Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 302. Tinggal Sementara


__ADS_3

Apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin setelah ini sepertinya tidak bisa dia putuskan sendiri. Dia harus meminta pendapat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ada hal yang menyangkut kelangsungan hidup penduduk bukit Giok Hitam.


"Pemimpin Qin, apa pendapatmu tentang pembukaan segel pelindung yang menaungi wilayah ini?" tanya Fang Yin kepada Qin Yushang.


Qin Yushang sedikit terkejut dengan pertanyaan Fang Yin. Dengan gugup dia membetulkan posisi duduknya. Pertanyaannya nyatanya dijawab dengan pertanyaan yang memaksanya untuk berpikir.


Merasa hal ini juga tidak bisa dia putuskan sendiri, Qin Yushang pun memanggil Tetua Ming, Tetua Jung, dan tiga tetua lain yang masih tersisa. Mereka tidak terbiasa terhubung dengan dunia luar. Masih butuh penyesuaian yang tidak sebentar untuk membaur bersama mereka. Dari cerita yang dia dengar, dunia luar sangat kejam dan tak berbelas kasihan.


Sudah sangat lama penduduk bukit Giok Hitam hidup dalam keterasingan. Mereka hanya mengenal orang-orang yang tinggal bersama mereka. Masuknya orang luar menjadi bagian dari mereka pun sangat jaran sehingga mereka tidak banyak membawa perubahan.


Dari pembicaraan mereka dihasilkan sebuah kesepakatan di mana saat ini mereka belum sanggup untuk beradaptasi dengan kehidupan dunia luar.


Fang Yin memaklumi akan hal itu, dengan kata lain segel pelindung itu tidak akan dibuka untuk saat ini.


Jian Heng bergerak mendekat ke arah Fang Yin. Dia ingin memberikan pendapatnya. Melihat perlindungan yang begitu kuat di tempat ini, rasanya akan sangat berguna untuk dirinya berlatih dan menyerap isi Kitab Sembilan Naga bintang sembilan.


"Yin'er, bolehkah aku mengatakan sesuatu? Aku rasa ada hal yang perlu kita bicarakan," ucap Jian Heng sambil melirik ke arah Fang Yin serius.


"Apakah kita perlu bicara empat mata?" Melihat wajah serius Jian Heng, Fang Yin berpikir jika kekasihnya itu akan mengatakan sesuatu yang rahasia.


"Tidak, kita bicara di sini saja."


Jian Heng segera menyahut karena pembicaraannya kali ini bersifat umum. Wajahnya terlihat sangat malu ketika Guan Xing menutup mulutnya menahan tawa. Fang Yin pun juga terlihat salah tingkah karena tawa itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, katakan saja." Fang Yin tidak ingin membuat semua orang menunggu ucapan dari Jian Heng.


Jian Heng pun memulai percakapannya. Dia mengusulkan kepada Fang Yin untuk mempelajari Kitab Sembilan Naga di tempat ini. Selama Fang Yin menyempurnakan kemampuannya, dirinya dan Guan Xing bisa melakukan hal lain. Keduanya akan membina masyarakat yang tinggal di bukit Giok Hitam agar siap untuk membaur dengan dunia luar.


Fang Yin kembali meminta pendapat Qin Yushang dan dia pun menyetujuinya. Mereka sangat senang dan menyambut baik usulan yang diberikan oleh Jian Heng. Ramalan di dalam kitab kuno itu benar-benar menjadi kenyataan. Penduduk bukit Giok Hitam kini terlepas dari kesengsaraan yang membuat jiwa mereka terkekang.


Wong Li datang dengan langkah tergesa menghampiri Tetua Jung. Dia menempelkan telapak tangannya di telinga Tetua Jung lalu membisikkan sesuatu padanya. Tetua Jung menganggukkan kepalanya lalu meneruskan berita yang dibawa oleh Wong Li pada Qin Yushang.


Rupanya para wanita meminta ijin untuk mengantarkan makanan ke ruangan itu. Qin Yushang mengatakan pada Wong Li untuk mempersilakan mereka masuk.


Beberapa orang gadis masuk dengan nampan yang berisi makanan. Mereka menyajikannya pada sebuah meja panjang yang berada di pojok ruangan. Para gadis itu duduk menunggu para tetua dan semua orang yang berada di sana untuk mengambil makanannya.


Qin Yushang mempersilakan para tamunya untuk maju terlebih dahulu. Dia memberikan penghormatan pada Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing.


Jian Heng menerima makanan dari mereka lalu memberikannya pada Fang Yin. Ketika gadis lain memberikan makanan lagi untuknya dia memberikan makanan itu pada Guan Xing. Demi menjaga perasaan Fang Yin dia rela mengambil makanannya sendiri.


Para gadis itu menatap iri pada Fang Yin. Mereka merasa tidak akan sanggup jika bersaing dengannya. Namun, mereka masih menanti keajaiban di mana Jian Heng akan melirik salah satu dari mereka.


"Ayah, aku ambilkan, ya!" seru seorang gadis pada Tetua Jung.


"Aku juga akan mengambilkan ayah juga," ucap gadis lain pada Qin Yushang.


Mereka adalah Xin Nian dan Qin Yu Zhu, putri dari Tetua Jung dan Qin Yushang. Mereka mengambilkan makanan untuk ayah mereka masing-masing setelah gagal mengambilkan Jian Heng.

__ADS_1


Para tetua dan tamu makan bersama sedangkan para gadis itu menunggu mereka selesai makan. Aturan tak tertulis yang membuat mereka harus mendahulukan para tamu kenyang sebelum tuan rumah.


Fang Yin menatap para gadis itu tanpa berani berkomentar. Tanpa cadarnya, ekspresi dingin di wajahnya terlihat sangat jelas. Tidak ada yang berani menatap wajahnya terlalu lama karena takut untuk menyinggungnya.


Qin Yushang memerintahkan Qin Yu Zhu untuk menyiapkan kamar untuk ketiga tamunya. Ada beberapa pelayan dan istri Qin Yushang yang akan membantunya. Ada beberapa ruangan kosong di kediaman Qin Yushang, mereka hanya perlu menyiapkan tempat tidur dan selimut saja.


Penduduk bukit Giok Hitam memiliki rumah panggung sehingga mereka tidak menggunakan ranjang. Mereka tidur beralaskan kasur saja. Udara di sana yang dingin membuat mereka harus menggunakan selimut tebal atau mantel bulu di malam hari. Hal itu juga menjadi alasan lain bagi mereka saat menggunakan jubah dan penutup wajah.


Fang Yin memilih kamar yang berada di tengah. Dia tidak ingin berbatasan langsung dengan kamar pemilik rumah. Guan Xing yang berbatasan dengan kamar pemilik rumah dan Jian Heng berada di paling ujung.


Seluruh penduduk bukit Giok Hitam terlelap di siang itu, tetapi tidak bagi para kultivator. Mereka lebih memilih untuk berkultivasi ketimbang pergi tidur.


Suasana yang sepi membuat Fang Yin mudah untuk berkonsentrasi. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk bersantai. Di dalam tingkatan yang dimilikinya sekarang, dia tidak membutuhkan waktu khusus untuk berkultivasi.


Sembari berkultivasi Fang Yin mengeluarkan Kitab Sembilan Naga bintang sembilan. Kitab itu melayang di depannya sejajar dengan diafragma. Tangan kanannya mengeluarkan Giok Hitam lalu meletakkannya di atas relief pengunci.


Sinar yang sangat terang keluar dari kitab itu hingga membuat Fang Yin menutupi wajahnya dengan lengannya. Cahaya itu semakin terang dan mengeluarkan gelombang yang sangat dasyat.


Tubuh Fang Yin terpental ke belakang menghantam dinding di belakangnya hingga berlubang. Dinding itu merupakan pembatas antara kamarnya dengan kamar Jian Heng.


"Yin'er!" teriak Jian Heng sambil berlari menyongsong Fang Yin yang terus terdorong ke belakang.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2