Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 287. Guan Xing


__ADS_3

Merasa namanya di panggil, Yu Ruo maju ke depan dengan sikapnya yang terlihat tenang. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, masih tergambar sisa-sisa kecantikan di wajahnya. Di masa mudanya mungkin tidak kalah cantik dengan Fang Yin.


Shi Han Wu tidak tinggal diam. Dia tidak membiarkan Yu Ruo maju seorang diri. Meskipun tidak melihat wajahnya secara langsung tetapi dia sangat yakin jika pria di hadapannya itu adalah Shi Guan Xing. Di masa mudanya, mereka sering bertemu.


Meskipun suku gletser memilih tinggal di Daratan Utara, tetapi di dalam acara tahunan mereka masih datang untuk mengadakan perayaan di Gunung Perak. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, mereka juga menyerap inti energi yang tersimpan di dalam Mutiara Salju setiap kali mereka datang.


"Han Wu! Kamu ada di sini juga rupanya. Kita seperti sedang mengadakan reuni besar-besaran. Hahaha!" tawa Guan Xing terdengar nyaring di kegelapan malam.


Shi Han Wu tidak membalas sapaan itu. Dia terlihat acuh pada Guan Xing. Wajahnya terlihat dingin. Dengan mata batinnya dia mencari sosok Jun Hui yang tidak terlihat.


"Di mana kamu menyembunyikannya Jun Hui? Lepaskan dia atau kamu akan menyesal!" Han Wu tidak bisa bersikap manis.


"Benar, Guan'er! Di mana kamu menyandera suamiku?" Yu Ruo menatap Guan Xing tajam.


Fang Yin dan yang lainnya menyimak percakapan mereka. Hanya para tetua dan anggota klan yang sebaya dengan neneknya yang tahu tentang mereka. Dia tidak menyangka jika liku-liku kehidupan yang dialami oleh kakek neneknya begitu rumit.


"Apa hubungan antara nenek dengan pria itu? Setahuku hanya kakek Han Wu dan Jun Hui yang memperebutkannya." Fang Yin berbicara pada Jian Heng.


Cerita Fang Yin membuat Jian Heng ternganga. Dia tidak menyangka jika nenek Fang Yin menjadi idola para pria pada masanya. Mungkin semua itu juga akan terjadi pada Fang Yin jika dia tidak menutup wajahnya.


"Untung saja kamu memakai penutup wajah. Jika tidak, entah berapa pria yang akan bersaing memperebutkanmu." Jian Heng bergumam lirih tetapi masih terdengar oleh Fang Yin.


"Hmm." Fang Yin menatap jengah ke arah Jian Heng. Ucapan pria itu membuatnya salah tingkah.


"Kak Heng. Mereka terlihat sedang lengah. Aku ingin berkeliling untuk mencari keberadaan kakek dan Patriak Shi dan menyelamatkannya," bisik Fang Yin kemudian.


"Aku akan menemanimu."


"Tidak! Kali ini aku akan pergi sendiri. Teknik teleportasi yang kumiliki hanya bisa aku gunakan untuk diriku sendiri. Aku akan segera kembali." Setelah mengucapkan itu Fang Yin berjalan mundur.


Jian Heng mengulurkan tangannya untuk meraihnya tetapi Fang Yin telah menghilang. Kata-kata yang hampir terucap tertahan di ujung lidahnya.


"Gadis Nakal. Kamu selalu saja berbuat seenaknya." Jian Heng kembali ke dalam barisan. Anggota Klan Shi yang melihatnya mulai berbisik.


Di tempat lain,


Fang Yin bergerak menggunakan teknik teleportasi menuju ke belakang pasukan lawan. Tidak ada yang mencurigai keberadaannya. Hanya kultivator ranah dewa yang bisa merasakan hawa tubuhnya.


Guan Xing melirik ke samping dengan sudut matanya. Tangannya mengayun ke arah itu dan melepaskan serangan. Semua orang berpikir jika dia hanya membuang-buang energi dengan menyerang tempat yang kosong.

__ADS_1


'Sial! Kakek-kakek yang terlihat muda itu bisa mengendus keberadaanku. Aku harus berhati-hati.' Fang Yin bergerak menghindar. Beruntung serangan Guan Xing tidak mengenai tubuhnya.


Sudah kepalang tanggung, Fang Yin melanjutkan langkahnya untuk mencari Jun Hui. Kini dia tidak bisa bersantai lagi, dengan gerakan cepat dia melompat ke belakang pasukan suku gletser.


Tidak ada yang menyadari keberadaannya selain Guan Xing. Namun, Fang Yin tetap waspada. Dengan gerakan yang cepat dia menghampiri Jun Hui yang sudah terlihat.


"Yin'er!" pekik Jun Hui terkejut melihat kedatangan Fang Yin yang tiba-tiba.


Fang Yin mengangguk lalu melepaskan ikatan Jun Hui dengan cepat. Setelah itu dia berjalan menghampiri Patriak Shi.


Wussh! Sreettt!


Sebuah kristal es melesat menuju ke arah Fang Yin dari arah belakang.


Pretakk! Pretak!


Suara retakan terdengar keras ketika ujung kristal itu menyentuh kristal pelindung yang dilepaskan oleh Fang Yin.


Sebuah pedang energi muncul di tangan kirinya lalu dengan gerakan cepat dia melepaskan ikatan Patriak Shi dan An Hui.


"Gadis Kecil, berani sekali kamu melepaskan sanderaku. Aku menghargai keberanianmu tetapi lihatlah ke sekelilingmu! Hahaha!" Guan Xing tertawa melihat ke arah Fang Yin yang berada di tengah-tengah pasukan lawan.


Tidak peduli sedekat apa hubungan antara Guan Xing dengan keluarganya, Fang Yin tetap ingin menyerangnya. Tindakannya sudah keterlaluan dan telah menyebabkan perang saudara terjadi di antara mereka.


Jika ditelusuri dari atas, suku es dan suku gletser masih dalam satu garis keturunan. Suku gletser yang memisah dan membentuk komunitas yang berbeda.


"Kakek Lesung Pipi, kamu senang sekali menyerang orang dari belakang. Hebat juga kamu bisa langsung tahu dan memiliki kepekaan untuk merasakan hawa kehadiranku." Fang Yin telah berdiri di udara dengan jarak yang cukup dekat dengan Guan Xing.


"Apa? Kau memanggilku kakek? Yang benar saja. Kurasa wajahmu yang sangat jelek dan tua sehingga kamu menutupinya."


Guan Xing tidak dapat mengenali wajah Fang Yin dan tidak mengetahui berapa usianya. Dia juga tidak tahu jika wanita di hadapannya adalah cucu dari Yu Ruo.


"Terserah! Aku tidak peduli dengan pendapatmu. Meskipun kamu memujiku sekalipun aku tidak akan menyerah untuk menyerangmu." Fang Yin menatap Guan Xing tajam. Aura di tubuhnya mulai keluar. Tidak ada gunanya dia menyembunyikan energinya lagi.


Tekanan energi begitu kuat dari tubuhnya memaksa pasukan Guan Xing mundur untuk mengambil jarak. Salju di sekitar Fang Yin mencair terkena hawa panas dari energi yang menyelimuti tubuhnya.


"Xing'er! Jangan main-main dengan Yin'er! Kamu akan menyesal! Hentikan pertarungan ini sebelum semuanya terlambat!" Yu Ruo berbicara sambil terengah-engah karena berlari dari tempatnya sebelumnya.


Jun Hui menatap Yu Ruo dengan kening berkerut. Dia tidak tahu mengapa istrinya itu terlihat cemas. Inilah yang dia takutkan, kisah di masa lalu akan membuat pertarungan menjadi janggal. Sebelumnya Jun Hui tidak mengijinkannya ikut bertarung.

__ADS_1


"Yin'er? Kamu mengenal wanita ini? Apakah dia cucumu? Hmmh! Kalian sama-sama membual." Guan Xing melihat energi yang mengandung elemen api di tubuh Fang Yin begitu dominan. Sedikitpun dia tidak mempercayai ucapan Yu Ruo yang mengatakan jika dia memiliki cucu. Kabar pemberontakan di Kekaisaran Benua Timur masih tergambar jelas dalam ingatannya dan putri dari Yu Jie telah mati.


"Hatinya telah terbakar oleh ambisi, Nek. Meskipun dia tahu aku cucumu dia tidak akan berhenti."


"Kamu benar! Xing'er memang pria yang keras kepala. Dia sudah menghalalkan darah saudaranya untuk dibunuh. Mungkin iblis haus darah telah menguasai hatinya." Yu Ruo terlihat sangat marah.


Udara dingin dan panas berputar-putar di sekeliling Fang Yin. Meskipun dia menggunakan elemen api, tetapi tidak terpengaruh oleh hawa dingin di sekitarnya karena di dalam tubuhnya dia juga memiliki elemen es.


Yu Ruo menghampiri Jun Hui yang terluka dan membawanya menyingkir. Mereka ingin pergi untuk bergabung bersama pasukan suku es tetapi terhalang oleh suku gletser. Tidak ada cara yang mudah, Yu Ruo, Jun Hui, Patriak Shi dan An Hui harus bertarung melawan mereka untuk mendapatkan jalan.


Suku es yang semula hanya menjadi penonton pun ikut maju untuk membantu. Mereka harus bersusah payah karena jumlah suku gletser lebih banyak dari jumlah suku es. Fang Yin menjadi geram melihat pertarungan tidak seimbang itu.


Api berwarna hitam keluar dari tangan Fang Yin dan di arahkan kepada pasukan suku gletser. Namun, Guan Xing membelokkan api itu dengan kristal-kristal es yang dia lemparkan. Api abadi milik Fang Yin tidak mengenai mereka dan melahap kristal-kristal es itu hingga mencair dan menjadi uap.


Meskipun dikelilingi oleh salju, api itu tidak akan padam kecuali Fang Yin atau Shi Han Wu yang memadamkannya.


"Lawanmu ada di sini, Bocah tengik! Aku tidak takut meskipun kamu memiliki api abadi!" seru Guan Xing.


"Bagus jika kakek tidak takut. Aku tidak akan sungkan lagi untuk menyerangmu. Orang yang menumpahkan darah di tempat kelahirannya sendiri adalah iblis. Meskipun aku bukan keturunan murni tetapi aku berhak untuk mengembalikan kedamaian suku ini."


Kedua tangan Fang Yin berada di samping tubuhnya. Kepalan tangannya perlahan membuka dan memancarkan dua cahaya yang berbeda. Qi Awan Salju dan Qi Cahaya Emas membuat tubuhnya terlihat terbagi dua.


Suara dentingan pedang yang beradu serta ledakan keras saling bersahutan di sekelilingnya. Perang saudara berlangsung dengan perasaan berkecamuk di antara kedua belah pihak. Terkadang mereka menggunakan teknik dan jurus yang sama karena terikat hubungan keluarga.


Hati Fang Yin teriris. Matanya berkaca-kaca memendam kesedihan bercampur amarah. Seharusnya mereka tidak bertarung untuk memperebutkan sesuatu yang menjadi milik bersama.


Fang Yin melepaskan dua energinya ke langit dan mengendalikannya dari tempat yang jauh. Tangan kirinya memegang kendali dan menambahkan energi, sementara tangan kanannya membalas setiap serangan yang dilakukan oleh Guan Xing.


Cahaya energi Fang Yin menerangi langit karena terus berkembang menjadi kumparan energi yang terus membesar. Dari bawah bentuknya terlihat seperti lingkaran yang terus melebar seiring energinya yang bertambah.


Merasa serangannya tidak bisa melumpuhkan Fang Yin, Guan Xing tidak ingin bermain-main lagi. Semula dia memandang lawannya dengan sebelah mata, kini dia menyadari jika wanita yang dia anggap anak-anak itu tidak mudah dihadapi.


Guan Xing mundur beberapa hasta dari tempatnya sebelumnya lalu berdiri dengan sikap sempurna. Muncul sinar putih dari dalam tubuhnya. Sinar itu begitu menyilaukan dan menerangi sekelilingnya.


"Aku merasakan energi yang sangat besar dari kakek tua ini. Apakah dia telah mencapai ranah dewa? Apapun itu aku tetap tidak akan membiarkannya menghancurkan Klan Shi." Fang Yin tetap berkonsentrasi untuk menambahkan energi ke dalam bulatan besar yang dia bentuk di langit.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2