Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 217


__ADS_3

Fang Yin berjalan untuk mencari tempat untuk beristirahat. Dia melihat sebuah batu di tempat yang sedikit tinggi.


'Di sekitar ini masih dipenuhi dengan esensi energi alam yang kuat. Sebaiknya aku berkultivasi sebentar sebelum beristirahatlah.' Fang Yin melompat ke atas batu yang menurutnya layak untuk beristirahat.


Hawa dingin yang menusuk tulang tidak dia hiraukan. Sebelum berkultivasi, Fang Yin melindungi tubuhnya dengan mengenakan mantel.


Benar saja, hanya butuh waktu yang sebentar saja Fang Yin telah mencapai batas penyerapan Qi alam dan mengakhiri kultivasinya. Tidak lupa Fang Yin memasang mantra pelindung di sekelilingnya sebelum dia tertidur.


Langit malam bertabur bintang yang indah menjadi atap Fang Yin dan tidur beralaskan batu datar yang jauh dari kata nyaman. Rasa lelah membuatnya begitu cepat terlelap.


Malam itu berlalu begitu cepat. Seperti baru sekejap memejamkan mata. Namun sinar matahari telah mengusik jiwa-jiwa yang terbuai mimpi.


"Hoaam!" Fang Yin menggeliat merenggangkan tubuhnya.


"Sudah pagi. Aku harus segera pergi untuk mencari Rumput Mahkota Naga."


Setelah merasa segar, Fang Yin melompat turun dari atas batu. Matahari telah membuka tirai kegelapan dan menampilkan keindahan alam.


"Waah ...! Indah sekali tempat ini. Semoga aku bisa menemukan rumput langka itu di sini."


Selagi hari masih pagi, Fang Yin berjalan berkeliling untuk mencari tanaman langka yang dia cari. Gambaran tentang rumput itu masih jelas dalam ingatannya. Namun hingga seluruh puncak bukit itu dia kelilingi tidak juga menemukan tanaman yang dia cari.


Banyak sekali pohon mangga yang tumbuh di sana. Fang Yin memetik sebuah mangga masak pohon yang tergantung di dahan yang rendah.

__ADS_1


"Mangga lagi, mangga lagi. Sepertinya ini adalah bukit mangga." Dengan perasaan kesal Fang Yin menggigit mangga yang ada di tangannya.


Sepertinya menu makanannya pagi itu masih sama yaitu buah mangga.


Di atas bukit itu tidak tumbuh umbi-umbian atau tanaman lain yang bisa di makan. Mungkin jenis tanaman yang tumbuh di sana dipengaruhi oleh ketinggian dan faktor lainnya.


Setelah merasa kenyang, Fang Yin mengambil beberapa buah mangga sebagai bekal.


"Sayang sekali. Mangga yang melimpah ini tidak ada yang mencari. Mungkin karena bukit ini terlalu jauh dari pemukiman warga." Fang Yin berbicara pada dirinya sendiri.


Tidak ada lagi yang perlu dia lakukan di sana, Fang Yin berjalan dengan teknik meringankan tubuh menuruni bukit itu. Dia melihat ke sekeliling untuk mencari sumber mata air atau sungai.


Aroma air yang segar tercium dari sebuah air terjun yang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Fang Yin berjalan menghampirinya dan melompat turun ke dalam air.


Merasa butuh asupan gizi, Fang Yin pun memburu ikan itu. Ikan itu terlihat ketakutan dan berenang ke arah air terjun dan mencoba melompat. Namun nahas Fang Yin berhasil menangkapnya.


"Kena kau! Woo ... woo ... hoo!" Fang Yin terpeleset batu dan kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Tubuhnya limbung dan jatuh ke arah air terjun dengan tetap memegang ikan itu dengan kedua tangannya. Jika Fang Yin melepaskan ikan itu mungkin dia tidak akan terjatuh.


Fang Yin menggerakkan tubuhnya seperti seekor ikan yang menggelepar di daratan. Rupanya di belakang air terjun itu terdapat sebuah goa yang tidak terlalu dalam dan tembus ke belakang.


Rasa penasaran membawa Fang Yin menyusuri goa itu. Udara lembab, dasar goa yang licin dan langit-langit berupa bebatuan asimetris terlihat sangat jelas karena cahaya bisa masuk ke sana.

__ADS_1


Di dinding goa hidup tumbuhan paku-pakuan dan lumut. Beberapa ada yang Fang Yin kenali dan beberapa lagi tidak. Sebagai seorang dokter yang hidup di jaman modern, Agata Moen pun tidak menemukan beberapa jenis tanaman ini pada jamannya.


Dia melanjutkan langkahnya menuju ke mulut goa tembusan yang membelakangi air terjun. Rupanya goa itu berada pada ketinggian dengan jurang yang dangkal di hadapan Fang Yin.


Ikan di tangan Fang Yin melompat saat tangan kirinya berpegangan pada dinding goa.


"Sepertinya ikan ini tidak ingin kumakan." Fang Yin berjongkok untuk menangkap ikan itu lagi. Namun sebuah pemandangan mengalihkan perhatiannya.


Mata Fang Yin berbinar saat melihat apa yang dia cari ada di hadapannya. Fang Yin mengabaikan ikan itu dan berjalan perlahan menghampiri sisi lain goa di mana tanaman itu berada.


Agar tidak terjadi kesalahan, Fang Yin membuka Kitab Sembilan Naga bintang enam dan memastikan bahwa tanaman di hadapannya adalah rumput yang sama dengan yang tertera di gambar.


"Berhubung kamu membawa keberuntungan untukku, kamu tidak jadi kumakan. Pergilah!" Fang Yin mendorong ikan yang hampir mati lemas itu ke dalam air.


Rumput Mahkota Naga berhasil dia temukan. Namun Fang Yin tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikannya untuk membuka isi yang tertuang di dalam kitab itu. Di dalam kitab tidak dituliskan secara jelas tentang bagaimana cara menggunakan Rumput Mahkota Naga.


Fang Yin memejamkan matanya sekejap lalu membukanya kembali untuk menghilangkan penat yang mengusik hatinya. Lagi-lagi dia harus dihadapkan dengan kesulitan setelah menemukan kemudahan.


"Apa yang harus aku lakukan dengan rumput ini?"


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2