Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 400. Penemuan Baru


__ADS_3

Selir Tang terus mengamati gerak-gerik orang misterius yang mendekati kamar Jian Heng. Sama halnya dengan dirinya orang itu berpakaian serba hitam sehingga menutupi identitasnya. Tidak jelas apakah dia seorang wanita atau pria.


Orang misterius itu meletakkan sesuatu dibalik sebuah pohon. Dalam keadaan gelap sangat sulit untuk melihat benda apa yang ditinggalkannya di sana. Dia lalu bergerak cepat meninggalkan tempat itu.


Diam-diam Selir Tang mengikutinya di belakang. Dia berusaha untuk mengejar dan mengetahui kemana perginya orang itu. Namun, dia kehilangan jejak ketika bayangan hitam orang misterius menghilang diantara bangunan-bangunan yang merupakan tempat tinggal para pelayan.


'Pasti orang misterius itu mencari kepala pelayan yang telah dibunuh oleh Yin'er. Jika aku melanjutkan pengejaran, bukan mustahil rencana Yin'er akan berantakan. Sebaiknya aku berdiam diri di sini untuk beberapa saat dan menunggu orang misterius itu kembali.'


Cukup lama Selir Tang berdiam diri di tempat persembunyiannya. Akan tetapi, orang misterius tidak kunjung muncul. Merasa percuma berada di sana, Selir Tang memutuskan untuk kembali ke tempat pengintaiannya.


Ketika hari sudah hampir pagi, Selir Tang bergegas kembali ke kediamannya. Dia tidak ingin ada yang mengetahui apa yang dilakukannya.


"Aku harus mengintai orang misterius itu lagi nanti malam. Hoam .... Aku harus beristirahat sebentar dan pergi memeriksa benda yang diletakkan di depan kamar Yin'er."


Setelah mengganti bajunya, Selir Tang merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Pagi sebentar lagi menjelang, dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Di siang hari dia bisa mengganti waktu tidurnya di malam hari.


Rencana untuk pergi ke istana kaisar dipastikan gagal karena matahari sudah meninggi ketika Selir Tang terbangun. Sesaat setelah mandi, Fang Yin dan Jian Heng sudah berada di ruangannya. Terpaksa dia harus mengurungkan niatnya untuk memeriksa benda yang disimpan oleh orang misterius semalam.


"Selamat pagi, Ibu. Sepertinya ibu tertidur nyenyak sekali malam ini." Jian Heng memulai percakapan.


"Tentu saja. Eh, kalian sudah tiba sepagi ini di sini. Apakah kalian sudah merasa lebih baik?" tanya Selir Tang sambil menatap keduanya bergantian.


"Kami baik-baik saja. Aku akan pergi ke ruang kerja. Maaf aku tidak bisa berlama-lama untuk menemanimu, Ibu. Tapi jangan khawatir, Yin'er akan berada di sini untuk menemanimu." Jian Heng beranjak dari duduknya setelah berpamitan.


"Tidak perlu memikirkan ibu. Dahulukan pekerjaanmu. Ingat, hindari penggunaan Qi setidaknya tiga hari ke depan."


Jian Heng mengangguk lalu pergi meninggalkan Selir Tang dan Fang Yin. Sebelumnya, Fang Yin sudah menjelaskan banyak hal padanya sehingga dia cukup mengerti akan kondisinya saat ini.


Selir Tang dan Fang Yin mengantar Jian Heng hingga ke depan pintu. Setelah benar-benar tidak terlihat, Selir Tang menutup pintu rapat-rapat lalu membawa Fang Yin masuk lebih dalam ke ruangannya. Wajahnya terlihat serius dan memancing rasa ingin tahu lawan bicaranya.


"Apakah ibu menemukan sesuatu yang mencurigakan?" tebak Fang Yin ketika keduanya sudah kembali duduk di depan sebuah meja.


Selir Tang mengangguk. Dia lalu mendekatkan mulutnya di telinga Fang Yin dan menceritakan apa yang terjadi semalam dengan suara pelan. Meskipun tidak ada siapa-siapa di sana, bisa saja seseorang lewat dan mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


Bola mata Fang Yin membulat saat mendengar berita itu. Pikirannya hampir sama dengan Selir Tang yang merasa jika orang misterius sedang mencari kepala pelayan. Sekarang dia tidak sabar untuk melihat apa yang diletakkan di bawah sebuah pohon yang ada di depan kamarnya.


Dengan tidak sabar Fang Yin berkata, "Ibu, aku ingin melihat benda yang diletakkan di depan kamarku. Bisakah kita pergi sekarang?"


Gayung bersambut karena Selir Tang sendiri juga merasa sangat penasaran. Keduanya lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke istana kaisar. Mereka berjalan tergesa menuju ke sana karena tidak ingin bertemu dengan keluarga besar Fang Yin yang mungkin akan banyak bertanya.


Ada banyak pelayan yang sedang bekerja ketika Fang Yin dan Selir Tang datang ke istana. Untuk memuluskan rencananya keduanya harus mencari akal. Tidak mungkin mereka tiba-tiba mencari benda yang belum diketahui di sana.


Selir Tang menunjukkan tempat itu kepada Fang Yin dengan isyarat mata. Namun, mereka kembali mendapatkan hambatan ketika melihat Ling Shasha datang menghampiri mereka. Terpaksa keduanya harus menahan diri untuk beberapa saat.


"Ke mana saja kamu, Ling Shasha?" tanya Fang Yin karena sejak semalam dia tidak melihatnya.


Ling Shasha menunduk dan tampak berpikir sejenak.


"Ampun, Yang Mulia. Semalam saya pergi mengejar kepala pelayan yang pergi keluar istana. Sayangnya saya tidak bisa menemukannya hingga saat ini meskipun saya sudah mengejarnya sangat jauh." Bola mata Ling Shasha bergerak-gerak tetapi Fang Yin tidak bisa melihatnya karena wajahnya sedang tertunduk.


Selir Tang dan Fang Yin saling berpandangan. Keduanya langsung tahu jika saat ini Ling Shasha sedang berbohong. Namun, sepertinya mereka ingin masuk kedalam permainan yang diciptakan oleh pelayan pribadinya itu dan mengetahui seberapa pintar dia mempermainkannya.


"Benarkah? Aku juga tidak melihatnya pagi ini. Seharusnya dia meminta ijinku terlebih dahulu sebelum pergi jadi aku bisa meminta orang lain untuk menggantikan pekerjaannya." Fang Yin berpura-pura gusar sementara dalam hati dia sedang menertawakan Ling Shasha yang tidak berhasil menipunya.


"Ampun, Yang Mulia. Saya tidak tahu menahu tentang hal ini. Seandainya saya berhasil menyusulnya mungkin saya bisa menanyakan beberapa hal padanya." Ling Shasha kembali beralasan.


"Sudahlah! Sekarang tolong kamu pergi menemui Selir Ning dan mengambil bajuku. Beberapa hari yang lalu dia menyulam baju untukku dan sudah hampir selesai." Fang Yin sengaja mengutus Ling Shasha ke tempat yang lumayan jauh agar dia pergi sedikit lama, dengan begitu dia dan Selir Tang bisa leluasa mencari barang yang ada di bawah pohon hias.


"Baik, Yang Mulia." Ling Shasha terlihat lega lalu pergi dari hadapan Fang Yin dengan segera.


Setelah merasa keadaan aman, Fang Yin berpura-pura menghilangkan jepit rambut kesayangannya di sekitar pohon yang dicurigai. Beberapa orang pelayan hendak membantu untuk mencari tetapi doa menolak. Cukup Selir Tang saja yang membantu.


Mereka menyibak tanaman hias yang menutupi tanah di bawah pohon itu tetapi tidak menemukan apapun. Kemungkinan orang lain atau orang misterius itu telah mengambilnya kembali. Wajah keduanya terlihat kecewa hingga Fang Yin tiba-tiba mengulum senyumnya.


"Apakah kamu menemukan sesuatu, Yin'er?" tanya Selir Tang merasa sangat penasaran.


Fang Yin mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


"Keadaan di sini tidak aman. Sebaiknya kita kembali ke kediamanku saja," bisik Selir Tang.


"Benar, Ibu. Kita akan lebih leluasa berbicara di sana."


Baru saja mereka akan berangkat, Selir Shi dan Yu Ruo datang menghampiri mereka berdua. Terpaksa keduanya harus menunda kepergian mereka.


Fang Yin membawa para wanita yang sangat menyayanginya itu ke sebuah pondok yang berada di taman.


"Yin'er! Kamu terlihat kurus sekali. Jangan terlalu sering begadang! Lihat ini, ibu membawakanmu manisan kesukaanmu." Selir Shi menyodorkan sekotak manisan ke hadapan Fang Yin.


"Wah, kelihatannya lezat sekali," puji Selir Tang.


"Kamu boleh mencicipinya, Ibu." Dengan suka rela Fang Yin memberikan kesempatan pertama pada Selir Tang untuk mengambil manisan buatan ibunya.


Selir Tang mengambil sebutir manisan dan memasukannya ke dalam mulutnya. Sesaat kemudian dirinya mengangguk sambil tersenyum. Manisan yang dia makan terasa segar di mulutnya.


"Akhir-akhir ini cucuku terlihat seperti orang yang sedang hamil tetapi setiap kali aku memeriksanya, aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan di tubuhnya." Yu Ruo ikut berbicara.


Ling Shasha yang telah berdiri di belakang mereka menghentikan langkahnya. Namun, kehadirannya tidak luput dari pengamatan Fang Yin dan Selir Tang. Mereka berpura-pura tidak melihat dan tidak menganggap kehadirannya.


"Benar sekali Kak Tang. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menimang cucu," imbuh Selir Shi.


"Kita harus bersabar. Keturunan tidak bisa dipercepat atau diperlambat. Biarlah dia datang pada waktunya." Selir Tang berusaha menutupi kehamilan Fang Yin.


Ling Shasha memperhatikan ekspresi wajah-wajah yang ada di hadapannya dan tersenyum samar. Dia lalu berjalan mendekat dan berdiri di samping Fang Yin dengan membawa pakaian yang diinginkannya.


"Kamu sudah datang, Ling Shasha? Coba aku lihat bajunya." Fang Yin bersikap seolah baru tahu akan kedatangannya.


"Ini, Yang Mulia."


Saat Ling Shasha menyodorkan baju dari tangannya, tanpa sengaja Fang Yin melihat sebuah tanda yang ada di pergelangan tangan kirinya. Sadar akan hal itu, Ling Shasha segera menarik tangannya berharap Fang Yin tidak melihatnya dan bertanya.


***

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2