
"Ada apa?" tanya Fang Yin singkat ketika Kaisar Jing sudah berdiri dihadapannya.
Kaisar Jing menyatukan tangannya di depan dadanya memberi hormat sebelum dia mulai berbicara.
"Maaf, Nona. Anda belum mengajukan syarat apapun. Aku merasa berhutang pada Anda."
Fang Yin mengernyitkan keningnya dan berpikir.
'Syarat?! Sepertinya ini cukup menarik, tetapi aku belum memikirkan tentang apa yang kuinginkan.' Di dalam benaknya belum terlintas syarat yang ingin dia ajukan.
"Aku akan memikirkannya dulu. Ada beberapa hal penting yang harus aku lakukan di sini. Setelah urusanku selesai aku akan pergi untuk mencarimu." Fang Yin tidak ingin asal meminta. Belum jelas keinginannya sehingga dirinya tidak ingin asal meminta.
Setelah mengatakan itu, Fang Yin kembali berjalan.
Kaisar Jing masih terus mengikuti Fang Yin dan tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang disekelilingnya.
Bohong jika Fang Yin bilang jika dia tidak mengetahui dirinya sedang diikuti oleh Kaisar Jing.
"Sudah kubilang aku masih ada urusan lain di sini. Mengapa Anda masih saja mengikutiku? Aku tidak akan kabur dari sebuah hadiah yang menggiurkan, Anda tidak perlu khawatir akan hal itu." Fang Yin berbicara tanpa menoleh pada Kaisar Jing.
"Tapi, Nona. Aku ingin tahu tentang identitasmu agar jika Anda datang ke istanaku, aku tahu akan kedatanganmu."
Fang Yin menutup matanya sesaat lalu kembali membukanya. Suara napasnya yang mendengus terdengar pula oleh Kaisar Jing. Akhirnya Fang Yin menoleh lagi ke belakang dan mencoba mengalah pada keadaan.
"Namaku Xiao Jin! Kamu bebas memanggilku dengan sebutan yang kamu mau. Aku butuh ketenangan untuk mempelajari sebuah jurus. Bisakah kamu meninggalkanku sendirian sekarang? Aku benar-benar heran padamu yang seolah-olah tidak ingin membiarkanku pergi." Fang Yin berbicara dengan nada yang meninggi.
Kaisar Jing terlihat kebingungan dan merasa takut jika Fang Yin kembali tersinggung.
"Baiklah, Nona. Maafkan aku. Sebenarnya aku sangat ingin mengundangmu untuk datang ke istanaku sebagai tamu kehormatan," jujur Kaisar Jing.
__ADS_1
Fang Yin mulai mengerti tujuan Kaisar Jing tidak ingin melepaskannya malam ini.
"Kamu bicara berputar-putar. Mengapa tidak dari tadi kamu mengatakannya? Aku pikir ini bukan tawaran yang buruk meskipun aku tidak bisa tinggal dalam waktu yang lama di istanamu."
Kaisar Jing tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari Fang Yin. Tidak ingin menunda lagi dia mengeluarkan sebuah pedang yang berubah menjadi besar saat dia melemparkannya ke udara. Pedang itu akan menjadi kendaraan mereka menuju ke istana Kekaisaran Benua Utara.
"Mari ikut saya menaiki pedang ini, Nona!" ajaknya dengan segera. Dia merasa takut jika Fang Yin akan kembali berubah pikiran.
Fang Yin tidak menjawab apa-apa lagi dan mengikuti sang kaisar untuk menaiki pedangnya.
Setelah kepergian mereka, para kultivator yang berada di sana pun segera membubarkan diri. Mereka merasa lega setelah kejadian buruk yang hampir memporak-porandakan negerinya urung terjadi.
Istana Kekaisaran Benua Utara berada beberapa mil ke arah timur dari tempat mereka berada sekarang. Butuh waktu tidak kurang dari satu jam bagi pedang itu untuk membawa mereka sampai.
Malam telah mendekati pertengahan, sepanjang jalan yang mereka lalui terasa sangat sepi.
'Wanita ini sepertinya bukan seorang gadis biasa. Aku merasakan aura kepemimpinan yang kuat dari dalam dirinya. Aku sangat yakin jika dia memiliki darah seorang pemimpin di tubuhnya. Apakah aku terlalu berlebihan jika aku mengharapkannya untuk menjadi pendampingku? Ah, pikiranku begitu kurang ajar sekali!' Kaisar Jing tersenyum. Posisinya yang berdiri membelakangi Fang Yin, membuat senyuman itu tidak terlihat olehnya.
Pada jarak kurang dari seribu kaki, cahaya lampu yang menerangi ibukota Kekaisaran Benua Utara mulai terlihat. Lampu-lampu itu terlihat seperti kunang-kunang. Semakin mendekat cahaya itu semakin jelas dan terang.
Di jantung ibukota masih terlihat aktifitasnya penduduk yang ramai. Kebanyakan mereka adalah para pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. Setiap pedagang menjual barang atau makanan yang berbeda-beda.
Setelah memasuki wilayah ibukota, Kaisar Jing membawa Fang Yin terbang rendah.
Perut Fang Yin bergejolak ketika hidungnya mencium aroma wangi makanan yang ada di bawah mereka. Ingin rasanya dia melompat turun dan membeli apa saja yang dia sukai. Namun rasanya itu sangat tidak sopan.
Pedang Kaisar Jing membawa mereka berdua memasuki kawasan khusus istana kekaisaran. Pedang itu turun setelah melewati pintu gerbang.
Para prajurit yang berada di sekitarnya bergerak memberi hormat pada sang kaisar.
__ADS_1
"Kita sudah sampai. Mari ikut saya untuk pergi ke istana kekaisaran." Tidak tanggung-tanggung, Fang Yin tidak dibawa ke istana para tamu melainkan istana kaisar.
"Hmm." Fang Yin mengangguk sambil menyatukan kedua tangannya.
Mereka berdua kembali berjalan dan menjadi pusat perhatian para penghuni istana yang masih terjaga. Masih banyak yang belum tidur, mereka berjaga jika sewaktu-waktu serangan udara dingin dan hujan salju akan kembali datang.
Mata Fang Yin terpesona saat melihat bangunan megah istana kekaisaran. Para penjaga memberi hormat dan membukakan pintu untuk mereka. Ada beberapa bangunan yang berdiri di area khusus Kaisar Jing dan mereka memasuki bangunan yang berada di paling depan.
Dayang-dayang yang melayani kaisar berbaris dan bersiap untuk menerima perintah. Para istri Kaisar Jing tinggal di tempat yang berbeda. Permaisuri tinggal di istana permai suri dan para selir tinggal di istana selir.
"Bawa nona ini ke kamar khusus di istanaku dan layani dia dengan baik!" perintah Kaisar Jing.
Malam sudah sangat larut, dia ingin Fang Yin beristirahat dengan nyaman. Kaisar Jing tidak peduli dengan kecemburuan istri-istrinya. Ini pengalaman pertamanya membawa seorang wanita ke istananya dan membiarkannya menginap di sana.
Setelah kepergian Fang Yin bersama para dayang, Kaisar Jing masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia berpesan pada dayang khusus yang melayaninya bahwa dia tidak ingin di ganggu malam itu.
"Aku tidak bisa tidur," gumam Kaisar Jing setelah mengganti pakaian kebesarannya dengan baju malam.
Bayangan wajah Fang Yin yang tak terlihat selalu mengusiknya. Meskipun dia memiliki kekuasaan, dia tidak merasa yakin jika Fang Yin akan menerima pinangannya. Terlebih lagi menyinggung suku es sama artinya dengan bunuh diri.
Di kamar Fang Yin,
Fang Yin meminta para dayang untuk pergi setelah menyiapkan air mandi untuknya.
'Sepertinya tidak masalah jika aku mencicipi segala kemewahan ini selama beberapa hari. Kamar ini sangat luas, aku rasa tidak masalah jika aku menggunakannya sebagai tempat untuk berlatih.' Fang Yin berjalan menuju ke ruang mandi yang berada di samping sambil melihat-lihat setiap sudut kamarnya yang luas.
Dia merasa tempat itu cukup aman untuk melatih teknik ilusi dan dimensi ruang dan waktu yang belum tuntas.
****
__ADS_1
Bersambung ....