
Guan Xing membawa Fang Yin dan Jian Heng ke sebuah jalan sempit yang sedikit gelap. Jalan itu sedikit masuk ke pemukiman penduduk sehingga tampak sepi.
"Nona Yin, Tuan Heng, ada sesuatu hal yang penting yang ingin aku sampaikan." Guan Xing melongok ke kanan dan ke kiri.
Melihat keadaan yang berbahaya, Fang Yin pun memasang mantra pelindung di sekeliling mereka. Sekarang mereka tidak perlu khawatir akan gangguan dari luar batas pelindung.
"Katakan, Kek. Ada apa? Sepertinya sejak tadi wajahmu terlihat sangat gelisah?" Fang Yin memulai percakapan.
Guan Xing tidak ingin menunda untuk menyampaikan berita yang baru saja diketahuinya. Aula tempat peristirahatan mereka didatangi oleh utusan dari Kekaisaran Benua Timur. Mereka memperlihatkan lukisan wajah Fang Yin.
Jian Heng dan Fang Yin saling berpandangan. Mereka telah melihat secara langsung lukisan yang memperlihatkan wajah Fang Yin. Beruntung dia kembali menutup wajahnya saat keluar dari wilayah bukit Giok Hitam.
Anggota suku gletser tidak mengetahui identitas dan wajah Fang Yin sehingga Guan Xing tidak perlu mengkhawatirkannya. Mereka menjawab secara serentak dan mengatakan jika mereka tidak mengenal wanita di dalam lukisan tersebut.
Kini mereka bertiga berdiskusi untuk mengatur rencana sebelum kembali bergabung bersama anggota suku gletser yang ada di aula desa. Jika pemimpin desa memperlakukan para utusan itu seperti mereka, maka sejumlah utusan itu juga akan menginap di aula bersama seluruh anggota klan gletser.
"Tidak perlu khawatir, Kakek Lesung pipi. Aku akan pergi menginap di luar aula. Kamu dan Kak Heng pergi saja kembali bersama yang lainnya." Fang Yin merasa hanya dirinya yg dicari, jadi keadaan akan aman jika dirinya tidak berada bersama mereka.
Jian Heng tidak ingin Fang Yin sendirian di luar. Meskipun kekasihnya itu begitu hebat, dia tetap membutuhkan orang lain untuk teman bicara.
"Aku akan menemanimu. Kedua utusan itu juga sudah melihatku. Mereka pasti akan curiga jika tidak menemukanmu bersamaku, kecuali kita sama-sama menghilang," jelas Jian Heng yang memang sedikit masuk akal.
'Hemm ... Padahal aku ingin membunuh para utusan itu dengan jarum beracun. Aku akan ketahuan jika Kak Heng bersamaku.' Fang Yin memanyunkan bibirnya saat merasa gagal dalam rencananya.
"Itu benar. Baiklah, aku akan kembali pada suku gletser dan mencoba untuk menenangkan mereka. Mereka pasti ketakutan jika berada dalam satu ruang bersama orang asing." Guan Xing menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
Fang Yin pasrah. Segera saja dia membuka mantra pelindung yang menyelimuti mereka dan membiarkan Guan Xing pergi seorang diri.
Sikap aneh Fang Yin mengundang kecurigaan Jian Heng. Dari raut wajahnya terbaca jelas jika Fang Yin menyimpan sebuah ganjalan yang tidak diungkapkan padanya dan Guan Xing.
"Aku tahu jika kamu sedang memikirkan sesuatu. Apakah kamu benar-benar tidak ingin membaginya denganku?"
Ucapan Jian Heng membuat Fang Yin terkesiap. Matanya melebar hingga batas maksimal menatap pria yang mampu memporak-porandakan hatinya itu.
"Aku ... Aku ...," ucapan Fang Yin terhenti saat Jian Heng tiba-tiba menariknya pergi dengan cepat.
Setelah mantra pelindung menghilang, seseorang bisa melihat dan mendengar percakapan keduanya. Orang yang tinggal di dekat mereka bercakap berjalan mendekati pintu. Jian Heng yang kebetulan sedang menghadap ke arah rumah itu melihat bayangan orang itu bergerak saat terkena cahaya lentera.
Jian Heng membawa Fang Yin melompat ke atap rumah yang berada di seberang orang itu dan menunjukkan keberadaannya.
__ADS_1
"Ah, aku berbicara terlalu keras," bisik Fang Yin.
"Mari kita berlindung di tempat yang aman," ucap Jian Heng tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Keduanya melompat ke langit meninggalkan tempat itu bersama-sama. Tidak mungkin mereka akan tinggal di desa sementara para utusan itu masih berada di sana. Meskipun kemungkinan itu kecil, sedikit kecurigaan saja bisa membuat keadaan memburuk.
Mereka pergi ke sebuah tempat di luar desa yang dirasa cukup aman. Wilayah itu didominasi oleh bukit berbatu dan pertambangan batu berharga. Mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai pengrajin perhiasan batu dan segala pernak-perniknya.
"Di sini banyak sekali lubang galian. Sungguh penduduk yang kreatif." Fang Yin melihat penampakan di bawah mereka berdiri saat ini.
"Wilayah ini merupakan transit para pedagang. Keuntungan bagi mereka juga karena tidak harus bepergian untuk memasarkan produk mereka. Barang yang mereka butuhkan bisa didapatkan dari para pedagang yang melintas di sini." Jian Heng menambahkan.
Fang Yin mengangguk.
Desa itu memang terlihat sedikit lebih maju dibandingkan dengan desa-desa lain di negara asal Fang Yin tersebut. Kemakmuran yang dimiliki oleh setiap desa berbeda-beda dan tidak merata. Setiap pemimpin negara bagian memiliki aturan mereka masing-masing yang menjadi pembeda.
"Beristirahatlah, Yin'er." Jian Heng membentangkan sebuah kain tebal untuk matras.
Dia duduk dengan kakinya yang memanjang dan kedua tangan menopang tubuh di belakang punggungnya.
Fang Yin menyusulnya. Dia duduk di samping Jian Heng dengan posisi yang berbeda. Dia melipat kakinya dengan lutut yang tertekuk ke atas, kedua tangannya berada di samping dengan dada yang menempel di paha.
Jian Heng menatapnya lekat-lekat. Semula dia hanya menduga-duga saja, tidak di sangka kekasihnya itu memang memiliki rencana yang ingin dia lakukan tanpa sepengetahuannya.
"Menurutku itu tidak akan berakhir baik, Yin'er. Mereka akan semakin yakin jika kamu masih hidup dan berada di sekitar wilayah ini. Lebih baik kita tidak melakukan tindakan apapun dalam waktu dekat."
Kening Fang Yin berkerut memikirkan ucapan Jian Heng. Dia berpikir jika pendapat itu mungkin saja benar. Sangat sulit menghilangkan jejak kematian di tengah masyarakat umum. Pasti informasi kejadian dan lain sebagainya tetap akan sampai ke Kaisar Ning.
"Sepertinya kamu benar. Kita tidak akan bisa menghilangkan jejak begitu saja dari peristiwa kematian mereka." Fang Yin menghela napas dalam untuk mengusir kegamangan hatinya.
Terlintas di dalam benaknya bahwa para utusan itu juga akan pergi ke Gunung Perak. Namun, mengingat benteng berkabut yang melindungi tempat tinggal ibunya itu sulit ditembus, hatinya merasa sedikit tenang.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Yin'er. Tidurlah! Aku akan menjagamu." Jian Heng kembali mengeluarkan sebuah kain untuk alas kepala.
Dia memberikan kain terlipat itu untuk Fang Yin dan juga untuknya.
"Kita tidak boleh terlalu dekat karena kita bukanlah pasangan menikah." Fang Yin menggeser lipatan kain yang menjadi bantalan sedikit menjauh.
"Tidak masalah kita mengambil jarak. Sejauh apapun kamu berada, tempatmu tetap di sini." Jian Heng menunjuk dadanya sendiri.
__ADS_1
Rayuan kecil itu membuat Fang Yin tersipu. Tidak ingin banyak berbicara lagi, keduanya tidur sambil menatap hamparan langit yang luas.
Sebenarnya mereka tidak bisa tidur malam itu. Banyak hal yang melintas di pikiran Fang Yin yang membuatnya sulit tertidur. Di antaranya adalah utusan Kaisar Ning yang sudah mengetahui jika dirinya masih hidup.
'Aku yakin setelah ini ruang gerakku akan terbatas. Mereka akan semakin gencar untuk mencari di mana keberadaanku. Aku harus segera menghimpun pasukan dan melibatkan beberapa orang untuk membantuku.' Fang Yin terus memikirkan rencana-rencana yang akan diambil untuk agenda penyerangan.
Untuk wilayah Benua Timur dia akan mengandalkan Wu Tian Feng. Untuk wilayah lain dia akan meminta bantuan Guan Xing, Kaisar Jing, Ketua Sekte Sembilan Bintang dan lain-lain.
Perlahan Fang Yin mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya. Setelah merasa sedikit tenang, dia membalikkan tubuhnya menatap Jian Heng.
"Apakah kamu susah tidur, Yin'er?" tanya Jian Heng yang juga belum bisa terlelap.
Fang Yin mengangguk lalu menjawab, "Iya. Malam ini begitu sepi. Bagaimana keadaan Kakek Guan dan anggota suku gletser. Mereka pasti bertanya-tanya ke mana kita pergi."
"Besok kita tunggu mereka di luar desa. Setelah sampai di Gunung Perak mereka semua pasti akan langsung mengerti." Jian Heng menutup mulutnya yang menguap tanpa suara.
Dari balik semak seekor ular merayap mendekati Fang Yin. Namun, saat dia merasakan aura mengerikan dari tubuh Fang Yin, ular itu lari tunggang langgang. Sialnya Jian Heng melihatnya dan melepaskan serangan ke arahnya.
"Ada apa, Kak Heng?" Fang Yin menoleh ke belakang punggungnya.
"Hewan itu berusaha mengganggu kita. Sayang lemparanku tidak mengenainya." Jian Heng menyesalkan serangannya yang terburu-buru dan tidak tepat sasaran.
"Biarkan saja. Gigitannya tidak akan membuat kita mati." Fang Yin ikut menguap dan merasa mengantuk.
"Hmm." Jian Heng mengangguk.
Keduanya tidur saling berhadapan dengan mengambil jarak. Mereka tidak bicara lagi satu sama lain.
Di tempat Guan Xing berada,
Anggota suku gletser, terlihat gelisah saat melihat sepuluh orang utusan juga menginap di tempat yang sama dengan mereka. Para utusan itu tidak segera tertidur dan memilih untuk mengobrol dan duduk berkerumun.
Guan Xing dan para pria bertindak sebagai penjaga anggota suku yang didominasi oleh wanita dan lansia. Hatinya merasa ketar-ketir saat melihat tatapan aneh para utusan. Dia takut mereka membuat keributan di tengah kedamaian.
'Aku harus tetap waspada. Nona Yin dan Tuan Heng tidak berada di dekatku. Aku harus berusaha seorang diri intuk menghadapi mereka. Kepergian Nona Yin dan Pangeran Ketiga sudah menjadi hal yang semestinya. Mereka telah melakukan hal yang benar.' Guan Xing menimbang-nimbang sambil berada di dalam jarak terdekat dengan utusan Kaisar Ning.
Para utusan tersenyum licik ketika melihat Guan Xing dan yang lainnya mulai mengantuk. Mereka saling berpandangan dan menggunakan bahasa isyarat dengan anggukan dan gelengan.
****
__ADS_1
Bersambung ....