Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 342. Kemampuan Chen Chen


__ADS_3

Tubuh Chen Chen terlihat sangat dengan dengan nafas yang teratur. Selama penyerapan berlangsung matanya masih tertutup rapat. Hanya gerakan dadanya yang naik turun saja yang menandakan bahwa di dalam raganya masih ada nyawa.


Setelah seluruh esensi energi di dalam artefak lentera langit terserap seluruhnya, artefak itu berhenti bercahaya.


Mata Chen Chen perlahan terbuka. Untuk pertama kalinya dia melihat dunia. Tubuhnya yang berada dalam keadaan berbaring di udara mulai bergerak secara perlahan.


Fang Yin berniat untuk menangkapnya dan mengambilnya ke dalam gendongannya tetapi Jian Heng maju ke depan dan menangkap tubuh Chen Chen yang bergerak pelan.


Meskipun Chen Chen masih anak-anak bagi Jian Heng dia tetaplah seorang pria, pikirnya. Dengan gesit dia membantu anak itu mengenakan pakaiannya.


Semua orang terpana saat melihat tubuh kurus Chen Chen bisa berdiri dengan tegak ketika Jian Heng memakaikan pakaiannya.


Shu Shuangyi menangis bahagia melihat ke adaan putranya yang telah berhasil disembuhkan oleh Fang Yin. Dia berjalan perlahan mendekatinya lalu berlutut untuk menyamakan tinggi badan mereka.


Artefak lentera langit masih melayang di udara, Fang Yin mengambilnya lalu memberikannya pada Chen Chen.


Bocah itu seperti sudah sangat mengenali benda itu dan segera menerimanya.


"Terimakasih," ucapnya untuk yang pertama kalinya diikuti oleh senyuman yang juga baru pertama kali terlihat di wajahnya.


Apa yang dilakukan oleh Chen Chen membuat ibunya merasa syok. Hampir saja dia terjatuh karena tidak percaya dengan apa yang terjadi pada putranya.


"Dia yang pantas untuk mendapatkan ucapan itu untuk yang pertama kalinya." Fang Yin menunjuk ke arah Shu Shuangyi.


Chen Chen mengikuti ke mana tangan Fang Yin menunjuk dan menatap ibunya tanpa kata. Dia memutar tubuhnya menghadap Shu Shuangyi lalu memeluknya.


Mengharukan. Setelah delapan tahun menjadi anak yang lumpuh, Chen Chen kini terlihat sangat sehat. Semua orang yang berada di sana menitikkan air mata melihat kejadian ini.


Hingga beberapa saat Shu Shuangyi dan putranya larut dalam tangisan harunya. Sampai Chen Chen melepaskan pelukannya dan berbicara.


"Terima kasih, Ibu. Aku sangat menyayangimu." Chen Chen bisa berbicara dengan lancar.


Semua orang tercengang. Ternyata selama ini artefak lentera langit lah yang membuatnya tak berdaya. Chen Chen menjadi anak lumpuh yang tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


"Jadi dia tidak buta?"


"Dia juga tidak bisu."


"Wah, tampan sekali dia. Sungguh ini keajaiban."


"Benar. Ini adalah sebuah keajaiban."


Semua orang saling bersahut-sahutan menanggapi kejadian ini. Mereka merasa takjub dengan perubahan yang terjadi pada bocah itu.


Patriak Shi meminta para penduduk Gunung Perak untuk tenang. Kemudian dia meminta Fang Yin untuk maju ke depan dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Chen Chen.


Fang Yin melakukan apa yang diperintahkan oleh Patriak Shi. Di depan semua orang, dia menceritakan secara singkat tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Kakek dari Chen Chen menyegel kekuatannya pada artefak lentera langit untuk diwariskan kepadanya. Dia menyimpan artefak itu di kepala Chen Chen sesaat setelah dia dilahirkan.


Tanpa disadari benda asing yang berada di kepala Chen Chen itu membuat kerja otaknya terganggu. Akibatnya, seluruh tubuh dan organ-organ penting di dalamnya tidak bisa berfungsi dengan baik.


Sebenarnya apa yang dilakukan oleh kakek dari Chen Chen bukanlah suatu hal yang buruk, hanya saja dia tidak bisa mengerti bagaimana cara untuk menyegelnya dengan benar tanpa menimbulkan gangguan.


Menanggapi hal ini, Fang Yin membutuhkan sebuah riset. Dia tidak tahu apakah selama delapan tahun berlalu Chen Chen memiliki kekuatan yang tersegel di dalam artefak lentera langit atau tidak.


Tanpa pertunjukan dari Chen Chen tidak akan ada yang tahu apakah di melakukan latihan di alam bawah sadarnya selama delapan tahun ini atau hanya menyimpannya saja.


Chen Chen merasa terpanggil. Dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dia bukan orang lemah seperti yang mereka pikirkan.


"Aku telah hidup di alam kekosongan jiwa dan melakukan banyak hal seperti yang tertulis dalam artefak lentera langit. Pendengaranku juga mengajarkan banyak hal. Semua yang dilakukan oleh orang-orang di sekelilingku, aku juga bisa melakukannya."


Penjelasan Chen Chen membuat semua orang tercengang. Mereka terjebak antara rasa percaya dan tidak percaya sebelum melihat bukti yang nyata.


Chen Chen maju ke depan di tempat yang sedikit lapang. Kaki dan tangannya melakukan sikap kuda-kuda seperti akan melakukan pertarungan.


Tangannya melakukan gerakan dengan pola tertentu yang hanya diketahui olehnya. Gerakan ringan tetapi menimbulkan efek yang menggetarkan tempat di sekitarnya.

__ADS_1


Aura energi menyelimuti tubuh Chen Chen dan membuatnya terlihat bercahaya jingga. Keduanya tangannya bergerak ke samping dengan posisi setengah menyamping. Qi dengan warna yang sama berkobar di telapak tangannya.


Chen Chen menyatukan kedua energi di telapak tangannya itu lalu mengarahkannya ke langit. Cahaya berwarna jingga memancar ke langit menembus hingga batas yang tidak terlihat.


Langit yang cerah di sore itu tiba-tiba menurunkan salju yang lebat. Keadaan ini memaksa penduduk Gunung Perak yang berada di tempat terbuka berlarian mencari tempat berteduh.


"Cukup, Anak Muda!" seru Fang Yin pada Chen Chen.


Bocah kecil itu pun menuruti perintah Fang Yin dan menghentikan hujan salju yang tercipta dari energinya.


Chen Chen mengatakan pada Fang Yin dan para tetua jika ini hanyalah salah satu kemampuannya. Masih ada kemampuan lain yang dimilikinya. Namun, dia tidak bisa mengeluarkannya jika tidak sedang menghadapi musuh.


Bisa dipastikan bahwa kemampuan kakeknya yang tersegel di dalam artefak lentera langit sepenuhnya menjadi miliknya. Usianya yang masih berada di bawah sepuluh tahun membuatnya belum bisa mengoptimalkannya. Chen Chen meminta Patriak Shi untuk memberikannya seorang guru pembimbing.


Chen Chen berjanji akan menjadi orang yang paling berbakti pada suku es. Sebagai pengganti ayah dan kakeknya, di masa mendatang dirinya harus menjadi orang yang mampu melindungi desanya itu dengan baik.


Shu Shuangyi menatap bangga pada putranya. Setelah ini dia bisa bekerja dengan tenang untuk mencari penghidupan untuk mereka berdua. Lahan pertanian yang terbengkalai setelah kematian suaminya bisa dia tanami lagi.


Kaisar Jing yang merasa berkesan dengan kemampuan Chen Chen memberinya hadiah berupa koin emas dan beberapa pakaian. Jika ibunya mengijinkan, dia ingin membawa dan menyediakan pendidikan khusus bersama putra-putranya di Kekaisaran Benua Utara.


Patriak Shi dan para tetua merasa senang dengan penghargaan itu. Namun, mereka tidak ingin kehilangan aset berharga suku es.


Mengingat pembantaian yang terus dilakukan oleh para kultivator ketika mereka sedang berada di luar Gunung Perak, suku es kini kekurangan praktisi bela dirinya yang berbakat. Untuk itu, mereka tidak mengijinkan Chen Chen dibawa oleh Kaisar Jing.


***


Di Kekaisaran Benua Timur,


Kaisar Ning berlatih di dalam ruangannya. Aura jahat di tubuhnya semakin menjadi-jadi dan membuatnya kehilangan sifat manusianya. Setiap hari dia secara diam-diam pergi menyelinap keluar dari istana untuk mencari korban manusia.


Satu jiwa yang didapatkan membuat kekuatannya bertambah naik menjadi satu tingkat. Butuh setidaknya seratus jiwa untuk membuat kekuatannya menjadi sempurna.


Setelah Permaisuri Ning terlelap, Kaisar Ning mengendap-endap berjalan meninggalkan kamarnya. Senyum menyeringai tergambar jelas di wajahnya saat dirinya berhasil keluar dengan aman.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2