Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 229


__ADS_3

Feng Xaohan dan neneknya tidak bisa lagi menghentikan langkah Fang Yin. Dengan matinya Yi Ruo, tidak ada lagi yang perlu mereka khawatirkan. Setelah ini Feng Xaohan bisa kembali berlatih beladiri dan berkultivasi untuk melindungi dirinya.


Nenek Feng Xaohan memberikan tungku yang diinginkan oleh Fang Yin. Mereka kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantarkannya hingga ke jalan di depan kios.


Jalanan di kota itu masih sangat ramai. Kedai-kedai yang menjual berbagai makanan pun masih buka dan menjajakan barang dagangannya.


'Aku merasakan aura energi yang sangat kuat di sini. Apakah ada kultivator yang memiliki roh pendamping juga?' Fang Yin berjalan pelan menyusuri jalanan kota.


Jika ada seorang kultivator yang memiliki roh pendamping, maka dia bisa merasakan keberadaan roh naga hitam di tubuh Fang Yin meskipun dia tidak mengeluarkan auranya. Hawa kehadiran roh pendamping yang berada di sekelilingnya semakin terasa kuat.


'Aku tidak boleh lengah dan terus waspada. Meskipun aku tidak ingin berlama-lama ada di sini, tetapi aku tidak bisa menghindarinya begitu saja.' Fang Yin mencoba untuk bersikap biasa saja dan berpura-pura seolah tidak merasakan apapun.


Sekelebat bayangan melintas di samping kiri Fang Yin. Bayangan itu juga kembali muncul di sebelah kanannya. Meskipun berpindah-pindah tetapi Fang Yin merasakan jika itu adalah energi yang sama dan orang yang sama pula.


Sebelumnya Fang Yin berniat untuk pergi ke bukit batu. Namun sepertinya dia harus benar-benar mencari penginapan agar tidak semakin menimbulkan kecurigaan jika dia adalah seorang kultivator.


Sebuah papan bertuliskan "Penginapan Bunga Mekar" terpampang di depan sebuah villa bertingkat. Fang Yin berjalan memasuki tempat itu dan pergi menuju ke tempat dua orang yang berdiri di depan sebuah meja.

__ADS_1


"Selamat malam! Apakah Anda ingin menginap di sini?" tanya salah seorang dari mereka.


Fang Yin merasakan energi yang begitu kuat di belakangnya. Belum sempat dia menjawab pertanyaan penjaga penginapan itu, sebuah serangan datang menghampirinya.


Seorang pria misterius dengan aura binatang roh pendamping melepaskan energi ke arahnya. Beruntung Fang Yin bisa menghindar, meskipun energi yang terhindar itu menimbulkan sebuah lubang yang sangat besar di lantai yang berada di samping penjaga penginapan itu.


Kedua penjaga penginapan itu lari ketakutan dan pergi untuk mencari tempat berlindung.


Para pengunjung kedai yang berada di belakang Fang Yin pun berbondong-bondong pergi bersembunyi.


Pria itu memakai penutup kepala yang menyatu dengan mantel sehingga hanya menampakkan sedikit saja wajahnya. Di balik wajahnya yang suram, tersirat tatapan yang sangat kejam.


Aura energi yang sangat kuat menimbulkan sebuah gelombang yang membuat orang-orang di sekitarnya terpental. Hanya Fang Yin yang tidak terpengaruh sedikitpun olehnya.


"Siapa kamu sebenarnya? Sebaiknya kita tidak membuat kekacauan di sini." Fang Yin melompat keluar dari dalam penginapan dengan berteleportasi.


Pria itu merasa takut kehilangan jejaknya dan mengejarnya dengan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi.

__ADS_1


"Jangan lari kamu!" teriak pria itu di tengah pengejarannya.


Tubuh Fang Yin terlihat muncul dan menghilang di beberapa tempat yang berbeda membuat orang yang melihatnya berteriak histeris dan lari ketakutan. Dia baru berhenti ketika menemukan tempat yang dirasa cukup aman untuk mereka bertarung.


Di sebuah tanah lapang dengan beberapa tiang kosong dengan rantai yang melilitnya, menjadi pilihan bagi Fang Yin untuk bertarung. Tempat itu biasanya di gunakan untuk festival dan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Sedangkan tiang-tiang besi yang terpancang di sana digunakan untuk mengikat seseorang yang sedang menerima hukuman.


"Aku pikir kamu akan lari dariku dan tidak akan berani untuk menghadapiku!" seru sang pria misterius.


Ternyata dia memang benar-benar memiliki binatang roh pendamping di dalam tubuhnya. Fang Yin semakin meningkatkan kewaspadaannya.


"Hanya orang tolol yang takut pada bayangan tak terlihat!" seru Fang Yin sambil tersenyum getir.


Pada kenyataannya, Fang Yin seringkali masih dibuat was-was oleh musuh yang baru saja ditemuinya.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2