
Fang Yin tidak tahu apa tujuan Jian Heng ingin melihat pil yang di telannya.
Dia menuruti saja apa yang diinginkan gurunya itu.
Jian Heng mengambil sebutir pil penjelajah jiwa dari tangan Fang Yin dan mengamatinya dengan teliti.
Mata sipit Jian Heng melebar sempurna karena terkejut dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Sebuah pil dengan kualitas nomer satu kini berada di dalam genggamannya. Jian Heng merasa penasaran dari mana Fang Yin mendapatkannya secara cuma-cuma.
"Simpan pil ini baik-baik! Semuanya akan berguna untukmu ke depannya. Kamu bisa menyingkat waktumu untuk mempelajari kitab ini dengan bantuan pil itu." Jian Heng mengembalikan pil itu pada Fang Yin.
"Kalau kamu mau, simpan saja pil itu untukmu," ucap Fang Yin yang merelakan sebutir pil yang dia miliki untuk diberikan pada Jian Heng.
"Jangan bercanda, Xiao Yin! Pil ini sangat mahal. Aku tidak pantas menerima hadiah ini darimu."
Fang Yin melihat wajah serius Jian Heng. Dia pikir sebelumnya, jika Jian Heng hanya mengada-ada tentang harga mahal dari pil ini. Namun, setelah melihat lebih dalam tatapan Jian Heng, Fang Yin menjadi mengerti jika pil ini memang sangat berharga.
"Aku bisa membuatnya lagi lain kali," ucap Fang Yin dengan santainya.
Apa yang diucapkan Fang Yin kali ini membuat Jian Heng terperanjat sampai-sampai dia terbatuk karena tersendat air liurnya sendiri.
"Ya sudah jika Tetua Yu tidak mau menerimanya," ucap Fang Yin bermaksud untuk merebut pil itu dari tangan Jian Heng.
Jian Heng menarik tangannya lalu menyimpan pil pemberian Fang Yin itu pada sebuah kotak kecil yang dia keluarkan dari dalam cincin penyimpannya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Jian Heng tanpa malu-malu lagi.
Fang Yin tersenyum di balik cadarnya melihat tingkah lucu Jian Heng.
Mereka kembali fokus untuk belajar Kitab Sembilan Naga yang terbemtang di udara dalam untaian mantra.
Huruf-huruf yang tertulis dengan cahaya bersinar berwarna kuning emas itu mulai terbaca.
Fang Yin memahami isi yang tertulis di halaman pertama. Dengan bantuan sumberdaya pil penjelajah jiwa yang ditelannya, Fang Yin mampu menguasai halaman pertama kitab itu dengan mudah. Fang Yin juga menyerap mantra itu dalam ingatannya.
Untuk malam itu, Fang Yin hanya mampu mempelajari satu halaman saja karena waktunya habis untuk membuka tabir bahasa.
Setelah ini dia akan lebih mudah membaca dan memahaminya setelah pil penjelajah jiwa membuatnya mengerti bahasa dalam mantera tersebut.
Jian Heng menarik mantra Kitab Sembilan Naga dan menyimpannya kembali. Mereka keluar dari dalam ruangan itu bersama-sama. Sesampainya di luar ruangan, mereka dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang murid yang memanggil-manggil nama Xiao Yin.
"Kenapa mereka mencariku malam-malam begini?" Fang Yin terlihat kesal. Dia berjalan meninggalkan ruangan itu untuk melihat siapa yang datang.
"Tunggu! Biar aku saja!" Jian Heng menggeser tubuh Fang Yin dan berjalan mendahuluinya.
Fang Yin tidak ingin tinggal diam untuk menunggu. Dia tetap berjalan mengikuti Jian Heng di belakangnya.
"Selamat malam, Tetua Yu!" sapa salah satu murid itu lalu keduanya memberi hormat pada Jian Heng.
__ADS_1
"Selamat malam! Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam? Saat ini adalah waktu istirahat, bukan waktunya untuk berkeliaran!" seru Jian Heng sambil menatap tajam kedua murid yang ada di depannya itu secara bergantian.
"Ampun, Tetua tetapi ini sangat mendesak. Kami ingin meminta bantuan kepada Xiao Yin untuk menolong teman kami."
Mereka memohon pada Jian Heng untuk mengijinkan Fang Yin membantu mereka.
Jian Heng mengijinkan Fang Yin pergi tetapi dia ikut bersamanya. Tidak ada pilihan lain bagi kedua murid itu selain menyetujui syarat dari Jian Heng. Mereka akan dimarahi oleh Tetua Ming jika tidak berhasil membawa Fang Yin kehadapannya.
Di kamar Lin Shi sudah ada Tetua Ming, Yuwei dan dua orang pelayan yang bekerja di Sekte Sembilan Bintang.
"Selamat malam, Tetua Ming!" Jian Heng memberi hormat.
"Selamat malam, Tetua Yu!" Tetua Ming membalas hormat Jian Heng.
"Kami mohon maaf telah mengganggu istirahat Tetua Yu dan Xiao Yin. Lin Shi sudah tidak demam lagi tetapi dia bilang tubuhnya masih terasa lemas. Aku ingin Xiao Yin memeriksanya sekali lagi." Tetua Ming terlihat sangat sopan di hadapan Jian Heng.
Jian Heng melirik ke arah Xiao Yin dan mempersilakannya untuk maju.
"Aku membutuhkan sebuah lentera kecil," ucap Fang Yin setelah memeriksa denyut nadi, mata, mulut dan suhu tubuh Lin Shi.
****
Bersambung ....
__ADS_1