
Fang Yin duduk di belakang Acong dan bersiap untuk memberikan terapi untuknya. Qi pengobatan mengalir di telapak tangannya dengan cahaya berwarna putih terang.
Tubuh Acong tersentak saat Fang Yin menempelkan telapak tangannya di punggung Acong. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Acong terlihat lebih siap dan tidak banyak mengeluh.
Bocah kecil itu memiliki fisik yang kuat. Fang Yin juga merasakan struktur dalam dan aliran Qi-nya sangat bagus. Rasa tidak nyaman yang dia katakan terjadi karena ada beberapa titik meridiannya yang belum terbuka.
Setelah Fang Yin membuka titik-titik tersebut Acong akan merasa lebih baik.
Energi Fang Yin menjalar ke seluruh tubuh Acong. Kesempatan ini tidak dia sia-siakan, dia ingin mengontrol beberapa titik saraf yang ada di dalam tubuh Acong terutama di area kepala. Dengan begitu Fang Yin bisa memberikan stimulasi pada inti pikirannya untuk menekan aura iblis ditubuhnya.
Meskipun tubuh Acong cukup kuat, Fang Yin tidak bisa melakukan tindakan dalam satu waktu sekaligus. Dia harus memberikan stimulasi secara berkala.
Fang Yin mengakhiri penanganan yang dilakukannya pada Acong. Hari sudah larut malam dan tubuhnya juga sudah merasa sangat lelah.
"Apakah kamu sudah lebih baik, Acong?" tanya Fang Yin sambil beranjak lalu membantu Acong berdiri.
"Sudah, Kakak cantik. Tapi sepertinya aku ingin bersendawa sekarang." Acong memegangi perutnya.
"Tidak masalah lakukanlah!" Fang Yin mengusap lembut punggung Acong.
Acong membuka mulutnya dan muncullah semburan api dari sana. Api itu tidak terlalu besar tetapi cukup mengejutkan untuk orang-orang yang ada di sana termasuk Acong sendiri.
"Api!" Wajah Acong terlihat ketakutan. Dia menghambur ke dalam pelukan Fang Yin.
"Jangan takut, Acong. Itu tidak membahayakan. Lihat ini!" Fang Yin mengeluarkan api dari telapak tangannya.
Acong melihat api di tangan Fang Yin lebih besar dari api yang dikeluarkannya dari dalam mulutnya. Ketegangan yang dirasakannya mulai berkurang.
"Kamu akan menjadi seperti aku dan bisa menolong banyak orang dengan api itu. Jadi jangan takut lagi. Kamu akan menjadi orang yang hebat di masa mendatang. Ayahmu, nenekmu juga kakekmu akan merasa bangga padamu," hibur Fang Yin.
Acong menatap ke arah ayah, nenek dan kakeknya. Wajahnya begitu polos dan tidak berdaya. Semua hal yang membingungkan ini membuatnya diselimuti oleh ribuan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti.
"Itu be-be-benar, Acong." Gong Yu menjawab pertanyaan putranya ragu-ragu.
Lin He berjalan mendekati cucunya itu lalu memeluknya. Tubuhnya yang sudah berumur tidak akan sanggup untuk menggendong Acong yang sekarang. Anak itu telah menjadi bocah yang tumbuh dan berkembang dengan cepat.
Setelah di rasa tidak ada yang perlu untuk dilakukan lagi, Fang Yin dan Jiang Heng berpamitan pada keluarga Gong. Fang Yin meminta kepada mereka agar membawa Acong untuk pergi ke aula. Jian Heng akan melatihnya secara khusus meskipun dia masih anak-anak.
Gong Yu menyetujuinya. Mereka berjanji akan datang ke aula untuk mengikuti pelatihan.
Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah Qin Yushang, Fang Yin dan Jian Heng lebih banyak terdiam. Keduanya masih memikirkan tentang bagaimana cara untuk mengarahkan Acong. Memelihara manusia setengah iblis bukanlah hal yang mudah.
Qin Yushang sedang berbincang-bincang dengan Guan Xing ketika mereka tiba di halaman villa. Para wanita telah tidur lebih dahulu.
Jian Heng menghentikan langkahnya sebelum bertemu dengan mereka dan masuk ke dalam villa.
"Yin'er, kita bertukar kamar saja. Perasaanku tidak tenang, aku takut jika para gadis itu menggangguku malam ini."
"Kamu ada-ada saja, tapi baiklah. Aku juga tidak ingin pria tampanku digoda oleh para gadis." Fang Yin mengedipkan sebelah matanya lalu kembali berjalan meninggalkan Jian Heng dan menghampiri Qin Yushang dan Gian Xing.
Mereka saling memberi hormat.
Mengingat hari sudah larut malam, mereka berempat akhirnya pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Setelah Guan Xing masuk ke kamarnya, Fang Yin dan Jian Heng keluar kembali dari kamar mereka untuk bertukar.
Jian Heng merasa lebih tenang tidur di kamar milik Fang Yin. Dengan cepat dia merebahkan tubuhnya di atas matras.
'Aroma tubuhmu masih tertinggal di sini, Yin'er. Dengan aroma ini aku merasa kamu berada di sini.' Jian Heng memiringkan tubuhnya lalu mengusap tempat kosong di depannya.
Di kamar Jian Heng,
Fang Yin tidak seantusias Jian Heng dia terlihat biasa-biasa saja dan lebih memilih untuk segera tidur. Dia sengaja tidak mengunci pintu kamarnya, tetapi dia memasang mantra pelindung di sekelilingnya.
Matanya sudah mengantuk lalu dengan segera dia tertidur.
Kekhawatiran Jian Heng cukup beralasan. Saat mendekati dini hari seseorang datang dan mengintipnya tidur. Seandainya tidak ada mantra pelindung mungkin dia akan mendekati Jian Heng.
Orang itu lantas pergi saat tidak bisa melakukan apa-apa lagi di sana. Dia takut seseorang akan mengetahuinya dan menuduhnya mencuri.
Meskipun Fang Yin tertidur dan tidak melihat orang itu ketika datang, tetapi dia bisa mengetahui siapa dirinya. Hawa yang ditinggalkannya bisa menjadi petunjuk karena insting Fang Yin begitu peka.
Pagi-pagi sekali Fang Yin terbangun. Dia terkejut saat melihat Jian Heng sudah duduk di depan mejanya. Mantra pelindung di sekeliling tempat tidur Fang Yin menghalanginya untuk mendekat.
"Kak Heng, kamu sudah bangun?" tanya Fang Yin sambil melepaskan mantra pelindungnya.
"Aku tidak ingin ada yang curiga jika kita bertukar kamar."
Fang Yin mengangguk membenarkan ucapan Jian Heng. Dia tidak duduk bersama Jian Heng melainkan berjalan memeriksa ruangan itu.
"Seseorang memang telah datang ke kamar ini semalam," ucap Fang Yin sambil melambaikan tangannya pada udara kosong.
"Sudah kuduga. Aku ingin setiap malam bertukar kamar denganmu."
Sebenarnya tujuan utama Jian Heng bukan untuk melihat siapa orang yang mengganggunya. Dia hanya ingin tidur dengan aroma tubuh Fang Yin didekatnya.
Fang Yin tidak ingin banyak mengobrol. Dia memilih untuk segera kembali ke kamarnya.
****
__ADS_1
Pelatihan di aula di mulai pagi ini. Penduduk bukit Giok Hitam mulai berdatangan ke sana dan berkumpul sebelum Jian Heng dan Guan Xing datang ke sana. Hari ini Fang Yin juga ikut ke sana.
Semua orang menyambut kedatangan mereka bertiga dengan antusias. Keluarga Gong juga terlihat dan berdiri di tepi.
Sebagai keluarga yang tidak memiliki kemampuan untuk berkultivasi, penduduk bukit Giok Hitam meremehkannya. Mereka menganggap kedatangannya ke aula hanya untuk menjadi penonton. Jikapun ikut belajar, tentu dia akan belajar bagaimana cara membaur dengan masyarakat luar.
"Acong!" panggil Fang Yin.
Semua mata memandang ke arah Acong yang memiliki postur tubuh anak-anak yang lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Seharusnya saat ini dia masih terlihat kecil dan menggemaskan.
Merasa namanya dipanggil oleh orang yang dia kenal, Acong segera berjalan menghampiri Fang Yin. Dia tidak mempedulikan tatapan keheranan dari penduduk bukit Giok Hitam.
"Kak Heng, aku akan membawa Acong untuk berlatih di luar," pamit Fang Yin.
Meskipun tidak mengatakan alasannya, tetapi Jian Heng tahu alasan Fang Yin membawa Acong pergi.
"Hati-hati, Yin'er. Jaga dirinya baik-baik."
Fang Yin mengangguk lalu pergi membawa Acong keluar. Tidak ada yang tahu ke mana dia akan membawanya pergi.
Guan Xing yang belum tahu apa-apa tentang masalah ini menatapnya dengan terbengong. Dia tampak seperti orang bodoh yang tidak mengerti apapun.
Seluruh penduduk bukit Giok Hitam telah berkumpul. Jian Heng memanggil semua tetua dan pasukan khusus yang menjemputnya di dimensi keputusasaan. Dia membutuhkan bantuan mereka untuk mengelompokkan mereka sesuai dengan klasifikasinya. Para tetua tentu lebih mengenal penduduk bukit Giok Hitam ketimbang dirinya.
Setelah mereka berdiri dalam kelompok masing-masing, Jian Heng mulai memberikan latihan. Para tetua juga membentuk pasukan khusus untuk menerima pelatihan dari Jian Heng dan Guan Xing.
Di luar aula,
Acong terlihat sangat senang ketika Fang Yin membawanya terbang. Ini adalah pengalaman pertama baginya. Mulutnya tidak henti-hentinya mengucap decak kekaguman.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Acong tetapi dia menahan dirinya untuk tidak bertanya. Tanpa diminta, Fang Yin pasti akan menjelaskan kepadanya setelah ini.
Mereka berhenti pada sebuah tempat asing yang dikelilingi pohon yang rindang. Meskipun jarang, tetapi pohon itu cukup melindungi tempat itu dari terik matahari di siang hari. Fang Yin juga baru melihat pohon jenis ini. Sebelumnya dia tidak pernah melihatnya di tempat lain.
"Pohon ini daunnya indah dan lebat. Batangnya juga tinggi dan kuat." Fang Yin menyentuh pohon itu dengan tangan kanannya.
"Iya Kak. Orang-orang memakai pohon ini untuk membuat rumah," jelas Acong.
Fang Yin mengangguk.
"Acong, sebelum kita berlatih, aku ingin bercerita kepadamu. Apakah kamu mau mendengar ceritaku?" tanya Fang Yin sambil mengangkat tubuh Acong dan mendudukkannya pada sebuah batu.
Dia kemudian menyusulnya lalu duduk di sampingnya dengan tenang. Fang Yin memandang hamparan padang rumput yang luas di selingi pepohonan besar. Beberapa di antaranya ada yang berbuah.
Acong mengikuti arah pandang Fang Yin dan sesekali menatap wajah wanita cantik itu. Untuk beberapa saat mereka larut dalam keheningan.
Acong mencoba mengingatnya. Dia melihat betapa hebat dan beraninya Fang Yin kala itu. Ada seekor ular besar berwarna emas yang selalu membantunya.
"Aku melihat kakak bertarung dengan hebat," jawab Acong penuh kekaguman.
Fang Yin tersenyum dan menatap Acong dengan lembut.
"Kamu bisa menjadi sehebat diriku, bahkan mungkin lebih hebat lagi. Hanya saja kamu harus meyakini dirimu sendiri."
Acong menatap Fang Yin tak mengerti. Dia memikirkan ucapan Fang Yin. Selama ini dia hidup dan dilahirkan di tengah keluarga biasa. Ayah dan kakeknya tidak pernah terlihat memainkan ilmu beladiri, Acong tidak tahu mengapa Fang Yin mengatakan itu semua padanya.
"Aku tidak terlahir sebagai keturunan petarung yang handal, Kakak Cantik. Ayah dan kakekku hanya orang yang suka bekerja di kebun dan peternakan. Mereka tidak mengerti lalu bagaimana denganku yang anak-anak." Acong mengungkapkan kebingungannya.
'Rupanya pola pikir Acong juga berkembang pesat seiring pertumbuhan fisiknya. Apakah ini pengaruh dari segel yang aku tanam di tubuhnya? Semoga saja dia bisa mengikuti apa yang aku ajarkan nantinya.' Fang Yin menatap Acong dengan serius.
"Kamu memiliki seorang ibu yang hebat. Namanya A Ying. Dia meninggalkan kekuatan yang besar di tubuhmu. Kamu hanya perlu melatihnya dan menjadi orang yang hebat. Namun, aku memiliki sebuah syarat yang harus kamu penuhi sebelum aku melatihmu." Fang Yin bersikap lembut untuk mengambil hati Acong.
Acong tidak langsung menjawab pernyataan Fang Yin atau menanyakan sesuatu seperti sebelum-sebelumnya. Bocah kecil itu tampak berpikir saat mendengar cerita Fang Yin tentang ibunya.
"Mengapa kamu terlihat bersedih? Bukankah kamu ingin menjadi orang yang hebat setelah in?" Tangan Fang Yin menyentuh bahu Acong dan mengusapnya dengan lembut.
Acong mendongakkan wajahnya menghadap ke wajah Fang Yin. Bola matanya yang bening terlihat berkaca-kaca. Sepertinya dia sangat sedih ketika seseorang menyebut nama ibunya.
"Aku belum pernah bertemu dengan ibuku dan melihat seperti apa wajahnya. Jika ibuku yang mewariskan kekuatannya padaku, mengapa dia meninggal terlebih dahulu dan tidak melindungiku?" Acong meragukan ucapan Fang Yin.
Fang Yin tahu ceritanya setelah ini akan membuatnya sedih, tetapi sepertinya dia harus mengatakan semuanya pada Acong. Tidak ada gunanya menyimpan rahasia tentang asal usulnya karena hanya akan membuatnya semakin bingung.
Dengan berat hati Fang Yin pun akhirnya menceritakan asal usul A Ying. Untuk meyakinkan semua ceritanya, Fang Yin menunjukkan ingatan tentang pertemuannya dengan A Ying.
Fang Yin meminta Acong untuk duduk menghadapnya dengan kaki bersila. Mereka duduk saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Setelah Acong terlihat siap, Fang Yin menekan titik di antara kedua alis Acong lalu menghubungkan inti pikirannya dengannya.
Acong bisa melihat wajah ibunya seperti apa yang dilihat oleh Fang Yin dalam dimensi kekosongan jiwa. Dia juga bisa mendengar semua percakapan di antara keduanya dari awal hingga akhir.
Masih tergambar jelas dalam ingatan Acong tentang tempat pertemuan antara Fang Yin dan A Ying. Tempat itu sama persis dengan tempat yang ada di dalam mimpinya dan kolam magma itu telah berpindah ke dalam perutnya.
Kenyataan ini begitu sulit untuk diterimanya, tetapi semuanya tetap harus dia jalani. Di dalam tubuhnya mengalir darah iblis dan manusia dan dia memilih untuk tetap menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh ibunya. Meskipun dia mewarisi kekuatan iblis tetapi rasa sayangnya pada ayah dan kakek neneknya membuat kekuatan itu tidak berarti buruk.
Fang Yin melihat ekspresi wajah Acong. Anak itu tidak menunjukkan emosi yang meledak-ledak atau kesombongan layaknya seorang iblis murni. Bisa jadi ini efek dari segel dari Fang Yin dan bisa juga terjadi atas kemauannya sendiri.
"Acong, tidak semua kekuatan jahat itu membuat orang menjadi jahat. Aku memang seorang manusia tetapi aku banyak menyerap kekuatan binatang roh kuat dan jahat. Mereka bisa saja mempengaruhiku tetapi aku tetap bertahan dengan jati diriku. Aku tidak ingin mengikuti mereka tanpa harus menyakiti. Dan kamu lihat aku sekarang, aku bisa membantu banyak orang dengan kekuatan jahat yang kumiliki," jelas Fang Yin.
Acong menatapnya dalam.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya juga. Ibuku menginginkan itu. Aku tidak membenci bangsa iblis tetapi aku tidak ingin ikut bersama kakekku jika dia menjemputku."
"Aku bangga padamu, Acong. Mulai sekarang jangan takut akan api karena tubuhmu tersusun dari api. Sekarang bisakah kita berlatih?" Fang Yin menatap Acong serius.
Acong mengangguk penuh keyakinan.
Hal pertama yang harus diajarkan Fang Yin pada Acong adalah teknik pemurnian Qi. Tubuh Acong telah memiliki kesiapan jadi tidak perlu mengajarkan bagaimana cara untuk mengatur pernapasan dan membentuk kolam Qi. Keturunan iblis sudah siap untuk berkultivasi sejak dilahirkan.
Mereka berdua tetap dalam posisi seperti sebelumnya yaitu duduk saling berhadapan di atas sebuah batu dengan puncak yang datar. Diameter puncak batu itu sekitar tiga depa, luas yang cukup aman untuk menampung tubuh keduanya.
Fang Yin memberikan panduan dengan kalimat yang sederhana agar mudah dipahami oleh Acong. Bocah kecil itu sangat cerdas sehingga dia tidak perlu mengulang-ulang dalam setiap tahapan yang diajarkannya.
Setelah Acong bisa melakukannya dengan benar, Fang Yin cukup mengamatinya saja dan membiarkan bocah itu melakukannya sendiri.
Fang Yin bisa merasakan gelombang lembut yang menyelimuti tubuh Acong. Dia mulai melakukan olah nafas dalam pemurnian Qi yang ada di tubuhnya. Kekuatan dari A Ying yang ditelan mentah-mentah tidak akan memberikan efek yang dasyat sebelum dia memurnikannya menjadi esensi energi.
Meskipun tidak menyerap energi dari luar, ini juga merupakan bagian dari proses kultivasi. Semula proses pemurnian Qi yang dilakukan oleh Acong berjalan sangat lambat, tetapi semakin lama dia mencoba semakin baik melakukannya.
Fang Yin tersenyum senang. Meskipun ini belum bisa dikatakan sempurna, untuk ukuran anak seusianya ini sudah sangat baik. Acong bisa terus berlatih setiap harinya
"Apakah kamu mulai merasakan ada yang mengalir dalam tubuhmu, Acong?" tanya Fang Yin.
"Benar, Kakak. Apakah aku boleh beristirahat sebentar? Aku lelah," jujur Acong.
"Tentu saja." Fang Yin melompat turun lalu menurunkan tubuh Acong.
Untuk menyegarkan pikirannya kembali, Fang Yin membawa Acong untuk berjalan-jalan. Dia menanyakan buah-buahan yang ada di sekeliling mereka dan memilih mana yang bisa dimakan.
Anak-anak tidak bisa dididik dengan tekanan karena pada dasarnya mereka masih gemar bermain. Untuk mendapatkan hasil yang baik, pembimbingnya harus menanamkan semangat dan pengajaran yang menyenangkan.
Setelah merasa lebih baik, Fang Yin akan kembali meminta Acong untuk belajar kembali.
Di dalam aula,
Guan Xing melatih penduduk bukit Giok Hitam dalam hal pertahanan fisik. Dia membawa beberapa kelompok yang ditentukan untuk dia bimbing keluar aula. Mereka berdiri mengambil jarak di bawah sinar matahari pagi.
Sebelum melakukan pelatihan inti, Guan Xing memberikan beberapa teori pada mereka semua. Menurutnya tidak perlu tergesa-gesa dalam berlatih karena ini baru hari pertama. Dia menjelaskan pada kelompok asuhannya dengan sejelas-jelasnya. Pada akhir penjelasan dia membuka sesi untuk bertanya.
Penduduk bukit Giok Hitam menyambutnya dengan penuh semangat. Mereka mengantri untuk bertanya. Kebanyakan orang yang belum mengerti adalah kaum muda yang tidak pernah mengerti tentang apa itu kultivasi.
Semua ini tidak mengherankan karena sebelumnya mereka memiliki fisik yang lemah. Hidup mereka seperti tergantung pada pil kabut embun. Mereka kehilangan energi murni mereka setiap kali Qin Gongni menyerapnya.
Hingga matahari terik pemberian teori itu belum juga usai. Guan Xing memulai gerakan pemanasan paling ringan untuk mereka setelah tidak ada lagi yang bertanya.
Di dalam aula,
Jian Heng membawahi sejumlah kelompok yang didominasi oleh para wanita. Dia memberikan pelatihan mengenai cara bersosialisasi dalam masyarakat.
Sebagai seorang pangeran yang pernah mendapatkan pendidikan dalam bidang ketatanegaraan, Jian Heng memiliki banyak pengetahuan tentang strategi untuk mengatasi berbagai masalah sosial. Secara umum dia bisa memberikan gambaran seperti apa kegiatan ekonomi yang terjadi pada masyarakat dari berbagai tingkatan.
Para gadis sibuk memandangi Jian Heng yang sedang berbicara tanpa memikirkan apa yang dia ucapkan. Mereka mendengarkannya sepintas lalu dan lebih fokus untuk mengagumi ketampanan saja.
Terkadang ibu mereka mengingatkan untuk tidak berharap terlalu tinggi karena mereka tahu jika Jian Heng mengagumi Fang Yin. Terlepas dari seperti apa hubungan yang mereka jalani, para gadis itu tidak akan pernah mendapatkan perhatian darinya.
Banyak teori yang diberikan oleh Jian Heng dia juga mengajarkan kiat-kiat dalam menghadapi masalah kehidupan. Para tetua dan penduduk yang benar-benar mendengarkannya terlihat antusias untuk bertanya ketika dia membuka sesi untuk bertanya.
Jian Heng tidak membatasi pertanyaan hanya seputar masalah ekonomi saja, tetapi dia juga mengijinkan bagi mereka untuk bertanya tentang berbagai hal di luar itu. Kehidupan sosial begitu luas dan mencakup banyak aspek, semuanya membutuhkan tindakan yang terencana dengan baik.
Para gadis tidak berani menanyakan hal yang tidak penting karena seluruh tetua berkumpul di sana. Mereka memilih diam dan mendengarkan Jian Heng berbicara.
Menjelang tengah hari pelatihan itu dihentikan. Mereka akan melanjutkannya esok hari. Banyak anak-anak kecil yang juga ikut bersama orang tua mereka di dalam pelatihan ini sehingga mereka juga butuh untuk diperhatikan.
Sesaat sebelum Jian Heng mengakhiri pelatihannya, Fang Yin datang bersama Acong. Mereka terbang menghampirinya dan turun di hadapan orang banyak.
Acong segera berlari menghampiri keluarganya setelah berpamitan pada Fang Yin.
"Aku sudah selesai." Jian Heng meminta penduduk bukit Giok Hitam untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Semua orang keluar dari dalam aula kecuali para tetua dan Guan Xing yang kembali ke sana setelah menyudahi pelatihannya di luar aula.
"Terimakasih Pangeran Ketiga, Tuan Guan dan Nona Yin." Qin Yushang mewakili para tetua lain untuk mengucapkan terimakasih dan memberi hormat.
Mereka terlihat sangat kagum dengan ketiga orang tersebut. Terlebih pada Jian Heng dan Fang Yin yang memiliki kemampuan luar biasa di usianya yang masih muda.
Fang Yin meminta waktu kepada para tetua untuk membicarakan sesuatu hal yang penting. Cepat atau lambat semua orang akan tahu tentang siapa Acong. Sebelum mereka salah paham, Fang Yin ingin menceritakan semua hal tentangnya kepada mereka.
Jian Heng yang juga mengetahui tentang rahasia ini akan membantunya bicara.
"Pemimpin Qin, ada sebuah hal yang penting yang mungkin akan sedikit mengejutkan untuk kalian. Ini mengenai Acong dari keluarga Gong." Fang Yin memulai pembicaraan dengan wajahnya yang serius.
"Acong? Ada apa dengan anak itu? Aku lihat dia memiliki pertumbuhan yang sangat cepat." Qin Yushang juga merasa penasaran dengan kondisi Acong.
Fang Yin menatap Jian Heng dan mendapatkan anggukan darinya.
Saat Fang Yin akan memulai ceritanya, di luar aula terdengar sebuah keributan. Suara teriakan dan jerit ketakutan terdengar sangat jelas. Mereka saling berpandangan dan bergegas meninggalkan aula itu untuk melihat apa yang terjadi di luar aula.
****
__ADS_1
Bersambung ....