
Kaisar Ning yang mengambil wujud naga berputar-putar di dalam ruang rahasia sambil terus tertawa. Beberapa perabot tersentuh oleh ekornya dan berjatuhan ke lantai. Sebagian benda yang mudah terbakar juga mulai mengeluarkan asap.
Tidak ingin koleksinya rusak, Kaisar Ning mengubah wujudnya kembali menjadi manusia biasa. Pakaiannya yang telah hangus terbakar membuat tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun yang tersisa.
"Aku merasa kembali menjadi muda lagi. Kulitku menjadi halus dan kencang, tulang-tulangku juga terasa kuat." Kaisar Ning mengamati perubahan pada tubuhnya.
Di ruangan itu tidak ada cermin sehingga dia tidak bisa melihat perubahan wajahnya. Setelah merasa puas dengan kekagumannya pada dirinya sendiri, Kaisar Ning segera mengenakan pakaian kebesaran yang dia simpan di dalam cincin penyimpanannya.
Udara panas di dalam ruangan itu belum sepenuhnya menghilang. Setelah kembali ke dalam wujud manusia, Kaisar Ning bisa merasakan betapa besarnya jejak energi yang ditinggalkannya saat berwujud Naga Api.
Kaisar Ning terlihat tidak sabar untuk membagi kebahagiaan yang dia rasakan kepada keluarganya. Tanpa berpikir panjang dia segera meninggalkan ruangan itu dan pergi ke istananya. Langkahnya begitu ringan dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Di luar ruangan terlihat beberapa orang pengawal dan pelayan istana sedang bekerja. Mereka melihat Kaisar Ning keluar dari ruang rahasia. Jika tidak menggunakan pakaian yang biasa digunakan, mungkin mereka akan menyangka dirinya adalah seorang penyusup.
Para pengawal dan pelayan terpana melihat perubahan penampilan Kaisar Ning. Beberapa di antara mereka terbengong hingga lupa untuk memberi hormat ketika Kaisar Ning melintas di hadapannya.
Kaisar Ning tidak mempermasalahkan hal itu karena dia sedang bahagia. Di sepanjang perjalanannya terus diwarnai dengan kejadian yang sama. Semua mata seakan ingin terus menatapnya karena ketampanannya.
Saat ini Kaisar Ning tampak seperti seorang pemuda yang baru menginjak umur dua puluh lima tahun. Bahkan mungkin terlihat lebih muda dari itu.
Permaisuri Ning sedang menyulam kain di teras ketika Kaisar Ning tiba di halaman istana. Untuk beberapa saat dia belum menyadari perubahan tubuh Kaisar Ning hingga suaminya itu berjalan menghampirinya dan berdiri di sampingnya dalam jarak yang sangat dekat.
"Ehemm!" Kaisar Ning berdehem agar Permaisuri Ning memperhatikannya.
Permaisuri Ning mendongak ke atas untuk melihat siapa yang datang. Hingga beberapa detik dia belum menyadari bahwa pria yang berdiri di sampingnya itu adalah Kaisar Ning. Dia malah memalingkan wajahnya dan berpikir jika pria itu adalah orang lain.
"Pantaskah seorang istri mengabaikan suaminya? Sungguh tidak sopan," ucap Kaisar Ning.
Permaisuri Ning terkesiap mendengar ucapan Kaisar Ning. Mata sipitnya membulat sempurna. Suara ini sangat dikenalnya tetapi tidak dengan wajah dan penampilannya.
"Yang Mulia!" pekiknya.
Tubuhnya bangkit perlahan lalu berdiri di hadapan Kaisar Ning. Masih dengan perasaan yang sama, kenyataan ini belum bisa diterima olehnya. Pemandangan menipu memaksanya mengingat sketsa wajah di masa lalu.
"Iya, ini aku. Kamu pikir siapa?" Kaisar Ning dengan bangga membuka tangannya untuk menunjukkan tubuhnya.
"Apa yang terjadi, Yang Mulia? Apakah Anda salah memakan sesuatu?" Permaisuri Ning terlihat panik. Dia berpikir jika perubahan yang terjadi pada Kaisar Ning bukanlah hal yang baik.
Kaisar Ning merasa kesal dengan sikap Permaisuri Ning. Tanpa banyak bicara lagi dia mengangkat tubuhnya lalu membawanya masuk ke istananya. Kain dan alat sulam milik Permaisuri Ning terlepas dari genggamannya dan jatuh berserakan di lantai.
***
Dalam perjamuan istana,
Para petinggi istana menatap kagum akan perubahan penampilan Kaisar Ning yang terlihat muda. Mereka tidak berani menyinggungnya dengan pertanyaan mengapa perubahan itu bisa terjadi. Bahkan kedua putranya sendiri pun tidak bisa berkata-kata ketika melihat wajah baru ayahnya untuk yang pertama kali.
Kaisar Ning terlihat begitu sombong dan mengatakan jika kekuatannya saat ini telah meningkat dengan pesat.
Dewan Kekaisaran bisa melihat dengan jelas aura energi yang menyelimuti Kaisar Ning. Pupil matanya terkadang berubah kuning kemerahan seperti api yang menyala. Mereka sangat familiar dengan aura ini.
"Yang Mulia, apakah ini adalah roh Naga Api yang tersimpan dalam penjara mantra?" tanya salah seorang pembesar istana yang dianggap sebagai tetua.
"Aku ingin membuktikan jika aku sanggup untuk mengendalikannya. Kaisar terdahulu begitu takut untuk menyerap kekuatan roh ini karena termakan oleh pemahaman yang tidak masuk akal." Kaisar Ning mendengus sombong.
__ADS_1
Orang-orang disekelilingnya menatapnya takjub. Mereka tidak menyangka jika Kaisar Ning masih bisa bertahan hidup setelah menyerap roh Naga Api legendaris yang begitu menakutkan. Selama beberapa generasi kekaisaran yang memimpin, hanya dirinya yang berani menyatukan tubuhnya dengan binatang roh tingkat tinggi tersebut.
Dengan roh pendamping di dalam tubuhnya, Kaisar Ning menjadi lebih percaya diri. Jamuan makan malam ini menjadi perwujudan suka citanya atas pencapaian yang dia miliki.
Seluruh negara bagian dan para aliansi kultivator menunduk patuh padanya. Mereka menganggap Kaisar Ning layak untuk menjadi pemimpin mereka, dengan kata lain mereka akan melawan siapapun yang ingin memberontak dan menggulingkan tahtanya. Selama ini Kaisar Ning memanjakan mereka dengan kemewahan dan segala bentuk kesenangan dunia.
Seperti juga malam ini, seluruh orang yang hadir di dalam jamuan makan mendapatkan hadiah istimewa berupa satu tail emas. Cara licik yang selalu dilakukan oleh Kaisar Ning untuk membuat para pendukungnya tetap setia kepadanya. Beberapa waktu yang lalu dia kembali menemukan lokasi pertambangan emas di wilayah Daratan Selatan sehingga membuatnya semakin royal pada para pengikutnya.
Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi tampak iri pada sang ayah. Mereka tidak rela melihat sang ayah terlihat lebih muda. Dia akan terlihat seperti seorang kakak jika berada di tengah-tengah mereka.
"Shen'er, aku merasa kesal melihat ketampanan ayah. Lihatlah para gadis itu! Mereka lebih memperhatikan ayah daripada kita. Sungguh tidak bisa dibiarkan," sungut Ning Yao Xi.
"Lalu kamu mau apa, Kakak Xi? Tidak mungkin kita berkelahi dengan ayah kita sendiri. Lagipula ayah tidak akan pernah menikah lagi. Dia telah bersumpah kepada ibu," hibur Ning Mu Shen.
"Aku rasa juga begitu. Meskipun dia sedikit sombong dan licik, tetapi dia orang yang setia." Ning Yao Xi akhirnya tidak ingin menyalahkan ayahnya lagi.
Keduanya terus berbicara hingga tidak menyadari akan kehadiran Kaisar Ning di belakang mereka. Beruntung dia hanya mendengar kalimat terakhir saja.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sejak tadi kalian terus menghindari ayah, apa kalian tidak senang jika ayah berubah menjadi tampan?"
Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi hampir pingsan karena terkejut. Mereka terlihat sangat tegang dan berharap ayahnya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Tidak, Ayah, bukan begitu. Kami sedang menunggu waktu senggang saja, kulihat tadi ayah begitu sibuk dengan para petinggi istana." Ning Yao Xi beralasan.
***
Keesokan harinya,
Kaisar Ning pergi ke bukit di belakang istana bersama kedua putranya. Mereka akan berlatih di sana hari ini. Selain untuk menunjukkan wujud naganya, Kaisar Ning juga ingin melatih Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi untuk membentuk formasi tiga bintang.
Hawa di tempat itu terasa dingin karena berada di dalam ketinggian. Batuan terjal dan runcing di atas permukaan tanah membuat mereka harus berhati-hati saat berlatih.
Setelah menarik kembali utusan dan membatalkan pengejaran Fang Yin, mereka harus berlatih keras untuk menghadapi ramalan yang memungkinkan untuk menjadi nyata.
Kaisar Ning mengajarkan beberapa teknik rahasia kepada putra-putranya. Mereka terlihat serius dalam latihan ini hingga melupakan banyak waktu yang mereka lalui. Hampir seharian mereka berlatih dan baru kembali saat matahari hampir tenggelam.
***
Selir Ning turun gunung dan berniat pulang ke istana. Setelah sekian lama dia akan pergi untuk menemui pamannya. Kabar tentang ramalan itu membuatnya begitu resah. Namun, sebelum pergi ke istana dia ingin pergi ke Gunung Perak untuk menemui Selir Shi.
Hubungan keduanya memang tidak bisa dikatakan baik, tetapi dia ingin meminta maaf kepada rival cintanya itu atas huru-hara yang terjadi. Setelah menepi dari kemewahan istana, hatinya lebih terbuka dan menyadari akan kesalahannya. Kenyataannya seperti apa setelah ini, dia pasrah jika Selir Shi membunuhnya sebagai balasan atas kejahatan yang dilakukannya.
Keadaan Kekaisaran Benua Timur menjadi hancur berantakan dalam kepemimpinan Kaisar Ning. Semula dia berpikir hanya ingin menyingkirkan Selir Shi dan putrinya saja. Tidak pernah terbesit di benaknya akan kehancuran Dinasti Gu.
Selir Ning duduk termangu di atas kudanya ketika sampai di kaki Gunung Perak. Hari mulai gelap dan semakin gelap dengan kabut mantra yang menyelimuti wilayah itu.
"Suku es melindungi wilayah ini dengan sangat baik. Meskipun aku berusaha, sepertinya akan sulit untuk menembus pelindung ini." Selir Ning terus berpikir untuk mencari cara agar bisa masuk ke Gunung Perak.
Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki kuda. Selir Ning tersenyum simpul dan merasakan ada secercah harapan untuk bertemu Selir Shi.
"Semoga orang-orang itu adalah penduduk Gunung Perak atau Selir Shi itu sendiri." Selir Ning terlihat tidak sabar.
Beberapa kali dia mengajak kudanya berjalan pelan dan berputar-putar di tempatnya. Tempat dia berdiri saat ini merupakan jalan satu-satunya menuju ke wilayah Gunung Perak.
__ADS_1
Guan Xing yang memimpin rombongan suku gletser merasa heran ketika melihat seorang wanita tengah berdiri seorang diri di perbatasan Gunung Perak. Jalur ini sangat jarang dilewati sehingga dia berpikir jika wanita itu adalah orang yang tersesat.
Selir Ning melompat turun lalu memberi hormat pada Guan Xing dan rombongan.
"Selamat petang, Tuan. Maaf jika kehadiranku mengganggu perjalanan Anda."
Guan Xing membalas hormat Selir Ning. Dia merasa tidak mengenal Selir Ning yang baru pertama kali ditemuinya. Menilik dari penampilannya, dia sangat sederhana dan elegan.
"Anda terlalu sopan, Nona. Apa yang Anda lakukan di sini. Tempat ini adalah tempat yang sangat berbahaya bagi orang yang tidak terbiasa dengan medannya," jelas Guan Xing.
"Maaf, Tuan. Saya memang sengaja datang ke tempat ini untuk menemui teman lama saya, Shi Yu Jie." Selir Ning berharap pria di hadapannya itu memberinya jalan.
"Kebetulan kami sedang menuju ke Gunung Perak, mari ikut kami." Guan Xing tidak ingin menahan rombongannya terlalu lama. Tanpa pikir panjang dia membawa serta Selir Ning ke dalam rombongannya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Perak. Pandangan mata Selir Ning dimanjakan oleh keindahan alam disekelilingnya. Mantra pelindung wilayah ini terbuka ketika darah keturunan suku es membawanya serta melintas gerbang tak terlihat.
Hari semakin gelap dan benar-benar gelap ketika mereka mencapai pemukiman penduduk. Lentera menyala di sepanjang jalan memberi penerangan. Rombongan itu berhenti di depan rumah keluarga Selir Shi untuk mengantar Selir Ning.
Tanpa curiga sedikitpun, Guan Xing membawa Selir Ning berjalan mendekati pintu rumah Shi Jun Hui.
"Sebentar aku akan memanggil pemilik rumah ini," ucap Guan Xing meminta Selir Ning untuk menunggu.
Guan Xing mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Namun, tangannya terhenti ketika pintu sudah terbuka sebelum dia berhasil menyentuhnya.
"Hei, bocah nakal! Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Masuk ... lah ...," ucapan Shi Jun Hui terjeda ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya berdiri di samping Guan Xing.
Guan Xing terlihat bingung saat melihat ekspresi Shi Jun Hui yang tiba-tiba berubah. Dia kemudian mengikuti arah pandangnya yang menatap tajam Selir Ning. Hingga detik ini dia belum menyadari jika pria di hadapannya itu tidak menyukai wanita yang dia bawa.
"Oh, iya, maaf aku sampai lupa untuk mengatakan siapa Nona ini. Dia ...."
Shi Jun Hui mengangkat tangannya sebagai isyarat agar dia diam.
Wajah Guan Xing menjadi tegang saat melihat sorot kebencian di mata Shi Jun Hui. Tatapannya terlihat sangat menakutkan.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kamu sudah bosan hidup? Kamu ibarat kelinci yang masuk ke kadang singa." Shi Jun Hui berbicara pelan dan penuh penekanan.
Gaya bicara yang biasa didengungkan oleh seseorang yang sedang menahan marah.
Saat ini hati Shi Jun Hui sangat bergejolak. Statusnya sebagai seorang ayah dan kakek memaksanya untuk meluapkan amarah dan dendam kepada Selir Ning. Sebuah pedang muncul di tangannya.
"Aku mohon jangan salah paham, Tuan Shi. Kedatanganku ke sini bukan untuk membawa permusuhan. Kumohon dengarkan aku, Tuan Shi," mohon Selir Ning.
Shi Jun Hui tidak ingin mendengarkan ucapan Selir Ning. Baginya dia adalah dalang dari semua kejadian buruk yang menimpa anak dan cucunya. Hingga detik ini, putri dan cucunya tidak memiliki muka di hadapan seluruh rakyat Kekaisaran Benua Timur.
Setiap satu langkah maju Shi Jun Hui, Selir Ning mengambil satu langkah mundur. Ribuan kata yang dia susun di kepalanya menjadi sangat berantakan karena takut yang dirasakannya. Bibirnya terus bergerak tetapi tidak satu katapun terucap darinya.
"Mengapa wajahmu terlihat begitu panik? Tunjukkan wajah aslimu yang begitu bahagia saat melihat kehidupan putriku hancur dan hina. Aku tidak akan membiarkanmu hidup kali ini jika kedatanganmu bukan untuk mengembalikan nama baik Yu Jie!" teriak Shi Jun Hui yang tidak bisa berkata lembut lagi.
Guan Xing dan semua orang yang berdiri di tempat itu mencoba untuk memahami obrolan mereka. Mereka memperlihatkan wajah yang tegang.
Rombongan suku gletser saling berbisik membuat suasana menjadi gaduh. Suara mereka terdengar hingga ke dalam rumah Shi Jun Hui dan membuat penghuninya pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi.
****
__ADS_1
Bersambung ....