
"Dengan segala hormat, saya tidak bisa menerima hadiah dari Yang Mulia. Sudah tugas seorang tabib menolong orang yang membutuhkan bantuannya. Menjadi tabib istana adalah sebuah kehormatan, tetapi saya juga tidak bisa menerima itu."
Kaisar Xi dan Jian Heng terlihat kecewa dengan jawaban Fang Yin. Namun, mereka tidak bisa memaksakan kehendak mereka dan menahan Fang Yin untuk tetap tinggal.
"Anda sungguh berbakat, Nona. Kalau boleh tahu, Anda belajar ilmu pengobatan dari mana? Kami ingin mengirimkan para tabib muda untuk belajar teknik pengobatan seperti yang Anda miliki."
Kaisar Xi ingin mencetak tabib-tabib hebat di negaranya. Tabib yang ada saat ini masih memiliki cara kuno dan pengetahuan yang minim tentang kesehatan. Akhir-akhir ini dia juga melihat tingginya kematian di daerah-daerah yang terkena wabah.
Sebenarnya Jian Heng ingin membantu Fang Yin untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Setahunya, Fang Yin tidak belajar ilmu pengobatan pada sebuah akademi khusus. Mungkin dia memiliki seorang guru, tetapi tidak jelas identitasnya atau mungkin tidak ingin diungkapkan secara jelas.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa mengungkapkan dari mana saya mempelajari ilmu pengobatan. Akan tetapi, saya bersedia untuk membagi ilmu pengobatan yang saya miliki kepada tabib muda yang Anda pandang berbakat."
"Ya, aku akan segera mengumpulkan mereka besok pagi." Kaisar Xi langsung menyetujui ide Fang Yin. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini dan merasa takut jika Fang Yin berubah pikiran.
Jian Heng pun merasa lega. Setidaknya dia masih bisa melihat Fang Yin untuk beberapa waktu.
Kaisar Xi meminta Jian Heng untuk menyiapkan tempat tinggal sementara untuk Fang Yin. Dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal pada ayahnya, dia memberikan kamar masa kecilnya untuk Fang Yin.
Kamar itu bersebelahan dengan kamarnya, dengan begitu dia bisa mengawasi Fang Yin setiap waktu. Dia tidak ingin kedua kakaknya mendekatinya, terlebih Hao Xiang yang menunjukkan ketertarikan padanya.
Malam semakin larut dan segala kesepakatan telah tercapai, Fang Yin meminta diri untuk beristirahat. Jian Heng mengikutinya di belakang dan menunjukkan tempat tinggal untuknya. Di luar kamar Kaisar Xi, mereka berpapasan dengan Changyi dan Hao Xiang. Sekilas mereka mendengarkan percakapan di antara mereka bertiga.
"Ayah! Sepertinya kamar untuk Nona Xiao Yin terlalu sederhana. Dia sudah menyelamatkan hidup ayah, seharusnya kita memberinya fasilitas yang memadai." Hao Xiang langsung bicara panjang lebar begitu dia datang.
Kaisar Xi merasa adanya persaingan di antara ketiga putranya. Baru kali ini mereka tertarik pada wanita yang sama. Wanita sederhana yang bahkan tidak diketahui seperti apa wajahnya.
"Aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Hanya satu pesanku, jangan membuat Nona Xiao Yin merasa tidak nyaman tinggal di sini dan membatalkan keputusannya untuk membagi ilmunya pada tabib muda yang ayah kirim." Kaisar Xi bersikap tegas pada kedua putranya itu.
Mereka terdiam. Apa yang dikatakan oleh ayahnya ada benarnya. Mereka terlihat kekanak-kanakan dengan segala tingkah mereka. Adik mereka lebih dahulu mengenal Fang Yin dan tahu banyak tentangnya, akan lebih baik jika tempat tinggal mereka berdekatan. Namun, mengenai urusan hati, keduanya tidak ingin mengalah pada Jian Heng.
Changyi dan Hao Xiang meninggalkan kamar Kaisar Xi setelah memastikan ayahnya baik-baik saja. Mereka kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat.
Di istana Jian Heng,
"Ini kamarmu, Xiao Yin. Jika ada apa-apa atau membutuhkan sesuatu kamu bisa memanggilku." Jian Heng mengantar Fang Yin hingga ke depan pintu.
"Terimakasih, Tetua Yu. Eh, maksudku Yang Mulia Pangeran Ketiga." Fang Yin masih terlihat canggung dan belum terbiasa dengan panggilan baru Jian Heng.
"Selamat malam." Jian Heng tersenyum penuh arti.
__ADS_1
'Astaga, aku bisa kena serangan jantung jika terus disuguhi senyuman manis dan wajah tampan Pangeran Ketiga.' Fang Yin buru-buru membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya lalu kembali menutup pintunya.
Otot kakinya terasa lemas dan membuatnya berdiri mematung bersandarkan pada pintu. Dia menunggu detak jantungnya stabil sehingga dia bisa berjalan dengan normal.
'Aku harus menahan diri untuk tidak jatuh cinta saat ini. Tujuanku belum tercapai. Fang Yin, ingat kamu tidak boleh lemah oleh perasaan.'
Di tempat yang berbeda, Jian Heng memasuki kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga. Malam ini, dia bisa tidur dengan nyenyak setelah masalah demi masalah berhasil diatasi. Namun, kekhawatirannya belum sirna sepenuhnya. Setelah ini, ayahnya pasti masih akan mengungkit masalah perjodohan.
'Semoga ayah tidak lagi membahas perjodohan itu. Xiao Yin pasti akan sangat terluka jika mendengarnya. Meskipun kami belum mengambil langkah yang serius, aku bisa merasakan jika dia memiliki perasaan yang sama denganku.' Bayangan perjodohan itu kembali mengusik ketenangan Jian Heng dan membuatnya sulit untuk memejamkan matanya.
Di kamar Fang Yin,
Fang Yin mengeluarkan Kitab Sembilan Naga bintang tujuh yang baru dia dapatkan. Melihatnya sekilas, tersenyum, lalu kembali menyimpannya kembali. Malam ini terlalu pendek untuk mempelajarinya, dia butuh ketenangan dan waktu yang lapang untuk menyerap seluruh isinya.
Malam ini, dia memutuskan untuk beristirahat saja.
Pagi hari di Kekaisaran Benua Tengah,
Di istana Jian Heng, terdapat sebuah taman yang indah di bagian samping. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang disediakan oleh pelayan, Fang Yin berjalan-jalan ke sana. Dia menikmati harumnya bunga-bunga yang bermekaran dan sebuah kolam ikan yang berada di tengahnya.
Saat sedang asyik bermain dengan ikan-ikan itu, seorang wanita berkharisma datang menghampirinya. Dia adalah Selir Tang yang secara pribadi datang untuk mengunjunginya. Semalam dia belum mengobrol banyak dengannya, sehingga dia berinisiatif untuk datang.
"Salam hormat, Yang Mulia." Fang Yin memberi hormat pada Selir Tang.
"Kebaikan akan selalu menyertaimu." Selir Tang tersenyum ramah pada Fang Yin lalu menyusulnya duduk di atas batu hias di tepi kolam.
__ADS_1
"Mari kita pergi ke tempat yang nyaman, Yang Mulia. Baju Anda bisa menjadi kotor." Fang Yin merasa canggung duduk bersebelahan dengan seorang selir kerajaan. Dia belum tahu jika wanita cantik itu adalah ibu dari Jian Heng.
Selir Tang tahu jika Fang Yin merasa tidak enak padanya. Namun, dia tidak mempermasalahkan tempat itu. Dia sudah terbiasa melakukan aktivitas di luar ruangan, bahkan taman tempat di mana mereka berada sekarang dia yang merancangnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Nona Xiao Yin. Tidak masalah sedikit debu menempel dipakaianku. Bagaimana tidurmu malam ini? Jika tidak nyaman, aku akan meminta Yang Mulia untuk menyediakan tempat tinggal yang lebih baik untukmu."
Ucapan lembut Selir Tang membuat Fang Yin terpesona. Dia terlihat begitu elegan dan menunjukkan darah kebangsawanannya.
"Terimakasih, Yang Mulia. Tetapi saya menyukai tempat tinggal saya saat ini. Saya merasa sangat nyaman dan mendapati malam berlalu begitu cepat."
Selir Tang tersenyum mendengar jawaban Fang Yin yang menurutnya sangat polos. 'Pantas putraku begitu menyukaimu,' pikirnya.
"Apa yang kamu katakan bukan karena Jian Heng memaksamu mengatakan itu, bukan?" Selir Tang mengeluarkan candaannya.
Fang Yin tidak menjawabnya karena dia melihat Jian Heng telah berdiri di belakang ibunya. Telunjuknya menempel dihidungnya agar dia terdiam, dia berharap ibunya tidak menyadari kedatangannya.
\*\*\*\*
Bersambung ....
__ADS_1