
Fang Yin tidak segera menjawab pertanyaan kakeknya. Semua pasukan yang akan dia bawa adalah pasukan terpilih yang benar-benar siap untuk menghadapi medan pertempuran. Jumlah yang besar tidak menjamin sebuah kemenangan jika tidak memiliki kemampuan yang mumpuni.
"Aku tidak tahu, Kek. Kita harus mempertimbangkan banyak hal. Peperangan rentan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Untuk itu kita tidak boleh sembarangan untuk melibatkan orang di dalamnya," jelas Fang Yin.
"Cukup masuk akal. Kita akan menyeleksi anggota pasukan kita jauh-jauh hari. Jika perlu kita akan memberikan pelatihan khusus sebelum hari penyerangan dilakukan." Shi Jun Hui menambahkan.
"Apakah ada pendapat lain?" tanya Fang Yin sambil menatap Shi Han Wu dan Jian Heng.
Mereka menggeleng. Mengingat malam telah larut, Fang Yin dan yang lainnya pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Fang Yin tidak langsung tertidur ketika berada di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan daftar nama-nama orang yang akan dia rekrut dalam pemberontakan. Salah satunya adalah Nenek Lu dan pasukan serigalanya.
"Untung aku masih menyimpan token ini." Fang Yin mengeluarkan token pemberian Nenek Lu, mengamatinya sesaat lalu kembali memasukkannya ke dalam cincin penyimpanannya.
Fang Yin kembali mengingat nama lain di antaranya adalah Panglima Jing Zhoushan dari Benua Barat dan Kaisar Jing dari Benua Utara.
"Aku tidak mungkin untuk pergi keluar dari Gunung Perak. Kaisar Ning sudah tahu jika aku masih hidup. Hanya di tempat ini aku merasa aman." Fang Yin hanya bisa mengandalkan orang-orang terpercaya untuk melakukan tugas ini.
Merasa lelah dengan angannya Fang Yin pun bersiap untuk tidur. Sejak kedatangannya dia belum bisa beristirahat dengan baik.
Di kamar Selir Ning,
Tubuh Selir Ning menggigil karena suhu tubuhnya begitu panas. Selama hidupnya dia tidak pernah terluka separah ini. Siksaan dari Fang Yin membuatnya merasa seperti sedang berada di ambang kematian.
Obat yang diberikan oleh Selir Shi tidak cukup manjur untuk mengatasi rasa sakitnya. Meskipun dia tahu tentang ilmu pengobatan, tetapi tidak seperti Fang Yin yang memiliki jiwa seorang dokter yang berpengetahuan luas.
'Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku juga sangat sulit untuk membuka mataku. Rasanya lelah sekali. Apakah aku akan mati hari ini?' Selir Ning berbisik pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Saat ini dirinya seperti sedang berada di alam bawah sadarnya. Perlahan keadaan di sekelilingnya berubah menjadi gelap dan semakin gelap. Rasa dingin menggigil yang sebelumnya dirasakannya pun tidak terasa lagi.
Selir Ning seperti berada di sebuah dimensi yang tidak di kenalnya. Di sana dia tidak melihat siapapun.
"Aku tidak merasakan rasa sakit lagi di tubuhku. Bagaimana bisa aku sembuh dengan begitu cepat?" Selir Ning mengamati tangan kaki dan bagian-bagian tubuh lainnya yang sebelumnya terluka. Meskipun keadaan di sekitarnya begitu redup tetapi dia bisa melihat dengan jelas bahwa tidak ada luka lagi di sana.
Dengan langkah ragu-ragu Selir Ning berjalan berkeliling berharap bisa menemukan seseorang untuk ditanyainya. Kepalanya menoleh ke sana kemari tetapi tidak ada siapapun. Dia mulai merasa ketakutan saat sejauh matanya memandang yang ada hanyalah ruang gelap berkabut.
"Apakah aku hanya sendirian di sini? Selir Ketiga! Selir Ketiga! Apakah kamu bisa mendengarku?" teriak Selir Ning dengan wajah yang mulai putus asa.
Dia kembali berjalan cepat sambil terus mencari seseorang di tempat itu. Ini pertama kali baginya tinggal sendirian di tempat yang asih dan menurutnya sangat aneh. Tidak ada rumah, pepohonan ataupun pemandangan alam yang indah di sana.
"Yin'er! Selir Ketiga! Di mana ini? Tolong bawa aku pulang! Aku tidak ingin tinggal di sini sendirian." Selir Ning mulai terisak.
Terbayang kembali momen kebersamaan yang dahulu dia jalani ketika masih tinggal di istana bersama keluarganya yang bahagia. Kehidupan ideal yang diimpikan oleh semua orang telah dimilikinya. Namun, dia tidak memiliki rasa syukur dan ingin menikmati kehidupan itu tanpa Selir Shi, orang yang dianggapnya tidak pantas untuk Kaisar Gu.
Tangisnya tidak hanya sampai di situ saja. Selir Ning terus menangis dan menggumamkan penyesalannya dengan suara yang tidak begitu jelas. Setelah merasa lelah berjalan, dia duduk di tanah sambil memeluk lututnya.
Tubuhnya berguncang karena tangisnya dengan suara isak yang mulai melemah. Selir Ning mendongak ke atas ketika matanya menangkap sebuah bayangan yang berada di bawah kakinya. Matanya terbelalak ketika dia melihat wajah orang yang berdiri di hadapannya.
"Yang ... Yang Mulia," ucapannya pelan.
Sisa-sisa air mata masih menggenang di pipinya. Tulang dan sendinya terasa lemas ketika melihat Kaisar Gu yang telah lama mati berdiri di hadapannya dengan gagah di depan matanya. Selir Ning beringsut ke belakang dengan bertumpu pada tangannya. Dia terlihat seperti seorang yang lumpuh.
"Xia He, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Berhentilah bergerak!" seru Kaisar Gu dengan suara yang lembut.
Selir Ning menggeleng seolah berkata 'jangan sakiti aku.' rasa takutnya cukup beralasan karena dialah yang menjadi penyebab kematian suaminya itu. Dia berpikir jika Kaisar Gu bangkit untuk membalas dendam padanya.
__ADS_1
Kaisar Gu melangkah mendekati Selir Ning yang beringsut lambat. Wajahnya yang teduh tidak memperlihatkan kemarahan tetapi Selir Ning terlihat sangat ketakutan.
Sekuat apapun Selir Ning menghindar tidak bisa mengimbangi gerakan Kaisar Gu yang melangkah dengan kakinya.
"Yang Mulia, kumohon jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu mati, sungguh ...." Wajah Selir Ning semakin pucat karena takut.
"Hahaha! Kamu terlihat sangat lucu, Xia He. Sudah kubilang aku tidak akan membunuhmu. Jangan takut. Mari kita bicara dengan tenang." Kaisar Gu menatap Selir Ning dengan matanya yang sayu.
Selir Ning mulai menurunkan ketegangannya setelah merasa yakin jika Kaisar Gu tidak akan menyakitinya. Namun, dia masih terlihat waspada dan terlihat berhati-hati.
"Kamu pasti berpikir jika aku adalah hantu. Itu tidak benar, Xia He. Aku adalah kekuatan jiwa murni yang tinggal di dalam cincin giok yang kamu pakai," jelas Kaisar Gu.
Selir Ning melihat cincin yang dipakai di jari manis tangan kanannya. Cincin itu adalah pemberian Kaisar Gu pada hari ulang tahunnya. Dia lupa ulang tahun yang ke berapa, tetapi dia masih mengingat momen manis saat Kaisar Gu memberikan cincin itu untuknya.
"Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa kekuatan jiwa bisa berbicara dan berpikir seperti orang yang sama? Kuharap ini bukan sebuah ilusi mata yang hanya muncul dalam halusinasiku saja." Selir Ning memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kamu masih saja sama seperti dulu, Xia He. Kepopuleran di antara para istri lebih penting bagimu dibanding belajar kultivasi. Tapi kulihat sekarang kamu sudah banyak perubahan. Jurus pedangmu lumayan hebat," ucap Kaisar Gu sambil menatap Selir Ning dalam.
Selir Ning membalas tatapan itu dengan perasaan rindu yang sangat dalam. Setelah mendengar banyak hal dari pria yang mengaku sebagai kekuatan jiwa Kaisar Gu itu, dia semakin yakin jika dia bukan hantu pembunuh seperti yang dia pikir sebelumnya.
'Aku baru tahu jika ada kekuatan jiwa yang bisa mengerti banyak hal. Apakah selama ini aku memang sebodoh ini?' Selir Ning menunduk malu.
"Kamu tidak ingin tahu kenapa aku tiba-tiba muncul?" tanya Kaisar Gu.
****
Bersambung ....
__ADS_1