
Wanita itu berada dalam keadaan yang bimbang, senang putrinya akan segera kembali. Namun juga merasa khawatir akan wanita yang menolongnya. Dia tidak tahu jika Fang Yin adalah seorang kultivator pilih tanding yang tidak mudah dikalahkan.
Dari arah pintu yang berada di belakang Fang Yin dan wanita itu, muncul seorang gadis yang diantar oleh dua pria tadi. Gadis itu sedikit terkejut dengan keberadaan ibunya di sana.
"Ibu!" Gadis itu berlari memeluk ibunya dan menumpahkan air matanya.
Pertemuan itu begitu mengharukan. Fang Yin membayangkan dirinya yang harus rela berjauhan dengan ibunya demi melindunginya.
'Aku merasa seperti sedang berada dalam kehampaan. Semoga ibuku baik-baik saja.' Fang Yin menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
Ibu dan anak itu saling mengungkapkan kesedihan mereka hingga beberapa saat, baru setelah itu sang ibu teringat akan keberadaan Fang Yin yang telah membantunya.
Wanita itu menjatuhkan diri dan berlutut di kaki Fang Yin. Putrinya yang belum tahu alasan ibunya melakukan itu pun mengikutinya.
"Terimakasih, Nona. Aku tidak akan pernah melupakan budi baikmu!"
"Bangunlah! Dan cepat bawa putrimu pergi dari sini!" Fang Yin tidak ingin Song Palao berubah pikiran dan membuat mereka kesulitan.
Mereka segera berdiri dan melakukan apa yang dikatakan oleh Fang Yin. Beberapa kali mereka berdua menoleh ke arah Fang Yin dan menampakkan wajah khawatir.
Fang Yin mengangguk sebagai ungkapan yang mengatakan dia akan baik-baik saja.
Kedua pria itu keluar dari ruangan itu lalu menutup pintu. Kini di dalam ruangan itu hanya ada Fang Yin dan Song Palao saja.
Pria itu memberi isyarat pada Fang Yin untuk mendekat dan Fang Yin pun melakukannya. Dia berjalan menuju ke meja Song Palao lalu duduk di hadapannya.
"Siapa namamu?" tanya Song Palao sambil menatap lekat wajah Fang Yin.
__ADS_1
"Namaku Xiao Yin."
Pria itu mengangguk-angguk.
"Buka penutup wajahmu!" seru Song Palao.
Fang Yin terkesiap saat mendengar ucapannya dan mencari cara agar Song Palao mau mengerti. Dia berpikir untuk membuat kesepakatan dengan Song Palao.
"Tunggu! Aku ingin melakukan tawar-menawar denganmu, Tuan."
Song Palao mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Fang Yin.
"Apa maksudmu, Gadis kecil? Apakah kamu ingin membayar hutang-hutang ayah dari gadis yang kamu selamatkan tadi?"
"Benar!" jawab Fang Yin mantap.
"Kamu cukup membayarnya dengan tubuhmu saja. Kamu simpan saja uangmu yang tidak seberapa itu!" Masih ada sisa-sisa air mata di ujung kelopak matanya akibat tertawa terlalu lama.
Fang Yin tetap tenang dan menahan dirinya untuk tidak terpancing. Menyinggung Song Palao akan membuatnya kesulitan untuk mendapatkan Kitab Sembilan Naga yang berada di tangannya.
"Tuan sebutkan saja berapa hutangnya."
Song Palao menatap Fang Yin tajam. Hatinya merasa kesal. Tangannya bergerak cepat untuk mengambil cadar Fang Yin. Namun secepat apapun gerakan Song Palao, semuanya tidak bisa luput dari ketajaman mata Fang Yin.
Tangan Fang Yin menangkap tangan Song Palao dan memegangnya dengan erat. Meskipun Song Palao mencoba untuk menarik tangannya, tetapi kekuatan Fang Yin menahannya.
Beberapa kali Song Palao mencobanya dan berakhir dengan kesia-siaan.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya?" Otot wajah Song Palao terlihat ketika dia mengerahkan tenaganya untuk menarik tangannya.
Bruukkk!
Tubuhnya terjengkang dan jatuh ke belakang ketika Fang Yin tiba-tiba melepas tangannya.
"Ups! Maaf Tuan, aku tidak sengaja!" Fang Yin bersikap seolah peduli.
Song Palao menggebrak meja setelah berhasil bangkit. Dia tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Kamu membuat habis kesabaranku! Mari kita bertarung, jika kamu menang maka aku akan membebaskan mu!" seru Song Palao merasa tertantang setelah merasakan kekuatan Fang Yin.
Fang Yin tersenyum. Tiba-tiba dia menemukan ide untuk melakukan tawar-menawar dengan song Palao.
"Baiklah! Tetapi jika aku menang, aku meminta imbalan atas kemenanganku!"
"Hahaha! Percaya sekali kamu! Tapi baiklah, katakan imbalan apa yang kamu inginkan!" Song Palao merasa jika dia bisa mengalahkan Fang Yin dalam satu jurus. Tidak dipungkiri jika kekuatan Fang Yin sangat besar, Song Palao mengakui itu tetapi dia yakin jika dia bisa mengalahkannya.
'Kura-kura tua ini berhasil masuk dalam perangkap.' Fang Yin tersenyum licik.
"Terimakasih atas kemurahan mu, Tuan. Aku tidak akan merasa sungkan. Jika aku menang, ijinkan aku meminjam Kitab Sembilan Naga bintang enam yang ada padamu."
Song Palao terkejut untuk yang kesekian kalinya. Selama ini tidak ada yang tahu jika dia memiliki kitab itu. Sudah berpuluh-puluh tahun dia memilikinya, bahkan dia hampir melupakannya karena dia tidak bisa membuka segel pengunci Kitab Sembilan Naga bintang enam tersebut.
****
Bersambung ....
__ADS_1