Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 377. Hari Pernikahan


__ADS_3

Fang Yin tersenyum miring sambil memandang sinis ke arah Xi Liang. Tidak disangka jika Xi Liang adalah salah satu orang yang ingin memusnahkan suku es. Belum diketahui dendam apa yang dimilikinya hingga membuatnya nekat untuk membunuh Fang Yin.


"Banyak sekali orang yang ingin memusnahkan suku es. Sungguh disayangkan, kami tidak selemah itu." Fang Yin menatap tajam Xi Liang.


Bola mata Xi Liang membulat sempurna. Kebencian tertahan di hatinya terhalang oleh posisi Fang Yin sebagai putri angkatnya. Namun, perasaan dendam kembali tersulut mengingat kematian anak buahnya yang terbunuh oleh anggota suku es saat menjalankan misi.


"Seluruh pasukanku terbunuh dalam misi. Suku es begitu kejam menghabisi mereka tanpa ampun. Dimana salahnya jika aku ingin membalas dendam?" Xi Liang berbicara dengan suara yang keras.


"Jadi begitu. Jika misi kalian tidak untuk menghabisi kami, bagaimana mungkin kami menghabisi kalian? Tidak mungkin timbul sebuah akibat tanpa adanya sebab."


Kata-kata Fang Yin membuat Xi Liang terdiam. Misi yang dia terima adalah mencari dan menangkap Putri Gu. Bukan rahasia lagi jika Putri Gu adalah keturunan suku es dan disinilah tidak ada jalan untuknya berkelit.


"Mengapa kamu diam? Seorang suku es tidak akan bertindak di luar batas, mereka bahkan lebih senang untuk menyembunyikan identitasnya." Tangan Fang Yin mencengkeram dagu Xi Liang lalu kembali berkata, "Boleh aku tahu misi yang kamu jalankan?"


Xi Liang tidak berkutik mendengar pertanyaan Fang Yin. Tubuhnya gemetar saat kedua mata mereka bertemu. Gadis kecil yang dulu tinggal bersamanya itu kini berubah menjadi sangat menakutkan.


Aura membunuh terlihat jelas di dalam sorot mata Fang Yin. Betapa sangat menyakitkan kala membayangkan para kultivator menganiaya dan membunuh suku es yang tak berdaya. Beberapa kali dia pernah melihat secara langsung kekejaman mereka selama dalam perjalanannya.


"Kami hanya menjalankan misi. Sebelumnya kami tidak memiliki dendam khusus pada suku es. Baru setelah pembantaian yang kalian lakukan organisasi kami terpengaruh." Xi Liang mencoba untuk menjelaskan.


Fang Yin tidak lengah sedikitpun tanpa mengalihkan pandangannya dari Xi Liang. Meski hanya sekilas, dia bisa merasakan adanya sebuah kebohongan di mata lawan bicaranya itu.


"Aku tidak ingin menduga-duga, sebaiknya kamu katakan dengan jujur apakah kamu memiliki hubungan dengan Kaisar Ning?" tanya Fang Yin dengan nada tegas dan penuh penekanan.


Xi Liang tampak terkesiap saat mendengar pertanyaan Fang Yin. Selama ini dia memang sering mendapatkan pekerjaan dari Kaisar Ning dan sekutunya. Sulit dipercaya, ternyata dia berdiri di kubu musuh yang melawan putri angkatnya sendiri.


"Kediamanmu membuatku mengerti. Aku tidak menyalahkanmu yang tidak mengenali identitasku yang sebenarnya. Namun, musuh tetaplah musuh dan aku harus membasmi hingga ke akar-akarnya. Apakah menurutmu aku begitu kejam?" Fang Yin tidak sungguh-sungguh bertanya karena sudah pasti dia akan membunuh Xi Liang.


"Aku tahu. Aku pantas untuk menerima hukuman tapi kuharap kamu mengampuni keluargaku dan membiarkan mereka hidup." Wajah Xi Liang terlihat pasrah.


Fang Yin mendengus lalu berkata, "Aku bukan penjahat yang sembarangan membunuh orang yang tidak bersalah. Sebenarnya aku ingin membuat kematianmu tidak mudah tetapi aku ingat bagaimana kamu memperlakukanku dengan baik. Untuk itu aku ingin membunuhmu dengan cepat di hadapan semua orang agar mereka semua tahu bahwa aku tidak pernah mengampuni sebuah kejahatan meskipun pelakunya memiliki hubungan dekat denganku."


Xi Liang terhenyak mendengar kata-kata Fang Yin. Selain kebijaksanaan, Fang Yin merupakan tipe orang yang tegas. Sebuah penyesalan memercik di hatinya tetapi semuanya sudah terlambat.


Andaikan dia tidak melakukan kesalahan hari ini mungkin Fang Yin akan menganggapnya sebagai orang yang penting dalam sejarah hidupnya dan memperlakukannya dengan istimewa.


"Kak Heng! Bawa dia keluar!" seru "Fang Yin.


Setelah mengatakan itu, Fang Yin berjalan keluar dari dalam ruang perjamuan. Tanpa banyak bicara Jian Heng pun menarik energi yang mengikat Xi Liang untuk pergi mengikuti kemana Fang Yin berjalan.


Keluarga besar Fang Yin masih berdiri di halaman depan ruang perjamuan tanpa ada yang berani ikut campur. Kaisar Xi terlihat berjalan untuk mendekatinya.


"Apa yang terjadi, Yin'er? Siapa pria ini?" tanya Kaisar Xi sambil menatap ke arah Xi Liang.


Fang Yin menghentikan langkahnya di hadapan Kaisar Xi.


"Dia adalah pembunuh bayaran yang bekerja pada Kaisar Ning, Ayah. Di masa lalu kami saling mengenal tetapi itu tidak cukup baginya untuk mengenangku sebagai seorang kerabat dan menghentikan kejahatannya," jelas Fang Yin.


Kaisar Xi dan Xi Liang saling berpandangan. Meskipun keduanya memiliki marga yang sama tetapi mereka tidak memiliki hubungan satu sama lainnya. Kesamaan nama keluarga tidak membuktikan jika keduanya memiliki sifat yang sama.


"Biar aku yang menghabisinya. Siapapun yang berniat jahat pada putriku maka harus berhadapan denganku." Aura energi menakutkan mulai menyelimuti tubuh Kaisar Xi akibat dari kemarahannya.


Pernikahan putranya sebentar lagi dilaksanakan tetapi masih ada saja yang berani menyusup dan menembus ketatnya penjagaan. Butuh pelampiasan untuk meluapkan emosinya yang meluap.

__ADS_1


"Tapi ayah ...." Jian Heng berniat untuk mencegah sang ayah tetapi Fang Yin memberinya isyarat untuk membiarkannya.


"Silakan, Ayah!" Fang Yin tidak ingin mengotori tangannya dengan membunuh Xi Liang.


Wajah Xi Liang terlihat panik ketika melihat kemarahan di mata Kaisar Xi. Akan tetapi, dia tidak bisa melawan. Ikatan energi Jian Heng terlalu kuat, untuk bergerak pun dia sangat kesulitan apalagi untuk melawan.


Dengan pasrah Xi Liang menerima serangan demi serangan dari Kaisar Xi hingga membuat keadaannya benar-benar tidak berdaya. Kaisar Xi tidak ingin Xi Liang mati dengan cepat. Dia sengaja memberi serangan ringan tetapi menyakitkan.


Semua orang yang menyaksikannya tidak sanggup melihat pemandangan sadis di depannya. Mereka merasa ngeri setiap kali mendengar teriakan memilukan dari Xi Liang. Dendam orang-orang yang telah mati di tangan Xi Liang terbalaskan hari ini.


Setelah merasa puas dengan aksinya, Kaisar Xi pun segera mengakhiri hidup Xi Liang dalam satu kali serangan.


Suasana menjadi hening. Hukuman yang kejam dari Kaisar Xi membuat siapapun akan berpikir seribu kali untuk melawan keluarganya. Mulai malam ini, Fang Yin memperketat penjagaan di istana mengingat hari pernikahannya sudah semakin dekat.


Para penghuni istana tidak melanjutkan perjamuannya dan memilih untuk kembali ke istana masing-masing. Selir Shi, Selir Ning dan Yu Ruo pergi mengantar Fang Yin hingga ke istananya sedangkan para pria masih mengobrol bersama Jian Heng. Selir Tang pergi bersama Xi Hao Xiang dan Xi Changyi ke ruangannya.


Kedatangan penyusup membuat suasana di istana menjadi tegang. Walaupun Xi Liang telah dibunuh mereka tetap waspada. Serangan tak terduga bisa saja terjadi tanpa mereka sadari.


"Aku akan menemanimu di sini, Yin'er." Selir Shi mulai berbicara ketika mereka berempat telah duduk saling berhadapan melingkari sebuah meja.


Fang Yin menatap wajah ibunya dengan tatapan tidak suka. Saat ini ibunya telah menikah, dia tidak ingin membuatnya tidur terpisah dengan ayah sambungnya. Begitu juga dengan neneknya yang seharusnya tinggal bersama kakeknya.


"Tidak. Biar aku tidur bersama Ibu Ning saja."


Hubungan Selir Shi dan Selir Ning semakin baik. Tidak ada jarak lagi yang membatasi keduanya untuk saling terbuka satu sama lain. Selain itu, kemampuan beladiri Selir Ning juga cukup mumpuni untuk menghadapi lawan. Kini tidak ada lagi kekhawatiran bagi Selir Shi.


"Baiklah, Yin'er." Selir Shi lalu beralih menatap ke arah Selir Ning dan berkata, "Kakak, tolong jaga putri kita."


Selir Ning meraih tangan Selir Shi lalu menepuknya pelan.


Meskipun selama ini Fang Yin telah melewati segala macam bahaya dalam perjalanannya tetapi bagi seorang ibu dia tetaplah seorang putri kecil yang ingin selalu dia lindungi. Tidak peduli seberapa kuatnya dirinya, di mata Selir Shi, Fang Yin tetap akan selalu dia jaga.


"Ibu terlalu memikirkanku. Aku bukan anak-anak lagi, Ibu. Cepatlah istirahat atau aku akan meminta pengawal untuk memanggil ayah," ancam Fang Yin.


Yu Ruo menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Fang Yin yang terkadang masih seperti anak-anak. Namun, Yu Ruo tidak pernah menyalahkannya mengingat Fang Yin telah kehilangan sebagian besar waktunya untuk berpetualang. Hanya di tengah keluarganyalah dia bisa bermanja-manja.


"Sudahlah, jangan membuat keributan. Hari sudah malam, biarkan Yin'er dan Selir Ning beristirahat." Yu Ruo menjadi penengah.


Selir Shi pun akhirnya menurut dan pergi bersama Yu Ruo. Mereka tidak merasa khawatir lagi karena ada Selir Ning bersama Fang Yin.


***


Hari pernikahan Fang Yin dan Jian Heng disiapkan secara sederhana di dalam istana. Namun, semuanya tertata dengan apik. Dikatakan sederhana hanya karena mereka tidak mengundang banyak tamu


Keadaan negeri Benua Timur belum begitu stabil. Mereka harus berhati-hati untuk membuka gerbang istana. Setelah mereka resmi menjadi pasangan baru akan diumumkan kepada seluruh rakyatnya dengan disertai pembagian hadiah.


Tidak banyak ornamen yang terpasang di lingkungan istana sesuai keinginan Fang Yin. Setelah peralihan kekuasaan, kas negara tersisa sangat minim. Fang Yin tidak ingin bersenang-senang di atas kesengsaraan rakyatnya.


Selir Shi dan Selir Ning menemani Fang Yin di kamarnya. Sebelum benar-benar siap, mereka tidak ingin meninggalkan Fang Yin sendirian.


"Ingat Yin'er, jangan banyak bertingkah! Ini adalah hari yang istimewa untukmu. Lakukan saja sesuai yang ibu katakan." Selir Shi memperingatkan Fang Yin agar tidak macam-macam di acara sakralnya.


"Ibu jangan khawatir. Aku akan bertanya pada para dayang jika aku lupa prosesinya," ucap Fang Yin.

__ADS_1


"Apa? Kamu jangan membuat ibu malu, Yin'er. Sebelum kamu keluar dari kamar ini kamu sudah harus paham apa yang akan kamu lakukan nantinya." Selir Shi memegang pelipisnya dan memijatnya pelan.


Fang Yin membuka penutup wajahnya dan menatap ibunya dengan wajah cemberut. Ibunya terlalu meremehkannya dan ingin semuanya berjalan dengan sempurna.


"Aku bukan anak kecil, Ibu. Jangan khawatir! Tadi aku hanya bercanda," bohong Fang Yin. Padahal dia memang sering melupakan banyak hal jika sedang gugup.


Selir Shi merasa tenang.


"Selir Ketiga, sebaiknya kita bergabung dengan yang lainnya sebelum acara di mulai," ucap Selir Ning pada Selir Shi.


"Kamu benar." Selir Shi kembali menoleh pada Fang Yin.


"Yin'er, ini adalah momen yang sangat penting dalam hidupmu. Jangan melewatkan setiap prosesnya. Ikuti arahan dari penghulu." Selir Shi mengucapkan pesan terakhirnya sebelum pergi dari ruangan Fang Yin.


"Aku akan mengingat pesan ibu." Fang Yin tersenyum.


Selir Shi dan Selir Ning pergi meninggalkan ruangan Fang Yin. Mereka bergabung dengan yang lainnya di tempat prosesi pernikahan akan di langsungkan. Di sana juga telah berkumpul mempelai pria dan keluarganya.


Setelah kepergian ibunya, Fang Yin merasa benar-benar gugup. Beberapa kali dia terlihat menggerakkan tangan dan kakinya untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Kita ke depan saja sekarang. Semakin lama aku malah semakin tak karuan." Fang Yin meminta pelayannya untuk membantu merapikan pakaiannya sebelum keluar.


Pelayan yang mendampinginya terlihat berpandangan. Mereka tidak berani membawa Fang Yin keluar karena belum ada utusan yang memanggil mereka untuk membawa pengantin wanita keluar.


"Bersabarlah sebentar, Yang Mulia. Para utusan pasti akan segera datang untuk menjemput kita." Salah seorang pelayan mencoba mencegah Fang Yin.


Fang Yin membuka penutup kepalanya dan menatap tajam ke arah para pelayan secara bergantian. Jiwa pemberontaknya tidak suka untuk diatur dan diperintah.


"Aku tidak suka diperintah. Ya, sudah, aku berangkat sendiri saja. Terserah kalian mau ikut denganku atau tetap di sini." Fang Yin berjalan mendahului pelayan yang menjaganya.


"Yang Mulia!" pekik mereka kemudian berjalan mengikuti Fang Yin.


Langkah mereka yang pelan memungkinkan bagi pelayan untuk memberi kode pada pengawal agar melaporkan kedatangan Fang Yin pada kedua keluarga pengantin yang menunggu di tempat perhelatan.


Tanpa banyak bicara lagi mereka pun menuruti keinginan para pelayan itu. Setidaknya mereka bisa bersiap saat Fang Yin tiba di lokasi. Beruntung jarak antara ruangan Fang Yin dan tempat upacara berlangsung cukup jauh sehingga pengawal bisa tidak akan terlambat untuk melapor dengan berlari.


Semua orang yang ada di tempat upacara pernikahan akan dilangsungkan menatap kedatangan para pengawal dengan bertanya-tanya. Mereka berpikir jika ada sesuatu yang penting sehingga wajah mereka terlihat panik.


Salah satu pengawal berjalan mendekati penghulu dan Shi Jun Hui selaku keluarga tertua dari Fang Yin. Dia melaporkan apa yang sedang terjadi kepada mereka.


Berita ini cukup mengejutkan terlebih lagi bagi Selir Shi. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan putrinya yang senang sekali berbuat seenaknya.


Yu Ruo berjalan mendekati Selir Shi yang terlihat cemas. Meskipun Fang Yin senang berbuat seenaknya tetapi dia tidak berbuat di luar batas.


"Jangan terlalu dipusingkan, Jie'er! Mungkin saja Yin'er merasa bosan dan ingin segera menyelesaikan prosesi pernikahan dan sah menjadi istri Pangeran Ketiga." Yu Ruo mengelus pundak Selir Shi.


"Aku sudah mengatakan banyak hal pada Yin'er tetapi sepertinya dia memiliki pendirian sendiri. Bagaimana bisa dia mendahului perintah?" Selir Shi menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Yu Ruo tersenyum. Sedikit banyak Fang Yin memiliki sifat yang sama dengannya. Setiap kali melihat kenakalan Fang Yin, Yu Ruo teringat akan masa mudanya.


"Sudahlah! Semuanya bisa diatur," bela Yu Ruo tidak ingin merusak momen sakral hari ini.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2