
Aura di tubuh Fang Yin semakin terlihat jelas ketika semua yang dia dapatkan dari separuh Kitab Sembilan Naga bintang lima yang dia serap. Beruntung dia memiliki artefak mutiara naga merah sehingga tidak ada yang merasakan aura tersebut bocor ke luar.
Dengan langkah tergesa Fang Yin berjalan mendekati Yonjie dan yang lainnya karena mereka masih terkapar tak berdaya di tempat mereka semalam.
Fang Yin mendorong telapak tangannya ke depan dan mengalirkan Qi ke tubuh mereka. Tidak ada yang membuatkan mereka sup pereda mabuk di tempat terpencil itu.
Setelah menerima aliran Qi dari Fang Yin perlahan mereka pun membuka matanya.
Mereka terlihat lebih segar dan segera beranjak untuk bangun.
Fang Yin berbalik untuk kembali ke tendanya. Namun baru beberapa langkah saja, terdengar suara derap kaki kuda sedang berjalan menuju ke sana.
Ada perubahan di dalam tubuhnya yang dirasakan oleh Fang Yin. Kepekaannya meningkat tajam. Dia bisa merasakan kehadiran Panglima Jing di kejauhan.
Menurutnya ini adalah sesuatu yang luar biasa. Pendengaran dan pandangannya menjadi lebih peka dan membuatnya lebih waspada terhadap sesuatu yang bisa dia rasakan.
'Apakah ini merupakan insting dari wujud naga yang aku miliki? Meskipun belum sempurna, tetapi rasanya sudah sangat luar biasa.'
Tidak lama berselang, Panglima Jing sudah berdiri di hadapannya dengan menuntun kuda miliknya.
"Xu Chen! Apa yang terjadi pada mereka?"
Panglima Jing melihat para prajuritnya terlihat sangat berantakan. Dia pikir jika mereka belum sembuh dari luka-luka mereka.
Sebenarnya sebagian dari prajurit itu tidak mengalami luka-luka yang serius, mereka hanya ingin tetap tinggal di sana untuk sejenak menghindar dari rutinitas sebagai seorang prajurit.
"Mereka baik-baik saja. Semalam kami sedang berpesta untuk merayakan kemenangan."
Fang Yin sengaja membuat dirinya seolah terlibat dalam acara tersebut, meskipun sebenarnya tidak.
"Hmm."
Panglima Jing mengangguk.
Seorang prajurit datang untuk menghampiri kuda milik Panglima Jing dan membawanya menyingkir dari sana.
Fang Yin dan Panglima Jing berjalan menuju ke tempat di mana mereka bisa mengobrol dengan nyaman.
"Maaf aku sudah merepotkanmu. Sekarang kamu bisa mengatur rencanamu."
__ADS_1
Tidak ingin menahan Fang Yin lebih lama, Panglima Jing membebaskannya untuk pergi.
"Kerendahan hati Panglima Jing akan selalu saya ingat. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu."
Fang Yin memberi hormat.
"Kamu pemuda yang sangat luar biasa, aku berharap di kemudian hari kamu akan menjadi sosok yang luar biasa melebihi pencapaianmu saat ini."
Secara tidak sengaja Panglima Jing melihat sebuah tanda di telapak tangan Fang Yin. Senyum simpul terbit di wajahnya yang memiliki rahang yang tegas itu.
"Xu Chen tidak berani berjanji. Semoga semua ucapan senior menjadi sebuah doa yang mempermudah langkahku."
Kedua tangan Fang Yin masih tetap berada di dalam posisi yang sama.
Panglima Jing tidak berkata lagi. Telapak tangannya terbuka dan mengeluarkan sebuah token perak.
"Ini adalah token keanggotaan klan Jing. Jika kamu menemui masalah di Kekaisaran Benua Barat atau sekedar ingin bertemu denganku, kamu bisa menggunakannya."
Fang Yin menerima token itu dan mengamatinya sesaat lalu menyimpannya.
Rasa terimakasih yang besar membuat Fang Yin merasa perlu untuk memberikan penghormatan yang besar untuk Panglima Jing. Dia menjatuhkan dirinya di bawah kaki Panglima Jing dengan berlutut.
"Aku bukan orang yang gila hormat. Jangan merendahkan dirimu dengan berlutut di kakiku."
Fang Yin menatap Panglima Jing dengan tatapan tak percaya. Seorang singa di medan perang rupanya memiliki hati yang sangat lembut juga.
"Xu Chen, memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya untuk senior."
Pagi itu juga, Fang Yin pergi dari kamp Panglima Jing dengan mengendarai seekor kuda perang yang diberikan olehnya. Sebenarnya itu malah akan membuat perjalanannya menjadi lebih lama. Namun mau tidak mau dia harus menerimanya.
Pertemuan singkat itu memberi kesan tersendiri untuk Yonjie dan para prajurit. Mereka terlihat sangat sedih ketika melepas kepergian Fang Yin.
"Panglima! Mengapa Anda tidak menahan Tuan Xu untuk tinggal dan memperkuat pasukan kita?"
Yonjie memberanikan diri untuk bertanya pada Panglima Jing.
Mendengar pertanyaan Yonjie, Panglima Jing yang semula menatap kosong ke depan, kini berpaling padanya.
Keduanya saling bertatapan.
__ADS_1
Aura kepemimpinan Panglima Jing membuat Yonjie merasa segan saat bertatapan dengannya. Di negerinya, ketangguhan Panglima Jing belum ada tandingannya. Tidak heran jika dia begitu disanjung dan dihormati oleh bawahannya.
"Kita tidak bisa menahan seorang kultivator yang bebas untuk tetap tinggal. Mereka memiliki jiwa berpetualang yang tidak bisa dihentikan oleh apapun."
Kata-kata Panglima Jing membuat Yonjie tersadar. Harusnya dia lebih mengerti apa yang diinginkan oleh sahabat barunya itu ketimbang orang lain. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Yonjie merasa sangat kehilangan layaknya kehilangan seorang kekasih.
'Sepertinya otakku memang sedikit bermasalah. Bagaimana mungkin aku menganggap Tuan Xu adalah seorang wanita? Semoga dengan kepergiannya otakku menjadi normal lagi.' Yonjie memukul kepalanya pelan lalu kembali bergabung dengan yang lainnya untuk berkemas.
Hari itu juga mereka akan kembali ke ibukota karena telah berhasil mengatasi pemberontakan.
Di tempat lain, Fang Yin memacu kudanya dengan kencang menuju ke tempat yang belum pernah dia singgahi sebelumnya.
Dia belum tahu ke mana arah tujuannya. Malam ini dia ingin mencari penginapan dan menyelesaikan Kitab Sembilan Naga bintang lima yang belum selesai dia pelajari.
Perjalanan panjang hari itu membuat Fang Yin merasa lelah dan memelankan langkah kudanya ketika dia memasuki sebuah perkampungan yang cukup ramai.
Orang-orang yang ditemuinya menatapnya dengan tatapan yang aneh. Bagi Fang Yin hal ini merupakan hal yang biasa. Dia menyadari jika dirinya memang berpenampilan sedikit berbeda dengan yang lainnya.
Fang Yin turun dari kudanya dan mencoba untuk bertanya pada warga sipil yang dia temui. Namun mereka terlihat seperti ketakutan padanya dan tidak mudah didekati oleh orang asing.
Setiap kali Fang Yin mendekat, mereka pergi menghindar. Tidak ingin menyerah dengan keadaan itu, Fang Yin membawa kudanya berjalan menyusuri jalanan di desa itu.
Prang!
Suara keras terdengar dari sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat Fang Yin berdiri saat ini.
Dari dalam rumah itu terdengar suara pertengkaran sebuah keluarga yang membuat semua warga yang tinggal di sekitarnya terus berdatangan. Akan tetapi, mereka tidak berani untuk mencampuri urusan keluarga itu.
Sebagai orang asing Fang Yin terlihat tidak mengerti. Ingin bertanya tentang penginapan saja mereka acuh, apalagi tentang masalah intern dari salah satu penduduknya.
'Aku tidak mungkin ikut campur dalam masalah yang tidak aku ketahui, tetapi aku juga tidak bisa diam saja jika melihat sebuah tindak kejahatan.'
Belum hilang keheranan Fang Yin, tiba-tiba seorang anak kecil keluar dari dalam rumah itu dengan mulut penuh dengan darah.
Terlihat orang-orang yang berkerumun menepi untuk memberi jalan padanya. Ada sesuatu yang aneh dari sorot mata anak itu. Fang Yin merasakan aura membunuh keluar dari tubuhnya dan terasa begitu kuat.
****
Bersambung ...
__ADS_1