Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 292. Rumah Sederhana


__ADS_3

Meskipun Yu Ruo sangat ingin mengatakan semuanya pada Fang Yin, tetapi dia tidak ingin terburu-buru. Saat ini mereka masih berbenah, dia akan menunggu waktu yang tepat ketika mereka sudah berada di rumah mereka sendiri.


Semua orang terlihat sangat sibuk. Mereka mengemasi barang-barang mereka untuk segera pulang ke rumahnya. Sebagian lagi mereka tetap tinggal di sana karena rumah mereka hancur saat pertarungan terjadi.


Meskipun belum begitu baik, Jian Heng tetap bersikeras untuk membantu para pria untuk beberes. Sepanjang tidak mengeluarkan Qi-nya maka keadaannya masih aman.


Fang Yin, Yu Ruo dan Yu Jie pulang kerumahnya. Ini pertama kali bagi Fang Yin menginjakkan kaki di sana. Saat kedatangannya bersama Shi Han Wu, seluruh keluarganya sudah berada di pondok yang ditinggali secara bersama-sama.


Tempa tinggal yang sederhana, kontras dengan kemewahan yang biasa didapatkan ibunya sewaktu tinggal di istana. Fang Yin baru tahu mengapa ibunya terbiasa untuk bersikap rendah hati dan tidak suka bermewah-mewah, sejak kecil dia terbiasa hidup seadanya dan dididik dengan keluhuran budi yang baik oleh orang tuanya.


"Ini rumah kami, Yin'er. Kamu pasti tidak menyangka jika ibumu berasal dari keluarga yang miskin." Yu Ruo menghampiri Fang Yin yang berdiri mematung di depan pintu.


Ucapan neneknya membuatnya tersadar dan segera berjalan menghampiri keluarganya. "Aku hanya terkejut saja, Nek. Rumah ini terlihat berantakan sekali," elak Fang Yin.


"Benar, sudah hampir sebulan kami tinggal di pondok utama. Duduklah, biar kami bereskan semuanya." Yu Ruo membawa Fang Yin duduk di depan meja yang berada di pojok ruangan.


Fang Yin menurut saja, tetapi ketika neneknya pergi dia menggerakkan benda-benda yang harus dibereskan dengan kekuatannya. Gerakan itu lebih cepat dari kerja Selir Shi Yu Jie dan Yu Ruo.


"Anak nakal!" ucap Yu Ruo sambil menggeleng.


"Sejak kecil dia memang susah di atur, Ibu. Beberapa kali dia kabur dari sekolah tata krama dan pergi berlatih bersama kedua kakaknya." Selir Shi menceritakan kenakalan putrinya semasa tinggal di istana.


Fang Yin tersenyum sambil terus membereskan ruangan itu. Dia tidak marah ketika ibunya menceritakan semua tentang dirinya kepada neneknya. Semua cerita ibunya terdengar sangat menarik karena saat itu dia belum berganti jiwa dan masuk sebagai Agata Moen.


Rumah tinggal milik kakek nenek Fang Yin memiliki beberapa buah ruangan empat di antaranya adalah kamar tidur. Mereka membersihkan ruangan itu untuk beristirahat malam nanti.


Kegiatan beres-beres rumah itu berlangsung hingga siang tiba. Rasa laper membuat mereka terhenti.


"Sepertinya aku melupakan sesuatu, Nek." Fang Yin terlihat panik.


"Apa yang kamu cemaskan, Yin'er?"

__ADS_1


Yu Ruo dan Selir Shi saling berpandangan. Mereka baru saja selesai bersih-bersih dan sebelumnya mereka menemukan beberapa bahan makanan yang masih tersisa di rumahnya.


Fang Yin menggerakkan tangannya ke depan dengan telapak tangan yang membuka ke bawah. Banyak sekali bahan makanan yang keluar dari sana. Ini baru miliknya, milik Jian Heng lebih banyak lagi dari ini.


Selir Shi dan Yu Ruo terkejut melihatnya. Meskipun sebelumnya mereka tidak terlihat membawa apa-apa, rupanya Fang Yin dan Jian Heng memang membeli banyak barang untuk mereka semua.


Yu Jie meminta Fang Yin untuk membaginya kepada para warga sekitar. Dia yakin jika mereka saat ini tidak memiliki banyak stok bahan makanan. Semua bahan makanan ini juga tidak akan habis dalam waktu yang lama dan sebagian menjadi kadaluarsa.


Yu Ruo dan Yu Jie mengambil beberapa bahan makanan yang mereka inginkan lalu meminta Fang Yin untuk menyimpannya kembali. Mereka membagi tugas. Keduanya akan memasak dan Fang Yin pergi membagikan bahan makanan itu untuk penduduk Gunung Perak.


Fang Yin mendatangi satu persatu rumah penduduk Gunung Perak dan memberikan bahan makanan yang cukup untuk mereka makan selama beberapa hari. Mereka memiliki waktu untuk beristirahat tidak bekerja selama masih ada bahan makanan di rumahnya.


Saat dalam perjalanannya, Fang Yin bertemu dengan Jian Heng. Mereka saling mengobrol untuk mendiskusikan tentang pembagian bahan makanan yang ada di tangan keduanya.


Untuk hari ini, bahan makanan milik Jian Heng tidak perlu untuk di bagi. Mereka akan membaginya beberapa hari ke depan setelah bahan makanan dari Fang Yin diperkirakan habis.


Keduanya sangat lelah dan segera kembali ke rumah Shi Jun Hui untuk makan siang.


Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah. Selir Shi dan Yu Ruo sudah menunggu kedatangan mereka dan menikmati kebersamaan. Aroma masakan khas suku es membuat Shi Han Wu, Fang Yin dan Jian Heng tidak bisa menahan dirinya. Bumbu dan jenis olahan dari suku es memiliki ciri khas tersendiri.


Setelah makan siang selesai mereka membagi kamar untuk tinggal. Yu Ruo tinggal bersama Shi Jun Hui, Fang Yin bersama Selir Shi dan dua kamar yang lain untuk Jian Heng dan Shi Han Wu.


Mereka tidak melakukan aktifitas apapun lagi hari itu dan memilih untuk beristirahat. Sejak semalam mereka belum tertidur sedikitpun. Mereka pergi ke kamar yang telah disediakan untuk mereka masing-masing.


Fang Yin dan ibunya beristirahat di kamar yang sama. Kepalanya berada sejajar dengan bahu ibunya yang membuat Selir Shi bisa membelai rambutnya dengan lembut.


Saat Fang Yin hampir terlelap, Yu Ruo datang ke kamar mereka dan bergabung dengan keduanya. Wanita tua itu memperlihatkan wajahnya yang cukup serius. Tak ayal kedatangannya membuat Fang Yin dan Yu Jie merasa heran.


"Ibu!"


"Nenek!"

__ADS_1


Keduanya menyapanya berbarengan lalu bangun dari posisi tidurnya.


"Maaf aku mengganggu istirahat kalian, tetapi aku tidak bisa menahan diri lagi untuk segera menyampaikan ini." Yu Ruo berbicara sambil berjalan menuju ke tempat tidur Fang Yin dan Yu Jie lalu duduk di tepi ranjang mereka.


Fang Yin dan Selir Shi semakin dibuat heran dengan ucapan Yu Ruo. Mereka tidak sabar menunggunya mengatakan semua yang ingin dia sampaikan.


Yu Ruo mengeluarkan sebuah kotak yang berukuran sedang. Kotak kayu berwarna hitam dengan ukiran berwarna emas di beberapa sisi itu membuatnya terlihat sangat berharga. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir jika kotak itu berisi harta karun yang sangat berharga.


Tangan kanan Yu Ruo mengulur ke depan tepat di atas kotak itu dengan telapak tangan yang menghadap ke bawah. Sebuah energi berwarna merah mengalir dari sana menyelimuti seluruh permukaan kotak itu. Perlahan kotak itu terbuka dan sebuah benda menyembul ke atas.


Benda yang pertama keluar dari sana adah beberapa jenis tanaman langka. Satu persatu benda itu naik ke atas dan melayang di udara.


Fang Yin sangat membutuhkan tanaman-tanaman ini untuk melengkapi kesempurnaan Kitab Sembilan Naga bintang delapan.


Benda yang keluar selanjutnya membuatnya lebih terkejut lagi. Kitab Sembilan Naga bintang sembilan juga keluar dari dalam kotak itu. Semuanya berada di luar perkiraan. Fang Yin berpikir jika kitab ini berada di tangan kakeknya.


Selir Shi sendiri tidak tahu menahu tentang hal ini. Ibunya tidak pernah memberitahu siapapun jika dia memegang Kitab Sembilan Naga bintang sembilan, termasuk kepada keluarganya.


Isi di dalam kotak itu bukan hanya itu saja. Masih ada beberapa benda yang memiliki aura energi yang besar di sana. Di belakang Kitab Sembilan Naga bintang sembilan, muncul sebuah benda bulat bersinar seukuran kelereng. Benda itu bergerak berputar mendekati Yu Jie.


"Apa ini, Ibu?" tanyanya merasa heran.


"Ambilah, itu untukmu!" perintah Yu Ruo.


Meskipun wajahnya terlihat bingung, Selir Shi tetap mengambilnya. Benda itu kini sudah berpindah ke tangannya.


"Telanlah, Jie'er!" perintah Yu Ruo lagi.


Selir Shi merasa ragu, tetapi dia berpikir jika ibunya tidak mungkin mencelakainya. Dengan perasaan campur aduk dia pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Yu Ruo. Dia memejamkan matanya lalu memasukkan benda itu ke mulutnya.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2