Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 247


__ADS_3

Semakin lama berdiam, maka akan membahayakan keadaan di sekitarnya. Meski tidak menyentuh secara langsung, hawa panas dari api hitam bisa melelehkan apa saja yang ada di kamarnya.


Semakin panik maka api itu juga sulit untuk dikendalikan. Fang Yin berdiri mematung sambil terus berpikir.


"Ahh, lebih baik aku melompat ke alam dimensi yang aku ciptakan sendiri saja. Tidak ada pilihan lain." Fang Yin menggunakan teknik pengendali dimensi ruang dan waktu sesegera mungkin. Hidungnya telah mencium aroma menyengat sesuatu yang hampir terbakar.


Setelah memastikan tidak ada percikan api yang tercecer, Fang Yin masuk ke dalam ruang dimensinya. Tempat itu sangat mirip dengan alam manusia, tetapi dia hanya sendirian di sana.


'Lumayan,' pikirnya.


Banyak yang bisa dia lakukan di sana tanpa gangguan siapapun. Dia bisa berlatih dengan tenang tanpa takut merusak apapun.


Bayangan kekalahan membakar semangatnya. Setelah ini, mungkin Fang Yin akan kembali kehilangan keramahannya pada siapapun.


Tidak hanya teknik dari Kitab Sembilan Naga bintang enam saja, Fang Yin juga memperdalam jurus-jurus yang telah dia kuasai sebelumnya. Selain penyempurnaan, dia juga melakukan percobaan lain dengan menggabungkan energi dalam satu jurus.


Ada juga beberapa jurus yang bisa dia padukan dan menjadi lebih hebat. Di dalam ruang dimensinya, waktu berlalu tanpa terasa karena dia tidak bisa melihat matahari.


"Berapa lama aku sudah melewatkan waktu untuk berlatih? Tubuhku terasa lelah sekali."


Fang Yin mengelap keringatnya dan melakukan pendinginan setelah latihan berat yang dijalaninya. Keadaan emosionalnya sudah mulai stabil.

__ADS_1


Setelah ini dia akan memperbanyak latihan dan tidak bermalas-malasan. Mimpinya seakan menjadi pengingat agar dia tidak terbuai oleh kenikmatan dunia dan melupakan balas dendamnya.


Takut jika ada yang mencarinya di alam nyata, Fang Yin segera keluar dari ruang dimensinya.


Dia keluar dengan aman dan jatuh di atas tempat tidurnya. Lagi-lagi dia belum bisa mendarat dengan baik. Beruntung dia jatuh di atas tempat tidur yang empuk.


"Astaga! Memalukan sekali. Sepertinya aku memang harus keluar dari zona nyaman dan berlatih keras. Coba kalau aku jatuh begini di hadapan musuh, bisa-bisa aku menjadi bahan tertawaan mereka." Fang Yin menggembungkan pipinya dengan menahan udara di mulutnya. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri.


Memikirkannya saja tidak akan cukup, dia harus melatih teknik itu hingga benar-benar menjadi teknik yang bisa diandalkan.


Suasana di dalam kamarnya sudah meredup, pertanda hari sudah mulai senja. Dari tempatnya sekarang dia bisa melihat bayangan manusia di depan pintunya.


Melihat Jian Heng dan beberapa orang dayang berdiri di sana, Fang Yin pura-pura menguap dan menggosok matanya. Entah mereka percaya atau tidak, hanya cara itu yang bisa dia lakukan.


Bajunya basah oleh keringat dengan wajah yang sangat lelah. Namun, Fang Yin tetap saja berpura-pura baru bangun tidur.


Jian Heng melirik curiga dan bertanya, "Sepertinya kamu terlalu nyenyak tertidur sampai berkeringat seperti itu."


Sindiran halusnya membuat Fang Yin sedikit gelagapan.


"Be-benar. Di dalam tidurku aku bermimpi sedang bertarung bersama binatang roh yang sangat kuat. Hihi ... sangat kuat." Fang Yin mencoba tersenyum yang lebih tepat disebut dengan meringis.

__ADS_1


Jian Heng mengangguk. Sebenarnya dia tahu jika Fang Yin berbohong tetapi tidak ingin memperpanjang masalah ini. Perdebatan mereka akan menjadi panjang dan tidak ada habisnya.


'Dasar Gadis Nakal. Entah apa yang mendorongnya sehingga dia berlatih sangat keras sepanjang waktu.' Jian Heng berbicara dalam hati.


"Dayang-dayang ini akan membantumu mandi. Setelah siap aku akan datang lagi untuk menjemputmu."


"Tidak-tidak. Aku bisa mandi sendiri. Aku tidak memerlukan bantuan siapapun." Fang Yin segera menyanggah ucapan Jian Heng lalu mendekat dan berbisik padanya, "Apakah kamu lupa jika aku memiliki simbol Dewi Naga yang sangat menyeramkan? Mereka bisa pingsan ketakutan setelah melihatnya."


Hampir saja Jian Heng melupakannya. Jika hanya ketakutan saja tidak akan jadi masalah, yang dia takutkan adalah bahaya dari simbol itu yang kemungkinan besar bertransformasi menjadi roh naga yang sangat kejam.


Jian Heng pun akhirnya kembali ke kamarnya dan meminta dayang-dayang itu mempersiapkan hal lain untuk menunggu Fang Yin selesai mandi.


'Aku merasakan aura yang sangat kuat dari tubuhmu Xiao Yin. Di dalam kamarmu juga tertinggal jejak energi yang sangat pekat.' Jian Heng menutup pintu kamarnya dengan rapat lalu mencari-cari sesuatu di tempat penyimpanan pribadinya.


Sebuah gulungan dengan permukaan berwarna coklat keemasan berhasil dia temukan. Tersungging senyuman manis menghiasi wajah tampannya dan membuat kadar ketampanannya meningkat drastis.


"Aku akan memberikan ini pada Xiao Yin nanti. Dia pasti akan sangat senang."


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2