
Ling Shasha menengok ke kanan kiri dan tidak mendapati seorang pun di sana. Dia bergegas bangun dan membersihkan pakaiannya yang kotor oleh debu. Namun, lagi-lagi dia kembali jatuh terjerembab ke tanah ketika tubuhnya terdorong oleh energi yang sangat kuat dari arah pemandian.
Kedua siku tangannya menghantam tanah dengan keras sehingga menimbulkan luka-luka. Ling Shasha meringis kesakitan sambil berusaha untuk bangkit. Beruntung di sana tidak ada orang yang melihatnya dan membuatnya terhindar dari rasa malu.
Menyerah dengan keadaan, dia memilih untuk duduk di tanah saat menunggu Fang Yin selesai.
'Sebenarnya Yang Mulia sedang mandi atau berlatih? Energi yang keluar dari dalam tempat pemandian membuatku sungguh tidak berdaya.' Ling Shasha menatap ke arah pemandian sambil meringis menahan rasa sakit di siku dan lututnya.
Keadaan gaduh terus berlangsung di sekitar istana. Jian Heng pun sampai pergi keluar dari ruang kerja untuk melihatnya. Berbeda dengan orang-orang yang telah keluar lebih dulu, dia hanya bisa melihatnya sekilas saja.
Merasa tidak ada lagi yang menarik untuk dilihat, Jian Heng kembali berjalan menuju ke ruang kerjanya. Baru beberapa langkah dia berjalan, di kejauhan terlihat seorang pengawal berlari menyongsongnya. Pengawal melangkah tergesa tanpa berani untuk menghentikannya.
Jian Heng menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerjanya. Sebenarnya dia sudah menyadari kedatangan pengawal sejak dia masih berada dalam jarak yang jauh. Semua yang dilakukannya memang disengaja karena ingin menerima laporannya di dalam ruang kerja.
"Ampun, Yang Mulia! Saya hendak melapor ...." Ucapan pengawal itu terhenti ketika Jian Heng mengangkat tangan kanannya.
"Masuklah!" perintah Jian Heng kemudian.
Pengawal mengikuti langkah Jian Heng menuju ke sebuah meja panjang. Dia tetap dalam posisi berdiri sembari menunggu Jian Heng duduk dengan benar di kursinya. Sebelum diminta untuk bicara, dia akan tetap diam di tempatnya.
"Katakan berita apa yang kamu bawa!" seru Jian Heng dengan tatapan sejurus ke arah pengawal.
"Saya ingin menyampaikan bahwa rombongan dari Benua Tengah telah tiba di istana. Kami sudah menyambutnya dan mereka sedang beristirahat di aula."
Jian Heng seketika langsung beranjak dari duduknya setelah mendengar berita dari pengawal tersebut. Kabar kedatangan ibunya telah disampaikan oleh seorang utusan beberapa waktu lalu. Sebelum hari gelap, dia harus segera menyambutnya.
"Kamu boleh kembali bekerja!" seru Jian Heng sambil berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
Langkahnya begitu tergesa karena tidak ingin membiarkan ibunya menunggu terlalu lama. Meskipun sudah disambut oleh para pembesar istana, tetap saja dirinyalah yang paling penting bagi ibunya.
Di tengah perjalanannya dia berpapasan dengan Fang Yin dan Ling Shasha. Penampilan Fang Yin sudah sangat rapi dan wangi karena kebetulan dia telah selesai mandi. Ling Shasha dengan cepat membantunya bersiap dan segera pergi menemui Selir Tang.
"Yin'er! Kamu sudah tahu dengan kedatangan ibu? Atau sebelumnya kamu memang sudah diberitahu sehingga bersiap lebih awal?" tanya Jian Heng di sela langkah-langkah mereka.
"Aku tidak tahu. Kebetulan saja aku pergi mandi lebih awal. Apa tidak sebaiknya Kak Heng pergi bersiap lebih dulu?"
Fang Yin tahu jika saat ini suaminya itu terlihat tidak nyaman dengan penampilannya.
"Tidak. Aku harus pergi menemui ibu ku terlebih dahulu walau sebentar. Setelah itu semuanya aku serahkan padamu."
Fang Yin membalas ucapan Jian Heng dengan anggukan karena keduanya sudah dekat dengan ruang penerimaan tamu.
Beberapa orang pengawal membukakan jalan untuk mereka. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan keluarga besar Jian Heng dari Benua Tengah, mereka tidak bisa teledor. Huan Ran sengaja menambahkan beberapa prajurit terlatih untuk berjaga di sekeliling ruangan.
__ADS_1
Selir Tang dan beberapa pengawal pribadi segera berdiri ketika melihat kedatangan Jian Heng dan Fang Yin. Mereka lalu saling memberi salam dan penghormatan sebelum bercengkrama untuk melepas rindu.
Keluarga besar Fang Yin pun berdatangan ke ruangan itu untuk menghormati tamu mereka. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Di tengah keseruan itu, Jian Heng terpaksa harus pergi dari ruangan itu untuk bersiap.
Waktu jamuan makan masih sangat lama. Fang Yin mengantar dan menemani Selir Tang pergi beristirahat di kamar yang disiapkan untuknya.
Di istana kaisar,
Jian Heng tiba di istananya saat hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu telah dinyalakan menghasilkan cahaya temaram yang menerangi sekelilingnya. Dia pergi ke sana hanya untuk meletakkan baju kebesarannya sebelum pergi ke pemandian.
Untuk menyingkat waktu, Jian Heng akan melakukan segala sesuatu dengan cepat. Sedetikpun dia tidak beristirahat di dalam ruangannya dan langsung pergi ke tempat pemandian. Tidak terlihat orang lain di sana selain dirinya dan penjaga yang berjaga di luar istana.
Tiba-tiba Jian Heng menghentikan langkahnya karena merasakan ada kehidupan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
'Aku merasakan hawa manusia di sekitarku. Hembusan nafasnya terasa begitu jelas meskipun dia telah mencoba menyembunyikan hawa kehadirannya.'
Jian Heng memperkuat kepekaannya untuk membidik mangsanya. Dia tidak habis pikir saat menyadari masih ada penyusup yang bisa masuk ke dalam istananya di tengah penjagaan yang begitu ketat. Ketika telah merasa yakin dia lalu melemparkan sebuah senjata kecil ke arah tempat yang dicurigainya sebagai persembunyian penyusup.
Sringg!
Terdengar bunyi dua buah benda yang berasal dari logam saling beradu. Diduga suara itu berasal dari senjata yang dilemparkannya telah menghantam sesuatu. Seiring dengan itu Jian Heng juga melihat sekelebat bayangan melintas dari sana dan pergi ke tempat yang tidak terjangkau lagi oleh indranya.
Hawa kehidupan yang sebelumnya dia rasakan menghilang bersama kepergian bayangan hitam itu.
Dengan langkah perlahan Jian Heng mendekati jejak energi yang ditinggal oleh penyusup. Senjata yang dilemparkannya tergeletak di tanah. Di sampingnya terdapat benda lain yang berwujud seperti sebuah potongan emas.
'Aku akan menyimpannya untuk mencari tahu siapa pemiliknya. Jika aku amati baik-baik, benda ini sepertinya milik seorang wanita.'
Tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi, Jian Heng segera melanjutkan perjalanannya menuju ke pemandian. Penyusup itu telah kabur, mustahil jika dia bisa menemukannya malam ini juga. Untuk mengungkap misteri yang belum terpecahkan memang membutuhkan kesabaran.
***
Fang Yin merasa curiga karena Jian Heng tidak kunjung datang menyusulnya di kediaman Selir Tang. Dia telah pergi lebih awal darinya tetapi hingga kini belum kembali. Selir Tang saja sudah selesai mandi dan sedang bersiap.
"Yin'er! Apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa kamu melamun?" tanya Selir Tang sambil bercermin menerima layanan seorang pelayan yang sedang merapikan rambutnya.
Ucapan lembut Selir Tang membuat Fang Yin sedikit gelagapan. Dengan cepat dia menoleh ke arah ibu mertuanya dan mencoba menguasai dirinya. Wajahnya bersemu merah karena menahan rasa malu saat ketahuan melamun.
"Ah, aku sedang melihat pemandangan malam, Ibu. Sepertinya jamuan makan telah mulai disiapkan." Fang Yin mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya.
Sebenarnya Selir Tang tahu tentang trik yang dimainkan menantunya untuk mengurangi kegugupannya. Namun, dia memilih untuk mengikuti alur. Masalah sekecil ini tidak perlu dibahas lebih jauh.
"Aku tidak akan lama lagi. Ini adalah jepit rambut terakhir yang dipasang." Selir Tang membetulkan riasannya yang hampir selesai.
__ADS_1
Fang Yin mengangguk.
Tidak lama kemudian keduanya pun pergi meninggalkan tempat tinggal sementara Selir Tang. Sesekali Fang Yin melihat ke kejauhan untuk menemukan sosok Jian Heng. Hingga mereka mencapai setengah perjalanan, suaminya itu belum muncul juga.
"Aku merasakan aura yang berbeda dalam dirimu," ucap Selir Tang membuka percakapan setelah sekian lama terdiam.
Fang Yin merasa canggung. Dia pikir Selir Tang kembali berkomentar atas apa yang dilakukannya.
"Maafkan aku, Ibu. Aku terlihat cemas karena sudah cukup lama Kak Heng pergi tetapi belum juga kembali." Suara Fang Yin terdengar gugup.
Selir Tang tersenyum.
'Jadi sejak tadi Yin'er terlihat gelisah karena sedang memikirkan putraku. Benar juga, kemana anak nakal itu. Dia pergi sebelum hari gelap tapi sampai saat ini belum juga kembali.' Selir Tang bermonolog dalam hati.
"Tidak biasanya Kak Heng berlama-lama ke pemandian. Rasanya tidak mungkin jika dia bersiap dan belum selesai hingga sekarang." Fang Yin kembali berbicara.
Selir Tang akhirnya menunda hal serius yang ingin dikatakannya pada Fang Yin. Saat ini urusan Jian Heng lebih penting dari itu semua. Apa yang dilakukannya sudah di luar batas kebiasaannya, hal ini memang perlu untuk dikhawatirkan.
"Mungkin kita perlu memeriksanya. Namun, sebelum itu kita cari tahu dulu apakah dia sudah mendahului kita pergi ke ruang perjamuan atau belum."
Fang Yin setuju dengan pendapat Selir Tang. Dia memanggil seorang pengawal untuk melakukan tugas ini. Sementara itu, dia dan Selir Tang tetap berada di sana untuk menunggu kabar darinya.
Baik Fang Yin maupun Selir Tang merasa harap-harap cemas menunggu kedatangan pengawal yang mereka kirim.
Jarak antara ruang perjamuan dan tempat mereka berhenti cukup jauh sehingga mereka harus bersabar. Pengawal yang mereka kirim sudah berusaha untuk pergi dengan cepat dengan berlari. Setelah menunggu hingga beberapa saat, sekonyong-konyong bayangannya muncul dari kegelapan.
Pengawal memberi hormat sambil mengatur napasnya sebelum berbicara. Pulang pergi dengan berlari membuatnya terengah.
"Ampun, Yang Mulia Permaisuri. Yang Mulia Kaisar tidak ada di ruang perjamuan."
Selir Tang dan Fang Yin saling berpandangan ketika mendengarnya. Kabar ini sedikit mengherankan bagi mereka. Rasanya sangat aneh jika Jian Heng berlama-lama berada di istana sementara ibunya tengah datang.
Mereka tidak bisa menebak apa yang terjadi pada Jian Heng. Istana Kaisar adalah tempat yang cukup tertutup dan sulit ditembus oleh musuh. Walaupun begitu, mereka harus pergi untuk memeriksanya dam melihat apa yang sedang terjadi.
Fang Yin dan Selir Tang bergerak cepat menuju ke sana.
"Jangan bertindak gegabah, Yin'er! Kita harus melakukan segala sesuatu dengan penuh perhitungan." Selir Tang mengingatkan Fang Yin agar waspada.
"Baik, Ibu."
Keduanya semakin dekat dan hampir mencapai istana kaisar. Ketidakberesan mulai terasa dan membuat Fang Yin berpikir dengan cepat.
"Tunggu, Ibu!" seru Fang Yin pada Selir Tang dan memaksanya untuk berhenti di tempat yang tersembunyi di luar istana.
__ADS_1
****
Bersambung ....