Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 392. Ling Shasha


__ADS_3

Sorot mata Fang Yin menyiratkan rasa tak percaya. Sebagai seseorang yang belum pernah memiliki seorang anak, dia memang tidak terpikirkan akan hal ini. Pengetahuannya sebagai seorang dokter hanya sebatas teori saja.


Secara spontan pandangannya menuju ke arah perutnya yang masih rata. Belum ada tanda-tanda bahwa ada makhluk kecil di dalamnya. Namun, hatinya mendadak gembira mendengar ucapan Jian Heng meskipun hal ini belum pasti.


'Seandainya aku masih tinggal di dunia modern. Aku tidak perlu menerka-nerka untuk mengetahui semua ini. Di rumah sakit ada USG 4D yang bisa menunjukkan kehamilan sejak dini,' gumam Fang Yin dalam hati.


Jian Heng bergerak mendekat mengikis jarak di antara keduanya. Tangannya meraih kepala Fang Yin dan meletakkannya di bahunya. Dengan lembut dia mengusap rambut panjangnya yang tergerai hingga mencapai lantai saat terduduk.


"Aku takut kamu akan merasa kecewa jika aku tidak benar-benar hamil, Kak Heng," ucap Fang Yin dengan perasaan yang campur aduk.


Masih tetap pada posisinya, Jian Heng mengecup kepala Fang Yin dengan lembut.


"Aku tidak akan bersedih atau kecewa, Yin'er. Kita akan terus berusaha hingga mendapatkan keturunan. Hati kecilku mengatakan jika kita memang benar-benar akan mendapatkan seorang anak dalam waktu dekat." Tangan kanan Jian Heng menyentuh pipi Fang Yin dan mengusapnya dengan lembut.


Mendapatkan perlakuan itu, Fang Yin menggerakkan kepalanya dan menatap ke arah Jian Heng sambil tersenyum. Kedewasaan pria yang duduk di hadapannya itu tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, dia juga memiliki kebijaksanaan dan kesabaran yang luar biasa.


Mereka terdiam menikmati momen kebersamaannya malam itu. Terkenang kembali memori di masa lalu saat mereka masih berada di alam bebas. Di awal pertemuan, Jian Heng lah yang memiliki perasaan terlebih dahulu kepada Fang Yin.


Rasa nyaman ketika bersandar pada Jian Heng membuatnya merasa mengantuk. Kelopak matanya berkedip lambat hingga lama kelamaan tertutup. Fang Yin tertidur dalam posisi duduk.


Hembusan napasnya yang tenang memancing rasa ingin tahu Jian Heng. Dia lalu menoleh ke arahnya dan mendapati Fang Yin tengah terlelap.


"Hmm, aku pikir kamu diam karena sedang bahagia. Rupanya kamu diam karena mengantuk," bisik Jian Heng sambil tersenyum melihat sikap Fang Yin yang tidak waspada sama sekali.


Melihat Fang Yin yang sudah tidur pulas, Jian Heng lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke tempat tidur. Lelahnya seakan sirna saat melihat wajah tenang istrinya yang sedang terlelap. Tidak berapa lama dia pun menyusulnya ke alam mimpi.


***


Pagi-pagi sekali, Selir Shi dan Yu Ruo sudah datang ke kediaman Fang Yin dan membuat keributan. Mereka memaksa pengawal untuk membiarkan keduanya masuk ke istana. Pengawal yang sedang berjaga pun merasa bingung harus patuh atau melarang mereka. Beberapa kali dia mengatakan jika tidak berani mengganggu Jian Heng dan Fang Yin tetapi ibu dan neneknya itu terus memaksa yang memberi tatapan maut pada penjaga.


"Kami yang akan bertanggung jawab jika Yin'er dan menantu kami menyalahkan kalian. Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani memecat kalian dibawah perlindungan kami," ucap Yu Ruo.


Jiwa bar-bar sang nenek memang tidak ada lawan. Sifatnya yang suka seenaknya dan tidak mudah diatur ini menurun pada Fang Yin hingga saat ini. Akhirnya pengawal itu membiarkan keduanya masuk dengan perasaan was-was.


Suasana masih remang-remang di pagi itu. Udara yang cukup dingin membuat siapapun enggan terbangun. Akan tetapi, para pelayan istana sudah bekerja sejak dini hari sesuai dengan tugas mereka masing-masing.


"Ibu, apa kita tidak keterlaluan?" tanya Selir Shi dengan perasaan sedikit segan.


Bagaimanapun juga saat ini anak dan menantunya adalah penguasa tertinggi Benua Timur. Tidak seharusnya mereka datang dan mengganggu waktu istirahatnya. Ini masih terlalu pagi tentu saja kedatangan mereka akan mengejutkan bagi Fang Yin dan Jian Heng.


"Sudahlah, jangan banyak berpikir! Kamu tidak tahu saja jika semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan cucu semata wayangku itu. Aku ingin sekali segera melihat keadaannya dan memeriksa apakah dia benar-benar baik-baik saja," jelas Yu Ruo dengan wajah yang serius.


Selir Shi akhirnya pasrah. Mereka kembali melangkah melewati taman dan datang menuju ke ruangan Fang Yin.


Ruangan itu masih terlihat sepi. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Baik Fang Yin maupun Jian Heng sepertinya belum terbangun dari tidurnya.


Perasaan tidak enak masih menghinggapi hati Selir Shi. Kini Yu Ruo pun mulai terlihat segan saat berdiri di depan ruangan keduanya. Mereka saling berpandangan satu sama lain untuk beberapa waktu.


"Apa sebaiknya kita kembali saja, Ibu? Aku merasa tidak enak jika membangunkan Yin'er sepagi ini. Terlebih lagi mereka adalah pasangan yang belum lama menikah," bisik Selir Shi.


Tidak seperti sebelumnya yang menggebu-gebu, kali ini Yu Ruo pun merasa canggung.


"Tapi kita sudah terlanjur sampai di sini, Jie'er. Sia-sia kita berdebat dengan pengawal jika kita menyerah begitu saja setelah sampai di sini." Sorot mata Yu Ruo menyiratkan sebuah kekecewaan.


Untuk sejenak mereka berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa. Semangat mereka yang semula menggebu-gebu menghilang entah kemana hingga tiba-tiba pintu ruangan Fang Yin terbuka. Keduanya terkejut dan langsung berbalik menghadap ke ruangan untuk melihat siapa yang membuka pintu.


Tidak jauh berbeda dengan keduanya, Fang Yin pun tidak kalah terkejut. Dia menatap Ibu dan neneknya bergantian sembari mengucek matanya. Kondisinya yang belum tersadar sepenuhnya setelah bangun tidur membuatnya meragukan pandangan matanya.


"Ibu, Nenek! Sejak kapan kalian datang?" tanya Fang Yin sambil menatap ke sekeliling dan mendapati hari masih sangat pagi.


"Ah, kami baru saja tiba, Yin'er. Kami sangat merindukanmu dan ingin mengajakmu untuk pergi jalan-jalan ke taman," ucap Yu Ruo.


Jawaban itu membuat Fang Yin semakin merasa bingung tetapi dia tidak ingin membantah. Dengan polosnya dia mengangguk dan membuat Yu Ruo terlihat senang.


Selir Shi sendiri tidak banyak bicara dan mengikuti kemauan ibunya saja. Dia berjalan di belakang Yu Ruo dan Fang Yin dengan membawa kotak manisan. Entah lupa atau bagaimana dia membawanya tanpa memberikannya pada Fang Yin.


Ketiganya berjalan ke sebuah pondok kecil yang berdiri di pojok taman. Dari sana dia bisa melihat ke seluruh area taman dan kediaman Fang Yin. Ada beberapa pelayan yang telah lalu lalang di sekitar tempat itu untuk bekerja.


Wajah Fang Yin masih terlihat mengantuk. Tangannya beberapa kali bergerak untuk menutup mulutnya dan menyandarkan kepalanya di atas meja.


"Yin'er. Kamu sedang mengantuk atau sedang kurang enak badan?" tanya Selir Shi terlihat khawatir.


Setelah meletakkan kotak manisan di atas meja, dia lalu datang menghampiri Fang Yin dan menyentuh keningnya. Dia merasa suhu tubuh putrinya normal-normal saja tetapi mata sayu yang menunjukkan sebuah kemalasan tergambar jelas di sana. Dengan ini dia menyimpulkan jika Fang Yin memang sedang tidak baik-baik saja.


"Entahlah, Ibu. Aku tidak merasa ada yang sakit tetapi tubuhku rasanya sangat malas. Seingatku, aku tidak pernah melakukan aktifitas yang berat dan melelahkan. Namun, entah mengapa tubuhku rasanya seperti habis bertarung melawan banyak sekali musuh dalam satu waktu," jelas Fang Yin.


Selir Shi dan Yu Ruo saling berpandangan. Kecurigaan mereka cukup beralasan. Kini mereka mendengar sendiri saat Fang Yin mengeluh.


"Bolehkah nenek memeriksamu?" tanya Yu Ruo.

__ADS_1


Fang Yin mengangguk pasrah.


Yu Ruo berpindah tempat duduk ke dekat Fang Yin dan meminta cucunya itu mengulurkan tangan kirinya. Dia lalu menggulung lengan baju Fang Yin hingga setinggi siku. Selain telapak tangan, penampakan pada lengan bagian dalam sangat penting bagi pemeriksaan yang akan dilakukannya.


Selir Shi terlihat fokus mengawasi selama proses pemeriksaan yang dilakukan oleh ibunya. Sedikit banyak dia tahu proses dan hasil dari pemeriksaan. Wajahnya terlihat tegang saat melihat pemeriksaan berlangsung.


Untuk mendapatkan hasil yang benar-benar akurat, Yu Ruo mengulangi pemeriksaan hingga beberapa kali. Namun, ternyata hasilnya masih tetap sama. Sebisa mungkin dia tidak menunjukkan ekspresi wajah yang dominan untuk menjaga perasaan Fang Yin.


"Apakah aku baik-baik saja, Nek?" tanya Fang Yin merasa penasaran, saat ini dia benar-benar tidak ingin menebak-nebak.


Yu Ruo menatap Selir Shi seolah meminta pendapatnya.


"Kamu baik-baik saja, Yin'er. Mungkin kamu sedang kelelahan saja," jelas Yu Ruo.


Merasa mendapat tatapan dari ibunya, Selir Shi pun akan berusaha untuk mengatakan tentang apa yang dia tahu.


"Untuk sementara kamu harus mengurangi aktifitas yang berat, Yin'er. Kami takut jika apa yang kamu rasakan saat ini adalah gejala awal kehamilan," ucap Selir Shi menambahkan.


Fang Yin menatap keduanya bergantian dengan tatapan yang serius.


'Entah kenapa semua orang memiliki pendapat yang hampir sama. Semalam Kak Heng dan sekarang ibu dan nenek. Apakah aku akan benar-benar hamil dalam waktu dekat.' Fang Yin bermonolog dalam hati.


"Semoga saja apa yang kalian katakan menjadi kenyataan. Aku sangat senang seandainya hal ini benar-benar terjadi." Fang Yin tersenyum bahagia.


Sebagai seseorang yang pernah mengalami ketidakadilan di dalam istana, Selir Shi merasa khawatir jika Fang Yin benar-benar hamil. Meskipun saat ini Jian Heng tidak memiliki istri lain selain dirinya tetapi kejahatan masih mungkin untuk terjadi. Mereka tidak tahu jika ada penyusup atau pihak-pihak lain yang tidak menginginkan adanya penerus bagi Kekaisaran Benua Timur.


"Ke depannya kamu harus lebih berhati-hati, Yin'er. Dengan atau tanpa kita sadari, kejahatan pasti ada di sekitar kita. Sudah sepantasnya kita menjaga calon penerus," ucap Selir Shi.


"Ibumu benar. Sangat sulit untuk menemukan kejahatan karena pemerintahan yang kamu jalankan baru seumur jagung. Belum terlihat siapa yang setia atau hanya sekedar mencari muka. Terkadang kekuasaan dan aroma uang bisa memmmmbuat sifat seseorang berubah," imbuh Yu Ruo.


Fang Yin mengangguk.


"Aku akan selalu mengingat nasehat dari nenek dan ibu. Sebisa mungkin aku akan menyimpan rapat-rapat tentang kabar kehamilanku agar tidak ada yang bisa mencelakainya. Nenek dan ibu jangan khawatir, aku bukan orang yang lemah."


Selir Shi dan Yu Ruo mengangguk senang. Mereka akhirnya merasa lega saat melihat keadaan Fang Yin yang tidak mengalami masalah yang berarti. Untuk kabar bahagia tentang kehadiran seorang bayi di dalam rahimnya pun belum bisa dipastikan.


Selir Shi kemudian membuka kotak manisan yang dibawanya. Setelah semua pembicaraan tidak berlanjut, dia baru memiliki kesempatan untuk memberikan manisan itu kepada Fang Yin. Tidak lupa dia memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk datang membawakan minuman hangat ke hadapan mereka.


Aroma manisan buatan tangan ibunya membuat Fang Yin tidak bisa menahan diri lebih lama. Dia segera mengambil manisan itu setelah Selir Shi membukanya. Saat melihat buah-buahan dengan rasa dasar asam, dia begitu antusias untuk mengambilnya.


Lagi-lagi Selir Shi dan Yu Ruo saling berpandangan. Apa yang dilakukan oleh Fang Yin membuat keduanya kembali merasa aneh. Tingkahnya ini sangat mirip dengan ciri-ciri orang yang sedang hamil muda.


'Sejak kapan Yin'er berada di sana. Aku pikir tadi dia sedang mandi dan berhias," gumam Jian Heng yang telah berpenampilan rapi.


Melihat di sana juga ada Selir Shi dan Yu Ruo, Jian Heng merasa sedikit tenang. Setidaknya dia tahu jika Fang Yin tidak sedang menyendiri karena bersedih. Dengan langkah tergesa dia pun pergi untuk menyusulnya.


"Selamat pagi, Ibu, Nenek. Maaf saya terlambat untuk menyambut kedatangan kalian berdua," ucap Jian Heng sambil menyatukan kedua tangannya bersopan santun kepada keduanya.


"Tidak perlu terlalu sopan, Heng'er. Kami justru yang merasa tidak sopan karena datang sepagi ini dan mengganggu kalian." Selir Shi membalas sapaan Jian Heng mewakili ibunya.


Fang Yin merasa malu saat melihat Jian Heng sudah rapi dan wangi sementara dia masih berantakan. Nenek dan ibunya juga terlihat sudah mandi sebelum mereka datang ke kediamannya. Hanya tinggal dirinya seorang yang belum bersih-bersih.


"Duduklah! Kami akan menuangkan minuman untukmu," ucap Yu Ruo menambahkan.


Jian Heng pun mengambil tempat duduk kosong yang berhadapan dengan Fang Yin.


"Apakah kamu juga mau memakan manisan buatan ibu?" tanya Selir Shi sambil menyodorkan kotak berisi manisan yang sudah tidak penuh.


"Aku tidak terbiasa memakan manisan tetapi wangi dari manisan ini seperti mengundangku untuk memakannya." Jian Heng pun mengambil sebuah manisan.


"Jangan banyak-banyak mengambil yang itu! Aku menyukainya," ucap Fang Yin saat melihat Jian Heng mengambil manisan buah yang sebelumnya dia makan.


Selir Shi dan Yu Ruo tidak menyangka jika putrinya akan mengatakan hal itu.


"Jangan berbicara seperti itu, Yin'er. Kamu tenang saja, ibu akan membuatkannya untukmu lebih banyak lagi sampai kamu merasa bosan." Selir Shi menggeleng melihat tingkah putrinya.


Seperti sengaja menggoda Fang Yin, Jian Heng mengambil kotak manisan dan memakannya dengan lahap. Tak ayal apa yang dilakukannya ini membuat Fang Yin merasa kesal.


Yu Ruo dan Selir Shi pun tidak habis pikir dengan tingkah anak dan menantunya yang terlihat seperti seorang anak kecil itu. Mereka merasa jika keduanya bersikap aneh dan tidak wajar. Keduanya kembali menyimpulkan jika Fang Yin memang sedang dalam proses mengandung.


"Sudah ... sudah ... jangan berebut. Nanti ibu akan membawakan manisan lagi untuk kalian." Selir Shi menghembuskan napas jengkel saat melihat Fang Yin datang untuk merebut kotak manisan dari tangan Jian Heng.


Dengan saling senggol, Fang Yin dan Jian Heng berlomba-lomba memakan manisan dari dalam kotak yang sama. Sebenarnya ada manisan lain di dalam kotak yang berbeda tetapi mereka tidak tertarik untuk memakannya. Entah apa yang alasannya, pagi itu mereka begitu menyukai manisan berasa sedikit asam dan kering.


***


Jian Heng pergi meninggalkan kediamannya dan pergi ke ruang kerjanya setelah kepergian nenek dan ibu mertuanya. Semua itu dia lakukan untuk menghormati mereka yang telah menyempatkan diri untuk berkunjung.


Hingga semuanya pergi, Fang Yin masih duduk di taman seorang diri. Dirinya begitu enggan meninggalkan tempat itu. Perasaan malas membuatnya ingin tetap berada di sana hingga waktu yang tidak bisa dia pastikan.

__ADS_1


'Bunga itu indah sekali.' Fang Yin tertarik untuk mendekati sebuah taman bunga.


Saat dia telah sampai di dekatnya tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Tidak biasanya dia begitu tertarik melihat keindahan bunga-bunga meskipun selama ini dia memang tidak membencinya. Perasaan yang berbeda dia rasakan saat ini dan membuatnya terdorong untuk menyentuh dan mencium bunga itu.


'Aku jarang sekali memperhatikan keanekaragaman jenis tanaman hias. Sepertinya ini tidak buruk. Eh, tapi sejak kapan aku menyukai tanaman hias. Hmm, sudahlah!'


Tidak peduli akan hal itu, Fang Yin kembali menghampiri bunga yang lain dan menatapnya dari dekat. Sesekali dia menyentuh dan mengusapnya. Sama sekali tidak ada niat untuk memetiknya karena merasa begitu sayang.


"Yang Mulia! Jangan dekati bunga itu!" seru salah seorang pelayan sambil berjalan setengah berlari menghampiri Fang Yin.


Fang Yin menghentikan langkahnya. Dia tidak tahu bunga mana yang sebenarnya dimaksudkan oleh pelayan itu. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah memilih untuk diam dan menunggu pelayan menjelaskan padanya.


Ketika sampai di hadapan Fang Yin, pelayan masih mengatur napasnya yang terengah-engah setelah berlari. Tangannya menunjuk ke arah bunga yang dimaksudkan dengan mulut yang hampir mengucapkan kata-kata tetapi terhalang oleh batuk.


"Tenanglah dulu! Tidak perlu terburu-buru menjelaskan apa yang kamu tahu," ucap Fang Yin mencoba menenangkan pelayan itu.


Pelayan itu mengangguk lalu mencoba mengatur napasnya dengan perlahan. Hingga beberapa saat dia menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah merasa lebih baik, pelayan itu mulai mengatur kata-kata.


"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud untuk lancang kepada Anda. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya tahu," ucap pelayan.


Fang Yin mengangguk lalu menggerakkan tangan kanannya mengisyaratkan pada pelayan itu untuk melanjutkan penjelasannya.


"Itu adalah bunga Sembilan Pedang Langit. Seseorang yang belum memiliki seorang anak dilarang mendekatinya. Begitulah mitos yang aku dengar dari para tetua yang tinggal di desaku," ucap pelayan.


Fang Yin baru pertama kali mendengar nama bunga ini. Cerita mitos yang disampaikan oleh pelayan ini pun baru pertama kali dia mendengarnya. Namun, melihat wajah sang pelayan yang tampak begitu serius, dia sangat yakin jika apa yang dikatakan adalah benar.


"Siapa namamu dan dari mana kamu berasal?" tanya Fang Yin dengan nada yang serius.


"Nama saya Ling Shasha. Sebelum bekerja di sini saya tinggal di desa Qu di pegunungan Ru Ming." Pelayan menjawab pertanyaan Fang Yin tanpa ragu.


"Hmm." Fang Yin mengangguk.


Setelah merasa yakin jika bunga itu berbahaya, Fang Yin segera melemparkan energi api ke arah bunga Sembilan Pedang Langit dan seketika menjadi abu. Dia tidak ingin bertanya lebih jauh tentang efek buruk dari bunga itu. Bagi Fang Yin tindakan lebih penting dan wajib didahulukan.


"Bunga itu sangat langka dan indah. Seseorang pasti merasa istimewa jika memilikinya tetapi dia tidak sadar jika semua keindahan yang memanjakannya bisa membahayakan dirinya, keluarga atau orang terdekatnya. Jika serbuk bunga terhirup oleh seorang gadis maka orang itu akan sulit mendapatkan keturunan, bahkan tidak bisa lagi," jelas Ling Shasha.


Kepolosan Ling Shasha menarik perhatian Fang Yin. Sikapnya yang mandiri dan tidak terbiasa dilayani membuatnya enggan memiliki pelayan pribadi. Akan tetapi, kali ini dia ingin memilikinya setelah melihat sikap heroik Ling Shasha yang begitu berani memperingatkannya.


"Sekarang kamu mengambil peran apa di istana ini?" tanya Fang Yin.


Jika Ling Shasha memegang pekerjaan yang penting maka dia tidak bisa mengambilnya sebagai pelayan pribadinya. Untuk itu, sebelum dirinya mengambil keputusan maka dia bertanya terlebih dahulu.


"Saya bertugas membersihkan taman ini, Yang Mulia."


Tersungging sebuah senyum samar di wajah Fang Yin setelah mendengar jawaban Ling Shasha.


"Katakan kepada kepala pelayan jika mulai saat ini kamu akan menjadi pelayan pribadiku. Setelah itu kamu bisa kembali kemari dan melakukan tugas pertamamu," ucap Fang Yin berbicara dengan nada datar tetapi terkesan santai.


Ling Shasha terlihat sangat gembira mendengarnya. Dia tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan kesempatan ini.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan segera kembali," ucap Ling Shasha sambil menyatukan kedua tangannya di hadapan Fang Yin.


"Hmm." Fang Yin mengangguk.


Rasa kagumnya pada kecantikan bunga-bunga perlahan memudar. Fang Yin tidak ingin menyentuh atau mendekatinya meskipun mereka terlihat begitu cantik. Jika tidak bertemu dengan Ling Shasha mungkin dia juga akan menyentuh bunga Sembilan Pedang Langit yang berbahaya.


"Kalian memang begitu cantik tapi aku tidak akan tergoda lagi untuk menyentuh kalian," gumam Fang Yin sambil berlalu menuju ke sebuah pohon untuk menunggu Ling Shasha.


Fang Yin melompat ke sebuah batu untuk melihat ke sekelilingnya. Dari tempatnya berada saat ini dia bisa melihat pelayan barunya yang berjalan dengan riang setelah bertemu dengan kepala pelayan yang kebetulan sedang berada tidak jauh dari mereka.


Jika Fang Yin sudah memberi perintah maka tidak ada yang bisa menolaknya. Kepala pelayan tidak mungkin mencegah pelayan baru itu untuk menjadi pelayan pribadi majikannya meskipun banyak pelayan lama yang lebih berpengalaman. Wajahnya terlihat kurang senang saat tahu jika Ling Shasha menjadi pelayan pribadi.


Bukan hanya kepala pelayan saja, pelayan lain yang mendengarnya pun merasa iri. Selama ini dia telah bekerja dengan baik tetapi tidak mendapatkan kesempatan ini. Namun, mereka menganggap ini sebagai sebuah keberuntungan bagi Ling Shasha dan tidak mempermasalahkan tentang hal ini.


"Saya datang, Yang Mulia." Ling Shasha menyapa Fang Yin untuk memberitahukan kedatangannya.


"Hmm. Ikut aku sekarang! Aku akan memberitahumu tentang apa saja yang harus kamu lakukan," ucap Fang Yin sambil beranjak dari duduknya.


"Baik, Yang Mulia." Ling Shasha membungkuk hormat lalu berjalan di belakang Fang Yin.


Keduanya menjadi pusat perhatian dari pelayan dan pengawal yang sedang bekerja di taman. Ling Shasha lebih banyak menunduk karena merasa tidak nyaman dengan pandangan para pelayan lainnya. Bisik-bisik pun mulai terdengar untuk menggunjingkan dirinya.


Fang Yin menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba hingga membuat kening Ling Shasha membentur punggungnya.


"Maaf, Yang Mulia," ucap Ling Shasha.


Fang Yin mengabaikan ucapan itu dan memilih untuk menoleh pada pelayan yang sedang berbisik. Tatapan tajamnya seketika membuat para pelayan itu membubarkan diri. Namun, dia tidak ingin melepaskannya begitu saja.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2