Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 352. Hukuman


__ADS_3

Ketua Lama maju ke hadapan Fang Yin dan menunjukkan pusaka keramat milik Kaisar Gu yang ditinggalkan untuknya. Pedang Sembilan Bintang.


Pedang ini menjadi nama sekte yang didirikannya bersama Kaisar Gu di masa lalu. Selain itu, pedang ini juga memiliki makna lain yang jarang diketahui oleh masyarakat umum.


Pedang Sembilan Bintang memiliki keterikatan yang kuat dengan Kaisar Gu. Saat Fang Yin tinggal di Sekte Sembilan Bintang, Ketua Lama langsung mengenalinya sebagai keturunan Kaisar Gu meskipun saat itu dirinya berusaha untuk menutupi identitasnya.


Aura Pedang Sembilan Bintang akan keluar saat darah Klan Gu mendekatinya. Kaisar Gu menjadi pemegang terakhir dari Klan Gu sebelum menyerahkannya kepada Ketua Lama sebagai pusaka andalan Sekte Sembilan Bintang.


Semua orang mendengarkan cerita Ketua Lama tentang kehebatan Pedang Sembilan Bintang. Untuk membuktikan ucapannya, Ketua Lama meminta Selir Shi, Jian Heng, Gu Tian Feng dan yang terakhir Fang Yin untuk menyentuhnya.


Pedang itu memancarkan cahayanya ke langit ketika Gu Tian Feng dan Fang Yin menyentuhnya.


Kejadian ini membuat Kaisar Ning merasa syok. Keberadaan Gu Tian Feng di sana membuktikan bahwa ada keturunan Klan Gu yang selamat selain Fang Yin. Dia tidak tahu tentang siapa Gu Tian Feng dan mengapa dia tidak tinggal di istana bersama klannya.


'Aku tidak tahu jika Pendekar Seribu Mata adalah seorang keturunan Klan Gu. Tidak ada yang tahu tentang kisah hidupnya karena dia adalah orang yang tertutup dan sulit didekati.' Kaisar Ning tak berkutik saat melihat bukti-bukti yang bukan sekedar ucapan.


Bukti yang diberikan belum selesai. Gu Tian Feng memberikan bukti yang menyatakan jika dirinya adalah paman dari Fang Yin. Dia menunjukkan kemampuannya itu di depan semua orang tanpa sebuah rekayasa.


Penduduk Benua Timur tercengang dengan bukti itu. Mereka tahu siapa Gu Tian Feng dan sepak terjangnya sebagai Pendekar Seribu Mata. Banyak orang yang terbantu dengan kemampuannya dalam menemukan garis keturunan sedarah yang terpisah.


Tidak ada lagi yang bisa menyanggah tentang keabsahan Fang Yin sebagai keturunan dari Kaisar Gu. Bukti dari keduanya sudah cukup kuat tetapi Selir Shi ingin memberikan bukti untuk menyempurnakan bukti-bukti sebelumnya.


Dengan bukti ini, namanya juga akan bersih sepenuhnya dari segala tuduhan yang mencemari.


Seseorang kembali datang dengan membawa sebuah bejana berwarna kuning keemasan. Dia adalah Kakek Tse. Fang Yin tidak memintanya untuk ikut bertarung.


Kakek Tse khusus datang saat acara pembuktian dilakukan. Sebelumnya, dia telah berjanji pada Fang Yin untuk membantunya.


"Terimakasih telah meminjamkan bejana kejujuran ini pada kami." Fang Yin memberi hormat padanya.


"Sudah menjadi kewajiban saya mengabdi padamu, Yang Mulia." Kakek Tse membalas penghormatan dengan sopan.


Mereka tidak bisa berbasa-basi lagi. Terlalu banyak waktu yang telah tersita. Hukuman untuk Kaisar Ning harus segera dilakukan.


Fang Yin meminta ibunya untuk memasukkan tangannya ke dalam bejana kejujuran. Hanya orang yang jujur yang bisa selamat saat orang yang menyentuhnya menyatakan segala sesuatu yang ingin dibuktikan.

__ADS_1


Selir Shi berbicara dengan lantang dan menyatakan jika dirinya tidak pernah memiliki niatan untuk membunuh Kaisar Gu, berselingkuh ataupun berkhianat pada Kekaisaran Benua Timur. Dia menyatakannya dengan sungguh-sungguh.


Setelah selesai dengan pernyataannya, Selir Shi dan semua orang menunggu bejana kejujuran menunjukkan reaksinya. Dengan matanya yang terpejam, dia terlihat pasrah dengan apa yang akan terjadi padamu.


Tidak ada uang bisa melawan kekuatan dari bejana kejujuran. Jika dia bersalah maka tubuhnya akan terbakar menjadi abu.


Mereka sudah menunggu lama tetapi tidak ada hal yang terjadi. Ini menjadi bukti jika Selir Shi jujur dengan semua ucapannya.


Penduduk Benua Timur bersorak senang. Mereka menyambut kembalinya Fang Yin sebagai penguasa baru. Raja-raja kecil yang semula memberontak telah mati di medan perang. Setelah ini, pemerintah di seluruh negara bagian akan dirombak sepenuhnya.


Beberapa pemimpin akan diambil dari daerah lain untuk menghindari eksploitasi penduduk dan kekayaan alam setempat. Namun, ada hal yang lebih penting dari itu semua yang harus diselesaikan sekarang. Hukuman untuk Kaisar Ning dan keluarganya.


Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi tampak tak berdaya. Harapan mereka terlalu tinggi di mana keduanya berharap bisa menakhlukkan hati Fang Yin setelah apa yang dilakukan oleh ayahnya. Sebuah hal yang mustahil.


"Aku ingin tahu hukuman apa yang pantas untuk Kaisar Ning dan keluarganya?" tanya Fang Yin.


Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani melakukan hukuman untuknya saat melihat keadaannya yang tidak berdaya saat ini.


Sisi kejam Yang Hui tidak bisa dicegah. Dia tidak bisa membiarkan Kaisar Ning hidup dengan tenang. Fang Yin tetaplah manusia yang memiliki sisi lembut. Bisa saja dia hanya akan memenjarakan Kaisar Ning tanpa membunuhnya.


Yang Hui bertindak di luar kendali Fang Yin. Dalam satu gerakan dia mencabik seluruh keluarga Ning dan membuat kulit dan pakaian mereka terkoyak. Jeritan memilukan melengking di penghujung hari.


Keadaan mereka terlihat sangat mengkhawatirkan. Namun, itu belum membuat Yang Hui merasa puas. dia mengulanginya sekali lagi hingga membuat tubuh Keluarga Ning tak berbentuk.


Semua orang bergidik ngeri melihat pemandangan sadis di depannya. Saat Yang Hui akan mengulanginya sekali lagi, Fang Yin mencegahnya.


"Jangan terlalu sadis Yang Hui. Cepat kamu habisi saja mereka!" Fang Yin meminta Yang Hui untuk segera mengakhiri tindakan kejamnya.


"Baik, Putri!"


Api hitam keluar dari mulut Yang Hui dan menyambar tubuh Kaisar Ning, Permaisuri Ning, Ning Yao Xi, dan Ning Mu Shen secara bersama-sama.


"Ini adalah sebuah peringatan. Aku tidak akan memberi ampun pada penghianat. Siapapun yang bersalah maka aku akan meminta mereka menebusnya dengan nyawa."


Suara jeritan Keluarga Ning yang dibakar hidup-hidup perlahan menghilang seiring dengan kematiannya. Tubuh mereka habis terbakar oleh api hitam menjadi debu yang melebur di udara.

__ADS_1


Pemandangan mengerikan sore itu menjadi pembelajaran bagi siapapun yang melihatnya.


Yang Hui kembali ke dalam tubuh Fang Yin setelah menyelesaikan tugasnya. Aura energi di tubuhnya menguat meskipun belum bisa menggunakan kekuatan apapun selama beberapa waktu.


Kegelapan telah turun menandakan waktu telah berganti. Lentera dan seluruh penerangan istana telah dinyalakan. Pasukan yang tidak ikut menyaksikan hukuman memilih tempat istirahatnya sendiri-sendiri.


Keadaan istana sudah banyak berubah. Fang Yin meminta pengawal yang berada dalam kendalinya untuk menyiapkan kamar untuk para tamunya.


Untuk urusan memasak, Selir Shi dan Selir Ning meminta beberapa orang penduduk untuk membantu mereka. Setelah ini akan diadakan perombakan dayang dan pengawal istana secara besar-besaran.


Sebagian pegawai istana akan diambil dari penduduk suku es dan bukit Giok Hitam. Mereka juga akan menyeleksi beberapa penduduk setempat untuk dipekerjakan di sana.


Ada banyak hal yang harus diperbaiki. Pembenahan dalam segala aspek membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setidaknya sebulan pertama Fang Yin baru bisa menyelesaikan perbaikan di dalam istana.


Jian Heng membawa paksa Fang Yin ke kamarnya setelah pengawal menyiapkannya. Sebelumnya kamar itu adalah milik Permaisuri Ning. Di masa lalu kamar itu juga milik Permaisuri Gu yang telah dirombak sedemikian rupa.


"Kak Heng, aku belum makan," ucap Fang Yin beralasan untuk menolak di bawa ke kamarnya.


"Aku akan meminta pelayan membawakannya ke kamar."


"Tapi ...."


Fang Yin tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Jian Heng menatapnya dengan marah. Bibirnya mengerucut sebagai bentuk protes pada kekasihnya itu. Sebenarnya dia masih ingin berbincang bersama keluarganya tetapi dia tidak memperhatikan kondisi tubuhnya.


"Aku hampir gila saat melihatmu tak sadarkan diri. Keadaanmu belum pulih saat ini. Jangan membantahku!" omel Jian Heng sambil meletakkan tubuh Fang Yin dengan hati-hati di atas tempat tidur.


Dia kemudian mengambil segelas air untuk Fang Yin dan membawakannya ke tempat tidur dengan sabar.


Semua perhatian Jian Heng meruntuhkan kekesalannya. Ekspresi wajah Fang Yin berubah melembut.


'Setelah ini aku harus kembali ke negeriku Yin'er. Sebelum status kita jelas. Di sini aku hanyalah seorang tamu.' Tiba-tiba Jian Heng merasa sedih saat memikirkan perpisahan yang akan terjadi sebentar lagi.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2