
Fang Yin merasakan struktur tubuh yang unik dari kedua bocah ini. Suatu saat dia akan menjemput keduanya untuk dilatih secara khusus.
"Aku pasti akan datang kemari untuk menjemput kalian. Saat ini aku masih menjalankan misi yang harus aku selesaikan." Fang Yin menepuk bahu kedua anak itu untuk memberikan mereka semangat.
Kaisar Ning adalah orang yang penuh perhitungan, tidak mungkin dia sembarangan mengambil orang untuk dijadikan seorang prajurit. Pasti penduduk kota ini memiliki keunikan sehingga dia menarik pemuda yang produktif di sana.
Hatinya begitu berat meninggalkan kota itu. Sebenarnya dia masih ingin melakukan banyak hal di sana, tetapi perjalanannya untuk mencari Kitab Sembilan Naga bintang delapan tidak boleh tertunda.
Sesampainya di pinggiran kota, Fang Yin berhenti sejenak untuk memandang kota itu dari tempatnya berdiri sekarang. Dia memutar tubuhnya untuk menoleh ke belakang.
"Apa?! Hilang? Di mana kota itu?" Fang Yin melacak tanda yang diberikannya pada kedua anak Yuling masih ada, tetapi kota itu menjadi tak terlihat.
Kota itu berganti menjadi sebuah hutan belantara seperti tempat di mana dia berdiri sekarang. Merasa sangat penasaran, Fang Yin melangkah ke tempat yang asing itu dan mengaktifkan teknik perpindahan dimensi. Namun, sayangnya dia tidak bisa menemukan dimensi yang sama dengan kota itu.
"Jika bukan dimensi yang berbeda, berarti ada seseorang yang memiliki ilusi mata tingkat tinggi di tempat ini." Fang Yin tidak ingin memperpanjang masalah itu lagi dan memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
setelah kepergian Fang Yin muncul empat ekor rubah yang memandanginya dari kejauhan. Mereka bisa melihatnya dengan jelas, tetapi Fang Yin tidak bisa melihat mereka.
"Selamat jalan, Yang Mulia. Kamu putri yang sangat bijaksana. Kami akan datang membantu jika tiba saatnya." Rubah betina itu adalah Yuling. Dia menyimpan jejak energi Fang Yin ke dalam sebuah batu sihir.
Sebenarnya dia adalah ratu rubah yang menjadi pemimpin kota itu. Fang Yin tidak menyadari tentang semua yang ada di sekitarnya karena sihir Yuling yang sangat kuat. Teknik ilusi tingkat tinggi yang dimilikinya belum memiliki tandingan.
Yuling sudah berumur ribuan tahun yang menikah dengan seorang manusia yang kini telah menjadi prajurit Kaisar Ning. Tidak heran jika anak-anaknya memiliki keistimewaan seperti yang dikatakan oleh Fang Yin.
Setelah Fang Yin sudah tidak terlihat lagi, para siluman rubah itu menghilang. Mereka akan muncul kembali untuk membantu Fang Yin di masa mendatang sebagai tanda kesetiaan mereka. Mengenai suaminya, Yuling sangat yakin dia telah terbunuh karena tidak bisa lagi merasakan hawa energinya.
Hari sudah hampir gelap saat Fang Yin berjalan melintasi hutan yang lebat. Pohon-pohon yang ada di sekitarnya masih memiliki daun yang rindang. Sepertinya mereka tidak terpengaruh oleh musim gugur.
Suara-suara binatang hutan terdengar saling bersahutan menyambut malam. Fang Yin berkeliling untuk mencari tempat beristirahat.
Sepertinya aku harus kembali tidur di atas pohon malam ini. Sebuah pohon besar berdiri kokoh di hadapannya. Diameter batang bagian bawahnya sekitar sepuluh kali lipat diameter tubuhnya. Diperkirakan umurnya sudah ratusan tahun.
Fang Yin melompat ke atas pohon itu dan memilih dahan yang paling kuat dan lebar. Dia kemudian duduk di sana dengan posisi kedua kakinya menggantung. Belum sempat dia bersantai, tetapi dahan itu melemparkannya turun.
Beruntung Fang Yin bisa segera tanggap dan menjaga keseimbangannya ketika mendarat. Jika tidak mungkin dia akan jatuh terjerembab di tanah.
"Pohon sialan! Kamu pikir kamu siapa sudah menolak kehadiranku. Sungguh sambutan yang kurang menyenangkan." Fang Yin terlihat marah dan merasa terhina atas perlakuan ini.
Kedua tangannya mengeluarkan api hitam dan bersiap untuk membakar pohon ini hingga habis. Namun, tiba-tiba seorang kakek tua datang menghampirinya.
"Tolong jangan tersinggung, Nona. Pohon sombong ini memang suka bertindak tidak sopan. Jika Anda terbawa emosi dan membakar pohon ini hingga mati, maka aku pastikan, seluruh makhluk hidup yang tinggal di sini pun akan mati. Pohon ini menyimpan sumber air yang besar di bawah akarnya," jelas kakek itu.
Untung kakek itu datang di saat yang tepat, jika tidak mungkin semuanya akan terlambat. Fang Yin menganggap pohon itu terlalu lancang. Padahal setiap makhluk punya sifat dan tabiat yang berbeda-beda.
Fang Yin menarik kembali energinya dan berjalan menghampiri kakek-kakek itu.
"Maaf, Kek. Aku terlalu emosi. Terimakasih sudah mengingatkanku," ucap Fang Yin menyatukan tangannya untuk memberi hormat.
"Tidak masalah. Sepertinya kamu bukan berasal dari dekat-dekat sini. Mari ikut saya, kita bicara di tempat yang lebih nyaman."
Fang Yin berjalan mengikuti kakek tua itu.
"Namaku, Xiao Yin. Aku memang tidak berasal dari daerah ini, Kek. Aku sedang mengembara untuk menjalankan sebuah misi."
"Aku sudah tahu. Kamu memiliki ambisi yang besar, seorang yang jenius, tetapi kamu memiliki kontrol emosi yang rendah. Itu yang menjadi titik kelemahanmu karena sedikit saja emosi akan merubah cara berpikirmu."
Fang Yin ternganga mendengar penjelasan kakek tua itu. Dari penampilannya dia tidak terlihat hebat. Dia juga tidak mengeluarkan energi yang kuat.
"Bagaimana kakek bisa tahu tentangku? Sebelumnya kita tidak pernah bertemu," ucap Fang Yin memandang pria tua itu dengan heran.
"Aku juga tahu tentang latar belakangmu, Tuan Putri. Tetapi Anda tidak perlu khawatir, saya berada di pihakmu dan rahasia ini akan aman." Wajah kakek tua itu terlihat serius.
__ADS_1
Langkah kaki Fang Yin terhenti dan menatap kakek tua itu dengan tatapan yang lebih penasaran dari sebelumnya. Identitasnya sebagai seorang putri sangat terjaga, hanya segelintir orang saja yang tahu. Antara percaya dan tidak percaya dia terus melihat ke arah kakek tua itu sambil berpikir.
"Maafkan kata-kataku jika ini mengejutkan untukmu, Yang Mulia. Namaku Tse." Pria tua itu membungkuk hormat pada Fang Yin untuk meminta maaf.
"Aku ... aku sulit untuk percaya pada siapapun. Jika memang benar kamu tahu siapa aku, apakah kamu tahu di mana Kitab Sembilan Naga bintang delapan berada?" Fang Yin mencoba untuk memanfaatkan situasi.
Kakek Tse mengangguk. Dia tidak banyak bicara lagi. Tangan kanannya melambai dan terbukalah sebuah pemandangan yang berbeda di hadapannya. Dimensi ruang yang berbatasan langsung dengan hutan itu.
Tanpa ragu Fang Yin mengikuti kakek Tse memasuki dimensi itu. Tidak akan ada yang membahayakannya karena dia bisa keluar masuk dari dimensi lain dengan bebas.
Di dalam dimensi itu ada sebuah rumah yang cukup megah meskipun tidak semewah istana. Di tempat itu tidak ada manusia. Fang Yin dengan sangat jelas tidak merasakan adanya hawa manusia di sana.
"Aku merasakan hawa binatang roh di tempat ini," ucap Fang Yin penuh kewaspadaan. Dia tidak ingin gegabah lagi dalam bertindak.
Kakek Tse tersenyum melihat kewaspadaan Fang Yin. Dia tidak menyalahkannya dalam hal ini karena selama ini dunia yang dilewatinya sangat keras.
"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Aku pastikan mereka tidak akan berani muncul tanpa panggilan dariku. Mereka tidak suka mengganggu," jelas kakek Tse.
Fang Yin mengerti. Jika sekali lihat saja dia bisa mengetahui siapa dirinya, bukan tidak mungkin kakek Tse memiliki kemampuan untuk menundukkan binatang roh.
Mereka berjalan menuju ke sebuah gazebo yang diterangi oleh obor di sekelilingnya. Meskipun malam telah gelap, dia bisa melihat dengan terang tempat itu. Kakek Tse memasang banyak sekali lentera yang mengelilingi tempat mereka mengobrol saat ini.
"Jadi sekarang Anda sudah menguasai Kitab Sembilan Naga hingga bintang ke tujuh?" tanya kakek Tse.
Fang Yin mengangguk dengan ragu-ragu. Dia tidak mudah untuk mempercayai orang yang baru dikenalnya. Apapun yang ada padanya saat ini, tidak harus dia tunjukkan pada siapapun.
Melihat sikap Fang Yin yang terlihat ragu-ragu, Kakek Tse mencoba mencari cara agar Fang Yin percaya padanya. Sudah sangat lama dia menantikan kehadirannya di sana.
"Aku adalah guru dari ayahmu Kaisar Gu. Secara fisik kamu memang terlihat seperti seorang penduduk biasa. Tapi dari tipe energi dan aura yang kamu miliki, aku bisa melihat jika itu adalah aura Yang Mulia Gu Ming Hao. Kamu satu-satunya garis keturunannya yang tersisa. Aku bisa melihatnya dengan ini meskipun tidak tahu apa yang terjadi di luar sana." Kakek Tse menunjukkan sebuah diagram besi yang memiliki inti giok di tengahnya.
Ada sebuah cahaya merah yang selalu mengarah padanya, setiap kali Kakek Tse memutarnya, cahaya itu bergerak dengan sendirinya mendekati Fang Yin.
Kakek Tse menceritakan perjalanan hidup ayahnya sebelum dia menjadi seorang penguasa. Mungkin juga perjalanan ini juga terjadi sebelum ayahnya itu bertemu dengan Ketua Lama dari Sekte Sembilan Bintang. Apa yang dijalani oleh ayahnya tidak jauh beda dengan yang dijalani oleh Fang Yin, hanya saja dengan konsep dan kondisi yang berbeda.
Dengan segala keterbatasannya, Kaisar Gu berjuang dari titik terendahnya. Jika dibandingkan dengannya, kesulitan yang dialami oleh Fang Yin tidak sekompleks yang dialami oleh ayahnya. Untuk menjadi kuat, ayahnya berjuang dengan sangat keras.
Fang Yin merasa sangat senang mendengarkan cerita Kakek Tse. Dia adalah tipe pencerita yang memiliki tata bahasa yang menyenangkan. Pendengarnya merasa tidak sabar untuk menunggunya melanjutkan cerita yang dia kemas secara menarik.
"Rupanya perjuangan ayah begitu sulit. Aku yang banyak mendapatkan kemudahan masih saja selalu mengeluh dan putus asa." Fang Yin berbicara sambil menyangga wajahnya. Kedua sikunya bertumpu di atas meja.
"Aku percaya, kamu akan mengembalikan kejayaan Kekaisaran Benua Timur melebihi yang dilakukan oleh ayahmu. Selain kecerdasan. Kamu memiliki kemampuan lain yang tidak dimiliki oleh seluruh pemimpin di seluruh negeri, yaitu kemampuanmu sebagai seorang Dewi Naga."
Kata-kata Kakek Tse membuat Fang Yin menjadi lebih bersemangat. Kakek Tse berjanji akan muncul di Kekaisaran Benua Timur pada hari yang dijanjikan untuk membelanya.
Pernyataan yang mengatakan jika Fang Yin bukan keturunan Kaisar Gu sudah melekat di masyarakat. Dengan pernyataan Kakek Tse, Tetua Lama, dan seluruh pendukungnya, akan sangat membantu untuknya.
Saat ini yang perlu dilakukannya adalah menyelesaikan Kitab Sembilan Naga hingga tingkat sembilan dan merebut kembali kekuasaannya.
Kakek Tse membawa Fang Yin masuk ke dalam villa miliknya. Mereka menyusuri sebuah lorong dan berhenti di depan sebuah ruangan. Sebelum mereka masuk ke sana, Kakek Tse membuka mantra pelindung yang dia pasang agar tidak ada yang bisa masuk ke sana selain dirinya.
Setelah segel pelindung terbuka, mereka bisa memasuki ruangan di hadapannya. Tampaknya ruangan itu sangat jarang dikunjungi. Banyak sekali debu yang menutupi lantai dan benda-benda yang ada di sana.
Fang Yin melihat-lihat ke seluruh ruangan. Tidak banyak perabot yang ada di sana. Hanya ada sebuah benda aneh seperti sebuah meja batu berbentuk bulat di tengah ruangan.
Kakek Tse telah sampai di sana lebih dulu dan melambaikan tangannya pada Fang Yin agar dia menyusul ke sana.
"Ini apa, Kek?" tanya Fang Yin ketika melihat meja batu itu menampakkan sebuah relief di atasnya.
"Ini adalah diagram pembebas jiwa. Dengan diagram ini kamu bisa melihat di mana letak benda atau orang yang kamu cari dengan mudah."
Fang Yin tersenyum senang. Dia ingin tahu di mana Kitab Sembilan Naga bintang delapan dan sembilan berada.
__ADS_1
Melihat wajah gembira Fang Yin, Kakek Tse menggeleng. Putri dari muridnya itu terlihat sangat konyol, dia langsung merasa senang tanpa bertanya lebih dulu apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Kenapa, Kek? Apakah aku tidak boleh senang dengan apa yang akan aku ketahui setelah ini?" Fang Yin menatap Kakek Tse penuh harap.
"Kamu boleh senang, tetapi kamu butuh usaha untuk mendapatkan apa yang ingin kamu ketahui."
"Jangan berputar-putar, Kek. Aku bukanlah orang yang sabar." Fang Yin merengut dan tidak sabar untuk mengetahui cara menggunakan diagram pembebas jiwa.
"Anak Manis, keluarkan Qi-mu dan letakkan telapak tanganmu di sini," tunjuk Kakek Tse.
"Butuh energi yang besar untuk menghidupkan diagram pembebas jiwa. Kamu harus benar-benar membuka pikiranmu dan mengingat apa yang ditunjukkannya. Hanya kamu yang bisa melihatnya, di sini aku hanya seorang pemandu," jelas Kakek Tse.
Fang Yin memperhatikan dengan baik apa yang dikatakan oleh kakek tua itu. Sebenarnya dia sudah tidak sabar lagi untuk menghidupkan diagram itu. Namun, dia tetap harus mendengarkan penjelasan Kakek Tse.
Diagram ini tidak bisa digunakan secara sembarangan. Jiwanya akan terbebas ketika diagram itu menyala, tanpa pengendalian yang baik bisa mengakibatkan luka dalam yang sangat serius. Bahkan seseorang akan kehilangan kultivasinya dan harus memulai semuanya dari awal lagi.
Fang Yin mengangguk tanda mengerti. Butuh Qi yang stabil untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan. Dia juga harus ingat apa tujuannya. Terkadang pikiran yang bercabang membuatnya lupa akan tujuan awalnya. Jiwanya akan tertahan untuk urusan yang tidak penting dan terjebak di dalam dunia jiwa. Akibatnya akan sangat fatal seperti yang dijelaskan sebelumnya oleh kakek Tse.
"Bisakah aku memulainya sekarang, Kek?" tanya Fang Yin tidak sabar.
Kakek Tse mengangguk lalu berkata, "Ingatlah pada tujuanmu, abaikan sesuatu yang muncul di luar itu karena semuanya akan menyesatkanmu."
Fang Yin mengangguk dia mulai mengalirkan Qi ke tangannya dan bersiap untuk membuka diagram pembebas jiwa. Saat tangannya menyentuh batu pengendali yang ada di tepi diagram, bagian tengahnya mulai bergerak. Cahaya menyilaukan keluar dari dalam diagram, menyinari seluruh ruangan.
Sejenak Fang Yin masih merasa berada di ruangan itu, tetapi sesaat kemudian tubuhnya sudah berdiri di ruangan yang berbeda. Di hadapannya muncul sebuah pemandangan di mana Jian Heng sedang berlatih.
'Tidak ini bukan tujuanku!' Fang Yin mencoba mengusir bayangan itu.
Bayangan kedua, adalah ibunya yang sedang tertidur sambil memeluk sapu tangan pemberiannya pada pertemuan terakhir mereka. Ada rasa haru di hatinya, tetapi Fang Yin kembali menepisnya dan mengganti dengan ingatan yang lain.
Bayangan Kaisar Ning muncul, dan memperlihatkan Kitab Formasi Sembilan Matahari. Fang Yin memang sangat menginginkannya tetapi bukan itu tujuannya kali ini.
'Huh, menyebalkan! Jika begini terus maka aku akan benar-benar terjebak di sini.' Fang Yin mencoba untuk berkonsentrasi dan mengisi ingatannya dengan Kitab Sembilan Naga.
Dia tidak ingin melihat gambaran di depannya sebelum pikirannya benar-benar fokus. Fang Yin merasa lega setelah melihat kitab itu di dalam inti pikirannya. Perlahan-lahan dia membuka mata dengan membawa ingatan itu.
Dia berhasil. Gambaran tentang Kitab Sembilan Naga bintang delapan muncul di hadapannya. Kitab itu tersimpan pada sebuah peti kecil yang terbuat dari emas. Peti itu tersimpan pada sebuah ruangan asing yang belum pernah dia lihat.
Fang Yin memikirkan bagaimana cara menemukan tempat itu dan gambaran lain kembali terlintas. Detail-detail dari tempat itu mulai terlihat dengan jelas. Ruangan-ruangan yang berjajar rapi, menyerupai villa-villa yang ada di Sekte Sembilan Bintang.
'Ini terlihat seperti sebuah perguruan atau sekte. Atau mungkin sebuah akademi. Suasana malam membuatnya tidak begitu jelas.' Fang Yin kembali berkonsentrasi dan memikirkan tentang kejelasan tempat itu.
Dia terlihat fokus ketika menemukan sebuah papan nama. Di sana dituliskan 'Sekte Seruling Maut'. Dari namanya saja sudah sangat mengerikan. Fang Yin berpikir keras untuk bisa menemukan di mana sekte itu berada.
Gambaran tentang keadaan di sekitarnya diperlihatkan dengan jelas, tetapi Fang Yin belum tahu di mana dia bisa menemukan tempat itu. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menyimpan semua ingatan ini ke dalam inti pikirannya.
Setiap gambaran-gambaran yang muncul dia simpan dalam ingatannya. Kedepannya dia akan menemukan tempat itu dengan mudah jika sedang berada di sekitar lokasi yang digambarkan.
'Aku rasa pencarian untuk Kitab Sembilan Naga bintang delapan sudah cukup, meskipun aku tidak tahu di negara mana sekte itu berdiri. Aku bisa mencari tahu dalam perjalanan nantinya,' pikir Fang Yin tidak ingin berlama-lama terjebak dalam diagram pembebas jiwa.
Dia kembali memusatkan pikirannya untuk mencari Kitab Sembilan Naga bintang sembilan. Beberapa saat dia memejamkan matanya agar bisa lebih berkonsentrasi. Setelah muncul bayangan tentang kitab itu, dia menariknya ke dalam diagram pembebas jiwa untuk memperoleh gambarannya.
Bayangan ibunya yang sedang tidur kembali muncul. Fang Yin mengulang seperti apa yang dilakukannya sebelumnya. Namun, lagi-lagi bayangan ibunya yang muncul.
Setelah beberapa kali mengulang pun hasilnya masih sama. Bayangan ibunya yang sedang berada di tempat neneknya selalu muncul.
'Apakah Kitab Sembilan Naga bintang sembilan berada di tangan ibuku? Atau pada kakek nenekku?'
****
Bersambung ....
__ADS_1