Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 336. Kedatangan Raja Iblis Api


__ADS_3

Fang Yin maju ke depan mendekati Da Xia dan Huang Ran yang terlihat menyedihkan di pangkuannya. Bekuan es di tubuhnya semakin bertambah dan hampir menenggelamkan seluruh tubuhnya.


Dia kemudian membuka telapak tangannya dan mengeluarkan sebuah pil. Pil itu lalu diserahkannya pada Da Xia agar diberikan pada Huang Ran. Setelah itu dia kembali membuka telapak tangan kanannya dengan posisi menghadap ke bawah dan mengalirkan Qi pengobatan ke tubuh Huang Ran.


Di kejauhan terlihat Jian Heng bergerak cepat menghampiri Fang Yin untuk melihat apa yang terjadi. Dirinya merasa ada yang aneh karena Fang Yin tiba-tiba mengobati musuhnya yang tengah sekarat. Namun, dia tidak berani bertanya saat kekasihnya itu sedang berkonsentrasi.


Perlahan bekuan es yang menyelimuti tubuh Huang Ran mulai mencair seiring dengan Qi pengobatan yang dialirkan ke tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, keadaannya sudah kembali normal seperti sedia kala.


Fang Yin kemudian memintanya berdiri dan mencoba berjalan. Setelah dirasa sudah baik-baik saja, dia tidak memberinya pengobatan lagi.


"Aku sudah baik-baik saja. Terimakasih. Maaf jika aku telah berbuat tidak menyenangkan padamu sebelumnya." Huang Ran mengucapkan terimakasih dan meminta maaf pada Fang Yin.


Da Xia menyusul Huang Ran berdiri.


"Terimakasih, Teman Lama. Aku tahu kamu orang yang peduli. Dengan segala kerendahan hati, Da Xia mengucapkan terimakasih."


"Hmm." Fang Yin membalas ucapan keduanya dengan anggukan. "Sekarang katakan tentang apa tujuanmu menyerang Selir Ning?"


Fang Yin masih tetap Fang Yin yang dulu yang tidak suka berbasa-basi. Kesabarannya sangat sedikit dan tidak suka menunggu. Sorot matanya yang tajam terus menatap Huang Ran seolah memintanya untuk segera melakukan apa yang diinginkannya.


"Baik, Nona. Aku sudah lama memiliki dendam pada Selir Ning jauh sebelum pemberontakan Kaisar Ning terjadi." Huang Ran mengambil jeda untuk melihat perubahan ekspresi wajah Fang Yin.


Jauh di luar dugaannya, Fang Yin terlihat begitu tenang menanggapi ceritanya. Sikapnya tidak menyiratkan keterkejutan atau semacamnya sehingga membuat Huang Ran tidak ingin menunda ceritanya lebih lama lagi.


"Saat itu aku masih remaja. Ayahku adalah seorang anggota dewan kekaisaran yang bekerja untuk Kaisar Gu. Hingga akhir hayatnya ayahku masih tetap setia padanya. Selir Ning beberapa kali telah menghasut ayahku dan memintanya untuk memihaknya, dia memfitnah Selir Shi dan anaknya karena rasa iri. Aku curiga jika pembantaian terhadap Kaisar Gu juga merupakan rencana liciknya. Jadi, apa yang aku lakukan hari ini adalah untuk membalas dendam atas kematian orang tuaku," jelas Huang Ran.


"Siapa orang tuamu?" tanya Fang Yin kemudian.


"Dewan hukum Jing Hao Ran," jawab Huang Ran.


Fang Yin menatapnya menyelidiki dan mencoba menggali ingatannya di masa lalu. Meskipun tidak sering, Fang Yin pernah beberapa kali menghadiri sidang istana di mana seluruh dewan kekaisaran dan pembesar istana berkumpul di sana. Wajah Huang Ran memang memiliki kemiripan dengan Jing Hao Ran.


Sebelum pengadilan untuknya dan ibunya dilakukan, Jing Hao Ran memang dikabarkan telah meninggal bersama keluarganya akibat perampokan. Fang Yin tidak menyangka jika perampokan itu adalah sebuah rekayasa. Tentang kebenarannya seperti apa dia tidak tahu karena saat itu dia belum tahu apa-apa.


"Awalnya aku juga berpikir jika dalang dibalik semua ini adalah Selir Ning. Aku juga seperti dirimu yang begitu membenci dan ingin membunuhnya. Tetapi rupanya aku salah karena Selir Ning hanyalah sebuah alat. Memang benar dia membenci Selir Shi dan putrinya, tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk membantai sebuah klan," jelas Fang Yin.


"Kamu bukan korban sehingga tidak mengerti apa yang kurasakan saat kehilangan keluarga. Kehidupanku hancur dan menjadi berantakan akibat ulah Klan Ning. Mereka melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya. Aku heran bagaimana bisa Selir Shi begitu sabar menghadapinya dan memaafkan kejahatan Selir Ning." Huang Ran masih terlihat emosi.


"Tahu apa kamu tentang diriku. Buka matamu lebar-lebar dan lihat siapa aku!" Fang Yin membuka penutup wajahnya di hadapan Huang Ran dan Da Xia.


Jian Heng tidak berusaha mencegahnya. Sudah saatnya semua orang tahu siapa dirinya. Penyerangan ke Kekaisaran Benua Timur akan segera diagendakan, dia yakin jika kedua orang di hadapannya ini akan menjadi pendukungnya setelah tahu siapa wanita di hadapannya ini.


Fang Yin menarik tali penutup wajahnya dan membukanya perlahan. Seharusnya Huang Ran mengenalnya meskipun sebelum pemberontakan terjadi dia masih menjadi seorang gadis remaja. Namun, dari segi kemiripan dan struktur wajah tentu tidak banyak mengalami perubahan.


Da Xia dan Huang Ran saling berpandangan. Ini pertama bagi Da Xia melihat wajah Fang Yin. Keduanya memiliki reaksi yang berbeda karena saat Kaisar Gu berkuasa Huang Ran sering bertemu dengannya dan melihat wajahnya.


"Put-putri Gu Fang Yin!" pekik Huang Ran.


Setelah menatapnya beberapa saat dan meyakinkan dirinya, Huang Ran baru benar-benar yakin jika wanita di hadapannya itu adalah Gu Fang Yin. Dia menjatuhkan dirinya dan berlutut di kaki Fang Yin untuk memberi hormat.


"Huang Ran memberi hormat dan meminta maaf atas ketidaksopanan yang hamba buat, Putri." Kedua tangan Huang Ran menyatu memberi hormat.


"Aku menerima ketulusanmu, bangunlah!" ucap Fang Yin.


Da Xia pun melakukannya dan Fang Yin pun memintanya untuk bangun. Dia tidak menyangka jika gadis kecil yang ditemukannya di tengah hutan adalah seorang putri yang terbuang. Lebih tepatnya melarikan diri dari kejaran pemberontak yang ingin menghabisinya.


Keadaan kembali terkendali. Tidak ada lagi aura permusuhan di antara keduanya.


Fang Yin memperkenalkan Jian Heng kepada mereka berdua lalu menceritakan rencananya. Semua hal tentang Selir Ning juga dia ceritakan agar Huang Ran tidak lagi mengusiknya. Meskipun sebelumnya dia sangat licik, tetapi saat ini dia telah berubah dan menjadi orang yang berbeda.


Huang Ran percaya pada semua yang dikatakan oleh Fang Yin. Dia tidak lagi menaruh dendam pada Selir Ning, apalagi setelah tahu jika ada kekuatan jiwa Kaisar Gu yang menyatu di tubuhnya.


Belum saatnya dia membuka wajahnya selamanya. Fang Yin kembali menutupnya sebelum kembali kepada ke keluarganya.


Mereka berempat berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke pemukiman penduduk. Sudah sangat lama Da Xia tidak pulang ke Gunung Perak setelah kematian orang tuanya. Berada di sini hanya akan membangkitkan kenangan di masa lalunya yang membuatnya bersedih.


Pondok yang dimiliki keluarga Da Xia telah ditempati oleh orang lain, tetapi dia yakin jika dirinya tetap akan diterima oleh keluarga yang menempatinya untuk tinggal beberapa waktu di sana. Namun, sebelum pergi ke sana Fang Yin membawa Huang Ran dan Da Xia untuk bertamu ke rumahnya.


'Kak Da Xia pasti tidak tahu jika kakek Han Wu ada di sini. Aku memang sengaja tidak mengatakannya biar dia terkejut dengan guru legendarisnya.' Fang Yin menahan diri untuk bicara tentang Shi Han Wu. Tersungging senyum di sudut bibirnya yang tertutup oleh kain.


Mereka memperlambat langkah ketika telah memasuki pemukiman penduduk. Di teras rumah keluarga Fang Yin terlihat Shi Jun Hui sedang mengobrol bersama Shi Han Wu. Keduanya baru menyadari kehadiran dua orang asing bersama Fang Yin dan Jian Heng.


Shi Han Wu beranjak dari duduknya dan memperhatikan dua orang asing yang datang. Kepalanya terlihat bergerak-gerak saat berusaha mengingat wajah salah satu di antaranya.


Penampilan Shi Han Wu yang tidak berubah membuat Da Xia langsung mengenalinya. Dia kemudian berlari dengan cepat menghampirinya.

__ADS_1


"Guru Han!" teriak Da Xia.


Shi Han Wu tercengang saat menyadari jika itu adalah Da Xia. Murid kecilnya yang memiliki kejeniusan di atas yang lainnya. Sesaat sebelum dia pergi meninggalkan Gunung Perak, mereka adalah seorang guru dan murid.


Shi Jun Hui kemudian juga mengingat Da Xia sebagai kultivator kebanggaan suku es yang membantai banyak pengacau. Beberapa tahun ini banyak sekali oknum yang ingin membasmi habis seluruh keturunan suku es. Belum diketahui secara pasti apa tujuan orang itu melakukannya tetapi sudah banyak korban yang berjatuhan.


Penduduk suku es harus merasakan kekhawatiran ketika pergi keluar melewati batas pelindung dan bertemu dengan orang luar. Sebisa mungkin mereka harus menutupi identitasnya sebagai keturunan suku es agar selamat dari pembunuhan.


Suku es yang merdeka dan banyak dipuja di berbagai negara mungkin menjadi salah satu pemicunya. Para kultivator dari berbagai ras menganggap mereka sebagai ancaman yang bisa menggeser kepopuleran mereka. Lebih tepatnya mereka tidak ingin tersaingi dan ingin dianggap sebagai yang terkuat.


"Da Xia memberi hormat kepada guru Han dan Tetua Jun." Da Xia memberi hormat diikuti oleh Huan Ran.


"Semoga selalu berbahagia," jawab Shi Han Wu.


"Semoga diberi umur panjang," balas Shi Jun Hui.


Mendengar suara ribut-ribut di luar, Yu Ruo, Selir Shi dan Selir Ning yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka pun tertarik untuk pergi keluar.


Selir Ning bersembunyi di balik punggung Selir Shi ketika melihat Huang Ran. Saat ayahnya masih menjabat sebagai anggota Dewan Kekaisaran, mereka sering bertemu. Dia dihantui rasa bersalah ketika mengingat kejahatannya di masa lalu.


Setelah berbasa-basi sebentar mereka lalu pergi ke ruang tamu untuk menikmati jamuan sederhana. Selir Ning masih merasa gugup ketika bersitatap dengan Huang Ran. Gerak-geriknya mendapat perhatian khusus dari Fang Yin yang sudah tahu cerita tentang mereka.


Diam-diam dia merencanakan sebuah pertemuan untuk mendamaikan keduanya tanpa melibatkan siapapun.


***


Di malam hari,


Fang Yin mengajak Selir Ning pergi berlatih di tempat yang agak jauh dari rumah mereka. Sebelumnya, dia sudah meminta Da Xia untuk membawa Huang Ran untuk menyusulnya.


Selir Ning dan Fang Yin berlatih teknik pedang. Mereka terlihat sangat kompak melakukan gerakan saat berlatih. Pedang yang mengandung Qi berkilau di tengah kegelapan dan terlihat sangat indah.


Da Xia dan Huang Ran datang di tengah lathan mereka. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Fang Yin dan Da Xia ingin mendamaikan Huang Ran dan Selir Ning.


Selir Ning menghentikan gerakannya dan terlihat salah tingkah saat melihat kedatangan Huang Ran dan Da Xia. Seketika konsentrasinya menjadi buyar dan tidak mungkin untuk melanjutkan latihan.


"Selamat malam, Kak Da Xia, Huang Ran," sapa Fang Yin menyapa keduanya.


"Selamat malam, Putri Gu."


Sikap yang tidak jauh beda dengan sikap Fang Yin beberapa waktu lalu di mana dia begitu acuh pada Selir Ning meskipun dirinya telah memaafkannya.


"Ibu, maaf jika kehadiran Huang Ran membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin membuat kalian berdamai saja," ucap Fang Yin lebih memperhatikan Selir Ning agar dia tidak merasa sendirian di tengah orang-orang yang membenci Klan Ning.


"Aku merasa sangat bersalah padanya. Meskipun aku beberapa kali ditolak oleh ayahnya saat memintanya untuk melakukan pekerjaan kotor yang aku tawarkan, tetapi sungguh bukan aku yang membunuh keluarganya. Ada orang yang sengaja mengambil kesempatan itu sehingga menimbulkan kesan seolah-olah aku yang melakukannya," jelas Selir Ning.


Huang Ran mencoba mencerna ucapan Selir Ning dan kembali mengingat peristiwa di masa lalunya. Beberapa orang berpakaian serba hitam masuk ke kediamannya di tengah malam setelah melumpuhkan penjaga di rumahnya. Kejadiannya begitu cepat sehingga dirinya tidak bisa mengenali para pelaku.


Hiang Ran sendiri selamat karena dia sedang tidak berada di kamarnya. Dia baru saja kembali dari sebuah perayaan. Merasa tidak mampu menghadapi lawannya, dia memilih bersembunyi di balik dinding saat melihat para pembunuh itu keluar dari rumahnya.


Penasehat Ning malah menuduhnya sebagai dalang di balik pembantaian keluarganya dengan motif rasa iri. Mulai hari itu, Huang Ran memilih untuk pergi meninggalkan istana dan hidup di alam bebas. Dia pergi membawa dendam dan berniat untuk membalasnya di kemudian hari.


Satu-satunya orang yang patut dia curigai adalah Selir Ning karena sebelumnya dia yang terakhir menemui ayahnya untuk mengajaknya bekerja sama untuk memfitnah Selir Shi. Namun, pikirannya sedikit terbuka setelah mendengar penjelasan Selir Ning. Sepertinya memang bukan dia yang melakukannya mengingat pembunuh keluarganya merupakan beberapa kultivator yang cukup kuat dan bukan berasal dari lingkungan istana, sementara Selir Ning tidak pernah berhubungan dengan dunia luar sebelumnya.


"Hampir saja aku membunuh orang yang salah. Kupikir Anda yang menjadi dalang di balik pembantaian keluargaku. Apakah Anda tahu siapa orang yang melakukannya?" tanya Huang Ran.


"Aku sendiri tidak tahu pasti tetapi kurasa hanya paman Ning yang bisa melakukannya. Saat itu aku hanya ingin menyingkirkan Selir Shi dan Yin'er. Tidak kusangka paman Ning juga membantai seluruh Klan Gu dan keluargaku. Aku sungguh menyesal telah bekerja sama dengan orang yang salah. Setelah dia mengambil alih kekuasaan, aku tidak ingin lagi tinggal di istana dan memilih meninggalkan segala kemewahan yang membuatku menjadi pendengki." Selir Ning berbicara dengan suara yang berat menggambarkan rasa sesal yang menghimpit hatinya.


"Mari kita lupakan masalah ini dan bersama-sama merebut kembali Benua Timur dan menjadikannya negeri yang penuh kedamaian. Sudah saatnya kejahatan Kaisar Ning dilenyapkan dari negeri ini." Huang Ran tidak lagi mendendam pada Selir Ning dan siap untuk bekerja sama dengannya.


Apa yang dihadapi oleh Selir Ning setelah ini tidak akan mudah mengingat dia harus berperang menghadapi keluarganya sendiri. Semuanya dia lakukan bukan hanya sekedar untuk menebus kesalahannya pada Selir Shi tetapi benar-benar ingin menegakkan kebenaran dan keadilan.


Terlalu banyak kejahatan yang dilakukan oleh Kaisar Ning yang membuat Kekaisaran Benua Timur menjadi sangat berantakan. Kehidupan masyarakatnya yang carut marut menyebabkan kesenjangan dan berbagai tindakan kriminal muncul setiap harinya.


Tidak peduli apa pendapat orang, Selir Ning sudah membulatkan tekadnya untuk berdiri di pihak yang benar dan mendukung Fang Yin.


Malam itu, mereka kembali ke desa dengan perasaan yang damai. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak berbicara dan memilih untuk fokus pada perjalanannya menggunakan teknik melangkah cepat.


Duarr! Boom!


Sebuah ledakan keras terdengar di luar wilayah Gunung Perak. Hanya kekuatan yang besar yang bisa mengeluarkan suara ledakan seperti itu. Langit malam yang gelap menampakkan kilatan api singkat dari arah tenggara.


Mereka melihat Jian Heng, Shi Jun Hui dan Shi Han Wu melesat terbang menuju ke arah ledakan. Di belakangnya Selir Shi dan juga Yu Ruo mengikutinya. Setelah itu masih ada beberapa tetua dan Patriak Shi terbang mengikuti mereka.


"Sepertinya kita juga harus ikut ambil bagian," ucap Huang Ran.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat!" seru Da Xia.


Mereka berempat berbalik arah dan menyusul orang-orang yang sudah berangkat lebih dulu. Fang Yin mengeluarkan artefak daun dan meminta mereka bertiga untuk naik bersamanya.


Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengejar rombongan keluarga Shi yang telah berangkat sesaat sebelum mereka.


"Yin'er. Kupikir kamu sudah berangkat lebih dulu," ucap Jian Heng terbang mendekati kekasihnya itu.


"Kami melihat keberangkatan kalian saat kami hampir sampai di desa."


Jian Heng mengangguk mendengar penjelasan Fang Yin lalu kembali fokus untuk melihat ke depan.


Perbatasan Gunung Perak sudah terlihat dan mereka mulai menembus mantra kabut pelindung. Patriak Shi memimpin di depan diikuti oleh barisan tetua dan yang lainnya.


Fang Yin dan Jian Heng berdiri di barisan paling belakang.


Ratusan pasukan iblis api bergerak maju dengan suaranya yang gaduh mereka terlihat sangat tidak sabar untuk menyerang. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh api yang menyala-nyala dengan wajah yang menyeringai. Di kepalanya terdapat tanduk kecil yang menyembul di sela rambutnya. Pupil matanya yang berwarna merah menyala di dalam gelap dan terlihat menakutkan.


"Bagus! Kalian datang sebelum kamu masuk dan menghancurkan suku es," ucap iblis api yang berdiri di paling depan. Dia memiliki penampilan yang berbeda dengan mahkota emas yang menghiasi kepalanya.


Pasukan iblis merangsek maju mengikis jarak di antara mereka. Patriak Shi terlihat waspada dan berusaha memberi peringatan kepada orang-orang yang berada di belakangnya untuk bersiap dengan isyarat tangan.


"Sebelumnya kita tidak memiliki urusan. Ras suku es tidak pernah menyinggung ras iblis api. Jangan pernah memulai permusuhan di antara kita tanpa penyebab yang jelas!" Patriak Shi mencoba untuk mencegah pertarungan.


"Kalian telah membantai sekutu kami dan membunuh salah seorang pasukan kami. Jangan harap kami akan tinggal diam dan membiarkan kalian menang!" pemimpin iblis api itu maju ke hadapan Patriak Shi dengan tangan yang tengah bersiap untuk menyerang.


"Sepertinya ada kesalahpahaman di antara kita. Kami tidak pernah keluar dari wilayah Gunung Perak beberapa minggu terakhir. Sejak terjadi sengketa dengan suku gletser, kami belum pernah pergi keluar dari sini. Kamu hanya mencari alasan saja." Patriak Shi tidak terima dengan tuduhan itu.


Pemimpin iblis api tidak lagi menjawab dan langsung memberikan serangan pada Patriak Shi. Pasukan yang dibawanya pun segera berlari dengan cepat untuk memberikan serangan. Pertarungan mereka tidak terhindarkan lagi dengan jumlah yang tidak seimbang.


Seorang dari pihak Patriak Shi harus melawan setidaknya lima anggota pasukan pemimpin iblis api.


Fang Yin melompat ke tengah pertarungan dengan mengeluarkan aura yang sangat kuat. Tanah bergetar saat kakinya menginjaknya dengan kuat. Aura di tubuhnya menyebar membuat orang-orang disekitarnya terpental ke belakang.


Ada beberapa orang yang terjatuh saat dalam keadaan tidak siap.


"Hentikan pertarungan ini atau aku akan membantai habis seluruh ras iblis!" seru Fang Yin dengan aura yang sangat menakutkan.


Pemimpin pasukan iblis api mundur ke belakang sambil memegangi dadanya karena tidak sanggup berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Fang Yin.


"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu menghalangi kami untuk menghancurkan suku es?" tanya pemimpin iblis api sambil mengendalikan kekuatannya untuk menahan tekanan energi Fang Yin.


Fang Yin menjawab pertanyaan pemimpin ras iblis api dengan menunjukkan wujud Dewi Naga. Wujudnya yang sempurna dengan roh naga berwarna emas yang mengangkat tubuhnya ke atas.


Wujud Dewi Naga yang dimilikinya saat ini lebih sempurna dari wujud Dewi Naga sebelum dirinya. Di masa lalu seorang Dewi Naga harus menyatu dengan roh naga dan membuat dirinya menjadi naga seutuhnya. Namun, Fang Yin mengambil dua wujud sebagai Dewi dan seekor naga raksasa sebagai perwujudan roh pendampingnya.


Mereka adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan memiliki kedudukan yang setara. Jika di masa lalu seorang Dewi Naga tidak bisa hidup normal sebagai seorang manusia, maka Fang Yin memiliki kehidupannya dengan roh pendamping yang melindunginya.


Hal ini terjadi karena jiwa ganda di tubuh Fang Yin yang menyatu dan tidak bisa terpisahkan. Kecerdasan dan pengetahuan Agatha yang luas menciptakan perubahan yang besar dalam seni beladiri kuno dan pengembangan kultivasi dalam diri Fang Yin.


Pasukan iblis api berpikir seribu kali untuk melawan Dewi Naga. Menyinggungnya sama halnya mencari mati. Bahkan raja mereka sekalipun belum tentu bisa mengalahkannya.


Patriak Shi meminta yang lainnya untuk mundur karena mereka juga tidak sanggup untuk menahan aura energi Dewi Naga yang semakin kuat.


"Apakah kalian masih ingin menghancurkan suku es?" tanya Fang Yin dengan suara lantang.


Pasukan iblis api saling berbisik. Entah mendapatkan dorongan dari mana, salah seorang pasukannya maju ke depan dan menyerang Yang Hui.


"Telan dia!" perintah Fang Yin.


Dengan senang hati Yang Hui menuruti perintah Fang Yin. Ekornya mengibas dan membuat tubuh pasukan itu terpelanting ke udara lalu dengan gerakan cepat dia menelannya hidup-hidup.


"Siapa lagi yang ingin menawarkan diri menjadi santapanku?" Yang Hui mengeluarkan sendawa api yang menyembur ke udara.


Pasukan iblis api mundur beberapa langkah ke belakang melihat kejadian mengerikan itu. Mereka tidak berani lagi untuk mengambil tindakan.


"Aku akan mengingat kekalahan ini. Kami akan kembali dan membawa pasukan yang lebih banyak lagi!" pemimpin pasukan iblis api bersiap untuk pergi. Namun, saat mereka berbalik mereka dikejutkan dengan kedatangan raja iblis dan pasukannya.


Pemimpin iblis api tersenyum karena merasa mendapatkan bala bantuan dan rajanya turun langsung ke sana. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih untuk tetap berdiri menantang Dewi Naga.


Di belakang Fang Yin, Patriak Shi membawa pasukannya untuk bergerak mundur. Hanya Jian Heng yang masih bertahan di tempatnya dan tidak ingin jauh dari Fang Yin.


Belum tahu pasti maksud dari kedatangan raja iblis api. Semua orang berharap-harap cemas menanti kedatangannya.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2