
Malam itu mereka menghabiskan waktu di atas atap villa Jian Heng sambil melihat indahnya bintang-bintang.
Mereka tidak banyak berkata-kata hanya terdiam menikmati kebersamaan yang hampir berakhir.
'Aku pasti akan sangat merindukanmu Xiao Yin. Aku tidak tahu apakah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak.' Jian Heng diam-diam mencuri pandang ke arah Fang Yin yang terlihat melamun melihat kosong ke angkasa.
Saat Fang Yin memergoki Jian Heng sedang memandanginya, Jian Heng terlihat gelagapan dan terburu-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Em, apakah kamu sudah memberitahu Ketua Sekte dan Ketua Lama jika kamu telah selesai mempelajari Kitab Sembilan Naga?" tanya Jian Heng.
Fang Yin menggeleng.
"Kamu tidak mengatakan jika aku memiliki salinan kitab itu, bukan?" tanya Jian Heng lagi.
"Aku tidak mengatakannya, tetapi Ketua Lama sepertinya merasa curiga jika kamu lah orang yang memiliki kitab itu."
Jian Heng tidak terkejut mendengar jawaban dari Fang Yin. Cepat atau lambat identitasnya pasti juga akan terbongkar. Sebagai seorang kultivator ranah dewa, Ketua Lama pasti memiliki insting yang sangat kuat.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyalahkanmu untuk hal ini. Malam sudah larut, sebaiknya kita beristirahat." Jian Heng beranjak dan bersiap untuk melompat turun, tetapi Fang Yin memegang tangannya.
"Tunggu sebentar!" Fang Yin melepaskan tangan Jian Heng lalu mengeluarkan sebuah kantung.
Ada beberapa pil pemulih energi yang dia miliki dan tidak terlalu dia butuhkan saat ini. Fang Yin juga bisa membuatnya lagi di kemudian hari.
"Apa ini?" Jian Heng tahu jika itu adalah pil tetapi tidak tahu akan kegunaannya.
"Ini adalah pil pemulih energi. Aku masih memiliki beberapa yang dihadiahkan oleh seseorang." Kakek Zhu memberinya pil yang sangat luar biasa. Selama pil itu masih ada Fang Yin tidak perlu khawatir meskipun belum sempat untuk membuat pil yang sama lagi.
"Terimakasih. Aku memang sangat membutuhkannya. Tetapi pil ini bisa membuatmu sangat kaya jika kamu mau menjualnya." Jian Heng merasa jika pil itu terlalu banyak.
Melihat Fang Yin sudah turun, Jian Heng pun segera pergi untuk menyusulnya.
Sebenarnya Fang Yin tidak marah ataupun kecewa. Dia hanya merasa jika Jian Heng itu sangat bodoh.
"Selamat beristirahat," ucap Jian Heng ketika berhasil mengejar Fang Yin dan menjajari langkahnya.
__ADS_1
"Selamat beristirahat untukmu juga." Fang Yin membuka pintu kamarnya lalu masuk meninggalkan Jian Heng yang terpaku.
'Syukurlah dia tidak marah.' Jian Heng melihat sekilas sekantong pil di tangannya lalu menyimpannya di dalam kantong penyimpanannya.
Pagi hari di Sekte Sembilan Bintang.
Pagi-pagi sekali Fang Yin sudah bangun dan mengemasi barang-barang miliknya. Semuanya dia masukkan ke dalam cincin penyimpanannya tanpa ada yang tersisa. Selama ini Fang Yin memang tidak memiliki banyak barang pribadi.
Pelayan yang bekerja di bagian konsumsi belum mengantarkan jatah makan untuk Fang Yin dan Jian Heng.
"Tetua Yu, aku ingin pergi ke luar dulu untuk menemui Ketua Lama," pamit Fang Yin ketika melihat Jian Heng tengah duduk melamun di teras.
"Pergilah!" jawabnya singkat dan tidak bersemangat.
'Kenapa lagi orang ini? Sepertinya sikap acuhnya sedang kambuh.' Fang Yin berjalan meninggalkan Jian Heng dan pergi ke villa Ketua Lama.
Sebelum mencapai tempatnya, Fang Yin melihat Ketua Lama sedang duduk bermeditasi di atas sebuah batu di depan villa miliknya.
__ADS_1
****
Bersambung ....