
"Nona Xiao Yin, maaf jika kami mengganggu waktumu. Pangeran Ketiga dari Kekaisaran Benua Tengah ingin bertemu dengan Anda. Apakah Anda mengenalnya?"
Ucapan Kaisar Jing membuat Fang Yin terkesiap. Dia tidak menyangka jika orang yang selama ini bersamanya dan menyamar sebagai orang biasa adalah seorang pangeran. Sering kali dia bersikap seenaknya padanya tanpa memperhatikan etika.
'Jadi selama ini aku tinggal bersama seorang pangeran. Astaga .... Apakah aku telah bersikap tidak sopan padanya dan dia mencariku untuk dihukum?' Berbagai macam pikiran berseliweran di kepalanya.
Tidak mungkin Fang Yin mengatakan jika dia mengenal Pangeran Ketiga sebagai sosok yang lain. Mengenai masalah itu bisa dia bicarakan secara pribadi setelah ini. Setidaknya dengan kedatangan Jian Heng dia bisa keluar dari istana Kaisar Jing tanpa harus mencari alasan.
"Ya, saya mengenalnya. Kami sudah berteman cukup lama."
Jawaban dari Fang Yin membuat seluruh harapan Kaisar Jing menjadi pupus. Meskipun relasi keduanya belum jelas. Namun, melihat cara mereka memandang, dia merasakan ada hal tak biasa di antara keduanya.
Xi Jian Heng bernapas lega. Semula dia berpikir jika Fang Yin akan marah padanya dan membuatnya malu di hadapan Kaisar Jing. Dia bersyukur ketakutannya itu tidak terjadi.
"Yang Mulia, jika Nona Xiao Yin tidak keberatan. Saya akan membawanya pergi malam ini juga. Keadaan sangat mendesak dan saya sangat membutuhkan bantuannya," ucap Jian Heng penuh rasa hormat.
Kaisar Jing menatap Fang Yin dan berusaha tetap menguasai keadaan. Sebelum mengeluarkan kata-kata, dia mengatur napasnya terlebih dulu.
"Semuanya tergantung kepada Nona Xiao Yin. Apakah Anda bersedia pergi bersama Pangeran Ketiga, Nona?" tanya Kaisar Jing.
Sebagai seorang pemimpin yang berkarisma, dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya. Jika harus jujur, saat ini dia seperti kehilangan semangat hidupnya. Kesedihan menyelimuti hatinya ketika dia harus melihat orang yang dicintainya pergi bersama pria lain.
Jian Heng melihat ke arah Fang Yin dengan tatapan memohon. Walau bagaimanapun dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Semua keputusan tetap berada di tangan Fang Yin.
"Aku akan pergi dengannya malam ini. Pangeran Ketiga tidak akan melakukan hal ini jika masalah yang dia hadapi tidak benar-benar penting." Fang Yin menyatukan tangannya memberi hormat pada Kaisar Jing.
Kaisar Jing memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan gejolak di tubuhnya. Siap atau tidak, dia harus melepaskan kepergian Fang Yin.
Malam itu juga, Fang Yin pergi meninggalkan istana Kekaisaran Benua Utara bersama Jian Heng dan kedua pengawalnya. Mereka berempat berangkat dengan jurus terbangnya dan meninggalkan ketiga kudanya sebagai hadiah untuk Kaisar Jing.
Kedua pengawal Jian Heng terbang lebih lambat karena mereka memiliki basis kultivasi yang lebih rendah dibandingkan dengan Fang Yin dan Jian Heng. Tidak masalah jika mereka sedikit tertinggal karena mereka tidak bisa melakukan apapun untuk Kaisar Xi.
"Maafkan aku jika selama ini telah membohongimu."
Jian Heng membuka percakapan dengan permintaan maaf. Hatinya diselimuti oleh rasa bersalah.
Fang Yin yang hingga saat ini masih menutup rapat-rapat tentang identitasnya pun tidak mempermasalahkannya. Mereka tidak sengaja membuat kebohongan. Semua yang mereka lakukan bukan untuk menipu dan mengambil keuntungan dari orang lain.
"Aku tidak keberatan. Apakah masalah yang membuatmu mencariku, Yang Mulia?" Fang Yin terlihat sedikit kaku mengucapkan kata "Yang Mulia".
"Kamu tidak perlu terlalu sopan padaku. Jangan memaksa untuk memberiku panggilan kehormatan." Jian Heng menatap Fang Yin penuh kerinduan, meskipun belum lama mereka berpisah.
"Aku hanya belum terbiasa saja."
Suasana kembali hening. Fang Yin menunggu Jian Heng untuk menjelaskan maksud kedatangannya dan tujuannya membawanya pergi ke negaranya.
"Ayahku sakit keras. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan kehilangan kesadarannya setelah mengeluh sakit di bagian dada. Kuharap kamu tidak keberatan untuk menolongnya."
Fang Yin menatap Jian Heng dengan perasaan iba.
'Jadi dia datang padaku demi ayahnya. Itu artinya setelah bertemu denganku tempo hari, dia tidak kembali ke Sekte Sembilan Bintang.'
"Semoga aku memiliki kemampuan untuk itu." Fang Yin tidak pernah menyombongkan dirinya meskipun sebenarnya dia layak untuk itu.
"Kamu terlalu merendah. Aku sangat yakin akan kemampuanmu."
Keduanya kembali terdiam dan melesat dengan cepat menembus kegelapan malam. Fang Yin tidak tahu seberapa parah keadaan Kaisar Xi, dia berpikir untuk membawa Jian Heng dengan gerbang dimensinya agar sampai di istana dengan segera.
Jian Heng terpukau dengan kemampuan Fang Yin. Dia benar-benar tidak menyangka jika dia mengalami peningkatan drastis dalam waktu singkat. Teknik langka ini sangat sulit untuk dipelajari dan hanya segelintir orang saja yang menguasainya.
__ADS_1
Brukk!
Tubuh Fang Yin dan Jian Heng terjatuh di halaman sebuah istana yang sangat megah.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku belum begitu mahir menggunakan teknik antar ruang." Fang Yin meringis menahan sakit bercampur malu.
Jian Heng bangun terlebih dahulu. Setelah membersihkan bajunya dia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Fang Yin berdiri.
"Tidak masalah. Berkatmu kita bisa sampai di istana lebih cepat. Mungkin kita baru akan sampai esok pagi dengan terbang biasa."
Tetap saja Fang Yin masih merasa malu. Dia sudah terburu-buru menggunakan sebuah teknik yang belum begitu dia kuasai. Beruntung mereka jatuh di tempat yang sepi. Pasti akan sangat memalukan jika ada yang melihat mereka tersungkur di tanah.
Setelah mereka merapikan diri, Jian Heng membawa Fang Yin pergi ke istana kekaisaran. Banyak yang terkejut dengan kedatangan mereka karena tidak mendengar derap kuda sebelumnya. Kedua pengawal khusus juga tidak tampak bersama mereka.
Masih banyak yang terjaga dan berpapasan dengan mereka. Para pelayan dan anggota kekaisaran memberi hormat dan memberi jalan untuk mereka.
Arsitektur istana Kekaisaran Benua Tengah berbeda dengan istana Kekaisaran Benua Timur. Keduanya sama-sama indah dan megah. Namun, memiliki keunikan tersendiri.
Fang Yin melihat ke sekelilingnya penuh kekaguman. Sebagai Agata, dia merasa jika ini sangat luar biasa. Dia menilai jika istana ini lebih indah dari istana-istana yang dia lihat sebelumnya.
"Istana ini begitu indah, aku heran mengapa kamu betah tinggal di luar istana. Ini adalah kehidupan sempurna yang diinginkan oleh banyak orang?"
Pertanyaan seperti ini sudah sering didengar oleh Jian Heng. Dia tidak heran jika Fang Yin juga akan mengajukan pertanyaan yang sama. Dan dia pun akan memberikan jawaban yang sama.
"Tidak semua orang suka dengan kenyamanan. Dan tidak semua keindahan yang kita lihat itu sama dengan kenyataanya."
Jawaban sederhana yang syarat akan makna. Fang Yin semakin merasa kagum pada pria yang selalu bersahaja pada siapa saja itu. Namun, dia tidak akan menjalin hubungan dengannya sebelum dendamnya terbalaskan dan kehormatannya kembali.
Mereka berhenti di depan sebuah kamar yang di jaga oleh beberapa orang pengawal khusus. Perasaan Jian Heng menjadi tidak menentu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi selama dia pergi.
Pengawal khusus yang berjaga, memberi jalan pada Jian Heng dan Fang Yin. Salah satu dari mereka berlari masuk ke dalam dan melaporkan kedatangan mereka pada orang yang berada di dalam. Tidak lama kemudian Changyi dan Hao Xiang muncul dan menyambut mereka di depan pintu.
Fang Yin merasa tidak asing dengan salah satu pria yang menyambut mereka. Dia mencoba mengingatnya.
Jian Heng menatap Fang Yin penuh tanda tanya, begitu juga dengan Changyi yang terheran-heran pada Hao Xiang. Menurutnya dia mengada-ada dan berpura-pura manis di depan wanita. Namun, semua dugaan mereka terpatahkan oleh anggukan Fang Yin.
Kini Jian Heng yang menjadi salah tingkah. Hatinya merasa cemburu pada kakaknya itu yang diam-diam mengenal kekasihnya.
Changyi merasakan ketegangan di antara mereka bertiga dan segera mengambil inisiatif, "Kita bahas ini setelah ini. Sebaiknya kita memikirkan keadaan ayah."
Mereka berempat berjalan memasuki kamar Kaisar Xi. Selain mereka berdua, masih ada anggota keluarga inti yang lain. Fang Yin memberi hormat pada permaisuri dan semua orang yang berada di sana.
Sedikit sapaan dan perkenalan singkat mengawali pertemuan mereka sebagai formalitas. Selanjutnya, Fang Yin meminta ijin untuk mengobati Kaisar Xi dengan caranya.
Jian Heng meminta semua orang untuk mundur agar tidak menggangu konsentrasi Fang Yin. Dia juga tidak mengijinkan siapapun untuk bertanya ketika dia sedang menjalankan proses pengobatan.
Semua orang patuh pada perintah Jian Heng dan mempersilakan Fang Yin untuk memulai proses pengobatan. Sudah banyak tabib dari istana dan luar istana yang mencoba mengobati Kaisar Xi. Namun, tidak satupun dari mereka ada yang berhasil.
Fang Yin mengambil tangan Kaisar Xi dan merasakan denyut jantungnya. Aliran darahnya tersumbat dan beberapa bagian pembuluh darahnya mengalami penyempitan. Jaringan Meridian di tubuhnya juga mengalami kendala. Jika dibiarkan terlalu lama seluruh anggota gerakan akan mengalami kelumpuhan dan disfungsi sistem dalam tubuh.
Wajah Fang Yin yang terlihat serius membuat Jian Heng merasa yakin jika ayahnya menderita sakit yang lumayan parah. Perasaan bersalah terus menghantuinya, dia merasa menjadi orang yang paling menyesal jika ayahnya tidak selamat.
Setelah memeriksa anggota tubuh yang lain, Fang Yin meminta bantuan Jian Heng untuk membuka pakaian Kaisar Xi. Dia akan menggunakan teknik pengobatan akupuntur dan aliran dengan Qi.
Para ratu menutup wajahnya setiap kali Fang Yin menancapkan jarum ke tubuh Kaisar Xi. Mereka merasa ngeri melihat pemandangan itu. Kekhawatiran semakin menyelimuti hati mereka dengan segala keraguannya.
Bibir Kaisar Xi yang sebelumnya membiru, kini berangsur-angsur mulai menjadi cerah. Wajahnya juga tidak sepucat sebelumnya karena peredaran darahnya mulai lancar. Keadaannya secara keseluruhan mulai menampakkan kemajuan.
Sampai pengobatan yang dilakukan oleh Fang Yin selesai, Kaisar Xi belum juga sadarkan diri. Entah seberapa parah sakit yang dia derita, semua orang menunggu Fang Yin untuk menjelaskannya.
__ADS_1
Jian Heng membantu Fang Yin untuk merapikan pakaian Kaisar Xi dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Fang Yin membuka telapak tangannya dan mengeluarkan sebuah pil di sana. Hanya dia yang tahu pil apakah itu.
"Berikan pil ini ketika Yang Mulia Kaisar sadar."
Belum juga dia melanjutkan penjelasannya, Kaisar Xi telah sadar. Semua orang mendekat dan berdiri mengelilinginya. Berebut untuk menjadi orang pertama yang akan dilihat oleh Kaisar Xi. Kecuali, Fang Yin yang masih terpaku di tempatnya. Mereka semua lupa dengan pil yang masih berada di tangannya.
Sebagai orang asing, Fang Yin tidak tau harus melakukan apa. Memanggil Jian Heng pun dia tak sanggup. Setelah tahu tentang statusnya, dia merasa canggung.
Setelah beberapa saat semuanya mengungkapkan kebahagiaannya, Jian Heng baru teringat akan Fang Yin.
"Maafkan aku. Apakah tadi kamu mengatakan sesuatu?" Jian Heng mengusap air mata yang menggantung di sudut matanya.
"Berikan ini pada Yang Mulia." Fang Yin memberikan pil yang sudah dia siapkan.
Jian Heng kembali menghampiri ayahnya dan meminta yang lainnya memberinya secangkir air putih. Changyi dan Hao Xiang membantu ayahnya untuk duduk.
"Minumlah ini, Ayah!" Jian Heng memberikan pil dan secangkir air di tangannya.
Kaisar Xi tampak ragu-ragu. Sebelumnya mereka sempat bersitegang dan memiliki hubungan yang kurang baik. Namun, keraguannya segera sirna ketika semua orang mengangguk untuk meyakinkannya.
Pil itu berhasil masuk ke dalam tubuh Kaisar Xi. Semua orang menunggu reaksi dari pil itu dan terus mengamati apa yang terjadi setelahnya.
Hawa panas keluar dari tubuh Kaisar Xi disertai aura energi berwarna biru bercahaya. Semua orang bergerak mundur kecuali Jian Heng. Dia tahu jika saat ini ayahnya sedang menerobos ke tingkat kultivasi yang lebih tinggi dengan energi yang terkandung dalam pil itu.
"Terimakasih, Jian Heng. Tenaga ayah telah pulih." Kaisar Xi tersenyum pada Jian Heng dengan perasaan bangga. Dia tidak tahu jika pil itu berasal dari orang lain.
Sebelum ayahnya semakin merasa salah paham, Jian Heng ingin segera memperkenalkan Fang Yin padanya. Harapannya tidak muluk-muluk, dia ingin ayahnya menurunkan kriteria menantu idamannya dan menerima Fang Yin dengan tangan terbuka.
"Ada orang yang lebih pantas untuk menerima ucapan itu, Ayah. Dialah orang yang telah mengobati ayah."
"Bawa dia kemari!" Kaisar Xi merasa penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Jian Heng.
"Dia ada di ...." Saat menoleh ke belakang, Jian Heng sudah tidak melihat Fang Yin di sana. Dia segera bangkit dan pergi keluar untuk mencari Fang Yin.
Rupanya Fang Yin berada di luar kamar dan asyik mengobrol bersama Hu Chu dan Hao Xiang. Hu Chu menarik tangan Fang Yin dan memaksanya keluar lalu Hao Xiang menyusulnya. Pemandangan ini membuat hati Jian Heng memanas, aliran darahnya seperti aliran air yang mendidih.
"Xiao Yin. Ayah memanggilmu." Suaranya terdengar berat dan bergetar. Setelah mengatakan itu dia berbalik dan kembali masuk ke kamar Kaisar Xi.
Fang Yin segera mengikutinya. Dia merasa aneh dengan sikap Jian Heng dan menganggapnya sebagai cara menjaga wibawa saja.
Kaisar Xi sudah bisa duduk dengan normal seperti tidak merasakan sakit sebelumnya. Dia menyambut Fang Yin dan menerimanya dengan baik.
"Aku melihat Aura Kepemimpinan di tubuhmu, tetapi aku tidak melihatmu datang sebagai seorang putri."
Sebagian Kaisar memiliki kemampuan membaca aura di tubuh seseorang. Dari jenis energi dan darah yang mengalir di tubuh seseorang memiliki ciri khusus. Seorang keturunan bangsawan memiliki aura yang berbeda dengan orang biasa.
"Hamba tidak berhak menyandang status itu. Saya hanyalah kaum biasa yang selalu pergi untuk mengembara." Rasa takut hanya akan memperburuk keadaan. Fang Yin tidak ingin identitasnya terbongkar sebelum waktunya tiba.
Di mata semua orang, dia adalah seorang anak haram. Ibunya telah dituduh berselingkuh dengan seorang jenderal. Meskipun ayahnya telah tahu kebenarannya sesaat sebelum kematiannya, itu tidak bisa merubah keadaan karena hanya dia yang tahu.
Kaisar Xi mengangguk. Mungkin kekuatannya belum pulih sepenuhnya setelah sakit dan dia membuat kesalahan untuk itu.
"Aku akan memberimu hadiah yang besar. Aku juga akan merasa senang jika kamu mau menjadi salah satu tabib di istana ini."
Fang Yin terdiam. Ucapan ini begitu mendadak dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Tidak masalah jika dia harus tinggal sementara waktu, tetapi dia tidak akan sanggup jika berada di sana untuk waktu yang lama.
Jian Heng yang berdiri di samping ayahnya ikut berdebar-debar menunggu jawaban dari Fang Yin. Dalam masalah ini dia tidak bisa memberikan andil.
__ADS_1
****
Bersambung ....