Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 38. Tidak Ingin Menyerah


__ADS_3

Fang Yin maju ke depan mendekati empat orang pria bertopeng itu. Dia tidak mempedulikan Jian Heng yang memberinya kode untuk tidak gegabah dan maju sendirian.


"Rupanya kamu di sini, gadis nakal!" pekik salah satu pria itu yang membuat Fang Yin langsung terkenang dengan penggilan seperti itu.


"Iya, Tuan-tuan. Kalian pasti mendapatkan upah yang mahal dari tua bangka itu, kan? Tapi menurutku kalian terlalu bodoh, mau-maunya di bodohi sama Tetua kikir itu. Kalian pembunuh ke tiga yang akan mati sia-sia demi uang yang belum kalian pegang." Fang Yin menebak apa yang terjadi.


Keempat pria itu saling berpandangan satu sama lain. Mereka tahu jika apa yang diucapkan Fang Yin memanglah benar. Namun mereka tidak percaya jika mereka berempat tidak mampu membunuh seorang gadis saja.


"Mungkin nasib mereka saja yang tidak mujur." Mereka tidak mundur setelah mendengar cerita Fang Yin.


Jian Heng tidak menyangka jika gadis yang selalu bersamanya seharian ini adalah target pembunuh bayaran. Di lihat dari penampilannya, Fang Yin bukanlah orang yang kaya. Tidak mungkin seseorang berniat untuk membunuhnya tanpa alasan yang jelas.


Para pembunuh bayaran itu mulai menghunus pedangnya dan bersiap untuk menyerang Fang Yin.

__ADS_1


Tidak ingin tinggal diam, Fang Yin pun bersiap untuk melawan. Dia mengeluarkan pedang hadiah yang diberikan oleh Tetua An padanya. Bukan pedangnya yang hebat, tetapi Qi Awan Salju yang mengalir di pedang itu yang membuat tercengang.


Lagi-lagi Jian Heng dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat. Dia tidak menyangka jika gadis yang terlihat bodoh itu adalah keturunan suku es.


'Pantas saja dia menjadi incaran para pembunuh itu. Rupanya dia adalah keturunan suku es yang mungkin keberadaannya di anggap mengancam orang yang mengirim para pembunuh ini. Aku ingin melihat seberapa hebatnya dia sehingga dia telah berhasil mengalahkan para pembunuh sebelumnya.' Jian Heng tidak langsung membantu Fang Yin.


Pertarungan pun tidak bisa dihindari lagi. Para penduduk desa yang semula berada di sekeliling mereka, satu persatu menyingkir dari sana. Meskipun Fang Yin menekan kuat-kuat energinya agar tidak tampak ranah kultivasi yang dia miliki, tapi tetap saja tubuhnya di selimuti oleh energi yang besar yang begitu kental terasa.


Seorang wanita bertarung melawan empat orang pendekar pria yang masing-masing berada di tingkat kultivasi ranah langit.


Meskipun Fang Yin juga berada di dalam ranah yang sama, tetapi beragam aliran Qi istimewa di dalam tubuhnya membuat Fang Yin mampu mengungguli kemampuan lawannya.


Dari awal pertarungan itu sudah terlihat tidak seimbang, meskipun musuh Fang Yin menang jumlah. Namun teknik serangan dan strategi yang mereka buat masih mentah. Permainan pedang mereka pun tidak ada apa-apanya dengan kemampuan Fang Yin yang telah terlatih menggunakannya sejak usia balita.

__ADS_1


Meskipun tanpa mengeluarkan jurus pedang dari Kitab Sembilan Naga, Fang Yin tetap menang telak. Satu persatu pedang mereka terlempar jauh hingga mereka terpaksa berhenti sejenak lalu beralih untuk menyerang dengan tenaga dalam yang mereka miliki.


Energi dasar pembunuh bayaran itu memiliki inti dasar api. Fang Yin memilih untuk menghadapi mereka dengan Qi Awan Salju miliknya.


'Mungkin ini saatnya aku menggunakan Jurus Badai Es setelah aku sempurnakan dengan Qi Naga Suci.'


Fang Yin tidak ingin membuang-buang waktunya. Setelah ini, dia harus melakukan rencana yang tergambar dalam otaknya dan memastikan setelah ini tidak akan ada lagi yang berani menerima tawaran Tetua Song untuk membunuhnya.


Udara dingin mulai menyelimuti tempat di mana Fang Yin berdiri hingga jarak beberapa hasta darinya. Terlihat bunga-bunga es mulai menutupi pepohonan dan benda-benda yang ada disekitarnya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2