
Shi Han Wu terlihat sedih. Sebelum dia bercerita kepada Fang Yin, dia terdiam beberapa saat untuk menyusun kata-katanya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya hingga membuatnya berantakan.
Ada hal besar yang sedang menimpa suku es. Mungkin Fang Yin belum mendengarnya karena selama ini terus berkeliling untuk mencari Kitab Sembilan Naga dan memperkuat dirinya. Butuh kata-kata yang pas untuk menyampaikan kabar yang buruk.
Melihat sikap diam Shi Han Wu, Fang Yin merasa curiga. Meskipun kakeknya itu terkenal sosok yang tidak banyak bicara, tetapi sepertinya dia sedang menyimpan sebuah masalah. Secara tak kasat mata wajahnya menunjukkan jika dia menyimpan beban yang menghimpit hatinya.
"Kita akan ke mana, Yin'er?" Shi Han Wu mengalihkan pembicaraan. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Untuk saat ini dia belum bisa mengatakannya.
"Aku sedang bersama dua orang temanku, Kek. Kami bermalam di hutan ini sebelum melanjutkan perjalanan. Tubuh kami sangat lelah setelah bertarung karena sebuah kesalahpahaman." Fang Yin menceritakan secara singkat tentang pengalamannya hari ini.
Shi Han Wu mengangguk tetapi dia terlihat tidak fokus. Hanya kepalanya saja yang bergerak tetapi pikirannya melayang entah ke mana.
Langkah mereka terlihat lambat, tetapi tubuh keduanya yang sama-sama memiliki tingkat kultivasi yang tinggi membuat gerakan keduanya sangat cepat dan tak terlihat.
Bai An dan Liu Sheng menatap heran ke arah Shi Han Wu. Bai An tidak mengenalinya karena dia tidak pernah berkelana seperti Liu Sheng.
"Liu Sheng memberi hormat padamu, Pendekar Iblis Buta!" Liu Sheng menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
"Semoga panjang umur." Shi Han Wu tetap menjawab penghormatan itu meskipun dia merasa sangat heran. Di tempat yang asing, ternyata ada yang mengenalinya.
"Siapa mereka, Yin'er? Apakah mereka kerabatmu?"
Fang Yin menceritakan secara singkat tentang Bai An dan Liu Sheng. Sebenarnya dia juga belum tahu banyak tentang mereka karena baru bertemu hari ini.
Shi Han Wu tidak lagi banyak bertanya. Dia berjalan ke sebuah batu lalu duduk di sana. Liu Sheng dan Bai An datang membawa daging bakar yang telah matang. Mereka berempat memakannya bersama-sama.
Malam itu, Fang Yin dan Shi Han Wu menghabiskan waktunya untuk berkultivasi sedangkan Bai An dan Liu Sheng berkultivasi sebentar lalu tidur.
Pagi hari,
"Bai An, Liu Sheng! Aku akan pergi bersama kakekku. Nikmatilah perjalanan kalian dan sampai bertemu di lain kesempatan," pamit Fang Yin sambil membangunkan dua teman barunya yang masih tertidur.
Mereka menjawab 'iya' dalam keadaan setengah sadar. Keduanya merasa jika yang berbicara itu adalah ibunya. Bai An terkejut dan langsung terduduk ketika tetesan embun mengenai wajahnya.
"Nona! Kamu akan pergi ke mana?" panggilnya ketika melihat Fang Yin berjalan memunggunginya.
Fang Yin tidak menjawab, dia hanya melambaikan tangannya karena mereka sudah jauh.
"Jadi wanita yang berbicara tadi bukan ibuku?" Bai An mengumpulkan kesadarannya lalu bangun dari tidurnya.
"Heh, mau ke mana? Pagi-pagi kamu sudah berisik sekali." Liu Sheng masih mengantuk dan kembali tertidur.
Kembali ke Fang Yin dan Shi Han Wu,
Fang Yin masih melihat sikap Shi Han Han yang berbeda dari biasanya. Di pagi hari yang terang dia bisa melihat gurat kesedihan itu begitu jelas. Ingin sekali dia mengulang pertanyaannya, tetapi sepertinya itu tidak mungkin. Kakeknya itu penuh perhitungan, dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara.
"Apa rencanamu hari ini, Yin'er?" Shi Han Wu mengawali percakapan.
"Pergi ke Gunung Perak untuk bertemu ibuku, Kek."
Jawaban Fang Yin membuatnya terkejut. Shi Han Wu menghentikan langkahnya. Dia menghadap ke arahnya meskipun secara fisik matanya tidak bisa melihat. Namun, di kedalaman hatinya penglihatannya sangat tajam.
'Sepertinya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi. Aku harus menceritakan semuanya pada Yin'er. Belum saatnya dia pergi ke Gunung Perak. Aku khawatir dia akan berada dalam bahaya jika pergi ke sana sekarang.'
Sikap aneh Shi Han Wu semakin membuat Fang Yin penasaran.
"Apakah kakek tahu sesuatu tentang mereka?"
Fang Yin tidak bisa menahan dirinya lagi untuk bertanya. Menurutnya Shi Han Wu memang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Yin'er. Aku memiliki berita yang tidak baik, tetapi bukan berarti berita ini buruk. Saat ini suku es sedang mengalami kesulitan. Orang-orang dari suku gletser bergabung bersama mereka dan merubah seluruh aturan pada klan Shi. Aku turun gunung untuk mengamati situasi ini. Sebenarnya aku juga sedang menuju ke Gunung Perak untuk melihat apa yang terjadi. Semua berita yang kudengar hanya katanya dan katanya, untuk itu aku ingin melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi."
Cerita Shi Han Wu membuat Fang Yin berpikir. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya saat ini. Sepertinya dia harus mengubah rencananya. Kitab Sembilan Naga bintang delapan yang telah berada di tangannya harus segera dia tuntaskan sebelum dia mencapai Gunung Perak.
"Aku mengerti, Kek. Aku tetap akan pergi ke Gunung Perak tetapi setelah menyelesaikan Kitab Sembilan Naga bintang delapan yang baru saja aku dapatkan."
Shi Han Wu terhenyak mendengar pernyataan Fang Yin. Dia tidak menyangka jika bocah kecil itu telah mencapai tahap delapan dari sembilan kitab hanya dalam waktu beberapa tahun saja.
"Anak nakal! Kamu hampir saja mencapai tingkat dewa. Setelah menyelesaikan Kitab Sembilan Naga bintang delapan kamu akan mencapai setengah dewa dan penyempurnaannya adalah Kitab Sembilan Naga bintang sembilan."
Fang Yin tersenyum. Dadanya terasa membesar mendengar nada kekaguman dari Shi Han Wu. Tidak ada salahnya dia berbangga hati, tetapi semuanya segera dia tepis. Perjalanannya masih panjang, dia juga belum tahu seperti apa isi dari Kitab Sembilan Naga bintang delapan.
"Aku akan sangat senang bisa melampaui kakek setelah ini." Fang Yin melompat senang. Dia berjalan dengan kaki berjingkat menunjukkan sisi manja seorang cucu kepada kakeknya.
"Tentu saja. Mungkin saat ini pun kamu telah melampauiku. Kakek bangga padamu. Kuharap kamu tidak bersikap sembarangan karena itu akan membuatmu kesulitan."
"Hmm." Fang Yin mengangguk. "Sekarang aku sudah lebih dewasa, Kek. Perjalanan yang mengajariku untuk bersikap penuh perhitungan."
"Bagus. Aku akan membersamaimu menyerap Kitab Sembilan Naga bintang delapan lalu bersama-sama pergi ke Gunung Perak."
__ADS_1
Fang Yin merasa bahagia bukan main. Keberadaan Shi Han Wu akan sangat membantunya. Meskipun dia bisa mengatasi semua kesulitannya, tetapi dia bisa menjadi lebih tenang dengan keberadaan kakeknya.
Mereka berdua berhenti di dekat sebuah air terjun. Fang Yin membuka Kitab Sembilan Naga bintang delapan di sana. Tidak ada teka teki yang membuatnya kesulitan untuk membuka Kitab Sembilan Naga bintang delapan.
'Aku merasa senang karena kitab ini tidak merepotkan. Aku hanya butuh berkonsentrasi untuk menyerapnya ke dalam inti pikiranku.' Fang Yin mulai membuka halaman per halaman lalu menyerapnya.
Di sisi lain, Shi Han Wu berjaga dan tetap waspada. Hutan tempat mereka berada saat ini sering dikunjungi oleh manusia. Banyak yang melintas di sana.
Kewaspadaan Shi Han Wu meningkat ketika dia merasakan gelombang energi yang datang mendekat. Seorang manusia dengan ranah kultivasi yang setara dengannya berjalan menuju ke tempatnya berada.
Shi Han Wu mendekati Fang Yin. Sebelum orang yang datang itu mendekat, dia harus melindungi Fang Yin. Namun, sepertinya Fang Yin juga telah tahu. Instingnya lebih tajam dari siapapun. Dia lebih peka dari Shi Han Wu dengan adanya Yang Hui di tubuhnya.
Fang Yin menghentikan penyerapannya dan menyimpan kitab itu sebelum ada yang melihatnya. Dia lalu beranjak dari duduknya lalu berdiri menghadap Shi Han Wu.
"Ada yang mendekat, Kek."
Shi Han Wu mengangguk dan mengisyaratkan pada Fang Yin untuk diam. Mereka menyembunyikan hawa kehadirannya lalu bersembunyi di balik pohon.
Seorang pria datang menghampiri air terjun dan mengambil air untuk perbekalannya. Setelah mengisi tempat minumnya, dia meminum air itu dengan telapak tangannya dan membasuh wajahnya. Pria itu tersenyum karena sangat mengenali aura energi yang dia tanam di tubuhnya.
'Aku merasakan energi yang sangat kukenal.' Fang Yin berpikir dan merasa penasaran dengan siapa pemilik energi itu. Dia mengintip orang itu dengan sangat hati-hati.
Pria itu berpura-pura tidak melihat keberadaan Fang Yin. Dia duduk bersantai di atas sebuah batu sambil merenggangkan ototnya. Takut kehilangan jejaknya, dia menatap lurus ke tempat persembunyian Fang Yin.
"Xiao Yin, sampai kapan kamu akan bersembunyi di sana."
Pria itu berbicara santai seolah sedang memanggil anak nakal yang sedang mengerjainya. Dia tahu jika Fang Yin juga sudah tahu akan kedatangannya.
Tidak ada pilihan lain bagi Fang Yin selain keluar dari persembunyiannya dan menemui pria yang memanggilnya.
"Kamu bukan hantu, bukan? Mengapa kamu muncul dengan tiba-tiba di sini? Atau jangan-jangan kamu sengaja menguntitku?" Fang Yin memberondongnya dengan pertanyaan.
Pria itu menariknya dan memeluknya. Pertanyaan konyol Fang Yin tidak membutuhkan jawaban. Dengan memeluknya dia akan mengerti hanya dia yang berani melakukannya.
Fang Yin terkejut dan berusaha untuk mendorongnya. Semua itu dia lakukan tanpa bermaksud untuk menyinggung pria itu, tetapi apa yang dilakukannya membuat pria di hadapannya merasa kesal.
"Ada orang lain di sini. Maaf." Fang Yin terlihat canggung. Dia tahu jika Jian Heng merasa kecewa.
"Orang lain? Pria atau wanita?" tanyanya sambil menatap Fang Yin sejurus.
"Pria," jawab Fang Yin tanpa berpikir.
Perubahan sikap Jian Heng membuat Fang Yin berpikir, 'Apakah pria tengil ini merasa cemburu? Sejak kapan dia bersikap tanpa berpikir? Apakah cinta membuat seseorang menjadi bodoh?'
Mereka terdiam hingga beberapa saat. Fang Yin tidak tahu bagaimana caranya bersikap. Semua ini hanyalah kesalahpahaman.
"Yin'er. Apa yang kamu lakukan? Jangan bersikap ramah pada orang asing!" Shi Han Wu muncul dan berdiri di samping Fang Yin.
Jian Heng yang semula menghadap ke arah lain kini berputar dan melihat ke arah sumber suara. Matanya terbelalak ketika seorang kakek tua berdiri tepat di hadapannya. Seketika dia merasa malu.
'Xiao Yin pasti sedang menertawakanku sekarang. Seharusnya aku bertanya terlebih dahulu.' Jian Heng menatap Fang Yin canggung.
"Dia bukan orang asing, Kek. Dia adalah Pangeran Ketiga Benua Tengah yang senang berkelana. Kami sudah saling mengenal sejak lama," jelas Fang Yin.
Shi Han Wu mengangguk lalu kembali berkata, "Kamu tetap harus berhati-hati, seorang pria tampan sangat senang mempermainkan wanita. Kamu tidak bisa sembarangan memilih pasangan, sekali salah maka duniamu akan hancur."
"Dia bukan orang seperti itu, Kek. Aku tidak bermaksud untuk membelanya, tetapi memang dia adalah seorang pria yang baik."
"Xi Jian Heng memberikan penghormatan tertinggi pada Anda, Tuan." Jian Heng menunjukkan sopan santunnya pada Shi Han Wu.
"Bangunlah!" Shi Han Wu menjawabnya dengan isyarat tangan.
"Sejauh apa kamu mengenal Yin'er? Aku tidak ingin seseorang mendekatinya karena latar belakangnya. Tapi sepertinya kamu berbeda. Statusmu sudah tinggi tanpa Yin'er."
Jian Heng menatap Fang Yin tidak mengerti. Dia merasa ada yang aneh dari ucapan kakek tua di hadapannya. Sepertinya ada rahasia besar yang ditutup-tutupi olehnya selama ini.
'Mati aku! Mengapa kakek menyinggung tentang latar belakangku. Jian Heng adalah orang yang cerdas, aku yakin dia tidak akan melepaskanku setelah ini sampai aku menceritakan yang sebenarnya.' Fang Yin tidak berani menatap wajah Jian Heng.
Suasana masih terasa kaku. Seperti ada jarak yang memisahkan Fang Yin dan Jian Heng meskipun mereka berdekatan. Shi Han Wu mencoba untuk membaca situasi di antara keduanya. Dia merasa perlu ikut campur dalam masalah ini.
'Aku membaca hubungan tidak biasa antara Yin'er dan Pangeran Ketiga. Keduanya sama-sama memiliki latar belakang yang spesial. Bukan hal yang buruk jika mereka menjadi pasangan. Hanya butuh menyatukan tujuan dan menghilangkan ego. Hanya? Apa yang kukatakan. Ah, aku rasa ini cukup rumit.' Shi Han Wu berbicara dalam hati.
"Aku rasa kalian butuh waktu untuk bicara berdua." Shi Han Wu berbalik.
"Tunggu, Kek!" Fang Yin dan Jian Heng berbarengan memanggilnya.
Saat ini mereka dalam mode tidak akur. Akan sulit bagi keduanya untuk saling bicara. Butuh perantara untuk menghilangkan kebekuan di antara mereka.
"Yin'er, kamu sudah dewasa, sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu. Kekaisaran Benua Timur butuh seorang pemimpin yang mampu melakukan perombakan secara menyeluruh. Keadaan sekarang benar-benar berantakan." Shi Han Wu membuka identitas Fang Yin di hadapan Jian Heng.
__ADS_1
"Kek!" Fang Yin ingin menghentikan ucapan Shi Han Wu tetapi tidak berhasil.
Shi Han Wu terus berbicara tentang siapa Fang Yin kepada Jian Heng. Semua hal yang dia alami mulai dari hari di mana dia mengalami pengasingan di Hutan Bintang Selatan dan fitnah yang dialami oleh dia dan ibunya. Dia ingin tahu apakah setelah ini Jian Heng masih ingin bertahan bersama Fang Yin atau malah pergi. Segala yang dia katakan bisa terhapus dari ingatan Jian Heng dengan Jurus Penghilang Ingatan jika Jian Heng mengambil sikap yang tidak sejalan dengan Fang Yin.
'Jadi Xiao Yin adalah Putri Gu Fang Yin. Putri satu-satunya Kaisar Gu yang berhasil selamat. Pantas saja dia begitu hebat karena dia terlahir sebagai keturunan dari dua klan yang paling berpengaruh.' Jian Heng menatap Fang Yin dengan serius.
"Aku tidak menyalahkanmu menyembunyikan identitasmu dariku, Yin'er. Sebagai satu-satunya Klan Gu yang selamat kamu memang pantas melakukan itu." Jian Heng terlihat sedih.
"Aku bukan satu-satunya. Pendekar Seribu Mata adalah kerabatku dari Klan Gu. Dia akan datang jika aku memanggilnya, tidak peduli di manapun dia berada saat ini. Paman Tian Feng adalah murid kakekku ini. Kebetulan yang aneh, bukan?" Fang Yin menceritakan sisi lain dari kehidupan keluarganya.
Jian Heng terlihat senang. Dengan latar belakang Fang Yin sebagai seorang putri, Kaisar Xi tidak akan menghalangi keduanya untuk bersama lagi. Meskipun sikap Kaisar Xi sudah lebih terbuka dan memberi sinyal jika dia telah merestui hubungannya dengan Fang Yin, tetapi Jian Heng masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Kini jalannya untuk bersama dengan Fang Yin telah terbuka.
"Yin'er, betapa berat jalan yang kamu lalui selama ini. Harusnya kamu membaginya denganku sejak awal kita bertemu." Jian Heng menyesalkan sikap Fang Yin tanpa memikirkan alasannya.
"Aku tidak ingin bergantung pada siapapun. Tetap saja kamu adalah orang luar. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah melindungi identitasku dan berjuang menjadi kuat. Tidak ada yang percaya jika aku adalah putri sah Kaisar Gu, mungkin juga dirimu. Nama ibuku benar-benar buruk di mata semua orang." Fang Yin tertunduk lesu.
Hati Jian Heng terasa ngilu. Gadis kecil yang dia temui beberapa tahun lalu kini telah menjelma menjadi sosok yang dewasa. Keadaan yang memaksanya untuk berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Jian Heng. Dia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi tentang cerita menyedihkan dari kekasihnya.
Dendamnya tersulut seiring kenyataan yang dia ketahui. Kekejaman Kaisar Ning menumbuhkan amarah yang berkobar. Bukan hanya sebagai orang terdekat Fang Yin saja, sebagai seorang yang berpengaruh dalam kekuasaan dia juga merasa apa yang dilakukan oleh Kaisar Ning sangatlah kejam.
Seluruh Klan Gu dia lenyapkan tanpa ampun. Demi sebuah kekuasaan dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Jian Heng berjanji pada dirinya sendiri untuk menghabisi Kaisar Ning dengan tangannya.
"Aku akan pergi ke Gunung Perak bersama kakek. Tetapi sebelumnya aku akan menyelesaikan penyerapan Kitab Sembilan Naga bintang delapan terlebih dahulu."
Jian Heng menatap Fang Yin dengan lekat. "Gunung Perak? Aku dengar sedang ada ketegangan antara suku es dan suku gletser di sana."
Sikap terkejut Jian Heng membuat Fang Yin merasa tegang. Sepertinya Shi Han Wu tidak mengatakan semua berita yang dia ketahui. Dia terlihat sedih tetapi berusaha menenangkannya dengan sikap santai yang dia tunjukkan padanya. Sementara itu dirinya memendam kekhawatirannya seorang diri.
Shi Han Wu terlihat salah tingkah. Raut wajahnya berubah. Dia takut Fang Yin banyak pikiran setelah ini sehingga kehilangan konsentrasinya untuk menyerap Kitab Sembilan Naga bintang delapan.
"Apakah kamu tahu apa yang terjadi?" tanya Fang Yin dengan wajah yang menunjukkan kecemasannya.
Bola matanya yang indah bergerak-gerak menggambarkan kegelisahannya. Di sana ada ibu dan kakek neneknya yang harusnya dia lindungi. Selama ini dia mengenal mereka sebagai sosok yang tidak memiliki kemampuan apapun.
"Aku tidak tahu banyak. Hanya itu saja yang kudengar."
Jawaban Jian Heng semakin menggugah rasa penasaran Fang Yin.
"Kek, apakah tidak sebaiknya kita segera pergi ke sana?" Fang Yin bertanya pada Shi Han Wu yang sejak tadi terdiam.
"Hilangkan kekhawatiranmu itu. Shi Jun Hui bukan orang yang mudah untuk dihadapi, begitu juga ibumu. Aku rasa Yu Ruo juga tidak begitu lemah." Shi Han Wu tahu jika saudara kembarnya tidak akan tinggal diam. Dia sangat yakin jika kekuatannya yang tersimpan tidak kalah hebat dengan dirinya, bisa saja lebih besar.
"Tidak ... Tidak ... Ibuku tidak sehebat itu. Aku tidak pernah melihatnya bertarung. Dia hanya memiliki ilmu pengobatan saja," sanggah Fang Yin.
"Apakah seorang biasa bisa melahirkan gadis yang hebat seperti dirimu?"
Pertanyaan Shi Han Wu membuat Fang Yin berpikir. 'Apakah selama ini ibu hanya berpura-pura lemah demi keamanannya?'
Fang Yin beralih menatap Jian Heng seakan meminta pendapatnya. Dalam urusan strategi, Jian Heng lebih hebat darinya. Dia tidak sembarangan dan penuh perhitungan.
"Sebaiknya kamu menjalankan rencana awal. Selesaikan kitab itu, baru pergi ke Gunung Perak. Jika kamu mengijinkan, aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini." Jian Heng tidak ingin lagi membiarkan Fang Yin berjuang seorang diri meskipun dia tahu jika dia bisa mengatasinya tanpa dirinya.
"Apakah kamu bersedia pergi ke Gunung Perak untukku? Aku akan merasa tenang jika kamu berada di sana dan membantu Klan Shi."
Dengan tulus Jian Heng mengangguk meskipun setelah ini mereka akan kembali berpisah. Namun, dia percaya pertemuan mereka di masa mendatang akan sangat manis.
Shi Han Wu tetap menemani Fang Yin untuk menyelesaikan Kitab Sembilan Naga bintang delapan. Kemunculannya akan membawa pengaruh besar bagi Klan Shi karena selama ini dia dikenal netral. Tidak banyak yang tahu tentang asal usulnya. Orang akan berpikir seribu kali untuk berurusan dengannya karena sifatnya yang kejam dan misterius.
Hari itu juga Jian Heng berangkat ke Gunung Perak untuk membantu Klan Shi. Peristiwa seperti apa yang terjadi di sana belum jelas. Dia hanya mendengar kabar simpang siur yang berhembus di masyarakat. Lagi pula berita ini masih sangat baru.
Fang Yin dan Shi Han Wu mengikuti Jian Heng hingga ke tepi hutan. Mereka memilih jalan yang berbeda karena memiliki tempat tujuan yang berlawanan. Fang Yin akan pergi ke hutan tak terjamah untuk menghindari orang yang melintas meskipun ada kakeknya yang selalu berjaga.
"Kamu terlihat sangat bersedih. Cucuku terlihat sangat menggemaskan jika sedang jatuh cinta," tebak Shi Han Wu. Mata hatinya bisa melihat dengan jelas kesedihan Fang Yin.
"Ah, em, kakek tidak pandai menebak. Aku hanya mengkhawatirkan ibuku," elak Fang Yin.
"Aku yang tidak pandai menebak atau kamu yang tidak bisa berbohong?" goda Shi Han Wu.
Fang Yin tersipu. Dia tidak ingin menyanggah lagi dan memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Mereka berdua memasuki kedalaman hutan dengan jalur udara. Lebatnya semak dan binatang melata akan menghambat perjalanan mereka. Untuk itu, keduanya memilih untuk melintas di ketinggian.
Fang Yin merasakan aura binatang roh di tempat itu, tetapi dia tidak khawatir. Ada Yang Hui yang siap membantunya.
"Yin'er, aku merasakan ada binatang roh kuat di depan sana," ucap Shi Han Wu tanpa menghentikan langkahnya.
****
__ADS_1
Bersambung ...