
Tinggal di dalam kamp keprajuritan membuat Fang Yin harus bangun pagi seperti yang lainnya. Bedanya, Fang Yin tidak melakukan latihan fisik seperti prajurit lainnya melainkan hanya berkeliling dan melihat-lihat saja.
Terlihat Panglima Jing sedang memimpin para prajurit untuk berlatih. Dia terlihat gagah dan berwibawa meskipun usianya sudah seumuran dengan ayah Fang Yin.
Bagi seorang kultivator itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Seseorang yang berada dalam tingkatan tertentu serta kemampuan khusus yang dia miliki memungkinkan baginya melawan hukum alam dengan tetap awet muda dan panjang umur.
Fang Yin memperhatikan latihan mereka dari tempat yang sedikit terlindung. Namun Panglima Jing bisa melihat Fang Yin dan juga sebaliknya.
Saat kedua pandangan mereka saling bertemu, Panglima Jing memberi isyarat pada Fang Yin untuk mendekat.
Merasa dirinya dipanggil, Fang Yin pun segera datang menghampiri Panglima Jing dengan langkah kakinya yang ringan.
Panglima Jing meminta Fang Yin untuk naik ke atas tempat di mana Panglima dia berada.
Fang Yin memberi hormat pada Panglima Jing ketika sudah sampai di hadapannya.
"Xu Chen, besok penyerangan ke tempat para pemberontak akan dilakukan. Bisakah kamu membantuku untuk membantu para prajurit ini untuk bersiap melawan mereka dengan seluruh kemampuan yang mereka miliki?"
"Saya tidak patut untuk menolak perintah Panglima. Saya akan melakukannya dengan segenap kemampuan saya," ucap Fang Yin.
'Aku harus melakukan sesuatu yang membuat Panglima Jing merasa senang. Dengan begitu aku bisa membuat sebuah permohonan setelah mengatasi pemberontakan itu.' Fang Yin bermonolog dalam hati.
Mengatasi sebuah pemberontakan bukanlah suatu hal yang mudah. Panglima Jing tentu tidak akan menolak jika Fang Yin memintanya untuk meminjamkan Kitab Sembilan Naga yang dia miliki.
Dalam pelatihan hari itu, Fang Yin turun ke lapangan dan mengajarkan beberapa teknik serangan ringan dengan tombak dan pedang.
Mengingat waktu latihan yang sangat terbatas, Fang Yin memilih teknik yang paling mudah untuk diajarkan pada mereka.
Ada beberapa potongan teknik pedang rahasia dari Kekaisaran Benua Timur yang dia ajarkan pada mereka.
Panglima Jing merasa terpukau dengan kemampuan Fang Yin yang ternyata menguasai banyak sekali teknik mematikan yang sederhana untuk dilakukan.
Latihan mereka terhenti saat matahari sudah meninggi. Setelah makan pagi mereka bisa melanjutkan latihan mereka secara mandiri.
Tenggorokan Fang Yin terasa kering. Dia tidak terbiasa berteriak untuk memandu para prajurit itu menirukan gerakan yang dia lakukan.
Para prajurit tengah mengantri untuk mendapatkan makanan mereka. Fang Yin memilih untuk berdiri bersandar di sebuah pohon yang ringan sambil meneguk air putih yang dia ambil sebelumnya.
"Ini makanan untukmu, Tuan!"
__ADS_1
Fang Yin dikejutkan dengan kedatangan seorang prajurit yang tiba-tiba membawakan makanan untuknya.
"Terimakasih." Fang Yin menerima makanan dari prajurit itu.
"Namaku Yonjie."
Sejak kemarin Fang Yin selalu bersamanya tetapi lupa tidak menanyakan namanya.
"Jadi namamu Yonjie. Aku Xu Chen," ucap Fang Yin mengulang menyebutkan namanya.
"Aku masih ingat namamu, Tuan."
"Jika kamu ingat, mengapa kamu masih memanggilku tuan. Aku menganggap kita itu setara. Bisakah kamu memanggil namaku saja?"
Yonjie terdiam. Melihat kehebatan Fang Yin, dia merasa kurang ajar jika hanya memanggil Fang Yin dengan sebutan nama saja.
"Tidak, Tuan. Suka ataupun tidak aku akan tetap memanggilmu tuan." Yonjie masih tetap pada pendiriannya.
"Terserah kamu sajalah!" Fang Yin tidak ingin berdebat hanya karena sebuah panggilan. Dia hanya merasa ada jarak dan kesenjangan saat dirinya dipanggil tuan.
Mereka makan di bawah pohon itu dan terpisah dengan prajurit lain yang makan di dekat dapur umum.
Tidak ada obrolan selama mereka makan. Sesekali Yonjie melihat ke arah Fang Yin yang makan tanpa melepas penutup wajahnya.
Hari itu, para prajurit kembali melanjutkan latihan mereka secara berkelompok sesuai dengan regu mereka. Setiap regu dipimpin oleh seorang prajurit yang mengomando seluruh anggota regu.
Para pemimpin regu nantinya akan melaporkan semua anggota regu pada Panglima Jing sebelum dan setelah peperangan.
Tidak ada latihan yang berat hari itu. Mereka memperlancar teknik yang diajarkan oleh Fang Yin karena menurut mereka sangat berguna.
Fang Yin masih betah duduk di bawah pohon itu dan melihat para prajurit berlatih di kejauhan.
'Sebenarnya aku masih ada beberapa teknik serangan tanpa senjata yang perlu aku ajarkan pada mereka. Tetapi cuaca hari ini cukup panas. Rasanya aku malas untuk berdiri di tengah teriknya matahari.'
Meskipun berpenampilan seorang pria dan mampu mengecoh semua orang. Namun Fang Yin tetaplah seorang wanita yang memikirkan kulitnya akan terbakar jika dia bergabung bersama para prajurit yang berlatih.
"Ehemm!" Panglima Jing berdehem untuk menandakan kehadirannya.
"Panglima! Maaf saya tidak melihat kedatangan Anda." Fang Yin memberi hormat pada Panglima Jing di tengah keterkejutannya.
__ADS_1
"Aku baru saja datang. Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Panglima Jing mengikuti ke mana arah mata Fang Yin melihat.
"Saya melihat para prajurit yang sedang berlatih," jujur Fang Yin.
"Aku juga sedang melihat mereka." Panglima Jing berjalan perlahan dengan kedua tangannya yang berada di belakang punggungnya.
Fang Yin mengikutinya ke mana langkahnya pergi. Untuk sejenak mereka berdua sama-sama terdiam sambil terus berjalan menuju ke tempat latihan.
Demi sebuah perhatian dari Panglima Jing akhirnya Fang Yin memilih untuk merelakan kulit putih mulusnya terpapar sinar matahari.
"Bagaimana menurutmu dengan hasil latihan mereka hari ini?" tanya Panglima Jing.
"Sangat baik. Tetapi, ada beberapa teknik serangan jarak dekat yang sepertinya perlu mereka kuasai." Fang Yin memberikan pendapatnya.
"Apakah teknik-teknik seperti itu bisa dikuasai dalam waktu yang singkat?"
Selama ini Panglima Jing masih menggunakan cara lama untuk melatih para prajurit. Untuk membuat mereka terlatih dengan sebuah teknik atau jurus perlu waktu setidaknya satu bulan untuk memuat mereka mahir menggunakan jurus itu.
"Di dalam sebuah regu pasti ada sebagian anggotanya yang memiliki kecerdasan di atas yang lainnya. Setidaknya ada sepertiga anggota regu yang berprestasi, itu sudah cukup berpotensi untuk menang."
Panglima Jing menatap Fang Yin antara percaya dan tidak percaya. Dia tidak yakin dengan ucapannya tetapi juga tidak menganggap itu sebuah omong kosong.
Panglima Jing memberi ijin pada Fang Yin untuk memberikan pelatihan tentang teknik serangan jarak dekat yang dia maksud.
Untuk latihan itu Fang Yin mengambil tempat di mana mereka biasa berlatih di pagi hari. Fang Yin mengajarkan teknik menghindari, teknik kelincahan kaki, dan keterampilan membalikkan serangan lawan.
Selain teknik gerakan, Fang Yin juga mengajarkan teknik pernapasan karena ini juga merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pertarungan jangka panjang.
Para prajurit itu begitu bersemangat. Mereka mengabaikan panasnya sinar matahari dan peluh yang menetes membasahi tubuh mereka. Fang Yin mengajarkan teknik-teknik itu dengan cara yang mudah mereka ingat dan pahami.
Di sesi terakhir, Fang Yin mengajarkan teknik pertahanan dan teknik mengunci gerakan lawan. Untuk mempelajari teknik ini, mereka tidak bisa berlatih sendiri-sendiri. Kali ini mereka harus berpasang-pasangan untuk mempraktekkannya.
Tak terasa matahari sudah condong ke barat. Fang Yin mengakhiri latihannya dan menyerahkan para prajurit itu kepada Panglima Jing.
Untuk menyiapkan tenaga dan mental mereka. Setelah latihan dari Fang Yin, Panglima Jing membebaskan mereka untuk beristirahat.
'Huh! Kulitku menjadi kusam dan gelap sekarang. Butuh setidaknya satu minggu untuk membuatnya kembali seperti sebelumnya,' gerutu Fang Yin dalam hati.
Tidak peduli dengan hiruk pikuk yang ada di luar. Fang Yin menikmati waktu istirahatnya di dalam tenda pribadinya sembari menunggu waktu makan.
__ADS_1
****
Bersambung ...