
Fang Yin mendengar teori yang disampaikan oleh Jian Heng dengan serius dan tanpa banyak bertanya.
Kata-kata Jian Heng yang mudah dipahami membuatnya cepat mengerti. Fang Yin berharap setelah ini dia tidak akan gagal lagi. Di masa depan, keberadaan energi pendukung akan berperan sebagai pengendali keseimbangan tubuh dan penempaan jurus.
Sebesar apapun kekuatan yang di miliki dan sebanyak apapun jurus yang dikuasai, tetap tidak akan membuat seseorang menjadi yang paling kuat tanpa didukung dengan energi pendukung tubuh ini.
Seseorang datang menghampiri mereka berdua dan berdiri di hadapan mereka dengan dua buah kotak makan dari bambu.
Beruntung penjelasan dari Jian Heng telah selesai jadi mereka bisa langsung memakan makanan itu.
Tidak seperti di Akademi Tujuh Bintang, pembelajaran di Sekte Sembilan Bintang lebih bebas dan tidak terlalu formal.
Murid-murid bisa belajar di manapun dan kapanpun serta dengan guru yang mereka inginkan.
Kemampuan setiap murid akan berkembang sesuai dengan kegigihan usahanya dalam mengembangkan dirinya karena mereka belajar tanpa tekanan.
Apapun yang mereka capai tidak akan menjadi pemicu rasa iri dari yang lainnya karena setiap murid bebas belajar sesuai dengan kemampuannya.
__ADS_1
Jian Heng menjelaskan semuanya pada Fang Yin sebelum dia merasa heran dengan latihan yang dilakukan oleh satu murid dengan murid yang lainnya akan berbeda.
Rupanya Fang Yin baru akan menanyakan itu semua pada Jian Heng dan Jian Heng sudah menjelaskannya sebelum Fang Yin membuka mulutnya.
Hari itu, Fang Yin mulai berlatih bersama teman-teman barunya setelah menyelesaikan sarapannya bersama Jian Heng.
Untuk pelatihan Fang Yin, Jian Heng menyerahkannya pada guru lain karena dia sedang membimbing beberapa orang murid yang belum menyelesaikan pelajaran darinya karena kepergiannya ke Telaga Bias Pelangi.
'Ah, aku seperti orang hilang tanpa pria aneh itu!' omel Fang Yin dalam hati.
Fang Yin berdiri tepaku di tengah-tengah temannya yang berlatih di halaman sekte. Matanya mengedar ke sekeliling dan mengamati sampai di mana kemampuan mereka. Meskipun jurus yang mereka mainkan sangat hebat, tetapi mereka memiliki Qi dan tidak kultivasi yang masih sangat rendah.
Fang Yin menekan Qi di dalam tubuhnya seperti biasa agar tidak ada yang bisa membaca sampai mana ranah kultivasi yang dia miliki.
Merasa menjadi pusat perhatian di sana, Fang Yin pun segera bersiap untuk memperdalam jurusnya yang paling ringan yaitu jurus melempar bola-bola Qi.
Sekali lagi senua orang menatapnya dan menganggap Fang Yin sebagai murid terbodoh di sana. Mereka menatap Fang Yin dengan tatapan merendahkan. Kalau bukan karena kerabat dari Jian Heng, mungkin murid-murid di sana akan mengejeknya habis-habisan karena kemampuannya yang rendah itu.
__ADS_1
Fang Yin mencoba bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu jika teman-temannya sedang membicarakannya. Dengan penuh percaya diri, Fang Yin terus melakukan jurus melempar Qi tersebut. Dalam hati, Fang Yin pun sebenarnya menertawakan kekonyolannya itu yang senang bermain-main seperti seorang anak kecil.
"Tetua! Tetua!" panggil seorang murid pada Tetua Ming yang sedang membimbing Fang Yin dan beberapa orang temannya.
"Ada apa, Yuwei?" tanya Tetua Ming yang melihat kepanikan di wajah Yuwei.
"Ampun, Tetua! Lin Shi, Lin Shi ...." Yuwei terlihat ragu-ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada teman sekamarnya itu.
"Cepat katakan! Kamu atur napas kamu dan berbicaralah dengan benar!" seru Tetua Ming dengan sabar.
Yuwei melakukan apa yang diperintahkan oleh Tetua Ming. Setelah merasa tenang, Yuwei mulai menceritakan apa yang terjadi pada Lin Shi. Saat ini suhu tubuh Lin Shi belum juga turun dan sering mengingau dalam tidurnya.
Yuwei merasa ketakutan melihat sahabatnya yang sakit itu terus berbicara tidak jelas dan terkadang bangun seperti orang yang tidur sambil berjalan.
****
Bersambung ....
__ADS_1