Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 23. Terkena Racun


__ADS_3

Fang Yin berhasil melepaskan Jurus Perisai Es dengan tingkat keberhasilan menengah. Meskipun jurus ini masih butuh tahap penyempurnaan tetapi bisa dibilang Fang Yin telah berhasil menguasai jurus ini dalam waktu yang terbilang cepat. Lagi-lagi semua yang dilakukan oleh Fang Yin membuat Da Xia terpukau.


'Luar biasa! Gadis ini benar-benar bukan manusia biasa. Kemampuannya tidak bisa diremehkan. Aku sangat yakin, Xiao Yin akan menjadi seorang kultivator yang hebat jika bertemu dengan guru yang tepat.'


Belum juga hilang kekaguman Da Xia pada Fang Yin yang telah berhasil menguasai Jurus Perisai Es dalam sekali latihan, Fang Yin saat ini sudah melakukan hal yang lain lagi.


Kedua tangan Fang Yin di rentangkan dengan telapak tangan yang bergerak memutar. Di saat yang bersamaan, kaki kirinya sedikit terangkat hingga tidak lagi menyentuh tanah. Dari kedua telapak tangannya yang bergerak itu muncul sebuah gelombang energi yang membentuk sebuah simbol. Fang Yin menyatukan kedua simbol itu lalu melemparnya ke udara.


Bongkahan es dari Jurus Perisai Es itu terserap ke dalam simbol itu hingga tidak ada bekas. Setelah menyerap jurus yang terlepas, simbol itu berubah menjadi butiran cahaya inti energi lalu tersedot masuk ke dalam telapak tangan kanan Fang Yin. Hal ini menunjukkan jika Fang Yin tidak kehilangan energi yang telah dilepaskannya.


"Jurus Napas Naga!" pekik Da Xia.


Jurus Napas Naga selain digunakan untuk menghapus jejak energi, pada tingkat lanjut memang bisa digunakan untuk menyerap kembali energi yang telah dikeluarkan oleh pemiliknya. Fang Yin pernah menggunakannya sekali sewaktu berada di akademi untuk menghapus jejak energinya saat mencari jalan keluar. Jurus ini berasal dari Kitab Sembilan Naga bagian ketiga yang dipelajari oleh Agata.


Bagi seorang kultivator ranah Dewa, jurus ini bisa menjadi jurus yang sangat membahayakan bagi lawannya karena bisa berkembang menjadi jurus yang mampu menyerap energi yang dilepaskan oleh lawan.


Da Xia berjalan menghampiri Fang Yin dengan tatapan keheranan.


"Adik Kecil! Darimana kamu mendapatkan jurus ini?" Da Xia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk bertanya.


Wajah Fang Yin terlihat kebingungan. Dia terlupa. Seharusnya dia tidak mengeluarkan jurus ini dihadapan orang lain meskipun dia adalah orang terdekatnya.


"Ah, itu! Dulu ... dulu ... aku bertemu seseorang yang mengajarkannya padaku!" jawab Fang Yin sedikit gugup. Ia berharap Da Xia tidak akan curiga dan bertanya lagi tentang banyak hal mengenai jurus ini.


"Jurus ini bukan sembarang jurus. Jika aku tidak salah mengingat, ini adalah Jurus Napas Naga yang terdapat di dalam salah satu bagiannya. Tapi aku tidak tahu pasti kitab bagian berapa." Da Xia menatap mata Fang Yin mencoba mencari kejujuran di sana.


'Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kak Da Xia bukan orang yang bisa dengan mudah aku bodohi. Mungkin aku harus mengungkapkan tujuanku bertualang dan membuatnya mengerti.'


"Memang benar jika ini adalah jurus dari Kitab Sembilan Naga. Aku juga menguasai beberapa jurus yang lain. Itulah mengapa aku pergi berpetualang untuk menguasai seluruh kitab itu."


Jawaban dari Fang Yin membuat Da Xia tercengang. Dia tidak menyangka jika gadis bercadar ini sangat ambisius dan menakutkan. Da Xia tidak tahu harus kagum atau merasa ngeri dengan kemampuan Fang Yin.


"Kamu bisa mendapatkannya asal mampu bertahan di dalam dunia kultivasi yang kejam. Setiap bagian Kitab Sembilan Naga tentunya dipegang oleh orang yang kuat. Tidak akan mudah bagimu untuk mendapatkannya kecuali kamu memiliki salah satunya yang akan memberimu petunjuk untuk mengetahui di mana kitab selanjutnya berada." Da Xia menjelaskan sebatas apa yang dia ketahui.


"Aku masih mencari salah satunya, Kak. Aku berharap bisa segera menemukannya." Fang Yin merahasiakan kenyataan jika dia telah menguasai dua bagian dari kitab itu.


Da Xia tidak tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan Kitab Sembilan Naga. Dia merasa cukup dengan kemampuannya sebagai Pendekar Es. Jurus warisan leluhur dari suku es dia kembangkan dan dia gabungkan dengan beberapa jurus yang berbeda hingga menghasilkan jurus baru yang lebih sempurna. Di dunia kultivasi, Da Xia juga termasuk ke dalam jenius wanita yang membuat lawannya merasa segan padanya.


Matahari telah bergeser ke arah barat menandakan waktu telah bergulir. Walaupun rasa lapar keduanya tidak begitu terasa tetapi Fang Yin tetap meminta Da Xia untuk beristirahat dan makan siang. Saat perjalanan menuju ke arah Goa, melintas seekor landak di depan mereka.


Fang Yin menunduk mengambil sebuah ranting kering.


Sreet! Jleb!


Ranting itu melesat dan menembus tubuh landak itu setelah Fang Yin melemparnya dengan sedikit aliran Qi.


"Lumayan! Bisa jadi santapan kita!" seru Fang Yin sambil mengambil binatang buruannya yang telah tergeletak tak bernyawa.


Da Xia mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Apakah binatang ini bisa di makan?" tanyanya.


"Tentu saja!" Fang Yin membawanya ke tepi lalu membelah kulit binatang itu dengan sebilah pisau yang dia keluarkan dari dalam cincin penyimpanannya.


Ketangkasan Fang Yin membuatnya mengerjakan pembersihan itu berjalan dengan cepat. Fang Yin juga memakai teknik gerakan cepat untuk menyayat, membelah, dan mencincang daging landak itu. Sisa-sisa bagian tubuh landak yang tidak terpakai dibakar oleh Fang Yin dengan Qi Api Naga Merah.


"Kamu juga memiliki Qi milik binatang roh legendaris itu?" tanya Da Xia yang berdiri mengamati apa yang dilakukan oleh Fang Yin.


Fang Yin mengangguk, "Iya, benar!"


Tidak ada gunanya lagi menyanggah. Da Xia sudah terlanjur banyak tahu tentang dirinya. Fang Yin percaya jika Da Xia adalah orang yang bisa menyimpan rahasia.


Mata Fang Yin mengedar melihat ke sekeliling seolah mencari-cari sesuatu. Kedua sudut bibirnya terangkat hingga membuat lengkungan manis di balik cadarnya. Beberapa langkah dari tempatnya berada terdapat serumpun bambu kuning.


Sebatang bambu Fang Yin potong dengan cepat memakai pedang energinya hingga membuat potongan-potongan itu berjatuhan ke tanah.


Fang Yin mengambil dua potong yang paling besar dan membawanya ke tempat di mana dia menyimpan potongan-potongan daging landak yang tersusun di atas batu.


Potongan bambu itu dia belah menjadi bagian-bagian kecil dengan teknik gerakan cepat. Dan dengan gerakan cepat pula ia menusuk daging landak itu hingga selesai. Di dunia manusia orang menyebut daging tusuk ini dengan nama sate.


"Menarik! Kamu membuat daging tusuk untuk makan siang kita. Tapi aku belum pernah makan daging binatang ini." Da Xia merasa sedikit ragu untuk memakannya.


"Aku sudah sering memakannya. Hewan ini termasuk binatang pemakan tumbuhan. Dia memiliki daging yang empuk dengan tekstur dan rasa mirip seperti daging ayam hutan," jelas Fang Yin sambil memanggang daging itu dengan api merahnya.


Saat daging itu setengah matang, Fang Yin menaburkan sedikit garam agar memiliki sedikit rasa.


"Aku merasa sangat penasaran bagaimana rasanya, Xiao Yin." Da Xia terlihat menggosokkan telapak tangannya karena tidak sabar.


"Ambil yang paling ujung itu, Kak! Sepertinya sudah matang!" tunjuk Fang Yin pada satu tusuk daging.


"Aha!" Da Xia segera mengambilnya dan meniup daging tusuk itu.


Merasa sudah matang semua, Fang Yin pun menghentikan pembakarannya lalu menikmatinya bersama dengan Da Xia.


Sringg!


Di tengah-tengah makan siang mereka, sebuah serangan mendadak mengejutkan mereka. Sebuah pisau kecil melayang di atas kepala Da Xia. Fang Yin melihatnya lalu menangkap pisau itu dengan teknik perlindungan tangan besi.


Qi di dalam pisau itu masih terasa. Fang Yin merasa tangannya mati rasa dan pisau itu terjatuh dengan sendirinya. Tangan Fang Yin yang bersentuhan dengan pisau itu berubah menjadi berwarna hitam kebiruan.


"Pisau itu beracun, Xiao Yin!" pekik Da Xia.


Saat Da Xia hendak menolong Fang Yin, suara langkah bayangan seseorang mendekati mereka. Kehadirannya mulai terasa namun tubuh mereka belum tampak jelas. Da Xia merasakan jumlah mereka lebih dari seorang.


"Ada yang datang kemari. Mundurlah dan tahan racun itu agar tidak menyebar. Aku akan mengobatimu setelah melawan mereka!" pinta Da Xia pada Fang Yin.


"Baiklah!"


Fang Yin pergi mundur ke balik pohon untuk mengeluarkan racun di tangannya. Warna hitam akibat darahnya yang membeku kian merambat sedikit demi sedikit hingga mencapai ke telapak tangannya. Untuk menghentikan racun itu merambat lebih luas lagi, Fang Yin menutup aliran darahnya agar tidak bersentuhan dengan racun itu.

__ADS_1


Fang Yin memeriksa kantong penyimpanan obat miliknya untuk mencari pil penawar racun. Setelah menemukannya Fang Yin segera menelan pil itu. Tubuhnya terasa panas dingin akibat pengaruh racun yang terbawa oleh aliran darahnya sebelum dia menutupnya. Racun yang dilemparkan dengan Qi memang lebih cepat menyebar dan memiliki efek membunuh yang meningkat dari sebelumnya.


Pil obat yang dia telan memiliki reaksi yang lambat sehingga Fang Yin sangat merasa tersiksa dengan racun yang membuat darahnya seakan mendidih.


'Aku tidak boleh mati! Jalanku masih panjang dan dendamku belum terbalaskan!'


Pandangan mata Fang Yin mulai kabur dan hampir kehilangan kesadarannya. Sebelum semuanya menjadi gelap, Fang Yin merubah posisinya untuk bersikap lotus dan bermeditasi.


Di dalam alam bawah sadarnya Fang Yin seperti terlempar ke tempat yang sangat gelap. Sejauh matanya memandang yang ada hanya kegelapan. Sama seperti di alam sadarnya, Fang Yin juga merasa perlu untuk membuka aliran Qi untuk mengatasi kondisi tubuhnya yang tidak berdaya karena racun.


Di luar kendali Fang Yin, Kristal Naga Pelangi milik Binatang Roh Naga Merah muncul dari tempat penyimpannya. Kristal itu melayang-layang di depan tubuh Fang Yin dan menarik energi alam untuk mendekat. Seperti yang terjadi sebelumnya, kristal itu menyelimuti tubuh Fang Yin dan membuat tubuh Fang Yin terlihat seperti sebuah kepompong berwarna pelangi.


Semakin banyak Qi alam yang terkumpul maka semakin besar pula bulatan yang menyelimuti tubuh Fang Yin.


Qi telah mencapai batas maksimal dan membuat putaran bola energi pelangi melambat. Energi pelangi itu masuk ke dalam tubuhnya dalam sekali serap. Berbeda dengan sebelumnya yang membuat tubuh Fang Yin berapi dan membakar sekitarnya, kali ini api itu tidak membakar tanpa kendali dari Fang Yin.


Kobaran api merah mengundang perhatian Da Xia dan musuh yang sedang bertarung. Mereka berempat serempak menoleh ke arah cahaya merah itu berasal. Fang Yin membuka mata yang menyala merah. Pikirannya belum sepenuhnya sadar tetapi tubuhnya telah bergerak atas kendali roh Naga Merah.


Fang Yin berjalan dengan angkuhnya. Kekejamannya terlihat jelas dari wajahnya meskipun sebagian tertutup oleh cadarnya. Sorot matanya yang diselimuti kobaran api menatap tajam ke arah musuh dan mengincar pemilik jejak Qi yang terbawa dalam pisau beracun itu.


Tubuh Fang Yin melesat dan bergerak seperti bayangan. Rupanya roh Naga Merah juga menguasai jurus apa saja yang Fang Yin kuasai. Saat ini Fang Yin yang sedang dikendarai oleh Naga Merah mengeluarkan Jurus Merendahkan Bayangan milik Akademi Tujuh Bintang.


Gerakan pembuka jurus yang mirip seperti angsa yang sedang menari membuat lawan Fang Yin tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya. Semakin lama gerakan Fang Yin semakin cepat dan menjadi tidak terlihat. Pemilik Qi yang meracuninya orang pertama yang menjadi korban jurus pamungkas akademi besutan Tetua Song itu.


Da Xia dan kedua lawannya tidak menyadari apa yang terjadi karena semua terjadi begitu cepat. Mereka baru menyadari lawan Fang Yin telah mati saat satu persatu potongan tubuhnya berjatuhan di tanah. Kekejaman Fang Yin tidak berhenti sampai di situ saja, tubuh yang telah hancur itu masih dia bakar dengan Qi Api Merah.


Di saat dua lawannya lengah, Da Xia memakai Jurus Pengikat Bayangan dan membekukan alat gerak bawah musuh dengan Qi Awan Salju.


Musuh mereka memang tidak mati tetapi dia tidak bisa melawan lagi. Da Xia ingin tahu tujuan mereka menyerang tiba-tiba dan siapa dalang di balik penyerangan ini. Tidak mungkin mereka bergerak sendiri tanpa perintah karet dari jejak Qi yang mereka keluarkan, mereka adalah kultivator yang berasal dari Sekte Bayangan Maut, sekte di mana para pembunuh bayaran berkumpul.


Roh Naga Merah di tubuh Fang Yin mulai kembali masuk ke dalam tubuhnya sehingga membuat tubuh Fang Yin kembali dalam kendalinya. Fang Yin membuka matanya dalam keadaan lemah tak berdaya. Kakinya tidak bisa berdiri dengan benar dan memaksanya untuk berjalan sempoyongan lalu bersandar di sebuah pohon besar.


Pengaruh racun itu masih terasa meskipun bekuan darah warna hitam di tangannya telah menghilang.


"Siapa yang menyuruh kalian dan apa tujuan kalian menyerang kami!" tanya Da Xia pada kedua kultivator yang berdiri mematung seperti patung lilin itu.


Mereka tidak menjawab.


"Sepertinya cara halus tidak bisa membuka mulut kalian!" Da Xia membuka telapak tangan kanannya di depan wajahnya dan menggerakkan jemarinya.


Jemari tangan Da Xia berubah menjadi bilah es yang mirip seperti pisau dengan ujung yang sangat runcing.


Da Xia berjalan mendekati salah satu dari mereka dan berdiri di hadapannya dengan posisi yang sangat dekat.


"Kalian ingin tahu seberapa tajam jariku ini. Bukan itu saja, di dalamnya juga terdapat racun pembeku yang akan membuat siapapun yang tertusuk akan membeku. Satu goresan saja bisa membuat seseorang merasakan sensasi dingin yang luar biasa." Da Xia menempelkan jarinya di pipi salah seorang dari mereka. Mata orang itu membelalak merasakan dinginnya jari Da Xia yang menyentuh pipinya.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2