Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 284. Keharuan


__ADS_3

Fang Yin melangkah perlahan mendekati Selir Ketiga, sedangkan Shi Han Wu berjalan mendekati Shi Jun Hui dan Yu Ruo. Jian Heng berdiri mematung dan menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Wajahnya terasa hangat terbakar oleh keharuan yang membuat dadanya terasa sempit.


"Yin'er, kau kah ini? Apakah kamu benar-benar putriku?" Selir Ketiga berkaca-kaca melihat ke wajah Fang Yin.


Tinggi tubuh Fang Yin telah melampaui selir Shi sehingga dia sedikit mendongak untuk menatapnya. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu sehingga membawa perubahan fisik bagi Fang Yin.


Fang Yin hanya bisa mengangguk saja. Seketika hatinya menjadi lemah dan tak bisa berkata apa-apa. Hatinya terasa sesak dipenuhi dengan perasaan haru dan bahagia.


"Bolehkah aku membuka penutup wajahmu?" Selir Shi ingin melihat wajah putri yang sangat dirindukannya.


Fang Yin kembali mengangguk pasrah. Setelah ini dia bisa menutupnya jika dia tidak ingin orang di luar sana melihatnya.


Shi Yu Jie menjerit histeris saat melihat wajah Fang Yin. Tangisnya pecah. Dia segera berhambur memeluknya erat. Mereka sama-sama menangis dalam keharuan.


Semua yang berada di sana ikut larut dalam keharuan. Shi Han Wu dan Shi Jun Hui saling berpelukan. Mereka kini berkumpul kembali. Untuk beberapa saat mereka melupakan sekelilingnya, melepas kerinduan diantara mereka.


Jian Heng ikut merasa bahagia dengan pertemuan ini. Selama ini Fang Yin selalu hidup sendiri. Seperti halnya dirinya, mereka sama-sama memiliki keluarga tetapi terpisah. Namun, keduanya memiliki tujuan yang berbeda.


Setelah beberapa saat, Fang Yin baru mengingat akan keberadaan Jian Heng di sana. Dia segera menoleh ke arahnya. Ini pertama kali baginya menunjukkan wajahnya tanpa penutup di hadapannya. Dengan wajah malu-malu dia menatap Jian Heng dengan perasaan yang campur aduk.


Jantung Jian Heng berdegup sangat kencang. Wajah Fang Yin terlihat lebih cantik dari yang dia bayangkan. Lukisan yang dia buat tidak sebanding dengan wajah aslinya. Tubuhnya seakan tidak menapak tanah.


"Pangeran Ketiga. Maaf aku menyembunyikan wajahku dan identitasku darimu. Mungkin setelah ini aku akan menutup kembali wajahku hingga tujuanku tercapai. Masih ada banyak hal yang harus aku selesaikan."


Fang Yin berdiri di hadapan Jian Heng penuh penyesalan. Meskipun dia tidak bermaksud untuk membohonginya, tetapi dia merasa perlu untuk meminta maaf.


"Aku tidak menyalahkanmu akan hal ini, Yin'er. Tidak masalah jika kamu menutup wajahmu. Aku akui kamu memang sangat cantik, tetapi bukan hal itu saja yang membuatku menyukaimu."


Fang Yin membulatkan matanya mendengar ucapan Jian Heng. Dia tidak menyangka jika Jian Heng berani mengatakannya di depan semua orang. Dia tidak bisa mengelak lagi setelah ini karena semua orang telah mendengar semuanya dari mulut Jian Heng sendiri.

__ADS_1


"Pangeran Ketiga, Anda terlalu berterus terang. Tidak bisakah mengatakan hal ini saat kita sedang berdua saja?" Fang Yin meringis sambil melirik ke arah ibu dan keluarganya.


Mereka tersenyum melihat Fang Yin yang salah tingkah. Mereka ingin tertawa tetapi takut menyinggung perasaan Jian Heng meskipun tawa itu merupakan ekspresi kebahagiaan mereka.


Di pojok ruangan terlihat seorang gadis yang menatap iri ke arah mereka. Kebersamaannya dengan Jian Heng selama beberapa hari ini menumbuhkan benih-benih perasaan di hatinya. Dia tidak menyangka jika pria yang diincarnya menyukai orang lain.


'Hatiku penuh dengan kebahagiaan hari ini. Apapun yang akan kuhadapi besok, aku menjadi lebih siap.' Fang Yin menatap Jian Heng penuh perasaan.


Setelah hati mereka sedikit tenang dan rindu mereka terobati, mereka duduk bersama untuk membicarakan masalah yang terjadi. Patriak Shi Hung Lan menjelaskan apa yang terjadi pada Klan Shi. Sebagai pemimpin dia sudah berusaha untuk menempuh jalan damai dengan suku gletser. Namun, semuanya tidak berhasil meskipun sudah bertemu untuk beberapa kali.


Suku gletser menginginkan pusaka leluhur suku es dan merasa jika mereka yang lebih berhak untuk memilikinya. Sebenarnya mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama sebelum terpecah menjadi dua suku.


Suku es bertahan di tempat ini sejak awal sedangkan suku gletser pergi meninggalkan nenek moyang mereka dan pergi ke Benua Utara. Keduanya memiliki jenis Qi yang sama meskipun pada pengembangan jurus dan tekniknya berbeda satu sama lainnya.


Fang Yin mendengarkan cerita dari Patriak Shi dengan seksama. Sepertinya sangat sulit untuk mencari jalan tengah di antara kedua belah pihak. Selama beberapa hari ini mereka selalu melakukan penyerangan di waktu malam.


Patriak Shi menunjukkan beberapa anggota Klan Shi yang terluka. Itulah sebabnya mereka berada di dalam satu pondok yang sama untuk menghindari korban yang terpisah dari kelompok.


Shi Jun Hui merasa kagum melihat kemampuan cucunya yang telah melampaui ilmu pengobatan yang dia miliki. Sebelumnya ada beberapa anggota Klan Shi yang terbunuh, begitu juga dengan suku gletser. Kedua belah pihak sama-sama kehilangan banyak anggota mereka.


Seorang anak kecil menangis membuat Fang Yin datang mendekatinya. Dia pikir anak itu sedang terluka. Ada sekitar lima orang anak kecil di sana dan sisanya adalah orang dewasa.


'Aku salah menghitung. Ternyata di sini ada sekitar lima puluh orang.' Fang Yin menggaruk-garuk kepalanya merasa bodoh. Dia tidak tahu jika sebenarnya memang jumlah mereka baru sekitar dua puluhan ketika dia menghitung dan bertambah setelahnya. Mereka keluar untuk mengambil barang-barang mereka dan membawa bahan makanan yang masih tersisa di rumah mereka.


"Mengapa dia menangis?" tanya Fang Yin pada orang tua dari anak tersebut.


"Dia merasa lapar. Bahan makanan kami menipis sehingga kami sepakat untuk makan sehari satu kali saja," jelas ibu dari anak itu.


Fang Yin melirik ke arah Jian Heng seolah meminta kejelasan. Tidak mungkin jika Jian Heng tidak memiliki solusi untuk ini. Setidaknya dia pasti membawa bahan makanan walaupun sedikit.

__ADS_1


"Jangan menyalahkan Tuan Muda Xi, Nona. Dia sudah memberikan seluruh perbekalannya pada kami."


Patriak Shi datang mendekati wanita itu dengan sangat marah. Dia merasa jika wanita itu telah keterlaluan dengan memanggil seorang putri dan pangeran dengan sebutan tuan dan nona.


"Kamu harus menjaga sopan santunmu. Mereka adalah putri dan pangeran. Jangan memanggil mereka dengan panggilan untuk seorang bangsawan biasa." Patriak Shi tidak bisa menahan dirinya.


Wanita itu terlihat ketakutan dan mendekap erat putrinya yang masih terisak. Bocah kecil itu menangis tanpa suara dan membenamkan wajahnya di dada ibunya.


"Jangan menakut-nakuti anak kecil, Patriak Shi. Tidak masalah dengan panggilan ini karena saat ini aku juga tidak memiliki kedudukan sebagai seorang putri."


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak ada maksud untuk merendahkan dan bersikap tidak sopan, Yang Mulia." Wanita itu bersujud di kaki Fang Yin.


Rumor yang beredar sangatlah kejam di mana semua orang percaya jika Fang Yin bukanlah putri dari Kaisar Gu melainkan putri kandung dari Jenderal Wang Jiang. Berita itu juga sampai di telinga suku es. Mereka percaya jika berita itu tidak benat meskipun ada segelintir orang yang merasa ragu.


"Lupakanlah! Aku tidak menyalahkan siapapun yang meragukan aku dan ibuku tetapi aku punya bukti kuat yang menunjukkan jika aku adalah keturunan langsung dari Kaisar Gu. Jika waktunya tiba, aku akan menghadirkan bukti itu di hadapan seluruh dunia." Sorot mata Fang Yin menunjukkan dendam dan amarah yang berkobar.


Meskipun suku es diam tetapi Fang Yin merasa yakin pasti ada beberapa pihak yang percaya dengan rumor itu. Tidak ingin memperpanjang masalah itu lagi, dia segera beralih untuk membicarakan urusan logistik yang kian menipis.


"Aku akan pergi untuk mencari makanan. Jangan takut akan kelaparan. Aku segera kembali." Fang Yin bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


"Aku akan pergi bersamamu," ucap Jian Heng tidak ingin berpisah lagi dari Fang Yin.


"Aku juga ingin ikut bersama kalian." Seorang gadis datang mendekat ke hadapan Fang Yin dan Jian Heng.


Fang Yin mengernyitkan dahinya dan melirik ke arah Jian Heng. 'Apa yang sudah aku lewatkan?'


****


Bersambung ....

__ADS_1



Numpang promo novel dari temanku ya kak... Semoga berkenan mampir...


__ADS_2