisaran Benua Timur yang dia lihat saat ini benar-benar carut marut dan jauh dari kata sejahtera.


Keberadaan Kitab Sembilan Naga bintang delapan masih terlalu jauh dari keberadaannya saat ini. Kini dia kembali memasuki sebuah kota kecil.


Meskipun penduduknya sangat padat, tetapi rumah-rumah dan fasilitas umum di sana belum memenuhi standar layak. Bangunan-bangunan yang sudah mulai lapuk, jalanan yang tidak rata dan berlubang, juga pakaian penduduknya yang sangat sederhana.


Sepanjang perjalanan banyak sekali orang yang meminta-minta. Jika dilihat-lihat secara fisik mereka masih mampu untuk bekerja. Harusnya pemerintah kota membuat pelatihan untuk mereka agar mempunyai keterampilan yang menghasilkan uang.


Penampilan Fang Yin yang sederhana tidak menarik perhatian mereka. Tangan mereka hanya menengadah pada orang yang kelihatan mentereng saja.


Langkahnya terhenti ketika melihat seorang ibu sedang duduk dipinggir jalan sambil menggendong seorang bayi. Di sampingnya duduk dua orang bocah yang masih kecil-kecil. Mata mereka terlihat sayu seperti sedang kelaparan. Semakin miris lagi, tangan-tangan lemah mereka harus terus bergerak untuk mengusir lalat-lalat yang hinggap di kaki mereka yang memiliki luka bekas garukan.


'Astaga! Mereka bisa terinfeksi dan menjadi penyakit yang lebih serius jika luka-luka itu tidak segera diobati. Apakah mereka benar-benar sangat miskin sehingga harus seperti ini?' Fang Yin merasa sangat kasihan pada mereka.


"Kakak, apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?" tanya salah satu anak kecil itu. Mulut kecilnya begitu manis dan berbicara dengan sopan pada Fang Yin.


"Kalian tunggu di sini. Aku akan segera kembali," jawab Fang Yin.


Perkataan bocah itu seperti mengandung sihir yang membuatnya rela mengantri untuk membeli makanan untuk mereka. Sangat sedikit penjual makanan yang ada di kota itu. Hanya ada beberapa kedai saja dan kesemuanya sangat ramai.


'Kenapa tidak banyak orang yang berjualan? Sepertinya di kota ini didominasi oleh wanita dan anak-anak. Sangat sedikit pria muda, bahkan seorang kakek-kakek renta pun masih bekerja.' Fang Yin bertanya-tanya dalam hati.


Fang Yin membayar makanan yang dibelinya dan merelakan kembalian uangnya untuk menambah keuntungan pedagang itu. Dengan kelebihan uang darinya, dia berharap usahanya akan semakin maju.


Pedagang itu sangat berterimakasih pada Fang Yin dan melayaninya dengan sangat baik.


Setelah mendapatkan makannya, Fang Yin segera menghampiri ibu dan anak kecil yang meminta makan padanya. Pemandangan tidak menyenangkan kembali terlihat olehnya. Seorang wanita bertubuh tambun berteriak kasar pada mereka dan mengusirnya dari teras rumahnya.


Ibu dan anak itu menuntun kedua anaknya sambil menggendong bayinya berjalan menghampiri Fang Yin.


"Apakah kalian tidak mempunyai rumah?" tanya Fang Yin merasa iba. Air matanya hampir jatuh saat melihat keempatnya berdiri gemetar di hadapannya.


"Kami hanya tinggal di sebuah gubuk. Rumah kami telah diambil oleh rentenir tempat kami meminjam uang," jelas wanita itu.


"Tidak masalah. Aku telah membeli makanan yang banyak. Sebaiknya kita makan di rumah kalian saja."


Wanita itu mengangguk.


Anak yang agak kecil merengek meminta gendong pada kakaknya. Suara tangisnya membuat hati Fang Yin merasa teriris, tanpa pikir panjang, dia pun segera meraih dan menggendongnya.


Anak itu terus melihat wajah Fang Yin yang tertutup ketika berada di dalam gendongannya.


"Jangan takut. Aku bukan orang jahat," ucap Fang Yin.


Ternyata masih banyak juga orang yang duduk dipinggir jalan menanti belas kasihan. Namun, kondisi mereka tidak separah wanita yang sedang bersamanya saat ini. Mereka tidak membawa bayi dan anak-anaknya.


Setelah beberapa saat melangkah, mereka terhenti di sebuah gubuk reyot yang sudah tidak layak huni. Jika ada badai, mungkin rumah ini akan terbang terbawa angin. Atapnya memiliki banyak lubang yang membuat cahaya matahari menerobos masuk ke dalam gubuk.


Mereka semua duduk di sebuah tikar yang sudah usang. Mungkin tikar ini juga menjadi alas tidur mereka pada malam hari.


Mata Fang Yin mengedar ke sekeliling untuk mencari air untuk mencuci tangan mereka sebelum makan. Dia tidak terbiasa untuk makan tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu meskipun menggunakan sumpit sekalipun.

__ADS_1


"Apakah di sini tidak ada air?" Terpaksa Fang Yin bertanya pada mereka karena anak itu sudak tidak sabar lagi untuk memakan makanannya.


"Yuan, tolong antarkan kakak ini ke belakang pondok," perintah wanita itu pada anaknya yang paling besar.


"Baik, Bu. Ayo, Kak!" jawab anak itu.


Mereka pergi bersama kedua anak kecil itu meninggalkan wanita dan bayinya. Di belakang pondok ada sebuah aliran mata air yang sangat murni. Air yang dialirkan berasal dari pegunungan yang cukup jauh. Kota ini berada di lereng pegunungan tersebut.


Fang Yin tidak hanya mencuci tangannya saja melainkan juga meminum air itu secara langsung. Botol minum yang dia bawa pun dipenuhinya dari air yang sama. Puas bermain air, mereka semua kembali ke ruang depan.


Wanita dan bayinya tidak berani membuka makanan yang dibawa oleh Fang Yin. Dia tetap tenang menunggu mereka meskipun perutnya sangat lapar.


Fang Yin datang bersama dua anak kecil dengan membawa tempayan untuk mencuci tangannya setelah makan. Selain sumpit dan pembungkusnya yang diberikan oleh penjual makanan, tidak ada lagi perabot yang bisa ditemukan di rumah ini. Wanita ini benar-benar sangat miskin..


Mereka makan dengan sangat lahap hingga satu porsi habis tak bersisa. Perut mereka yang kecil bisa menampung satu porsi makanan orang dewasa. Fang Yin merasa senang melihat kebahagiaan di wajah mereka. Sungguh pemandangan kecil yang menyenangkan.


Setelah selesai makan, Fang Yin membantu membetulkan semua kerusakan fatal di gubuk itu dan membersihkannya, gubuk itu terlihat layak ditempati. Meskipun kecil tetapi menjadi bersih dan rapi.


"Kalian berdua, mandilah yang bersih aku akan mengobati lukamu," ucap Fang Yin.


Mereka pun menurut dan pergi untuk mandi di belakang rumah mereka.


Setelah kepergian anak-anak itu. Kini tinggal Fang Yin dan wanita pemilik rumah yang sedang menimang bayinya. Wanita itu mengucapkan banyak terimakasih padanya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Kamu tidak wajib untuk menjawabnya jika tidak berkenan. Aku hanya merasa heran." Fang Yin melihat wanita itu dengan sopan.


"Namaku Yuling. Selama pertanyaan itu ada jawabannya, aku akan menjawabnya," ucap Yuling.


Fang Yin mengangguk, bersiap mengeluarkan apa yang sejak tadi mengganjal di hatinya. Semua yang terjadi di tempat ini memang sangat mengherankan.


"Mengapa di kota ini banyak sekali, maaf, wanita dan anak-anak terlantar. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Sepertinya kesejahteraan masyarakat di sini sangat rendah. Apakah pemerintah kota tidak memelihara kalian dengan baik?"


Wanita itu terlihat sedih. Matanya menatap kosong ke depan. Yuling adalah salah satu potret kemiskinan yang menyedihkan.


"Aku bercerita tentang aku saja. Aku tidak ingin menyinggung pemerintah kota ataupun orang lain di kota ini. Mungkin kamu akan bisa menyimpulkan setelah mendengar ceritaku."


Yuling bercerita tentang suaminya yang pergi ke ibukota untuk mendaftar menjadi prajurit bersama beberapa pemuda kota yang lain. Saat itu dia sedang hamil dan suaminya pun mengetahuinya. Di bulan-bulan awal setelah kepergiannya, suaminya rutin mengirimkan uang melalui pejabat kota. Namun, itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar tiga atau empat bulan saja. Setelah itu, suami dan para prajurit lain tidak pernah mengirimkan uang.


Kehidupan di kota ini sangat sulit. Sebelum menjadi prajurit mereka adalah pedagang yang sering berkeliling ke seluruh penjuru negeri untuk berdagang barang yang tidak mereka produksi sendiri. Alhasil, setelah ditinggal oleh para tulang punggung keluarga, kehidupan mereka menjadi berantakan.


Perekrutan prajurit secara besar-besaran membuat sumberdaya manusia yang ada di kota itu terkuras. Hanya tinggal wanita, pria tua yang sudah tidak produktif dan anak-anak. Minimnya pendidikan juga membuat mereka menjadi terbelakang.


Fang Yin mengangguk, sekarang dia mengerti apa yang terjadi di tempat itu. Dia memikirkan bagaimana membantu kehidupan mereka, sedangkan dia tidak cukup waktu untuk mengajarkan keterampilan pada mereka semua.


Kedua anak Yuling sudah selesai mandi. Mereka menunggu untuk diobati oleh Fang Yin tanpa berani mengganggunya mengobrol bersama ibunya.


Melihat mereka sudah selesai membersihkan diri, Fang Yin memanggil mereka dan memintanya mendekat. Kedua anak itu duduk di hadapan Fang Yin dan memperlihatkan luka-luka borok di kaki dan lengan mereka.


"Tahan sedikit, ya, mungkin salep ini akan sedikit perih, tapi hanya sebentar saja. Setelah itu rasanya akan dingin dan nyaman." Fang Yin mengeluarkan salep racikannya yang berguna sebagai antiseptik dan pengering luka.


Salep ini lebih manjur dari salep dari dunia modern dan kerjanya lebih cepat. Formula yang ada di dalamnya merupakan tanaman obat berkualitas nomor satu yang sangat sulit didapatkan di dunia modern.


Kedua anak itu mengangguk pasrah. Mereka diam saja ketika Fang Yin mulai mengoleskan salepnya. Wajah mereka meringis menahan nyeri ketika rasa perih melekat pada luka-lukanya. Seperti yang dikatakan, rasa perih itu tidak berlangsung lama dan menjadi dingin setelah beberapa saat.


"Makanlah pil ini. Kamu akan lebih berenergi dan tenagamu tidak akan lemah setelah ini." Fang Yin memberikan sebuah pil pada Yuling.


Yuling segera memakan pil itu. Ajaib. Apa yang dikatakan oleh Fang Yin benar-benar menjadi kenyataan. Tubuhnya menjadi ringan dan tidak merasakan lelah seperti sebelumnya. Setelah melahirkan dan menyusui, dia merasa tubuhnya kurang sehat karena kurang nutrisi.


Fang Yin meminta kedua anak Yuling untuk menjada bayinya. Dia membawa Yuling ke belakang rumahnya.


"Apakah ini tanah milikmu?" tanya Fang Yin.


"Iya, benar. Ini adalah tanah milik kami," jawab Yuling sambil mengangguk.


Fang Yin menunduk dan memeriksa tanah itu. Ternyata tanah itu cukup subur dan cocok untuk ditanami berbagai macam tanaman.

__ADS_1


"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali." Setelah mengatakan itu tubuh Fang Yin menghilang. Dia menggunakan teleportasi antar ruang untuk pergi membeli bibir tanaman. Dia pergi ke kota yang tidak jauh dari sana untuk menemukan tanaman yang cocok.


Yuling berdiri mematung tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tamu yang sejak tadi mengobrol dengannya tiba-tiba menghilang. Dia takut jika Fang Yin adalah seorang siluman yang datang menjelma sebagai manusia.


Mengingat akan kebaikannya, Yuling mencoba untuk berpikir positif. Jika dia seorang siluman jahat, pasti dia sudah memakannya bersama ketiga anaknya. Dia berusaha menenangkan dirinya dan menunggu kedatangan Fang Yin.


"Aku tidak boleh berpikiran buruk padanya," gumam Yuling lirih.


Beberapa saat kemudian Fang Yin datang. Dia bisa menggunakan teleportasi antar ruang dengan lancar berkat gulungan yang diberikan oleh Jian Heng.


Kedatangannya yang tiba-tiba kembali mengejutkan Yuling dan membuatnya tersentak. Tangannya memegangi dadanya yang berdebar-debar.


"Maaf telah membuatmu terkejut. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini. Aku tidak menyukai kemampuanku diketahui oleh orang lain." Fang Yin melirik ke arah Yuling yang masih syok melihatnya.


"Aku ... aku tidak akan berani, Nona." Yuling menjawab Fang Yin dengan ketakutan.


Untuk menghemat waktu, Fang Yin segera menjelaskan cara kerja yang harus dilakukan oleh Yuling. Dia mengajarkan bagaimana cara bercocok tanam. Dia juga memberi contoh apa saja yang harus dilakukan sebelum menanam.


Benih-benih tanaman yang dibelinya diberikan kepada Yuling. Mereka mulai mengerjakannya.


"Ahh, ini lama sekali. Sudah kamu minggir sana!" seru Fang Yin merasa tidak sabar. Bekerja dengan tangan kosong membuatnya sangat lelah.


Yuling pun tidak berani membantah. Dia segera menepi dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin.


Fang Yin menggerakkan tangannya dan mengeluarkan gelombang Qi untuk membuat parit. Cukup dengan tenaga dalamnya, dia tidak perlu bersusah payah.


Tanah itu terbentuk seperti yang dia inginkan. Tangan kanannya menarik benih dengan energinya dan menyebarkannya. Pekerjaan itu selesai dalam waktu yang singkat.


"Aku sudah lelah. Kamu bisa meminta bantuan anak-anakmu untuk menyirami tanaman ini." Fang Yin meninggalkan tempat itu menuju ke air yang mengalir di belakang rumahnya.


Yuling terpukau dengan kehebatan Fang Yin. Jika untuk mengairi saja dia bisa melakukannya dengan mengalirkan air ke parit-parit tanpa harus bersusah parah.


"Terimakasih, Nona. Terimakasih!" Yuling berlutut di kaki Fang Yin sambil menangis.


"Ini bukan hal yang besar. Simpan sisa benih itu. Kamu bisa menanamnya lagi nanti. Aku masih ada urusan lain dan tidak bisa berlama-lama di sini. Semoga beruntung." Fang Yin melihat ke arah langit yang sudah hampir sore.


Dia tidak ingin berlama-lama tinggal di kota ini. Keberadaannya akan menjadi pusat perhatian jika dia tinggal lebih lama di sana


"Saya sangat berterimakasih padamu, Nona. Saya merasa sangat berhutang padamu."


"Jaga anak-anakmu dengan baik!" Fang Yin membuka tangan Yuling dan memberikannya beberapa buah koin emas.


Yuling ingin mengucapkan terimakasih kasih lagi, terapi Fang Yin mengisyaratkannya untuk diam.


Mendengar suara ribut-ribut, kedua putra Yuling datang membawa adik mereka yang menangis. Fang Yin menatap mereka dengan iba.


"Kalian berusahalah menjadi anak yang kuat. Bantu ibu kalian!" ucap Fang Yin.


Mereka mengangguk mantap, sebelumnya mereka telah mengintip apa yang dilakukan oleh Fang Yin.


"Aku ingin menjadi orang hebat seperti, Kakak. Bisakah kita bertemu lagi?" tanya anak yang paling besar


Fang Yin membuka tangannya lalu berkata, "Kemarikan tanganmu!"


Kedua anak itu mengulurkan tangannya ke hadapan Fang Yin. Mereka menatap Fang Yin dengan penuh kekaguman.


Fang Yin memberikan segel mantra pada kedua bocah itu. Suatu hari nanti jika mereka bertemu akan langsung mengenali satu sama lain.


"Kalian harus menjadi orang yang hebat jika bertemu lagi denganku. Jadilah anak yang baik dan bertanggung jawab."


Mereka mengangguk.


****


Bersambung ....

__ADS_1



Kak numpang promo novel karya temanku, ya, terimakasih...


__ADS_2