Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 161


__ADS_3

Perpisahan yang tidak diharapkan itu pun terjadi. Han Wu dan Tian Feng mengantarkan Fang Yin hingga ke perbatasan antara Benua Timur dengan Benua Selatan.


"Yin'er! Apa kamu akan mengambil kesempatan untuk menang dalam perlombaan itu?" tanya Tian Feng.


Sebagai seorang keturunan bangsawan yang pernah tinggal di dalam lingkungan istana, sedikit banyak dia pasti tahu bagaimana kehidupan di sana.


Kemenangan dalam perlombaan bisa menjadi hal yang menyenangkan bagi seorang kultivator biasa yang tidak memilliki tujuan khusus.


Mereka akan menjadi punggawa kekaisaran yang menikmati segala fasilitas dan kemewahan. Namun itu menjadi hal yang bertolak belakang bagi Fang Yin.


Jika sampai dia memenangkan sayembara, sudah pasti dia akan semakin jauh dengan tujuannya.


"Tidak! Aku tidak akan mencapai final. Aku hanya butuh untuk tinggal beberapa saat saja di dalam istana dan mencari informasi yang saya butuhkan," jelas Fang Yin.


Han Wu dan Tian Feng merasa lega setelah mendengar penjelasan Fang Yin.


"Bagus! Bekerjalah sebagai seorang penyusup. Jangan bertindak sebagai peserta lomba yang taat aturan," imbuh Tian Feng.


Fang Yin terlihat berpikir dan mencari solusi untuk sebuah ide. Dia tidak yakin jika kakek atau pamannya mempunyai solusi untuk masalah ini.


Meskipun ragu, setidaknya dia akan merasa lega jika sudah mengatakannya.

__ADS_1


"Paman ... apakah paman punya sebuah pil atau sumberdaya lain yang bisa aku gunakan untuk merubah suaraku menjadi seperti seorang pria?"


Kedua pria itu tidak heran jika Fang Yin akan menanyakan hal itu.


Hidup berpetualang di dalam kerasnya dunia kultivasi akan sangat rentan bagi seorang pendekar wanita.


Menyamar menjadi seorang pria akan membuat keadaan Fang Yin sedikit lebih aman.


"Mungkin ada tanaman yang bisa digunakan untuk itu, tetapi aku belum menemukannya."


Wajah Fang Yin terlihat sedikit kecewa setelah mendengar jawaban dari pamannya itu.


Han Wu berjalan mendekat lalu berdiri di hadapan Fang Yin di dalam jarak yang dekat.


Fang Yin tidak mengerti apa yang di maksud oleh Han Wu. Namun dia mengangguk setuju dan berharap cara yang akan dilakukan oleh kakeknya itu akan berhasil.


Han Wu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah yang berhimpitan itu di depan Fang Yin.


Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Han Wu menekan beberapa titik di sekitaran leher Fang Yin.


"Sekarang cobalah untuk berbicara!" perintah Han Wu.

__ADS_1


Fang Yin pun mencoba untuk berbicara, "Ehem! Kakek! Paman! Aku adalah Yin'er."


Teknik yang dilakukan oleh Han Wu berhasil. Fang Yin tersenyum senang.


"Bagus! Rupanya teknik ini cukup berguna, kamu sudah memiliki suara pria sekarang tinggal bagaimana kamu merubah penampilan dan gesture kamu, Yin'er!"


"Terimakasih, Kakek! Paman!" Fang Yin berlutut di hadapan kedua pendekar buta itu.


"Bangunlah!" ucap keduanya hampir bersamaan.


"Ingat titik-titik yang aku tekan tadi. Jika sewaktu-waktu kamu ingin mengembalikan suaramu kembali normal," jelas Han Wu.


"Aku akan mengingatnya, Kek!"


Mereka terdiam sejenak berusaha menguasai diri mereka agar bisa mengontrol emosional mereka.


Tidak ada yang menyukai perpisahan tetapi semua tetap akan terjadi baik untuk waktu yang singkat ataupun lama.


Ucapan doa dan pengharapan menyertai kepergian Fang Yin ke Kekaisaran Benua Timur.


Dengan artefak kristal daun, dalam sekejap Fang Yin sudah menghilang dan tidak terlihat dari pandangan.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2