
Fang Yin yang masih dalam kendali roh naga hitam pergi ke atas pohon dan tidur bersandar di sana.
Keesokan harinya ketika terbangun, Fang Yin hampir saja terjatuh karena tidak menyadari jika dirinya sedang berada di atas sebuah pohon.
"Hampir saja aku terjatuh! Apa yang sudah terjadi semalaman?" Fang Yin memukul kepalanya pelan karena terasa berat sekali.
Dia mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi, tetapi tidak juga mengingat apapun. Sesaat sebelum roh naga hitam menguasainya, dia telah kehilangan kesadarannya.
Merasa tidak ada gunanya mengingat sesuatu yang tidak penting, Fang Yin akhirnya melompat turun dan mencari sesuatu untuk di makan. Perutnya terasa nyeri, Fang Yin tidak merasa curiga sedikitpun pada roh naga hitam yang telah menelan kristal inti roh lagi.
Fang Yin berpikir jika saat ini dia hanya merasa lapar saja. Pandangan matanya mengedar ke sekeliling melihat ke setiap sudut hutan. Di depan matanya terlihat bekas kebakaran yang cukup luas.
"Jadi semalam naga sialan itu menggunakan tubuhku untuk bertarung." Fang Yin baru menyadari jika terdapat beberapa bagian pakaiannya robek.
Seharusnya ada luka di sana, tetapi luka itu sudah tidak terlihat. Dia tahu pasti naga hitam telah menghilangkan luka-luka di tubuhnya sebelum dia menyadarinya.
Fang Yin kembali berjalan untuk mencari sesuatu untuk di makan tetapi tidak ada satu binatang pun yang bisa dia buru di sana. Suara gemericik air mengundangnya untuk mendekat, berharap ada ikan yang bisa dia tangkap.
Di sungai kecil itu, tidak terlihat seekor ikan pun. Fang Yin memilih untuk masuk ke sana untuk menyegarkan tubuhnya. Tempat itu sangat sepi sehingga dia bisa mandi dengan leluasa.
Untuk menghilangkan rasa perih di lambungnya, Fang Yin kembali memakan sebuah ginseng rusa emas yang dia bawa. Sepertinya dia harus menunda rasa laparnya karena tidak menemukan sesuatu untuk di makan di sana.
"Lebih baik aku mencari desa di sekitar sini untuk mencari makanan." Fang Yin melompat ke atas pohon dan pergi dengan jalur darat.
Dia tidak ingin menggunakan artefak daunnya karena tidak ingin memancing perhatian orang. Jika di lihat dari peta yang diberikan oleh Liu Xiangqi, tidak jauh dari sana ada sebuah desa perdagangan. Namun Fang Yin sangat berhati-hati kali ini, dia tidak ingin menjadi korban ilusi untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Sebelum matahari meninggi, Fang Yin mempercepat gerakannya untuk menemukan sebuah desa yang bisa dia singgahi. Dari tempatnya berada, dia melihat beberapa orang sedang berjalan di hutan itu. Mereka seperti sedang mencari sesuatu.
Fang Yin berhenti sebentar untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan. Rupanya mereka sedang mencari jamur yang menempel di pohon-pohon besar.
Rasa penasaran Fang Yin mendorongnya untuk turun dan melihat dari dekat apa yang sedang mereka lakukan. Fang Yin tidak langsung menampakkan dirinya di hadapan mereka dan memilih untuk bersembunyi di balik pohon besar.
"Kakak! Kata tabib itu jamurnya berwarna hitam kecoklatan. Mengapa kita mengambil semua jamur yang kita temui di sini? Sepertinya semua jamur ini tidak seperti yang diinginkan oleh tabib itu," ucap salah seorang di antara mereka.
"Lebih baik kamu diam saja. Kamu tidak tahu kalau di dalam hutan ada siluman rubah yang sangat jahat. Siapapun yang masuk ke sana tidak bisa kembali hidup-hidup."
Mendengar penjelasan kakaknya, pria itupun terdiam. Mereka lalu duduk di bawah pohon untuk beristirahat karena merasa lelah berjalan.
'Rupanya mereka sedang mencari tanaman obat. Rupanya rubah hitam jelek itu cukup terkenal juga, ya. Sayangnya aku tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam jadi tidak bisa menjelaskan kepada mereka.' Fang Yin berpikir untuk mendekati dua pria itu.
Fang Yin berjalan sambil membawa keranjang kecil dan pura-pura tidak melihat kedua orang itu. Dia memunguti beberapa tanaman obat yang bisa dia manfaatkan suatu saat nanti.
Fang Yin masih berpura-pura tidak tahu akan keberadaan mereka berdua. Sampai keduanya berada tepat di belakang Fang Yin.
Mereka terkejut ketika Fang Yin memutar tubuhnya dan berdiri menghadap ke arah mereka.
"Maaf, Nona. Kami tidak ingin mengganggumu. Maksudku ingin mengganggumu. Eh, bukan, bukan begitu. Aku hanya ingin mengganggumu." Pria itu akhirnya menutup mulutnya karena tidak bisa bicara dengan benar.
Melihat Fang Yin yang menatapnya bingung, adik dari pria itu berjalan maju ke depan karena sejak tadi menahan diri untuk bicara.
"Maafkan kakakku, Nona. Maksud dari perkataannya mungkin dia ingin bertanya tentang sesuatu yang mungkin mengganggu sedikit waktumu, Nona."
__ADS_1
Kakak dari pria itu langsung menepuk punggung pria itu setelah dia selesai berbicara pada Fang Yin. Dia tersenyum dan merasa bangga pada adiknya yang selalu mengerti akan dirinya.
"Namaku Qing dan ini adikku Zhao. Kelihatannya Anda ahli dalam mengenali tanaman obat. Apakah Anda tahu tentang jamur tapak dewa?" Setelah tidak merasa gugup, Qing bisa berbicara dengan sangat lancar.
"Saya memiliki beberapa. Kalau boleh tahu, untuk apa Anda mencarinya? Jamur itu tidak tumbuh di hutan ini dan hanya tumbuh di hutan yang berada di tempat yang tinggi." Fang Yin mendapatkan jamur itu di Hutan Bintang Selatan.
Kedua pria itu merasa dibodohi oleh pamannya. Mereka menduga jika pamannya itu sengaja mengirim mereka ke sini untuk melenyapkan mereka berdua. Namun mereka tidak memiliki cukup bukti untuk memberikan tuduhan.
"Ayahku sakit keras. Kata tabib, jantungnya mengalami pembengkakan." Qing terlihat sangat sedih saat menceritakan keadaan buruk sang ayah.
"Aku mengerti sedikit tentang ilmu pengobatan. Mungkin aku bisa melihat kondisi ayahmu," ucap Fang Yin menawarkan diri untuk membantu mengobati ayah dari Qing dan Zhao.
Mereka merasa sangat senang karena sudah mencari tabib ke mana-mana tetapi belum juga membawa perubahan bagi kesehatan ayahnya.
Fang Yin mengikuti dua pria itu pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Jarak yang mereka tempuh cukup jauh dan harus melewati Medan yang cukup sulit.
Desa tempat tinggal mereka berada di balik tebing yang curam dan membutuhkan kehati-hatian untuk menuju ke sana. Setelah melewati tebing itu, mereka juga harus berjalan melewati jalan setapak dan menyeberangi sungai.
Kedua pria itu membantu Fang Yin melewati jalanan yang sulit karena mereka tidak tahu jika Fang Yin adalah seorang kultivator. Mereka tidak berpikir bagaimana Fang Yin sampai di sana dan dari mana asalnya.
Desa tempat tinggal mereka sudah terlihat. Sebuah desa perdagangan yang sangat ramai dan banyak sekali disinggahi oleh penduduk dari desa lain yang berkumpul untuk berniaga di sana.
Setiap warga desa yang mereka temui, membungkuk dan memberi hormat pada keduanya. Sepertinya kedua pemuda itu buka warga biasa.
****
__ADS_1
Bersambung ....