
Huamei menahan napasnya ketika pria itu berdiri tepat di hadapannya. Matanya memicing, tidak berani melihatnya secara terbuka. Dia lalu melirik ke arah Fang Yin, tetapi dia malah berpura-pura menenangkan bayinya.
'Sial, di sini seharusnya aku yang memeluk bayiku untuk menghindari pria sangar ini. Tapi ... aarggh, Xiao Yin memang menyebalkan!' omel Huamei dalam hati.
Pria gempal itu duduk pada kursi kosong di meja mereka. Matanya tidak beralih memandangi wajah Huamei. Namun, mukanya terlihat datar tanpa ekspresi yang menjadikannya terkesan dingin.
Huamei yang kehilangan kemampuan berbicara ketika sedang gugup dan terkejut, hanya pasrah saat pria itu duduk di depannya. Fang Yin tersenyum dibalik cadarnya. Kelihatannya pria itu menyukai Huamei.
"Adik, bayimu ingin menyusu. Sebaiknya kamu memakai penutup agar tidak ada mata jahat yang melihatmu," ucap Fang Yin sambil menyerahkan bayinya pada Huamei. Dia merasa kasihan melihat Huamei yang gugup karena didekati oleh seorang pria.
Huamei mengangguk dengan cepat dan mengambil alih bayinya dari tangan Fang Yin. Dia merasa sangat senang dan bangga dengan statusnya.
Pria itu menatap Fang Yin dan Huamei bergantian. Hatinya merasa kesal dan merasa diperdaya. Dia tidak terima pada Fang Yin yang seolah membuat status palsu untuk dirinya.
Tangan pria itu menarik tangan Fang Yin dan membawanya keluar dari kedai itu. Dia ingin memastikan apa yang dilihatnya tadi adalah benar. Wanita itu memiliki anak dan Fang Yin masih lajang.
Fang Yin sengaja menurut tanpa memberikan perlawanan demi melindungi orang-orang disekelilingnya. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mengambil tindakan. Tangannya sudah gatal ingin menghajar pria yang tidak tahu sopan santun itu
Pria itu membawanya ke halaman samping kedai dan menghimpit tubuh Fang Yin pada sebuah pohon. Kedua tangannya diikat di atas kepalanya, begitu juga dengan kakinya.
Huamei melihatnya dari kejauhan, selama Fang Yin masih bisa mengatasi keadaan, maka dia tidak perlu melakukan apapun untuknya. Jika dia gegabah dalam bertindak, bayinya juga akan berada di dalam bahaya.
"Aku ingin melihat seberapa cantik wajahmu. Kalian seperti saudara kembar, pasti memiliki wajah yang sangat mirip. Harusnya kamu tidak mempermainkanku." Pria itu berbicara dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan Fang Yin.
"Napasmu bau! Aku tidak tertarik padamu. Sekarang lepaskan aku dan lebih baik kamu mencari wanita yang lain saja," ucap Fang Yin santai tetapi nyelekit buat pria itu.
Pria itu mengepalkan tangannya lalu memukul tempat kosong di sisi kepala Fang Yin. Dia adalah Qin An, preman kota yang sangat ditakuti di wilayah itu. Ucapan Fang Yin merupakan penghinaan baginya.
"Dasar wanita iblis! Beraninya kamu mengatakan ini padaku. Aku akan mempermalukanmu di depan umum." Qin An tersenyum menyeringai. Tangannya bergerak dengan cepat meraih penutup wajah Fang Yin tetapi tidak berhasil. Penutup wajahnya tidak bisa lepas dari wajahnya karena telah dikunci dengan Qi.
Tangan dan kaki Fang Yin pun terlepas setelah dia mengeluarkan api yang membakar tali yang mengikatnya. Dia menjentikkan jarinya lalu menempelkan ke kening Qin An dan mendorongnya menjauh.
"Aku tidak selemah yang kaupikir, Tuan Bangsat! Tidak semua wanita bisa kamu tindas seenaknya. Pasti orang yang pernah kamu paksa akan merasa senang saat melihatku menghajarmu hingga babak belur." Fang Yin mendengus kesal pada Qin An yang tidak tahu malu itu.
Qin An tidak gentar dengan ucapan Fang Yin dan menganggapnya remeh. Dia tertawa dengan keras hingga menggema di sekelilingnya.
"Percaya diri sekali kamu, Nona Sombong! Aku pasti melumpuhkanmu dalam satu jurus. Suka atau tidak aku akan tetap membawamu untuk bersenang-senang." Qin An menatap Fang Yin penuh minat.
Melihat hal itu, Fang Yin terlihat semakin geram. Pria itu memang pantas dihajar. Tangannya sudah sangat gatal untuk menghajar Qin An.
Fang Yin menyerangnya dengan serangan jarak dekat dan tidak menggunakan banyak Qi. Dalam pertarungan ini dia memilih menggunakan keterampilan beladirinya. Ada kepuasan tersendiri ketika tangannya bisa memukul secara langsung wajahnya, begitu juga kakinya yang dengan gesit menendang dan menjegalnya.
Setiap serangan yang diberikan oleh Fang Yin tidak terelakkan. Teknik gerakan yang sangat cepat membuat Qin An sulit untuk menghindar, dia juga sulit untuk mendapatkan kesempatan membalasnya.
'Sial! Wanita ini ternyata tidak mudah dihadapi. Aku berurusan dengan orang yang salah. Pantas saja mulutnya begitu pedas, rupanya dia tidak berbicara omong kosong.' batin Qin An.
Qin An bergerak sedikit menjauh lalu mengeluarkan Qi yang besar dari dalam tubuhnya. Aura mengerikan menyelimuti tubuhnya dan dengan gerakan cepat dia menyerang Fang Yin.
Fang Yin tidak tinggal diam, dia melompat ke udara dan mendorong telapak tangannya untuk membalas serangan energi Qin An. Ledakan yang sangat keras terdengar ketika kedua energi mereka berbenturan. Suara itu memancing kedatangan para pengunjung kedai dan warga sekitar untuk melihat pertarungan.
Banyak di antara mereka yang merasa senang dan mendoakan untuk kekalahan Qin An. Selama ini belum ada yang sanggup mengalahkannya. Hal itu membuat Qin An seenaknya berperilaku dan meresahkan warga sekitar.
Sekali gagal tidak membuat Qin An menyerah. Dia kembali menyerang Fang Yin dengan melemparkan dua energi sekaligus di kedua telapak tangannya.
Fang Yin tidak membalas serangannya, tetapi pergi memutar dan mengunci gerakan Qin An dari arah belakang. Serangan Qin An mengenai tempat kosong dan tubuhnya tersungkur ke depan ketika Fang Yin memukulnya di titik penguncian energi.
Tubuh Qin An tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa meliuk-liuk dalam posisi tengkurap.
"Aku ingin memberimu pelajaran, Buaya Darat!" Fang Yin meninggalkannya di halaman yang panas.
Selain tidak bisa bergerak, Qin An juga tidak bisa bicara dengan normal. Fang Yin benar-benar ingin mempermalukannya di depan umum agar dia jera. Kini dia menjadi tontonan warga yang masih berkumpul mengelilinginya.
Fang Yin menepuk-nepuk tangannya yang tidak kotor lalu pergi meninggalkan halaman tempat pertarungan. Dia menyusul Huamei di dalam kedai untuk makan. Dari sana dia bisa melihat beberapa anak kecil yang mempermainkan Qin An. Pemandangan yang sangat menyenangkan untuknya siang itu.
Huamei telah memesankan makanan untuknya juga dan ketika dia tiba, makanan itu sudah tersedia di meja. Pemilik kedai memberikan makanan gratis untuk mereka karena berhasil melumpuhkan Qin An yang setiap hari memerasnya.
Pemerintah kota datang ke tempat itu untuk menjemput Qin An dan memenjarakannya. Selama ini mereka selalu gagal menangkapnya. Mereka sangat berterimakasih kepada Fang Yin dan mengundangnya untuk datang ke balai kota. Namun, Fang Yin menolaknya secara halus karena masih ada urusan lain. Akhirnya mereka tidak memaksa dan menarik kembali undangannya.
"Kamu begitu hebat, Xiao Yin. Aku tidak bisa melihat ranah kultivasimu, tapi aku sangat yakin jika saat ini kamu berada jauh di atas tingkatanku. Setiap gerakanmu begitu tertata dan penuh perhitungan. Satu kata untukmu, "hebat" ...." Huamei mengacungkan jempolnya.
"Sudah, kamu makan saja cepat! Aku merasa tidak nyaman berada di sini." Fang Yin melirik ke sekelilingnya. Orang-orang menatapnya sambil berbisik. Entah apa yang mereka katakan, yang jelas dia tidak suka menjadi pusat perhatian mereka.
Huamei mengerti, dia sendiri juga tidak suka menjadi tontonan. Berakrab-akrab dengan orang baru akan membuat mereka sulit untuk menyembunyikan identitasnya. Mereka pasti akan terus bertanya tentang siapa dan dari mana mereka berasal.
__ADS_1
Fang Yin dan Huamei pergi dari tempat itu dan tidak memedulikan teriakan penasaran orang-orang yang ingin berkenalan. Lebih baik mereka dikatakan sombong daripada harus mendapatkan masalah baru setelah masalah sebelumnya selesai.
"Apakah kita tidak akan menginap di kota ini?" tanya Huamei hati-hati. Dia takut menyinggung Fang Yin.
"Kita lihat saja nanti. Jika kita menemukan tempat yang tenang dan nyaman, tidak apa kita singgah dan bermalam di sini," jawab Fang Yin tanpa menoleh pada Huamei.
Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang cukup ramai. Semakin ke tengah kota, jalanan yang mereka temui pun semakin ramai. Tetapi orang-orang yang ada di sana tidak terlalu ramah seperti di pinggiran kota yang sesaat lalu mereka singgahi.
Fang Yin tergoda untuk membeli buah yang dijual di pinggir jalan. Dia berhenti untuk membelinya dan menikmatinya sambil berjalan. Tidak lupa dia juga memberikannya pada Huamei.
Perjalanan mereka yang cukup lama membawa mereka sampai di pinggiran kota yang sepi. Hari sudah hampir gelap sehingga mereka memutuskan untuk berhenti dan mencari tempat untuk menginap.
"Huamei, tempat ini begitu sepi. Sepertinya tidak ada penginapan di sini. Tidak baik bagi bayimu untuk dibawa berjalan di malam hari." Fang Yin menatap bayi Huamei yang tertidur pulas dengan perasaan hangat.
"Aku bisa tidur di mana saja. Sebelum bertemu denganmu, kami juga tinggal di hutan. Kamu tidak perlu khawatir, bayiku anak yang kuat. Iya, kan, Sayang?" Huamei mengecup lembut pipi bayinya dan membuatnya menggeliat.
Mereka melihat seorang nenek tua yang sedang berjalan menuju ke sebuah rumah. Dia terlihat kepayahan membawa kayu bakar yang berat. Fang Yin berlari menyongsongnya dan berniat untuk membantu
"Tidak perlu, anak manis. Nenek bisa sendiri. Nenek tidak memiliki upah untuk membayarmu," ucapnya membuat Fang Yin tercengang.
"Aku tulus ingin membantumu, Nek. Jangan salah paham. Aku tidak menginginkan apa-apa untuk membalas pertolonganku," jelas Fang Yin.
Nenek tua itu melihat Huamei yang berjalan di belakang Fang Yin sambil menggendong bayinya.
"Dia adalah adikku, kami sedang dalam perjalanan ke Benua Selatan, Nek." Fang Yin berinisiatif untuk menjelaskan sebelum nenek itu bertanya padanya.
Nenek tua itu mengangguk lalu memberikan sebagian kayu yang dibawanya kepada Fang Yin. Mereka berjalan melewati rumah-rumah penduduk yang terlihat lebih sederhana dari rumah yang ada di pusat kota.
Mereka berjalan di antara rumah-rumah menuju ke sebuah jalan setapak. Ternyata nenek tua itu tinggal di rumah yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk yang sebelumnya mereka lewati.
Dia tinggal bersama suaminya yang juga sudah tua. Kakek tua itu sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika mereka datang. Sebuah ruangan tanpa sekat dengan dinding yang mulai keropos, membuat hati Fang Yin merasa miris.
Potret kemiskinan kembali menjadi pemandangan yang mengiris hatinya. Kedepannya dia akan meminta para pemerintah kota untuk memperhatikan kehidupan masyarakat kecil dan lansia. Keinginannya untuk segera merebut kembali negaranya semakin tersulut seperti api yang selalu berkobar.
"Terimakasih, Nak. Nenek tidak bisa memberikanmu apa-apa. Jika kamu tidak keberatan, kamu bisa menginap di sini bersama adikmu."
Merasa hari sudah malam dan tidak ada tempat tujuan lain, Fang Yin pun menerima tawaran itu dengan senang hati. Dia dan Huamei menginap di sana malam ini.
Nenek tua itu memelihara beberapa ekor ayam di belakang pondok mereka. Kakek tua itu membantu sang nenek untuk menangkap ayam. Mereka ingin memasak ayam itu sebagai makan malam.
"Maaf, Nek. Aku tidak pandai memasak. Biasanya aku hanya memanggangnya saja dan menaburkan sedikit garam di atasnya." Fang Yin berbicara di sela-sela memasaknya.
"Sepertinya kamu seorang pengembara. Tidak heran jika pengembara tidak bisa memasak." Nenek tua itu tersenyum.
"Nenek benar. Aku tidak bisa tinggal dan berdiam diri hanya untuk berlama-lama melakukan kegiatan memasak. Semua waktuku hanya berlatih dan berlatih." Fang Yin tidak ingin nenek itu salah paham padanya. Tidak masalah jika orang tua itu tahu jika dirinya adalah seorang kultivator.
Berbeda dengan Fang Yin, sebenarnya Huamei sangat pandai memasak. Namun, Fang Yin sudah terlanjur bilang jika mereka adalah pengembara, jadi dia hanya melengkapi perannya saja sebagai pribadi yang tidak jauh beda dengannya.
Makan malam mereka telah siap. Mereka makan bersama dengan menu sederhana yang mereka masak. Kakek tua itu lebih banyak melakukan aktifitasnya di sekitar rumah untuk berkebun dan beternak. Usianya yang lebih tua dari istrinya membuatnya tidak bisa beraktifitas berat.
Malam itu, Fang Yin dan Huamei menginap di pondok reyot milik mereka. Tidak terlalu nyaman, tetapi lebih baik ketimbang mereka tinggal di hutan.
Pagi-pagi sekali mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Fang Yin memberikan sejumlah koin emas pada nenek itu untuk memperbaiki rumahnya dan membeli keperluannya. Nenek tua dan suaminya merasa sangat berterima kasih kepadanya.
"Xiao Yin, sepertinya kamu sangat kaya. Kamu tidak sayang memberikan begitu banyak koin emas untuk orang yang baru kamu kenal. Kamu terlalu dermawan," ucap Huamei tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Fang Yin.
Fang Yin tidak menjawab. Dia tidak ingin Huamei tahu lebih jauh tentangnya.
Huamei tidak melanjutkan pertanyaannya karena dia tahu jika Fang Yin tidak menyukainya. Sedikit banyak dia mulai tahu dengan kebiasaan sahabat barunya itu. Dia tidak suka seseorang mengorek informasi tentangnya.
Perjalanan keduanya terbilang cukup lancar. Mereka mulai memasuki wilayah Benua Selatan setelah menempuh perjalanan selama hampir seminggu. Sebenarnya Fang Yin bisa sampai lebih cepat dari itu, tetapi dia sangat peduli pada bayi Huamei dan mengajaknya beristirahat beberapa kali dalam perjalanan.
Gunung Lonjie dan Gunung Shuyin telah tampak di kejauhan. Mereka masih membutuhkan waktu setengah hari lagi untuk sampai di Lembah Maut. Saat ini mereka sedang beristirahat di bawah sebuah pohon besar untuk melemaskan otot-otot mereka yang tegang setelah berjalan.
"Kita hampir sampai, Huamei. Apa rencanamu?" tanya Fang Yin. Saat ini dia sedang tidur dengan beralaskan kedua lengannya sembari menatap langit.
"Aku tidak tahu. Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengan Xiao Peng. Dia masih mengingatku atau tidak pun aku juga tidak tahu. Saat anggota Sekte Seruling Maut menjemputnya, dia sedikitpun tidak menoleh padaku." Huamei menunduk sedih.
Fang Yin bangun lalu menatap Huamei lekat-lekat. Perasaan yang campur aduk membuatnya kesulitan untuk menyusun kata-kata. Saat ini kondisi perasaan Huamei sedang gamang. Jika tidak hati-hati berbicara maka dia akan membuatnya semakin terpuruk.
"Mungkin itu adalah cara Xiao Peng melindungimu," ucap Fang Yin singkat.
Setelah mengatakan itu, Fang Yin kembali menerawang jauh ke tempat yang tidak terjangkau oleh mata.
__ADS_1
"Mungkin kita akan mengalami banyak kesulitan setelah ini. Hubungan kalian begitu rumit, tapi kamu harus yakin dengan jalan yang telah kamu pilih."
Huamei menatap Fang Yin dengan tatapan bimbang. Hatinya merasa ragu dan hanya berpikir tentang kematian.
"Jika aku bertahan di klanku maka aku dan anakku akan mati, begitu juga di sini, mungkin aku juga akan mati. Namun, sebelum aku mati, setidaknya anakku bisa melihat ayahnya dan begitu juga sebaliknya. Hatiku akan merasa damai meskipun perjalanan cintaku tidak akan berjalan manis." Huamei terlihat begitu pasrah dengan keadaan.
"Kita tidak tahu apakah ini sebuah akhir yang buruk atau awal yang manis," ucap Fang Yin menyiratkan akan keadaan yang belum pasti.
Huamei menatap Fang Yin dengan penuh perasaan. Di saat dia sedang terpuruk hanya Fang Yin yang memberinya sedikit pencerahan. Dengan kata-katanya, dia bisa merasakan adanya setitik harapan.
Mereka kembali berjalan dan mengabaikan sesuatu yang membuat mereka bersedih. Segalanya belum pasti. Sekejam apapun seorang ayah, pasti dia tidak akan tega untuk menyakiti putranya, pikirnya.
Suasana masih remang-remang ketika mereka sampai di Lembah Maut. Huamei dan Fang Yin berdiri mematung berpikir bagaimana caranya untuk masuk ke dalam wilayah itu.
Kehidupan mereka sangat tertutup dan sulit untuk mendapatkan informasi tentang mereka. Selama ini mereka hanya mendengar jika Sekte Seruling Maut sangat kejam dan menakutkan.
Sreettt! Sreett! Sreettt!
Tiga buah anak panah meluncur ke arah mereka dan mendarat tepat di bawah kaki mereka.
Jika mereka mau, anak panah ini bisa saja diarahkan tepat ke tubuh keduanya. Namun, sepertinya mereka hanya menjadikan ini sebagai peringatan.
Tidak lama berselang setelah kemunculan anak panah itu. Tiga orang muncul di hadapan Fang Yin dan Huamei. Wajah mereka tidak terlalu jelas karena hari sudah mulai gelap.
"Siapa kalian? Apakah kalian tidak tahu jika ini adalah wilayah terlarang? Tanpa undangan dari kami siapapun tidak bisa masuk, kecuali ingin menyerahkan nyawanya untuk kami." Salah satu dari mereka berbicara dengan lantang untuk memberi peringatan pada Fang Yin dan Huamei.
Kali ini Huamei yang maju ke depan. Dia yang memiliki urusan dengan sekte ini. Meskipun Fang Yin juga memiliki urusan, tetapi dia tidak mengungkapkannya secara langsung. Misinya sangat rahasia dan tidak boleh diketahui oleh siapapun.
"Namaku adalah Huamei. Aku adalah istri dari salah satu anggota Sekte Seruling Maut. Aku tidak membawa niat yang buruk dan hanya ingin menunjukkan bayi ini pada ayahnya. Sampai saat ini aku belum memberinya nama," ucap Huamei yang terlihat berani. Dia bisa berbicara dengan lancar meskipun dengan nada yang bergetar.
Ketiga orang itu tidak lantas percaya. Mereka berjalan mendekat dan menghampiri Huamei dan bayinya. Darah keturunan sekte ini memiliki ciri khusus yang hanya diketahui oleh mereka, jadi tidak ada yang bisa mengaku-ngaku sebagai keturunan Klan Yao.
Salah satu dari mereka mengulurkan tangannya ke depan dan menyentuh kepala bayi Huamei. Cahaya aneh muncul dan menyelimuti tubuh bayi itu. Tubuh orang yang memegang kepala bayi itu terpental ke belakang dan terdorong hingga beberapa langkah.
Dia memegangi dadanya dan terbatuk seperti sedang mengalami luka dalam yang sangat serius. Kedua temannya datang menghampirinya dan menyalurkan energi mereka untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya salah satu temannya.
Orang yang menyentuh kepala bayi Huamei mengangguk.Tenaganya seperti terhisap oleh bayi itu dan membuatnya kehilangan sebagian besar kekuatannya.
Bayi Huamei memang merupakan keturunan Klan Yao. Namun, dia memiliki kekuatan di luar batas yang sangat mengerikan. Mereka bahkan tidak bisa melawan ketika bocah itu menghisap energinya.
"Kamu boleh ikut bersama kami tetapi tidak dengan wanita itu. Hanya kamu dan bayimu saja yang boleh ikut," ucap pria itu dengan nada tegas.
Huamei menatap ke arah Fang Yin dengan perasaan sedih. Dia tidak ingin berpisah dengannya.
Fang Yin mengangguk memberinya dukungan. Dia harus bersabar dan menunggu kesempatan untuk masuk ke sekte itu walaupun tidak sekarang.
"Aku harus membawanya juga. Dia adalah pengasuh bayiku. Hanya dia yang mampu menenangkan bayiku ketika menangis," bohong Huamei.
Ketiga pengawal itu terlihat berpikir, seperti dikomando, bayi Huamei pun menangis dengan sangat keras. Suara tangisnya terdengar sangat menakutkan. Sebenarnya Huamei hanya asal bicara dan beralasan saja, tetapi bayinya benar-benar tidak mau diam saat dia berusaha menenangkannya.
Huamei membawa bayinya mendekat pada Fang Yin yang diam terpaku. Dia tidak ingin gegabah demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Tujuannya sudah semakin dekat, butuh kesabaran untuk menunggu kesempatan itu datang.
Bayi Huamei masih menangis dengan kencang hingga Fang Yin mengambilnya dalam dekapannya. Bayi itu seperti mengerti apa yang diinginkan oleh ibunya. Seketika dia langsung terdiam ketika berada di dalam gendongan Fang Yin.
Ketiga anggota Sekte Seruling Maut itu berjalan mengelilingi Fang Yin. Mereka curiga dan berpikir jika Fang Yin memiliki sihir. Setelah memastikan bahwa tidak ada jejak energi yang keluar dari tubuhnya, mereka meyakini jika bayi itu memang tenang karena terbiasa
Mereka akhirnya memutuskan untuk mengijinkan Fang Yin ikut masuk bersama mereka.
'Anak pintar. Kamu tahu bagaimana caranya membalas budi.' Fang Yin tersenyum senang lalu berjalan mengikuti Huamei dan ketiga pria itu melintasi portal dimensi.
Ternyata ada pelindung tak terlihat yang membatasi wilayah Lembah Maut dengan dunia luar. Dua orang anggota Sekte Seruling Maut berdiri di samping membukakan jalan untuk Huamei dan Fang Yin. Setelah semuanya melewati pelindung itu, keduanya mengawal mereka di belakang dan salah satu dari mereka memimpin di depan.
Di hadapan mereka berdiri villa-villa yang indah dengan lentera-lentera yang bertebaran sebagai penerangan.
Orang yang berjalan di depan menghentikan langkahnya dan memberi isyarat pada mereka semua untuk berhenti di depan sebuah aula
"Kalian tunggu di sini. Jangan bergerak sedikitpun sebelum aku datang! Aku ingin pergi melaporkan kedatangan kalian." Pria itu membuat sebuah lingkaran api di sekeliling Fang Yin dan Huamei sebelum pergi.
Fang Yin dan Huamei saling berpandangan. Mereka tidak mengerti mengapa mengurung keduanya dalam lingkaran api.
****
__ADS_1
Bersambung ....