
Tetua Jung tidak merasa khawatir lagi pada Qin Yu Zhu yang tengah asyik mengobrol bersama Tan Yuhi. Hari ini dia bertugas untuk berpatroli dan memastikan semua keadaan di wilayah bukit Giok Hitam aman.
Berita tentang kedekatan antara Qin Yu Zhu dan Tan Yuhi akan dirahasiakannya. Secara diam-diam dia akan mengawasi keduanya. Putrinya Xin Nian juga sedang patah hati saat ini, Tetua Jung tidak bisa berbuat apapun untuknya. Sebagai seorang ayah dia berharap putrinya itu bisa menerima Wong Li yang sejak dulu mengejarnya.
Seluruh kaum hawa di bukit Giok Hitam terpesona akan kharisma Jian Heng. Dia merupakan gambaran sosok pria yang didambakan oleh semua wanita. Kekuasaan, ketampanan, dan kehebatan semua dia miliki. Pembawaannya yang santun dan berwibawa membuatnya mudah di terima di manapun dia berada.
Tetua Jung tidak menyalahkan putrinya yang begitu tergila-gila padanya. Namun, dia juga tidak ingin mendukungnya untuk merebut Jian Heng dari Fang Yin. Segala yang dipaksakan tidak akan berakhir baik dan akan menjadi boomerang di kemudian hari.
Kehidupan di wilayah bukit Giok Hitam terasa damai. Mereka menjalani kehidupan yang normal sebagai manusia dengan dinamis. Tidak ada bayangan ketakutan akan siksaan racun sihir, juga tubuh mereka yang tiba-tiba lenyap menjadi tumbal kekejaman Qin Gongni.
Kita beralih ke Benua Timur,
Carut marut pemerintahan di Kekaisaran Benua Timur sudah bukan rahasia lagi. Kaisar Ning tidak bisa memimpin dengan adil dan bijaksana. Segala campur tangan para sekutunya membuat struktur kelembagaan menjadi tidak terorganisir dengan baik.
Setiap pemimpin dan raja-raja kecil memiliki idealismenya masing-masing sehingga mereka sulit untuk mencari titik temu. Sering kali Kaisar Ning dibuat pusing dengan perdebatan di antara mereka.
Untuk mengatasi perselisihan panjang yang tidak berujung, Kaisar Ning memberikan hak otonomi pada wilayah yang mereka pimpin. Hasilnya bisa ditebak, di setiap daerah dan negara bagian memiliki peraturan yang tidak sama. Tingkat kemajuan dan perkembangannya pun berbeda-beda. Terlebih lagi di dalam tubuh pemerintahan di dominasi oleh pemimpin korup yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri-sendiri.
Kaisar Ning duduk termangu seorang diri di ruang pribadinya. Dia baru saja kembali dari menghadiri rapat Dewan Kekaisaran bersama raja-raja kecil yang berada di bawah naungan kekuasaannya.
'Apakah benar yang dikatakan oleh peramal istana jika Klan Gu akan segera bangkit? Aku merasa telah membunuh seluruh anggota Klan Gu tanpa ada yang tersisa. Hanya jasad Putri Gu Fang Yin yang tidak aku lihat saat pembantaian itu. Namun, kultivator itu tidak mungkin berbohong. Mereka melihat Putri Gu Fang Yin yang terluka parah jatuh ke dalam sungai yang mengalir deras. Hanya saja mereka tidak menemukan jasadnya.' Kaisar Ning terlihat sedang berpikir.
Segala kemungkinan bisa terjadi, Kaisar Ning tidak memungkiri akan hal itu. Bisa saja Putri Gu Fang Yin tidak mati dan diselamatkan oleh orang, meskipun sangat kecil kemungkinannya. Di hutan Bintang Selatan sangat jarang dikunjungi oleh manusia karena banyak binatang roh ganas berkeliaran di sana.
Pengawal pribadi Kaisar Ning melapor dari luar pintu bahwa Pangeran Ning Yao Xi datang ke sana.
"Suruh dia masuk!" perintah Kaisar Ning.
Pangeran Ning Yao Xi datang memberikan hormat pada ayahnya dan Kaisar Ning membalasnya dengan mengibaskan tangannya.
Akhir-akhir ini dia jarang menemui ayahnya karena sering menjalankan misi di luar istana. Begitu juga dengan adik kandungnya Ning Mu Shen. Keduanya terlibat persaingan untuk memperebutkan gelar sebagai putra mahkota.
"Aku sudah berhasil mendamaikan perselisihan di perbatasan utara dan menghabisi beberapa pemberontak yang melawan Raja Han." Ning Yao Xi melaporkan keberhasilannya.
"Hmm." Kaisar Ning mengangguk.
"Ada beberapa kerusuhan di Kerajaan Sayap Kiri. Dua hari lagi Panglima Bai Chang akan pergi ke sana. Kamu bisa membagi pengalamanmu pada mereka besok di dalam sidang istana," jelas Kaisar Ning.
"Dengan senang hati, Ayah."
Ning Yao Xi tersenyum bangga. Dia menyatukan kedua tangannya sebagai ungkapan terimakasih atas penghargaan ini.
Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Ning Yao Xi meminta diri untuk pergi beristirahat. Dia baru saja pulang dan langsung datang menemui Kaisar Ning.
Di dalam perjalanannya menuju ke istananya, Ning Yao Xi bertemu dengan beberapa orang putri. Dia berpikir untuk memiliki seorang selir. Setelah ini dia akan membicarakannya kepada ibunya.
Di depan istananya terlihat beberapa orang pengawal sedang berjaga. Pangeran Ning Yao Xi terlihat heran. Tidak biasanya mereka berjaga beramai-ramai.
Para pengawal itu memberi hormat ketika Pangeran Ning Yao Xi datang ke hadapan mereka.
"Ada apa ini? Mengapa kalian berjaga beramai-ramai?"
Pangeran Ning Yao Xi menautkan kedua alisnya dengan ekspresi wajah keheranan.
__ADS_1
"Ampun, Pangeran. Tiga hari yang lalu kami mencurigai adanya penyusup yang berkeliaran di sekitar istana ini. Kami memperketat penjagaan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," jelas salah seorang pengawal.
"Kerja bagus," ucap Ning Yao Xi.
Dia kemudian melanjutkan langkahnya untuk masuk ke istananya.
Berita kepulangan Ning Yao Xi akhirnya terdengar juga ke telinga Ning Mu Shen. Sudah lama Ning Mu Shen tidak mendapatkan misi dari ayahnya. Hatinya menjadi iri melihat keberhasilan kakaknya.
'Kesempatanku untuk menduduki posisi sebagai putra mahkota semakin kecil. Aku harus mencari celah untuk mendapatkan kepercayaan dari ayah. Kegagalanku sebelumnya membuatku harus terkurung di istana ini selama berbulan-bulan.' Ning Mu Shen menggulung lengannya hingga ke siku dan mendapati patah tulang di lengan kirinya telah pulih.
Setelah merasa tubuhnya lebih baik, Ning Mu Shen ingin segera mengejar ketertinggalannya. Untuk bisa mendapatkan perhatian ayahnya dia harus berusaha keras menjadi yang terkuat. Ambisinya untuk menjadi penguasa Benua Timur membuatnya tidak bisa tidur dengan nyaman ketika dia terluka.
Meskipun tabib istana masih melarangnya untuk berlatih, Ning Mu Shen mengabaikannya. Di dalam kamar pribadinya tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya. Mulai hari ini dia berlatih seorang diri tanpa pengetahuan siapapun.
Permaisuri Ning melintas di depan istana Ning Mu Shen saat akan pergi untuk menemui Ning Yao Xi. Dia membawa dua kotak makanan. Sebelum pergi ke istana Ning Yao Xi, dia meminta pelayannya untuk mengantarkan makanan milik Ning Mu Shen.
Selama ini Permaisuri Ning lebih menyayangi Ning Yao Xi ketimbang Ning Mu Shen. Sejak kecil Ning Mu Shen sangat susah di atur dan sering membuatnya merasa jengkel. Berbeda dengan Ning Yao Xi yang selalu patuh dan rajin mengikuti pembelajaran.
Keadaan ini juga menjadi hal yang memicu keduanya untuk terus bersaing. Ada jurang pemisah antara ibu dan anak. Hubungan darah di antara mereka tidak mampu membuat mereka menjadi dekat.
Permaisuri Ning mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar Ning Mu Shen. Rasa penasaran mendorongnya untuk menyusul pelayannya pergi ke kamar putranya itu.
Pelayan yang membawa kotak makanan terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar Ning Mu Shen. Permaisuri Ning melihat ketakutan di wajah pelayanannya, dia kemudian memintanya untuk mundur.
"Shen'er! Shen'er! Ini ibu, Nak!" panggil Permaisuri Ning.
Suara gaduh dari dalam kamar Ning Mu Shen berhenti. Ruangan itu mendadak menjadi hening. Tidak lama kemudian terdengar suara kaki melangkah dan pintu pun terbuka.
Ning Mu Shen berdiri di depan pintu. Dia menyelinap keluar dari pintu yang hanya terbuka sedikit. Setelah tubuhnya berada di luar, dia segera menutup pintu itu dengan cepat.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Shen'er? Mengapa kamu terlihat seperti habis bertarung?" Permaisuri Ning bertanya penuh selidik.
Ning Mu Shen terlihat bingung. Dia tidak mungkin mengatakan kepada ibunya jika dia sedang berlatih.
"Aku kesal pada seekor tikus yang tinggal di kamarku ibu. Maaf aku membuat ruanganku menjadi berantakan saat berusaha menangkapnya." Ning Mu Shen berbohong.
Wajah bodohnya membuat Permaisuri Ning tidak kuasa menahan tawa. Dia melambaikan tangan di depan wajahnya sambil tertawa kecil.
"Ini makanan untukmu. Beristirahatlah! Ibu akan memanggil pelayan untuk membereskan kekacauan yang kamu buat."
Permaisuri Ning meminta pelayan untuk memberikan kotak makanan milik Ning Mu Shen.
Ning Mu Shen melirik ke kotak yang satunya lagi. Meskipun ibunya tidak ingin mengatakan bahwa dia ingin pergi menemui kakaknya, tetapi dia bisa menebaknya. Ada rasa cemburu di hatinya saat ibunya tidak ingin berlama-lama tinggal di tempatnya.
"Ibu pergi dulu. Jangan melakukan hal yang bodoh lagi."
Ning Mu Shen membalas ucapan ibunya dengan anggukan. Dia kembali masuk ke kamarnya dan memakan makanan yang diberikan oleh ibunya itu.
Makanan itu adalah kue terlezat di istana itu, tetapi rasanya menjadi hambar saat dia memakannya seorang diri.
"Aku berharap akan ada tikus sungguhan yang menemaniku memakan kue ini." Ning Mu Shen mengamati kue yang ada di tangannya sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya.
Permaisuri Ning berjalan menuju ke istana Pangeran Ning Yao Xi. Saat dia tiba di sana ruangan putranya itu sangat sepi. Beberapa kali dia meminta pelayannya untuk mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
__ADS_1
Tangan kanan Permaisuri Ning mendorong pintu kamar Ning Yao Xi perlahan. Rupanya pintu itu tidak terkunci. Permaisuri Ning mengintip ke dalam kamar dan memastikan Ning Yao Xi baik-baik saja.
Suara pintu masih juga terdengar meskipun dia berusaha untuk membukanya pelan. Pandangan mata Permaisuri Ning terhenti pada sesosok pemuda yang sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Putranya itu rupanya sedang berkultivasi.
Aura energi menyelimuti tubuhnya dan membuatnya mengeluarkan cahaya kemilau. Permaisuri Ning mendekatinya tanpa ada niatan untuk mengganggunya. Dia meletakkan kotak berisi kue yang dibawanya di atas meja.
Beberapa saat dia menatap wajah Ning Yao Xi sambil tersenyum. Setelah merasa puas Permaisuri Ning berbalik dan berjalan meninggalkan tempatnya.
"Mengapa ibu terburu-buru?" Suara Ning Yao Xi membuat langkah Permaisuri Ning berhenti.
Wanita paruh baya itu urung meninggalkan tempat itu dan kembali memutar tubuhnya menghampiri Ning Yao Xi.
Ning Yao Xi beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri ibunya. Dia memberi hormat kemudian memeluk ibunya dengan erat. Hampir satu bulan Ning Yao Xi pergi meninggalkan istana untuk menjalankan misi.
Permaisuri Ning membuka kotak makanan yang dibawanya. Mereka menikmatinya bersama sambil bercengkrama. Perlakuan yang sangat berbeda dengan Ning Mu Shen.
Kaisar Ning pergi ke bukit yang berada di belakang istana. Jaraknya sekitar sepuluh menit perjalanan dengan berkuda dari istana. Saat pergi ke sana Kaisar Ning menolak untuk dikawal dan memilih pergi seorang diri.
Kuda Kaisar Ning berpacu dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu singkat dia telah sampai di halaman villa. Seorang yang berjaga di sana mengambil kudanya dan menjaganya.
Kaisar Ning berjalan memasuki villa untuk menemui seorang pertapa yang menjadi tokoh spiritual istana.
Dua orang pria yang berjaga di depan pintu kuil memberi hormat dan mempersilakannya untuk masuk.
Di dalam ruangan, seorang lelaki tua dengan rambut panjang yang memutih sedang duduk bermeditasi. Janggutnya ditumbuhi jenggot panjang sepanjang rambutnya. Wajahnya terlihat renta dengan kulit yang keriput, menandakan jika dia telah berusia sangat tua.
Pria tua itu membuka matanya saat menyadari kehadiran Kaisar Ning. Dia memberi hormat pada tamunya itu tanpa beranjak dari duduknya. Dia dikenal sebagai Pertapa Hu.
"Maaf mengganggumu, Pertapa Hu." Kaisar Ning membetulkan posisi duduknya.
"Kedatangan Yang Mulia Kaisar adalah sebuah kehormatan. Tempat ini selalu menantikan kedatangan Yang Mulia."
Kaisar Ning senang dengan sopan santun Pertapa Hu. Dia kemudian mengatakan maksud kedatangannya.
Akhir-akhir ini dia merasa gelisah di waktu malam. Dia memikirkan ucapan Pertapa Hu beberapa waktu lalu yang mengatakan jika Klan Gu akan bangkit dan kembali merebut kekuasaan atas wilayah Benua Timur.
Kejadian pemberontak yang dilakukannya hampir sepuluh tahun berlalu. Sampai saat ini belum ada kabar yang menyatakan jika ada anggota Klan Gu yang masih selamat. Mata-mata yang dikirimkannya tidak mengendus adanya gerakan yang mencurigakan. Mereka tidak menemukan organisasi atau sekte kuat yang berpotensi untuk melawan pemerintahannya.
Pertapa Hu mendengarkan berita dari Kaisar Ning dengan seksama. Dia mencoba mengingat kembali ramalan yang diucapkannya beberapa tahun lalu.
Semua yang dikatakannya bukan sekedar omong kosong saja. Pertapa Hu berkata sesuai dengan apa yang terlihat pada diagram ramalan yang dimilikinya.
Pria tua itu terlihat sedang berkonsentrasi. Beberapa saat kemudian muncul sebuah cahaya terang yang menyelimuti tubuhnya. Kedua tangannya terbuka dengan telapak tangan menghadap ke atas. Dia menyatukan ujung jari tengahnya dan membuatnya sejajar dengan dada.
Dari telapak tangan Pertapa Hu keluar sebuah cahaya berwarna emas yang membentuk sebuah lingkaran. Orang-orang menyebutnya sebagai diagram ramalan.
Tidak semua orang bisa mengeluarkan diagram ramalan. Pertapa Hu telah melewati banyak ujian untuk mendapatkan kemampuan ini. Untuk itu, dia tidak bisa menunjukkan kemampuannya ini pada sembarang orang.
Pertapa Hu mendorong diagram ramalan itu ke sebuah sisi yang berada di hadapan keduanya. Di dalam diagram itu terdapat beberapa simbol yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu yang mengerti tentang ilmu perbintangan.
Untuk mendapatkan petunjuk, Pertapa Hu harus membaca mantra khusus dan menyebutkan kepentingannya.
Kaisar Ning duduk dengan gelisah untuk menanti hasil dari ramalan Pertapa Hu.
__ADS_1
****
Bersambung ....