
"Emm ... aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Fang Yin malu-malu.
Jian Heng menautkan kedua alisnya lalu memiringkan kepalanya melihat Fang Yin dengan keheranan.
"Sejak kapan kamu minta ijin dulu sebelum bertanya. Kalau mau bertanya, ya, bertanya saja. Jangan terlalu berlebihan untuk memikirkan jawabanku sebelum kamu menanyakannya," ucap Jian Heng panjang lebar dengan tempo yang cepat.
Sekarang giliran Fang Yin yang merasa aneh dengan sikap Jian Heng.
'Tumben pria aneh ini bersikap baik dan pengertian padaku. Apakah kepalanya terbentur sesuatu saat latihan tadi?'
"Kenapa malah menatapku seperti itu, Xiao Yin? Apakah aku terlihat tampan?" Jian Heng tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya itu bisa membuat Fang Yin tersipu malu.
Benar saja Fang Yin tersipu dan mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Tidak ... tidak jadi. Bukan masalah penting, kok," ucap Fang Yin beralasan.
'Bodoh ... bodoh ... bodoh. Harusnya aku tidak bicara seperti itu pada Fang Yin.' Jian Heng menyalahkan dirinya.
Semuanya sudah terlambat. Tidak ada gunanya untuk menyesal. Jian Heng sesekali mencuri pandang pada Fang Yin yang memasukkan makanan dengan sumpit dari balik cadarnya.
Fang Yin yang merasa malu pada Jian Heng mempercepat makannya lalu segera kembali ke kamarnya.
"Huhh! Huhh! Huhh! Makan dengan cepat membuat dadaku terasa penuh. Aku harus melakukan gerakan ringan agar tubuhku bisa mencernanya dengan baik." Fang Yin mulai melakukan gerakan ringan untuk membuat makanannya turun perlahan.
Keadaan tubuh Fang Yin terasa membaik. Namun perasaannya belum kembali normal. Malam ini Fang Yin tidak ingin pergi ke ruang rahasia untuk mempelajari Kitab Sembilan Naga.
__ADS_1
"Xiao Yin!" panggil Jian Heng.
"Aku tidak ingin latihan malam ini!" seru Fang Yin dari balik pintu kamarnya.
"Apakah kamu sedang sakit?" tanya Jian Heng merasa penasaran.
"Tidak. Aku ingin istirahat lebih awal. Hari ini terlalu melelahkan." Fang Yin beralasan.
'Lelah berpura-pura maksudku,' ujar Fang Yin dalam hati.
"Baiklah! Beristirahatlah!" Suara Jian Heng terdengar kecewa.
Malam ini akan terasa panjang untuknya. Dia kehilangan kesempatan untuk bersama Fang Yin malam ini, setelah terbiasa melewatkan malam setiap hari untuk belajar Kitab Sembilan Naga.
"Aku ingin berkultivasi sejenak malam ini."
'Suara apakah itu? Ah, mungkin suara anak-anak sedang berlatih jurus di malam hari.' Fang Yin kembali memejamkan matanya untuk memulai kultivasinya.
Belum juga memulai kultivasinya, ledakan itu kembali terdengar bahkan lebih keras.
Rasa penasaran Fang Yin memaksanya untuk mengurungkan niatnya berkultivasi dan melihat apa yang terjadi.
Di depan pintu kamarnya dia bertemu dengan Jian Heng yang sama-sama keluar dari dalam kamarnya.
"Suara apa itu?"
__ADS_1
Mereka mengucapkan kalimat yang sama.
"Aku tidak tahu."
Lagi-lagi mereka mengucapkan kalimat yang sama.
Mereka merasa lucu dan menahan tawanya. Fang Yin memilih untuk diam dan menunggu Jian Heng berbicara lebih dahulu untuk mengantisipasi kalimat yang mereka ucapkan akan sama lagi.
"Aku ingin pergi keluar untuk melihatnya. Apa kamu memiliki tujuan yang sama?" tanya Jian Heng tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
Fang Yin mengangguk.
Mereka bergerak dengan cepat keluar dari villa untuk mencari ke arah sumber suara.
Di kejauhan terlihat api sudah berkobar dan membuat murid-murid keluar dengan panik dari asrama mereka.
Belum terlihat jelas pertarungan itu antara siapa melawan siapa karena suasana malam yang gelap.
Jian Heng dan Fang Yin bergerak menyelinap untuk melihat apa yang terjadi tanpa diketahui oleh orang yang ada di sana. Mereka sama-sama menyembunyikan hawa kehadiran mereka sebelum pergi mendekat. Keduanya juga terlihat kompak dan saling bekerja sama.
Agar tidak diketahui oleh lawan maupun penghuni sekte yang lain, Jian Heng dan Fang Yin berkomunikasi memakai bahasa isyarat.
Tidak ada yang menyadari kehadiran Jian Heng dan Fang Yin di tempat itu. Dari tempat yang terlindung, mereka melihat dari dekat siapa yang membuat keributan ini.
Terlihat tiga orang tetua sedang menghadang beberapa lawan yang membuat onar di tempat itu. Fang Yin tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka karena mereka berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala.
__ADS_1
****
Bersambung ...