
Han Wu meminta Fang Yin untuk duduk lalu dengan gesit dia merobek lengan baju Fang Yin agar tidak menghalanginya mengobati lukanya.
Luka itu tampak menjijikkan dengan kulit terbuka yang menganga dan berdarah bercampur cairan nanah.
Setitik cairan racun saja bisa membuat borok luka yang lumayan luas, bagaimana jika ada banyak cairan yang mengenai tubuh Fang Yin. Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaannya.
"Perih sekali, Kek! Sepertinya luka ini terus merembet ke samping dan melebar." Fang Yin menggerak-gerakkan kakinya untuk menahan perih yang dia rasakan.
"Benar. Yun Lan memang memiliki senjata rahasia berupa racun aktif peremuk tulang yang dia simpan di tubuhnya."
"Apakah dia tidak takut jika racun itu bocor dan melukai dirinya sendiri sebelum dia gunakan untuk menyakiti orang lain?" Fang Yin merasa penasaran dan ingin tahu.
"Itu tidak akan terjadi karena sebelum dia menyimpan racun itu, dia sudah memiliki kemampuan untuk mengendalikannya," jawab Han Wu sambil membersihkan luka Fang Yin dengan kain.
"Oh, jadi begitu." Fang Yin meringis menahan sakit itu dengan menggigit bibirnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Yin'er?" tanya Tian Feng merasa tidak tega melihat Fang Yin terluka. Dengan mata batinnya, Tian Feng juga melihat energi pendamping Fang Yin yang menipis.
"Aku sudah baik-baik saja sekarang." Kini dia sudah tidak merasa dingin lagi ketika Han Wu sudan memberikan serbuk obat pada lukanya.
"Syukurlah. Kamu harus segera mengisi Qi pendampingmu setelah ini karena ketahananmu mulai melemah," jelas Tian Feng.
"Terimakasih Paman. Paman sangat memperhatikanku. Aku selalu kehilangan banyak Qi pendamping setelah roh naga itu menguasai diriku. Sebelum-sebelumnya aku mendadak pingsan dan tidak mengingat apapun saat roh naga itu mengambil alih tubuhku."
"Kamu akan berkembang setahap demi setahap Yin'er. Semakin giat kamu berlatih maka kemampuanmu juga akan semakin meningkat." Tian Feng memberi semangat pada Fang Yin.
"Hmm." Fang Yin mengangguk.
"Aku sangat mengenali aroma obat ini," gumam Fang Yin lirih.
Wajahnya berubah menjadi sedih ketika mengingat ibunya. Pertemuan terakhirnya terasa seperti sebuah mimpi. Setidaknya ibunya telah tahu jika dia masih hidup dan berada di sekitarnya.
__ADS_1
Han Wu dan Tian Feng saling berpandangan. Mereka mengerti jika saat ini Fang Yin sedang merindukan seseorang. Namun mereka tidak tahu siapa orang yang sedang dirindukan oleh Fang Yin saat ini.
Luka di lengan Fang Yin sudah selesai diobati. Han Wu membalut lengan itu dengan kain agar bekas lukanya tidak terbuka lagi dan menutup dengan sempurna.
Melihat Fang Yin yang tertunduk lesu, Han Wu dan Tian Feng merasa tidak tega.
"Apa yang membuatmu bersedih, Yin'er? Apakah karena kamu mengingat siapa pembuat obat luka ini?" tanya Han Wu.
"Ibuku sering memberikan obat ini padaku, bahkan belum lama ini kami bertemu dan memberiku satu botol. Aku sangat merindukannya, tetapi aku tidak bisa memeluknya."
Air mata Fang Yin menetes di pipinya menandakan kerinduan yang mendalam.
"Jangan bersedih, Yin'er! Perjuanganmu masih panjang. Kamu akan kehilangan kesempatan emasmu jika jati dirimu terbongkar. Kaisar Ning tidak akan tinggal diam dan akan terus memburumu. Apalagi dia sekarang adalah orang yang berkuasa. Dia bisa membayar banyak kultivator untuk mencarimu."
Fang Yin sependapat dengan Han Wu karena itulah yang dia lakukan selama ini.
__ADS_1
****
Bersambung ....